
"Kau mau ngapain?", tanya Erina.
"Aku akan masuk ke celah itu, karena badanku cukup kecil", jawab Emily.
"Emily, kau sudah sangat membantu di tim ini, tolong jangan menganggap dirimu tak berguna", ucap Asmodeus sambil memegang tangannya yang terluka.
"Tak apa, kapan lagi bisa begini", Emily pun pergi dan melompat masuk melewati celah kecil diantara dinding cahaya.
Saat di dalam, Ia melihat Dewi yang sudah tak sadarkan diri, melayang di atas altar dekat dengan peti mati. Dan sang uskup sedang merapalkan mantra.
"Ah aku tahu, itu uskup agung yang meninggal sewaktu perang salib di abad pertengahan, Ia berkhianat kepada musuh, sehingga sekarang terpaksa mengabdi pada menara".
Emily tanpa ragu mendekat ke arah uskup, dan mencari senjata yang bisa digunakannya.
Rupanya Ia hanya membawa buku catatan kecil dan sebuah pena.
"Apa aku harus menusuknya dengan pena ini?", pikir Emily.
"Mau apa kau anak kecil?", uskup itu tiba - tiba bertanya.
"Enak aja anak kecil, aku akan membunuhmu uskup jahat".
"Sembarangan bicara saja anak kecil, tahu apa kau soal aku?"
"Aku membaca tentang semua sejarah manusia dan astral dari zaman dahulu".
"Hmm..menarik, kalau begitu menurutmu apakah aku memang salah?"
"Tentu saja, karena kau mengkhianati raja Louis pada masa itu".
"Aku hanya memberikan yang terbaik karena penawaran dari raja Louis saat itu sangat buruk".
"Seburuk - buruknya kau kan harus tetap memihak kepada rajamu, dan lagi kau berada dalam organisasi keagamaan yang netral".
"Sudahlah itu hanya masa lalu, sekarang aku harus mengabdi kepada menara ini, dengan cara membangkitkan master Samael, demi kesejahteraan umat".
"Membangkitkan Samael hanya akan memperkeruh suasana".
"Kau jangan sok tahu anak kecil", uskup tampak mulai emosional.
"Kau memang tak dibutuhkan, tapi lumayan juga untuk tambahan bumbu ritual ini".
"Hei, jangan mendekat!", Emily mengarahkan penanya ke uskup itu.
...----------------...
"Mo.. sepertinya aku akan menyusul Emily ke balik dinding itu". Erina
"Tunggu, itu berbahaya".
Erina memperlihatkan ekspresi yang seolah merasa dianggap seperti anak kecil.
"Aku sudah melewati semua sejauh ini, jadi tolong jangan anggap aku wanita yang lemah".
Erina dan Clara telah merawat luka yang lain, lalu bergegas untuk pergi.
"Clar, gue titip yang lain ya".
"Oke, lo Hati - hati ya".
"Semoga para patung ini gak melakukan hal lain yang diluar dugaan".
Asmodeus tampak begitu cemas, namun Erina pergi dengan tanpa ragu.
Ia agak kesulitan melewati celah yang cukup kecil, namun akhirnya berhasil.
Ia sangat terkejut ketika Ia sampai.
Sang uskup tampak sedang merayakan keberhasilannya,
"Gahahahaha...ritual kebangkitan telah berhasil, sekarang tatanan dunia telah kembali seimbang".
"Hei! apa yang terjadi!? mana kedua temanku?", tanya Erina dengan wajah marah.
"Temanmu? oh dua orang sukarelawan itu? ya mereka sudah membantu ritual ini dengan sangat baik, sekarang saksikanlah kebangkitan dari Master Samael".
"Apa!? mereka sudah...!?"
"Mereka sudah jadi bagian dari Master Samael sekarang".
"Tidak mungkin..", Erina terduduk, Ia shock.
Samael bangun dari petinya dengan elegan.
Para patung yang tadinya membentuk barikade kini berbalik arah dan memberi hormat kepada Samael.
Sang uskup pun memberikan pengumuman,
"LIHATLAH, KEBANGKITAN DARI MASTER SAMAEL, YANG AKAN MEMBERIKAN KESEIMBANGAN KEPADA ALAM SEMESTA!".
"Apa? apa kita telah gagal?", tanya Damien.
"Memangnya kalau gagal apa yang akan terjadi?", tanya Succubus.
"Lalu..Dewi? Emily? bagaimana?", Asmodeus juga penuh pertanyaan.
Samael berjalan pelan dengan flamboyan turun dari altar.
Ia mendekati Erina yang sedang terduduk, lalu memegang dagunya dan menatapnya.
"Terima kasih ya, sudah membantu prosesinya, sehingga semua berjalan lancar, ada yang bilang padaku karena kalian melewati satu tingkat untuk memberikan pengorbanan, maka kalian memberikan pengorbanan di tingkat ini, sungguh sangat mulia sekali".
Asmodeus heran dengan pernyataan Samael, Ia bertanya pada Damien.
"Apa maksudnya melewati satu tingkat?".
"Jadi, Erina sempat menolak untuk mengorbankan seseorang di tingkat sebelumnya, mungkin konsekuensinya disini Ia akan kehilangan dua orang".
"Ah...orang itu".
"Erina sudah banyak sekali berubah sejak terakhir kau bertemu dengannya".
"Aku mengerti".
Samael seperti menyadari kehadiran seseorang.
"Aaahh..akhirnya ada seseorang yang kukenal, apa kabar saudaraku?", Samael menyapa Asmodeus.
"Tak usah basa - basi".
"Mana mungkin tak berbasa - basi, kau salah seorang petinggi neraka, orang penting yang bertanggung jawab menjaga tatanan akhirat".
"Apa kau belum lelah hidup dengan dua muka? bahkan sampai dibangkitkan lagi setelah berkali - kali dihancurkan".
"Hidup dengan ribuan, bahkan jutaan muka takkan membuatku lelah, karena memang ini takdirku, hidup sebagai si baik, juga si jahat".
"Kerjamu hanya mengadu domba".
"Yang salah adalah domba yang teradu, bukan yang mengadu..hahahahah".
"Sebut saja banyak peperangan yang pecah karena kau menyulut dua pihak, tapi apa belum cukup?".
"Lho..lho..kesannya aku hanya orang jahatnya, coba berapa banyak pihak yang terselamatkan karena aku".
"Tetap saja, ketidak-konsistenanmu itu yang membuat semua orang merasa bingung".
"Sudahlah, tak perlu membahas masa lalu, sekarang untuk masa depan saja. Karena kalian telah gagal di tingkat ini, aku bisa saja langsung memusnahkan kalian, namun. Akan lebih baik jika kalian bisa bergabung denganku disini, jadi semua akan selamat dan bahagia".
"Aku ingin teman - temanku dikembalikan!"
"Yang mana? yang dikorbankan? mana bisa, hmm...yang satu segar, dan yang satu memiliki banyak pengetahuan, mereka benar - benar membantu dengan baik".
"Kurang ajar".
"Kok kurang ajar, mereka datang dengan sukarela kok".
Erina bangkit dan berdiri, "Kami akan mengajukan banding".
Damien terlihat gusar, "Apalagi yang Erina bicarakan? sekarang Ia suka bicara sembarangan".
"Apa yang akan kau ajukan?", tanya Samael.
"Kami akan melawanmu, kalau kami menang, kembalikan semua teman kami yang kau ambil".
"AHAHAHAHAHAAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA....", Samael tertawa hingga menangis.
"Ah, kalian sungguh sangat humoris, tapi karena ini hari spesial kebangkitanku, akan kuturuti".
Asmodeus, Damien, dan Succubus yang terluka saling bertatapan. Lalu melihat keadaan pak Uwo yang sudah tak mampu bergerak.
Mereka tak mampu memikirkan bagaimana cara untuk melawan seseorang yang baru dibangkitkan.
Seseorang yang memiliki tubuh, kekuatan, dan pikiran yang benar - benar baru.
"Ngomong - ngomong, bagaimana kalian akan melawanku? melihat kondisi kalian saja sudah sangat memprihatinkan".
"Maaf aku revisi kata - kataku, bukan kami. Tapi AKU. Aku yang akan melawanmu!", Erina menunjuk Samael dengan percaya diri.
Asmodeus tercekat, Ia tak tahu bagaimana Erina bisa bersikap begitu yakin melihat keadaan semuanya yang sedang tak baik.
Namun, Ia melihat sesuatu dimata Erina. Sesuatu yang berbeda dari yang Ia lihat beberapa bulan yang lalu.
Gadis manis penakut yang harus selalu dilndungi itu sudah tidak ada lagi.
Kini dimatanya tidak nampak ketakutan ataupun keraguan, yang ada hanya amarah yang membara.
Aura yang ditimbulkannya sangat berat, seperti akan terjadi sesuatu yang besar.