My Heart From Hell

My Heart From Hell
Forbidden Bond



Di akhirat.


Damien pulang ke kos - kosannya. Ia merenung sambil melihat ke sekelilingnya, memikirkan apakah Ia bisa membayarnya untuk bulan depan atau tidak. Karena seandainya ia tidak mendapatkan pekerjaan lagi, ia terpaksa tinggal di jalanan layaknya astral yang bergentayangan.


Ketika Ia hendak mandi untuk menyegarkan diri, saat menyalakan shower, Ia terbayang wajah Erina.


Tak disadari Ia meneteskan air mata, belum pernah Ia merasakan rindu yang seberat ini, Ia tak tahu bagaimana menghilangkan rasa rindu yang menyakitkannya itu.


Setelah selesai mandi Ia memasak mie instan meskipun tidak lapar, kemudian kembali teringat ketika Ia makan bersama Erina.


Ponselnya tiba - tiba berbunyi, terlihat pesan dari nama 'Dewi Resepsionis'


"Mas, kalau kamu mau ditemani kemanapun kabarin aja ya :)"


"Ah Dewi, kurasa kau menyia nyiakan waktumu, astral yang sudah cling akan sulit untuk berpaling. Kau pun pasti tahu rasanya"


ucap Damien dalam hati setelah membaca pesan dari Dewi.


Awalnya Damien tidak ingin membalas pesan itu, namun Ia terpikirkan sesuatu,


"Kita ke dunia yuk! aku ingin memperlihatkan banyak tempat kepadamu"


Dewi yang membaca pesan tersebut, tubuhnya gemetar tidak percaya, Ia langsung menyetujui ajakan tersebut.


...----------------...


Mereka janjian di depan lobby akhirat, lalu pergi ke dunia bersama - sama.


Damien mengajak Dewi ke beberapa tempat di dunia yang pernah Ia kunjungi semasa ia bekerja dulu. Seperti taman bermain, restoran, pantai, dan juga taman.


Mereka berjalan berdampingan di taman yang berguguran bunga selayaknya pasangan. Dewi menunjukkan ekspresi yang sangat bahagia.


"Mas, makasih ya, udah ngajak ke tempat - tempat yang bagus ini, gak percuma deh aku ambil cuti"


"Sama - sama Wi, kamu kan satu - satunya yang sudah memberi perhatian kepadaku"


Dewi tersipu, Ia benar - benar merasa bahwa


kedepannya akan terjadi takdir yang baik kepada dirinya.


Di sebuah bangku taman berwarna putih, mereka duduk berdua sambil menikmati Americano dingin. Bunga yang berguguran membuat pemandangan begitu romantis, awan menutupi matahari jadi cuaca tidak terasa panas.


Damien melihat ke atas, membayangkan sesuatu, Dewi celingukan melihat ada orang di sekitar atau tidak, meskipun irlllalu mendekatkan wajahnya perlahan, Damien menyadarinya dan agak terkejut, bibir mereka begitu dekat.


Seketika itu juga Damien menjauhkan dan memalingkan wajahnya,


"Wi.. maaf.. sepertinya aku belum bisa"


Dewi pun bingung harus bersikap bagaimana, Ia juga memalingkan wajahnya karena sangat malu,


..."A... aku yang minta maaf kalau sudah lancang"...


Awkward moment terjadi selama beberapa menit.


"Aku.. ngerti kok, mas masih belum bisa melupakannya, maaf kalau aku terlalu


terburu - buru", Dewi bicara dengan wajah tertunduk.


Tak sampai beberapa detik, Damien memegang pundak Dewi, kemudian mencium bibirnya dengan penuh kehangatan.


Dewi yang terkejut tak kuasa menolaknya, Ia pun namun menikmatinya.


Damien melepaskan bibirnya perlahan, Dewi terperangah, masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Tenang Wi, aku gak akan menyia - nyiakan cinta yang hadir di depanku begitu saja", Damien tersenyum sambil memegang tangan Dewi.


Merekapun berpelukan, Dewi nampak begitu bahagia, namun ekspresi Damien seperti datar dan tanpa emosi.


...----------------...


Di sebuah bar di kedalaman laut di tengah samudra.


Leviathan sedang menikmati waktunya bersama para Siren (putri duyung), Ia banyak minum hingga agak mabuk. Kemudian ponselnya berbunyi dan muncul pesan dari Astaroth, "tuan, saya mohon bantuannya untuk mengawasi Asmodeus ya, terima kasih sebelumnya".


Ekspresi Leviathan segera berubah, Ia merasa moodnya menjadi rusak karena hal ini.


"Hah, bocah itu.. kalau bukan karena hal itu, aarggh benar - benar", gumamnya.


Tiba - tiba salah seorang siren menghampiri Leviathan dengan tergesa - gesa,


"Tuan, ada seorang wanita yang memaksa ingin masuk dan bertemu dengan tuan Levi"


"Ah, seperti apa penampilannya?"


"Dia pakai pakaian serba hijau, dan membawa banyak pengawal"


"Gawat, katakan kalau aku tidak disini! aku mau keluar lewat pintu belakang"


Leviathan keluar lewat pintu belakang diam - diam, sang wanita pun masuk dan menyuruh puluhan pengawalnya mencari Leviathan.


Para siren yang berada di tempat itu merasa ketakutan, karena wanita itu memiliki aura atas kekuatan yang begitu besar.


"Rrrhhh.. Leviathan! kau tidak akan bisa


lari dariku!", wanita itu geram.


...----------------...


Neraka tingkat tujuh, Kantor Lucifer.


Lucifer mendadak menjadi kesal karena anak buah kepercayaannya entah sedang berada dimana.


Ia menelepon kantor Mammon, tak ada jawaban. Belphegor pun juga sama. Kalau Ia sampai harus menghubungi Satan, ia sangat segan.


"Masa sih mereka semua mengurusi kasus Asmodeus? apa jangan - jangan mereka berniat mencuri kekuatan itu? ah kurasa itu tidak mungkin"


Lucifer berspekulasi sendiri atas kejadian ini. Ia pergi keluar lalu bertanya kepada semua petugas neraka, namun tak mendapatkan jawaban yang Ia harapkan.


Jadi, karena di neraka tak ada yang bisa membantunya, Ia mencoba pergi ke surga, Ia masih punya tanda masuk khusus ke surga, karena Ia adalah dulunya adalah seorang mantan malaikat.


Jarak yang harus ditempuhnya lumayan jauh. Namun dalam beberpa detik Lucifer sampai di area gerbang menuju ke surga. Suasana dan aura di wilayah surga sangat berbeda, begitu menenangkan.


Di depannya terlihat gerbang besar setinggi sepuluh meter yang terbuat dari emas murni, begitu kokoh, terlihat sangat bersih dan mengkilap.


Gerbang tersebut dijaga oleh dua penjaga yang berpakaian serba putih dan memakai helm seperti pasukan perang zaman dahulu.


Menyadari kedatangan Lucifer, kedua penjaga itu masuk ke fase waspada, dan menyiapkan senjatanya yang berbentuk tombak emas, dan mengarahkannya kepada Lucifer.


"Hei aku tidak berniat merusuh, aku hanya ingin bertemu dengan Tuan Gabriel", ucap Lucifer kepada para penjaga sambil memperlihatkan tanda masuknya.


"Itu mustahil, karena tanda masuk itu sudah tak berlaku, lagipula tuan Gabriel sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk seorang


pengkhianat surga"


Jawab sang penjaga dengan angkuh.


"Ah ayolaah.. kenapa harus mengungkit soal itu lagi, kalian juga pasti paham kan kalau semua ini terjadi berdasarkan takdir dari Bos Besar"


"Tetap saja, tuan gabriel sangatlah sibuk dan tak bisa diganggu"


Tiba - tiba gerbang surga terbuka, lalu muncullah Gabriel dengan cahaya yang begitu menyilaukan dan sayap - sayap besarnya yang berjumlah ribuan.


"Tuan Gabriel!", para penjaga membungkuk memberi hormat.


Lucifer menutup matanya.


"Ya ampun, aku tak akan pernah terbiasa dengan cahaya itu"


"Ada apa mencariku wahai saudaraku?"


Kata Gabriel dengan suara menggema.


"Kenapa kau masih memanggilku saudara? padahal jalan kita sudah berseberangan"


"Karena sesungguhnya, kau juga dulu diciptakan dari cahaya seperti kami, meskipun takdir kita sekarang berbeda, namun ikatan itu tetaplah menjadikan kita saudara"


"Entahlah, kalau berada disini rasanya


seperti terasing", Lucifer melihat sekitarnya.


"Jadi...ada keperluan apa? aku merasakan auramu dari jauh jadi aku langsung datang"


"Ngg.. sebelum itu, apa anak buahmu ini tak bisa lebih sopan dalam menyambut tamu dari luar?", Lucifer menunjuk para penjaga gerbang dengan wajah kesal.


"Hmm.. soal itu , aku minta maaf sebelumnya. Tapi para penjaga memang sudah dibuat agar tidak menerima sembarang tamu, terutama dari neraka. Apalagi yang datang seorang Lucifer, mereka pasti dapat merasakan auramu yang menekan itu dari jauh"


"Cih, ya tetap saja, setidaknya di neraka kami tak memiliki penjaga gerbang, jadi siapapun boleh masuk"


"Ya tapi siapa yang ingin masuk ke neraka?", ucap Gabriel sambil mengangkat bahunya.


"Hmm.. benar juga sih", Lucifer berpikir sambil memegang dagunya.


"Tolong sebutkan keperluanmu, wahai Lucifer"


"Oh..iya sampai lupa, aku tidak dapat menemukan anak buahku, Succubus dan Behemoth, auranya bahkan tidak terdeteksi, mungkinkah kau melihatnya? meskipun rasanya hampir tidak mungkin"


"Aaaa.. wanita berambut merah beserta gajah hijau itu bukan?"


"Iyaa benar"


"Kebetulan aku memang bertemu mereka kemarin. Sepertinya mereka sedang mengikuti sejumlah lulusan akademi yang baru lulus, jumlahnya sangat banyak"


"Ha!? lulusan akademi? menuju


kemana mereka?"


"Kalau tidak salah menuju gerbang dimensi"


Lucifer nampak terkejut.


"Baiklah, terima kasih banyak atas informasinya tuan"


"Sama - sama saudaraku, kami di sini tetap membuka pintu surga bagi kalian yang ingin kembali ke jalan yang benar", Gabriel menunjuk pintu gerbang surga dengan tangannya.


Lucifer tersenyum canggung,


"Ah.. ya.. baik.. tentu saja", Ia mundur perlahan, kemudian pergi setelah memberi hormat.


"Jalan yang benar? cih, aku ini sang penguasa tertinggi neraka", keangkuhan Lucifer mulai timbul seiring Ia berjalan menjauh.


Lucifer kembali ke kantornya dan mengambil sebuah bola peramal, Ia mencuri pandangan dari salah satu astral yang sedang beraksi disana, Ia terkejut sekali ketika melihat Succubus dan Behemoth dalam wujud manusia ,berada di barisan bersama sengan Asmodeus dan Erina.


Ia merasa sangat geram, matanya menyala semerah api.


"Rrrgghh.. jadi beginikah perlakuan kalian setelah selama ini kuurus, apa kalian semua ingin kumusnahkan?"