My Heart From Hell

My Heart From Hell
Misleading



Meski Lucifer mengatakan mereka tak memiliki banyak waktu, namun Erina meminta tetap meminta waktunya untuk berfikir sejenak, karena semua yang terjadi benar - benar di luar dugaannya.


Selama menjalani kehidupan baru ia tak ingat dengan semua yang pernah terjadi sebelumnya, namun sekarang semua ingatan itu kembali. Kenangan pahit, kesedihan, sakit hati, semua ia rasakan seperti dahulu.


Erina yang memiliki pengalaman buruk terhadap Lucifer, sangat ingin untuk tidak mempercayai semua ceritanya, karena bagaimanapun Ia adalah iblis. Namun ketika Erina menatap matanya, disana tak tampak kebohongan, justru kekhawatiran yang dipancarkan oleh mata Lucifer, padahal sebelumnya hanya kesombonganlah yang nampak disana.


Lucifer yang hanya berpenampilan seperti orang biasa, tanpa pancaran aura sedikitpun membuat Erina mau tak mau percaya kepadanya, walaupun seorang petinggi memiliki cara untuk menyembunyikan aura, tapi kali ini sangat terasa berbeda.


"Sekarang, apa aku boleh keluar untuk melihat - lihat?", tanya Erina.


"Jangan! Satan menyebarkan anak buahnya dimana - mana, kalau kau tertangkap sebelum memiliki kekuatan lagi, bisa gawat"


"Hmm.. jadi apa rencanamu?"


"Ehem! begini, pertama panggil aku Papi"


"TIDAK!"


"Baiklah", Lucifer langsung lesu.


"Oh ayolah, dimana harga dirimu yang dulu? kau kan iblis nomor satu di neraka yang begitu angkuh, kenapa sekarang jadi seperti mamang - mamang begini?"


"Sekarang tak ada lagi keangkuhanku yang tersisa untuk dibanggakan"


Erina merasa agak miris melihat ayahnya yang dulu sangat menyebalkan, kini menjadi menyedihkan, bahkan tinggal di kos - kosan kecil yang kamar mandinya ada di luar.


Erina mendekati Lucifer yang menunduk lesu, lalu merangkulnya,


"Ayo papi, jangan lesu begitu, semangat!"


Mendengar itu mata Lucifer langsung berbinar dan berair, ia terharu Erina menyemangatinya.


"Lho, kok malah nangis?"


"Maaf, aku hanya terlalu senang"


Erina tahu hubungannya dengan ayahnya itu sangat aneh, namun ia berharap mungkin kali ini semua dapat diperbaiki.


"Coba lanjutkan penjelasan tentang rencana papi dari awal"


"Baik, pertama - tama kita harus mencari tempat Asmodeus akan dibangkitkan, sebelum ditemukan oleh Satan"


"Dimana lokasinya?"


"Aku juga nggak tahu?"


"Lho? papi bisa nggak bisa membaca auranya?bukankah seharusnya kebangkitan astral mengeluarkan banyak aura?"


"Memang, tapi astral kelas B sepertiku mana bisa lagi membaca aura"


"Ya ampun, benar - benar miris. Lalu apa sisa kekuatan yang papi miliki?"


"Standar saja, menghilang, berubah bentuk, berpindah lokasi dalam jarak beberapa meter"


"Hmm.. itu pasti akan sangat berguna, lalu darimana kita harus mulai?"


"Gunakan ingatan dan intuisimu, perempuan paling handal dalam hal itu bukan?"


"Hmmmmmm... begitu ya, jadi aku yang harus mencoba merasakannya ya?"


"Benar, apalagi kalian sempat memiliki hubungan, itu pasti akan memperkuat jaringannya"


Lalu Erina memejamkan matanya, diam dan berkonsentrasi seperti orang yang bermeditasi.


Sepuluh menit berlalu.


Lucifer mendekatkan wajahnya,


"Bagaimana? terasa sesuatu?"


"Tidak, hanya bau mulutmu"


"Ah ayolah nak, dimana sopan santunmu?"


"Mau bagaimana? aku baru sampai disini kan? aku tak merasakan apa - apa"


Lucifer membuka gorden dan melongok ke arah jendela kamar, terlihat beberapa astral berbaju zirah yang sedang bertanya pada orang sekitar.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini, auramu mulai tercium"


Erina mencium ketiaknya sendiri karena ia merasa dirinya bau.


Sebelum keluar, Lucifer menggunakan jaket hoodie bekas berwarna abu - abu, sedangkan Erina menggunakan Mantel coklat untuk menutupi kehadirannya.


"Ukh, mantel ini sangat bau"


"Sepertinya itu bekas astral yang bekerja sebagai tukang ojek"


"Uwek..", Erina merasa mual, namun tetap memakainya.


Mereka berdua memulai perjalanannya dengan keluar diam - diam dari kos - kosan dan mengambil jalan belakang.


"Kau bilang, di sini adalah alam baka? ada berapa tingkat alam baka ini?", tanya Erina.


"Ada tujuh, semakin rendah, semakin mirip dengan lingkungan manusia yang mengenaskan di bumi"


"Benar, seperti berada di pinggiran ibu kota, hanya saja penghuninya aneh - aneh"


Selama perjalanan, gerak - gerik mereka cukup mencurigakan, namun para astral tak terlalu perduli satu sama lain.


"Ya anakku"


"Ewh, aku agak geli mendengarnya. Tapi biarlah"


"Kau mau tanya apa?"


"Apa ada kemungkinan aku bisa bertemu teman - temanku? Damien, Succubus, pak Behe, Dewi, Emily?"


"Kalau mereka sedang berada di alam yang sama, tentu saja bisa bertemu"


"Aku kangen, oh iya bagaimana nasib Levi dan yang lainnya?"


Aku tak tahu hukuman apa yang mereka dapat, tapi tidak separah aku"


"Jadi kemungkinan mereka masih menjabat sebagai petinggi?"


"Bisa jadi"


"Baiklah, kalau bisa dapat bantuan mereka lebih baik kan?"


"Neraka ada di alam akhirat, yaitu alam baka tingkat paling atas, untuk bisa sampai kesana mungkin bisa memakan waktu......."


"Berapa lama?"


"Ribuan tahun paling cepat"


"Tidak! kita akan lebih cepat dari itu!"


"Aku suka semangatmu nak"


"Lalu sekarang kita kemana?"


"Kita akan masuk ke hutan di sana"


Mereka berdua akan memasuki hutan belantara, namun muncul tiga astral bersenjata dan menggunakan jaket kulit yang menghadang mereka.


"Berhenti kalian! serahkan barang berharga yang kalian bawa!", ucap astral bermata satu dengan mengacungkan pisau.


"Astaga, bahkan di alam baka ada preman tukang palak!?", Erina tak habis pikir.


Lucifer membuka tudung jaketnya, lalu berteriak dengan lantang, "Beraninya kalian menghalangi jalanku! aku adalah Lucifer yang agung, sang penguasa neraka nomor satu!"


"Cih, kami sudah mendengar cerita tentang dipecatnya Lucifer dan sekarang menjadi astral biasa, kami tidak takut lagi", ucap seorang astral manusia kadal.


Lucifer mendekat ke Erina, "Na.. ini gawat, kita harus kabur"


"Enak aja! kroco begini masa nggak kita lawan!"


Erina melempar mantelnya, "Kalian tidak tahu siapa aku!?"


"Siapa? mbak - mbak kasir minimarket?", jawab astral berbentuk bola mata besar.


"Rrgghh.. aku adalah Muriella! sang iblis bulan, penghancur neraka! akulah yang membuat Lucifer dipecat!", Erina berteriak lantang dengan semangat berapi - api.


Ketiga astral tersebut gentar mendengar nama itu, kaki mereka gemetar. Lalu mereka berdiskusi satu sama lain.


"Ah.. kami tak takut akan bualanmu, kau hanya omong besar. Meskipun kami tahu iblis Muriella sangat mengerikan, tapi tak mungkin dia ada di tempat buangan seperti ini"


Mendapat reaksi semacam itu, Erina bingung harus berkata apa lagi. Ia menatap Lucifer, lalu mereka mengangguk bersamaan.


Mereka berlari kencang ke arah sebaliknya.


"Hei jangan kabur kalian!!", para astral mengejar mereka.


Selagi berlari, mereka berdiskusi.


"Muriella sang iblis bulan, boleh juga julukan itu, terdengar mengerikan"


"Tapi itu tak berguna! bagaimana ini!? kita seperti dua orang bodoh"


"Baiklah, kalau begitu pertama - tama kita harus mendapatkan kekuatanmu dulu, setelah itu mengumpulkan anggota, barulah kita mencari Asmodeus"


"Ya apapun rencananya, bagaimana cara kita menghadapi mereka?"


"Aku akan berubah menjadi hewan, naiklah ke atasku lalu aku akan berteleportasi"


"Oke"


Lucifer berubah menjadi hewan besar, namun wujud hewannya sama sekali tak sesuai dugaan mereka.


"Iihh.. kenapa jadi tikus!?", Erina jijik.


"Sial, bahkan wujud hewan saja diatur seperti ini, dasar Satan brengsek!", Lucifer geram.


"Pokoknya naiklah dulu"


Meski enggan, Erina naik ke atas punggung tikus itu, dan mereka menghilang.


Para astral itu berhenti mengejar, dan mulai berspekulasi.


"Orang itu berubah namun wujud hewannya tak biasa"


"Teleportasinya juga jauh"


"Sepertinya mereka memang bukan astral sembarangan".