
Pria pucat tinggi berjalan dengan tenang dan perlahan. Ia melihat sekelilingnya, berbagai macam orang ada disana. Ekspresi senang dan bahagia hampir selalu terlihat di wajah semua orang, karena mall adalah tempat orang bersenang - senang.
Namun Ia menoleh ke belakang, terlihat seorang wanita yang tadi dilewatinya, masih terduduk di tempat yang sama. Hanya orang itu yang nampak sedih di tempat ini.
Dihatinya Ia penasaran, apa saja hal yang sudah dilalui wanita yang masih nampak muda dan cantik tersebut. Namun, Ia punya tugas lebih penting yang harus dikerjakannya saat itu juga.
Dalam beberapa langkah, Ia tiba di depan sebuah restoran. Restoran seafood yang cukup terkenal disana, sangat digemari karena bahan baku yang selalu segar. Suasana di restoran tersebut sangat bagus, dengan lampu yang terang, ruangan luas dan desain interior modern yang terbuat dari kayu yang nyaman, membuat orang betah berlama - lama disana.
Pria itu masuk melewati papan nama restoran. Ada seorang wanita muda yang menjadi pramusaji, menyambut tamu sambil memperlihatkan menu apa saja yang disajikan sambil tersenyum ramah.
"Pasti wanita tadi terlihat manis jika tersenyum seperti itu", pikir pria itu.
Ia melangkah lebih jauh, terlihat suasana ramai dengan banyak keluarga yang bahagia di setiap meja makan, ada yang sibuk makan, ada juga yang merayakan hari jadi.
Di sebuah meja besar di sudut ruangan, ada sepuluh kursi yang terisi, dari yang muda sampai yang tua. Sebuah keluarga sedang merayakan hari jadi sang kakek yang ke delapan puluh.
Dikelilingi cucu dan orang - orang terdekatnya, dengan perasaan gembira mungkin terlihat seperti dambaan semua orang, namun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ayoo Opa ditiup lilinnyaa..jangan lupa make a wish yaa"
ucap seorang wanita berumur lima puluhan dibelakang pria tua itu dengan bersemangat.
"Aku juga mau tiup lilinnyaaa.."
teriak bocah - bocah cilik yang nampak senang dengan aura kebahagiaan acara ulang tahun.
Sang kakek pun tersenyum, dengan kemeja biru muda, tubuh gempal dan rambut putih, Ia menyiratkan sosok yang begitu hangat di mata orang yang melihatnya.
Dengan perlahan, sang kakek memajukan tubuhnya untuk meniup lilin yang berjumlah delapan buah di atas kue black forest yang terletak di depannya. Ia kemudian menarik nafas panjang.
"Ffuuhh....", Sebuah tiupan pelan ke arah kumpulan lilin, berbarengan dengan dua orang anak kecil yang berebut untuk turut serta meniup.
Tiba - tiba....
Dada sebelah kirinya sakit luar biasa, dan nafasnya menjadi sesak. Tangan kanannya pun langsung memegang dadanya dengan gemetar, Ia pun langsung merasa bahwa mungkin ini adalah akhirnya, dikunjungi oleh penyakit yang selama ini tak mau Ia ceritakan kepada orang - orang tersayangnya.
Pandangannya mulai menjadi buram, Ia melihat keluarganya panik, namun suara mereka hanya terdengar sayup - sayup dan lambat.
Dibalik semua itu, nampak sosok hitam di depannya yang nampak jelas, pria itu berdiri tenang dan sedang membaca sebuah buku berwarna hitam.
"Selamat malam, pak Samsul", Sapanya dengan suara yang tenang dan dingin.
Seketika itu pak Samsul tidak lagi merasakan sakit, Ia dapat berkomunikasi dengan lancar dengan pria itu.
"Maaf, tapi anda siapa ya?", tanya pak Samsul bingung.
Pria itu tersenyum.
"Perkenalkan, nama saya Damien Cordova, dan saya adalah petugas yang akan mengantarkan anda untuk berpindah alam?"
Pak Samsul menundukkan kepalanya dan tersenyum, Ia menyadar bahwa jiwanya sudah berada di ambang dua alam.
"Jadi.. sudah waktunya ya? saya kira masih bisa melihat cucu saya bertumbuh dewasa".
Ia melihat sekelilingnya, terlihat jelas keluarganya panik di sekitarnya, ada yang menangis, menelepon ambulans, berusaha membangunkan dirinya, namun yang Ia rasakan seperti berada di tempat yang berbeda.
Seperti sedang menonton film.
"Saya rasa, delapan puluh tahun sudah lebih dari cukup pak tua", ucap Damien seraya hendak mengeluarkan sesuatu dari lengannya.
"Karena anda orang yang baik, maka jalan anda juga akan tenang", tambahnya.
Pak Samsul memejamkan matanya sambil tersenyum, Ia telah siap.
"Kakek sayang kalian semua", ucapnya lirih.
Damien hendak mengayunkan sesuatu, namun terhenti, "Sial, ada yang kelupaan".
Ia mengeluarkan ponselnya kemudian langsung menelepon seseorang.
"Halo, dengan layanan penyewaan"
ucap seorang pria di seberang sana.
"Pak, maaf saya mau pesan sabit level satu, apa masih ada?"
"Hmm.. level satu ya, tapi ini tinggal kloter terakhir ya mas, karena mas sewanya sudah jam segini"
Oh, tinggal kloter terakhir ya, ya sudah deh gak apa - apa".
"Gak masalah pak, yang penting tolong dikirim sekarang ya".
"Siap! segera dikirim".
Seketika muncul sabit besar bercahaya biru dengan gagang kayu panjang berwarna hitam di tangan Damien.
Ia memperhatikan sabit itu yang sepertinya agak rusak dan kualitasnya buruk sesuai ucapan dari petugas penyewaan tadi. Awalnya Ia tampak tidak yakin, namun akhirnya Ia tetap melanjutkan pekerjaannya untuk mencabut nyawa pak Samsul.
"Oke pak, mari kita berangkat"
"Saya sudah siap dari tadi mas"
Damien mengayunkan sabit besarnya ke arah pak Samsul.
Seketika cahaya silau menerpa, Ia kira sudah berhasil, namun ternyata tidak terjadi apa - apa kepada pak Samsul.
Ia mengecek sebuah kantung kecil berwarna hitam bertuliskan 'Soul storage', dan terlihat bercahaya ketika dibuka.
"Lho, jiwa siapa ini? kok udah terisi tapi bukan pak Samsul!? arrrggh.."
Ia bergumam sendiri.
"Pak maaf ya ditunda dulu, saya harus pergi"
Damien pun pergi dengan tergesa - gesa.
"Lho, lalu ini prosesinya gimana mas?"
Pak Samsul nampak bingung.
"Bapak bakal hidup lagi untuk saat ini, nanti jiwa bapak mungkin akan diambil lagi lain kali"
Ucap Damien seraya pergi meninggalkan pak Samsul.
Dan seketika pak Samsul tersadar kembali ke tubuhnya yang sedang dibawa oleh ambulans.
Anak perempuannya yang berada bersamanya di dalam ambulans segera memeluknya dan menangis bahagia.
Damien berlari sambil bergumam,
"Jadi gini rasanya dapet kloter terakhir? pantas perasaanku gak enak!"
...----------------...
Setengah jam sebelumnya, di bagian mall yang lain, Erina yang sudah lelah menangis, berdiri terhuyung dan berusaha kembali ke mobilnya, harga dirinya hancur karena pertama kalinya Ia diputuskan oleh pria.
Ia berfikir apakah ini memang kesalahnya, atau nasib buruk memang senang berada di sisinya.
Seandainya masih ada sang ibu, Ia bisa pulang dan curhat kepadanya tentang masalah hidup yang dialaminya, namun sekarang Ia hanya bisa sendirian meratapi nasib.
Ia sampai di parkiran, termenung di depan mobilnya.
Dari atas parkiran Ia melihat seorang pengemis di pinggir jalan yang pakaiannya compang - camping,
"Sebenarnya masih banyak orang yang lebih merana dari Aku"
Namun tiba - tiba pengemis tersebut berdiri dan masuk ke sebuah mobil mewah yang menjemputnya. Apakah itu mobilnya? apakah Ia ternyata seorang yang kaya? Erina langsung merasa dirinya lebih merana dari orang itu.
Di dalam mobil Ia sempat terfikir untuk bunuh diri, karena merasa tidak ada yang membutuhkannya juga di dunia ini.
Keluarga besarnya tidak pernah menanyakan kabarnya apalagi mengajak berkumpul, Ia seperti orang asing.
Teman kantornya hanya mencarinya saat membutuhkan sesuatu.
Teman - teman lamanya sudah lost contact semua.
Ia pikir dunia sudah terlalu sepi untuknya.
Ia mengemudikan mobil dengan pandangan yang kosong dan pikiran yang berkecamuk.
Ketika jalan yang hendak dilewati Erina menyusuri sebuah sungai, tiba - tiba ada cahaya yang begitu silau dan membutakan pandangannya,
Erina terkejut dan tidak mampu mengendalikan mobilnya, mendadak Erina kehilangan kesadaran dan mobilnya terjerembab ke dalam sungai.
Orang - orang yang berada di sekitar sana langsung berteriak panik dan berkerumun di daerah sekitar TKP.
Mereka menyadari, tidak terlihat sosok manusia di dalam mobil itu.