My Heart From Hell

My Heart From Hell
Prince of Desert



Di lantai kedua, suasananya mirip seperti gurun pasir, dengan beberapa bangunan yang terbuat dari batu yang tinggi - tinggi.



Erina dan rombongan melewati gurun itu sambil melihat keadaan sekelilingnya.


Lily yang kelelahan digendong oleh Damien.


"Disini terasa sangat panas" Varlo yang berusia empat belas tahun mulai mengeluh.


Mereka semua meneteskan keringat karena cuacanya sangat panas benar - benar bagaikan di gurun pasir.


"Hei pria misterius, tolong jelaskan kami harus apa di tempat ini?"


Pria itupun muncul "Ah, maaf saya terlambat, di lantai ini kalian cukup bertahan hidup saja, lalu di ujung sana nanti akan ada pemimpinnya yang harus kalian kalahkan, mudah kan?!"


Ia menghilang.


"Cih enak banget tuh orang ngomongya, padahal disini berat banget kondisinya"


Damien jengkel.


"Mungkin, dia paham bahwa rombongan ini berisikan orang - orang kuat, jadi nampak mudah" Leiva berkomentar.


"Ya, Leiva ada benarnya, mungkin level kita di atas rata - rata untuk melewati menara ini" Succubus menambahkan.


Kemudian pasir di bawah mulai bergerak - gerak seperti akan ada yang muncul.


Ribuan kalajengking mulai merayap keluar dan menghampiri Erina dan yang lainnya.


Succubus membakar semua kalajengking itu dalam sekejap. "Ayo, apa lagi yang keluar!? akan kuhabisi!"


Tiba - tiba terdengar suara tepuk tangan yang bertempo lambat, semuanya mencari - cari asal suara tersebut.


Dari tengah - tengah hamparan pasir berwarna kuning itu, muncullah seseorang, seseorang dengan rupa yang dikenal oleh mereka.


"ALEXEI!!??"


"Halo semuanya, lama tak bertemu ya" sapa Alexei yang sudah terlihat berbeda penampilannya.


Ia berpakaian selayaknya raja mesir kuno atau Firaun. Dengan segala aksesoris berwarna emas.


"Apa yang terjadi denganmu? kenapa pakaianmu kayak gitu?" Erina bingung


"Ah, masalah pakaian tak usah terlalu diperhatikan saudaraku, sekarang ini adalah bagaimana kalian bisa melewati tugas yang akan kuberikan"


"Kau kerasukan ya!?" tanya Succubus


"Tidak nona iblis, aku hanya menemukan jati diriku di tempat ini, sekarang semuanya menjadi jelas"


Erina mulai menangis "Alexei, maafkan aku, kau pasti sudah melalui hal - hal yang berat, sampai kau jadi seperti ini, tapi apa memang ini yang kau inginkan?"


"Tentu saja, aku tak akan kesepian lagi, aku punya kuasa di tempat ini sekarang"


"Bukankah, setelah ini semua selesai, kita akan pergi makan dan berbelanja selayaknya saudara yang normal"


"Kita tidak pernah normal Erina, KAU, tidak pernah normal, jadi hadapilah yang ada di depanmu ini"


Alexei menghilang, Erina jatuh tersungkur.


Ia merasa sangat bersalah karena sudah melibatkan saudara jauhnya itu dalam masalah ini.


"Kekuatan ini sudah memakan banyak korban, aku ingin cepat - cepat mengakhirinya"


"Tapi ini semua bukan salah mu Nak, semua orang yang memutuskan ikut kesini, sudah memilih jalannya masing - masing" Lily menenangkan Erina.


Tak lama kemudian, dari segala arah mulai muncul mumi - mumi, mumi itu berjalan cepat.


Namun terlihat muminya banyak yang terjatuh ke lubang di pasir, pasir hisap.


"Kita harus berjalan lurus ke arah sana! jangan sampai tertangkap mumi ataupun jatuh ke pasir hisap" Damien berseru.


Mereka mulai bergerak perlahan sambil menghindari mumi, jika ada pasir yang cekung ke dalam berarti itu dapat menghisap.


Damien menyabet mumi yang mendekat dengan sabitnya. Succubus terbang dan membantu melihat kondisi jalannya.


"Di depan berjalanlah agak ke kanan! ada lubang besar ditengah" Succubus mengarahkan mereka.


"Aaakhh..toloong!" kaki Varlo tertangkap mumi, Damien dengan sigap menyelamatkannya.


Namun terlihat ada yang aneh dengan kaki Varlo yang terpegang mumi.


Kakinya membusuk dengan cepat.


"Astaga, aku akan mengobatimu, semoga ramuan ini manjur" Lily mencoba membalurkan ramuannya ke kaki Varlo, dan pembusukannya berhenti, namun Ia jadi tak bisa berjalan.


Succubus terpaksa menggendong Varlo, Damien yang membereskan para mumi dibawah.


Terlihat sebuah piramid kecil yang bercahaya ujungnya.


Terdengar suara Alexei tapi tidak nampak wujudnya "Selamat, bagian pertama yang paling mudah sudah dilewati, sekarang yang berikutnya harap lebih berhati - hati ya"


Damien jadi agak kesal, "Banyak tingkah juga saudaramu itu ya"


"Dia pasti telah dipengaruhi oleh sesuatu, sesuatu yang bisa merubah hati dan pikiran seseorang"


Lalu di depan mereka, datanglah seorang pria berkepala burung dan memegang tongkat panjang. Ia datang menggunakan kursi yang diangkat oleh empat orang manusia.


"Bersujudlah kepada Horus! sang dewa perang, bagi yang mencoba untuk melawan, akan habis seperti pasir" suara Horus menggema di seluruh area.


Lily seperti memikirkan sesuatu.


"Kau tahu sesuatu?" tanya Damien ke Lily


"Sepertinya, di menara ini ada banyak astral yang kuat. Dewa dan dewi yang tak lagi berjaya di dunia atas, disini mereka bisa memiliki posisi sebagai penjaga menara. Bisa bebas berkuasa dan menggunakan kekuatannya"


"Tapi sepertinya mereka terikat dan tak bisa pergi ke tempat lain ya?" tanya Succubus


"Sepertinya sih begitu"


"Kalau begitu, Alexei juga jadi terikat dengan tempat ini dan tak bisa pergi dong?" tanya Erina


Lily dan Succubus mengangguk.


Horus mulai memanggil pasukannya, manusia pasir. Lalu membuat badai pasir di belakangnya sebagai benteng.


"Kalau kalian bisa melewati ini, kalian boleh berhadapan dengan raja dari piramid, yang akan membuka jalan ke lantai selanjutnya" ucap Horus.


"Bagaimana cara mengalahkan manusia pasir?"


"Tak perlu dilawan, kita lewati saja, juga badai itu" usul Damien


"Bagaimana mungkin, sebanyak itu!?" Erina tak yakin.


Mendadak sang pria misterius muncul di tengah - mereka "Ada yang aku lupa sampaikan, setiap kalian yang mengalahkan pimpinan di lantai tertentu, kalian akan mendapatkan kemampuan yang sama dengannya" Ia menghilang begitu saja seperti biasanya.


Erina, Succubus, Damien dan kedua bocah menatap Lily.


"Eh tunggu...aku juga nggak tahu apa kemampuan yang kumiliki" Lily merasa terintimidasi.


"Ayo berfikir cepat, apa yang bisa dilakukan werewolf?" Damien menggumam sendiri


"Para manusia pasir itu semakin mendekat, mereka membuat barikade, kita tak bisa lewat"


Damien maju dan menyabet manusia pasir itu dengan sabitnya, namun percuma, itu tak berpengaruh karena tubuhnya terbuat dari pasir.


"Aku akan melindungi kedua bocah ini diatas, kalian pikirkanlah caranya" Succubus menggendong Leiva dan Varlo kemudian terbang.


"Ah, aku tahu!" Damien mendapat ide selagi mengayunkan sabitnya untuk memperlambat manusia pasir.


"Apa!?" tanya Lily.


"Werewolf sangat gesit, harusnya kau mampu berlari cepat dan melompat tinggi"


"Ah apa iya?" Lily tak yakin


"Cobalah ma, gunakan segenap energimu untuk berlari menembus pasir ini, tapi hati - hati"


Lily menyiapkan diri kemudian mengikuti yang diarahkan.


'Wushh..' Ia berlari dengan sangat kencang menembus para manusia pasir dan juga badainya, Ia berhasil tiba di sisi lain. Lalu dengan cepat Ia kembali lagi.


"Hei ini sangat mudah, ayo cepat satu persatu ikut denganku"


Lily bolak - balik membawa kelima orang lainnya menembus badai pasir. Mereka tiba dengan selamat, namun Ia sangat lelah.


Horus mengapresiasi kemampuan mereka untuk melewati tantangannya,


"Oke, karena kalian sudah berhasil, sekarang kalian harus menghadapi sang raja dari piramid"


"Siapa itu raja dari piramid?"


Muncullah Alexei dari atas piramid, Ia melompat dari jauh dan langsung mendarat ke depan Erina dan teman - teman.


Tatapan Alexei tajam seperti hewan buas yang menemukan mangsanya.


"Kali ini, membunuh atau dibunuh" ucap Horus.


"Apa!? aku tak akan membunuhnya" Erina berseru.


"Maka kau yang akan dibunuh. Ia bukanlah yang kalian kenal dulu lagi, kini Ia adalah bagian dari kerajaan mesir kuno"


Erina dan Alexei saling bertatapan.