
Kantor Asmodeus, neraka level satu.
"Aku tak percaya! bagaimana mungkin mereka bisa mati!?", ucap Asmodeus tidak yakin.
"Itu mungkin saja, karena sistem di dunia bawah itu masih misterius", jawab Astaroth.
"Oke, aku akan kesana!", Asmodeus bangkit dari kursinya.
"Jangan bodoh! kau mau dapat teguran lagi?"
"Biarlah, dipecat juga tak apa"
"Ya ampun orang ini", Astaroth merasa pusing dan memegang kepalanya.
"Lagipula menurut buku panduan ini, kau tak bisa sembarangan kesana jika tak sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kau menjadi bagian dari menara itu? kau bisa kesana kapanpun namun konsekuensinya, kau menjadi terikat untuk melayani menara itu, entah menjadi petugas, petinggi atau apapun"
"Kau tak bisa keluar lagi?"
"Iya, selama - lamanya"
Asmodeus bingung, lalu Ia duduk kembali dan berfikir.
"Astaroth?"
"Ya?"
"Aku titip kantor dan pekerjaanku ya"
"Aduhhh..kau mau ngapain lagi?"
"Pokoknya, sekarang kau adalah orang petinggi neraka level satu", Asmodeus mulai membereskan barang - barangnya.
"Asmo!", Astaroth memegang pundak Asmodeus.
"Tolong jangan berbuat sesuatu yang akan kau sesali kelak"
"Justru aku akan menyesal jika tak pergi sekarang"
"Haaahhh", Astaroth menghela nafas selayaknya orang yang hidupnya penuh dengan masalah.
"Kupercayakan semua padamu, entah kita akan bertemu lagi atau tidak, tapi kau adalah sepupuku yang terbaik"
Astaroth hanya menatapnya, melihat Asmodeus pergi dengan tergesa - gesa.
...----------------...
Asmodeus mengunjungi kantor Beelzebub.
"Jadi, karena kau yang merekomendasikannya, kau merasa bertanggung jawab atas perjalanan mereka?", tanya Beelzebub.
"Betul"
"Ayolah....mereka semua kan sudah dewasa dalam memutuskan sesuatu"
"Tetap saja, mereka mungkin tidak tahu seberapa berbahayanya tempat itu, aku jadi benar - benar khawatir"
"Entahlah, lalu apa yang kau ingin kan dariku?"
"Bantu aku untuk..."
"Ikut denganmu?"
"Tidak - tidak, bantu aku untuk berbicara dengan perwakilan dari surga"
"Gabriel!?"
"Iya"
"Aku tidak yakin"
"Aku akan membuat surat terbuka untuk meminta izin bicara dengan perwakilan surga"
Setelah membuat surat, Asmodeus mendapat panggilan untuk ke ruang rapat akhirat. Disanalah para perwakilan dari surga dan neraka dapat bebas bertemu dan berbicara.
...----------------...
Di ruang rapat, terdapat meja panjang dan puluhan kursi kayu berukiran yang mengitarinya. Asmodeus dan Beelzebub datang dan di dalamnya sudah ada Gabriel dalam sosok manusia biasa yang tidak mencolok dengan kedua pengawalnya yang berdiri di sebelahnya. Ia duduk di paling ujung.
"Halo, apa kabar wahai para petinggi neraka?", sapa Gabriel dengan begitu ramah.
"Halo tuan Gabriel, maaf sudah lancang dengan meminta anda bertemu kami"
"Ah tak perlu begitu formal, kita kan sudah pernah mengobrol"
"Baik"
"Bahkan Beelzebub sudah mandi ya? sangat diluar dugaan", Gabriel memperhatikan Beelzebub yang tampak rapi dan wangi, tidak bau sampah seperti biasanya.
"Tentu saja tuan, saya merasa segan bertemu dengan petinggi surga seperti anda"
"Aah inilah yang membuat terjadinya kesenjangan, semua menganggap penghuni surga begitu hebatnya, padahal kan kita semua adalah ciptaan sang maha kuasa"
"Iya, tapi bukankah Bos Besar memang menciptakan penghuni surga sebagai yang terbaik dan penghuni neraka sebaliknya tuan?"
"Hmm..itu memang benar adanya, tapi kan kalian juga sama - sama menjalankan tugas, hanya berbeda jalan saja"
"Iya benar"
"Ngomong - ngomong, ruangan ini sudah ratusan tahun tak pernah terpakai semenjak permasalahan Lucifer. Sekarang ada masalah apa yang ingin kalian bicarakan?"
Asmodeus dan Beelzebub saling bertatapan.
"Saya...mengetahui anda punya jalur khusus untuk berkomunikasi dengan Adam"
"Benar tuan"
"Kalau kutebak, kau ingin memastikan keadaan Erina Muriella, sang keturunan Lucifer"
"Anda sangat benar"
"Hmm...bagaimana ya?"
Asmodeus bangkit lalu menunduk ke arah Gabriel,
"Saya memohon atas nama saya sendiri, Asmodeus Claidheamh, tolong bantu saya mendapatkan jalur khusus untuk pergi ke menara kekuatan"
Beelzebub melihat rekannya ini yang mungkin satu - satunya iblis petinggi yang berani memohon kepada malaikat nomor satu di surga.
"Aku akan coba memikirkannya dahulu"
"Baik, saya akan menantikan jawabannya"
"Duduklah kembali. Aku ingin tahu apa yang membuat kau begitu mengkhawatirkannya, bukankah dia begitu kuat?"
"Iya saya tahu dia memiliki kekuatan, namun di sisi lain dia hanya seorang manusia, dan keadaan disana tidak ada yang tahu bagaimana. Karena saya sangat mencintainya, saya sangat khawatir dengannya"
"Hmm..cinta ya? perasaan paling absurd, paling penuh warna, namun juga paling gelap yang pernah diciptakan oleh Sang Maha Kuasa...kami para malaikat tidak dianugerahi perasaan seperti itu"
"Saya tahu, hidup para malaikat sangat mudah karena tidak memiliki perasaan itu bukan?"
"Para petinggi seperti aku masih memiliki perasaan, namun para pengawal dan petugas biasa, mereka seperti robot yang mengerjakan semua tugas dengan sempurna tanpa keraguan"
"Saya yakin mereka kadang merasakan kehampaan juga"
"Entahlah, mungkin saja"
"Jadi, kapan tuan bisa memberikan jawabannya?"
"Kau mau pergi sendirian?"
"Iya, sendiri saja cukup"
"Aku akan mencoba menelepon Adam untuk menanyakan apakah bisa mendapatkan jalur khusus"
"Ah baiklah", Asmodeus terlihat sumringah.
Gabriel mengeluarkan sebuah kotak dengan batu permata kecil dari sakunya lalu kotak itu melayang di depannya.
Beberapa saat kemudian kotak itu bercahaya, dan Gabriel mulai berkomunikasi dengan seseorang.
"Halo, apakah aku mengganggu?"
"Tidak, sudah lama tak ada yang berbicara dengan jalur ini, siapa disana?", tanya seorang wanita.
"Ini Gabriel"
"Aaaaa..Gabriel, sudah sangat lama sekali ya"
"Iya, Eve..lama tak berjumpa, apa Adam ada?"
"Ehmm sebentar akan saya panggilkan"
Tak lama kemudian hadir seorang lelaki di seberang sana dengan suara besar.
"Gabrieeell...apa kabar?"
"Aku baik, Adam aku punya beberapa pertanyaan kalau itu tidak mengganggumu"
"Silahkan saja, apapun boleh untuk malaikat nomor satu"
"Apakah astral bisa memantau keadaan seseorang yang sedang dalam misi di menara kekuatan?"
"Hmm..tergantung"
"Tergantung pada apa?"
"Seberapa kuat astral itu? karena jaringan komunikasi yang dibangun untuk menghubungkan dunia bawah ke akhirat sangatlah jauh dan sulit, jadi untuk bisa memantau keadaanya dari jauh akan sangat menguras energi, dan bahkan tidak akan sempurna"
Asmodeus tiba - tiba mendekat ke Gabriel dan langsung ikut bicara, "Maaf, tapi apa kau bisa memberitahukan langsung bagaimana keadaan seseorang di dalam sana?"
"Siapa ini?"
"Aku adalah Asmodeus, Astral yang dibicarakan tadi"
"Hmm..jadi begini, aku saja tidak punya kemampuan untuk melakukan itu, aku hanya menunggu di ruangan terakhir, Menunggu manusia yang berhasil melewati segala rintangan yang telah dibuat sedemikian rupa"
"Bukankah kau yang membuat semua rintangan itu? apakah itu sangat sulit?"
"Bukan aku yang membuat, aku hanya menjadi penjaga dan pengelolanya"
"Oke oke, bagaimana kalau aku ingin pergi langsung kesana dengan cepat tanpa harus melewati rintangan dunia bawah terlebih dahulu? apakah bisa?"
"Sebenarnya bisa, tapi persyaratannya lumayan"
"Apa itu, sebutkanlah!"
"Kau harus membangun ritual menggunakan mantra khusus dengan unsur tiga ciptaan. Unsur cahaya, unsur api, dan unsur tanah, dan energi kalian harus benar - benar kuat untuk bisa melakukannya, lalu kalau berhasil kalian akan bisa membuka gerbang ke dunia bawah"
"Baiklah, terima kasih atas informasinya"
"Oke, sambungan ini akan segera terputus karena perbedaan dimensi yang jauh"
Sambungan telepon di kotak itu mati.
"Nah aku sudah membantumu, selanjutnya silahkan caritahu sendiri ya, oh iya kalau soal mantra kau bisa mencarinya di perpustakaan pusat akhirat"
"Terima kasih banyak atas bantuannya tuan"
Asmodeus dan Beelzebub memberi hormat.
Gabriel kembali ke surga, Mereka berdua tetap tinggal dan membahas rencana.