My Heart From Hell

My Heart From Hell
Searching for Power



Erina dan Lucifer berhasil sampai di hutan berkat jarak teleportasi Lucifer yang cukup jauh. Nama hutan ini adalah Elkurius, tempat yang bisa sangat berbahaya bagi siapapun yang melewatinya, kecuali para pemilik kekuatan.


Mereka berdua beristirahat karena merasa begitu lelah.


"Kenapa kita bisa merasa lelah? bukankah ini di alam baka?", tanya Erina.


"Memang, kalau di alam baka tingkatan paling bawah, semua sistem kehidupan mirip seperti di alam manusia, bisa lelah, terluka dan sebagainya"


"Hmm.. berarti kita harus bertindak dengan lebih hati - hati ya"


"Benar sekali"


"Ngomong - ngomong, kenapa dengan wujud tikus itu? apa tak ada pilihan lain"


"Entahlah, tapi aku tak bisa berubah jadi yang lain, sesungguhnya menjadi hewan pengerat seperti itu sangat menjijikkan. Padahal dulu aku menjadi elang, harimau, serigala. Hewan - hewan yang gagah"


"Ya mau bagaimana, kalau menurutku, mungkin wujud itu bisa berguna dalam perjalanan kita"


"Ya semoga saja begitu"


Setelah beristirahat sejenak, mereka berdua melanjutkan perjalanan. Lucifer menunjukkan rute yang akan mereka tuju, karena ia sudah mencaritahu lebih dahulu.


Erina melihat sekelilingnya, bentuk flora dan fauna yang ditemuinya memiliki bentuk - bentuk yang sangat aneh.


"Tempat ini, suasananya mirip dengan dunia bawah ya?"


"Alam baka sangat berbeda dengan dunia bawah, dunia bawah itu kecil, namun di sini tak ada batasnya"


"Papi, tanaman di sana itu kenapa mengerikan?", Erina menunjuk tanaman berbentuk seperti kepala buaya yang berukuran sangat besar.


"Kita sudah memasuki area vegetasi yang berbahaya di Elkurius, semua tanaman di sini beracun dan bisa memakan kita"


Erina menelan ludah, lalu bertanya.


"Kalau mati di sini, apakah bisa bereinkarnasi kembali?"


"Tidak, di sini adalah tempat yang sangat buruk untuk mati"


Meskipun sudah berjalan pelan dan hati - hati, Erina terjerat oleh perangkap akar pohon raksasa, akar itu menarik kaki Erina ke atas dan menggantungnya.


"Papii.. toloong!"


"Ah sial aku lengah, tunggulah akan kucari sesuatu", Lucifer bergegas mencari batu tajam atau tongkat untuk memukul, namun ia tak dapat menemukan yang sesuai.


Erina menggoyangkan tubuhnya sekuat tenaga mencoba melepaskan jeratan itu, namun itu sangat kuat.


Batang pohon raksasa mulai menunjukkan wajahnya dan mulutnya yang besar, menganga untuk menelan manusia yang baru ditangkapnya.


"Aakhhh.. masak sudah akan berakhir saja? ini terlalu cepat. Menyebalkan sekali jadi orang yang tidak berdaya begini", Erina menggumam sendiri.


Lucifer yang masih sibuk mencari, tak menyadari Erina yang sebentar lagi akan masuk ke mulut pohon raksasa.


"Erina!!"


"Papi! maafkan aku karena tidak berguna"


"Apa - apaan!? tak akan kubiarkan", Lucifer mendapatkan sebuah ide, lalu bergegas berlari menuju Erina.


Ia berubah wujud, lalu menggunakan gigi tikusnya yang besar untuk menggigit akar yang menjerat kaki Erina hingga putus.


Erina berhasil lepas dan terjatuh. Lalu ia melihat wujud tikus Lucifer yang terus menggerogoti akar hingga batang pohon itu sampai habis. Erina agak merinding menyaksikan situasi itu, tikus itu seperti monster yang brutal.


Lucifer telah menyelesaikannya. Pohon besar itu tak bersisa sedikitpun. Ia mengusap mulutnya dengan tangan, "Ahh, aku kenyang"


"Bukankah itu agak berlebihan? kenapa sampai menghabiskannya? Papi lapar ya?"


"Bukan hanya karena lapar, tapi karena ini.."


Lucifer memegang tanah, dan muncul akar - akar yang bergerak sesuai dengan keinginannya.


Erina terkejut, "Wooah.. aku mengerti, wujud tikus itu bisa memakan apapun untuk menyerap kemampuannya kan?"


"Ya kau benar, anak pintar"


"Aku juga ingin memakan sesuatu supaya dapat kekuatan", pinta Erina.


"Hemm.. mungkin cara kerjanya tidak semudah itu"


"Ah iya, aku kan bukan astral", Erina menjadi lesu.


"Nanti kalau sumber kekuatanmu sudah ditemukan, semua penghuni alam baka bakal bersujud padamu"


"Tapii.. aku tak ingin seperti itu, aku hanya ingin jadi orang biasa"


"Tidak bisa, garis takdirmu itu selalu luar biasa Erina"


Setelah beristirahat sejenak, mereka bergegas lagi, Lucifer mengeluarkan kompas khusus untuk menentukan arah tujuan mereka.


"Medan energi, kalau ada sumber energi astral yang besar kita bisa menemukannya dengan kompas ini"


Setelah berjalan dengan hati - hati, mereka tiba di luar hutan, dan terlihat padang gurun yang luas, berisikan astral raksasa dengan berbagai wujud.


"i..inii..", Erina takjub.


"Ini adalah Land of Giants, tanah para raksasa. Semua keturunan raksasa, awalnya berasal dari sini"


"Berarti aku juga..."


"Iya, kakekmu juga dari sini"


"Tapi, para raksasa itu kenapa berdiri seperti membentuk formasi?"


"Mereka melindungi sesuatu di ujung sana", Lucifer menunjuk sumber cahaya kecil yang sangat jauh.


"Ada apa disana?"


"Aku juga tak tahu, yang pasti itu sumber energi besar yang kita cari, kita harus kesana agar tahu"


"Oke baik, tapi.. di sini sangat panas, kulitku seperti melepuh, Papi.. boleh kita jalan saat malam aja?", Erina mengeluh dengan manja.


"Yaa baiklah, demi anakku yang manis"


Mereka berdua masuk kembali ke dalam hutan rindang yang teduh, lalu duduk di bawah pohon untuk mempersiapkan diri.


Mereka duduk bersebelahan. Erina melirik ke arah Lucifer yang sedang memejamkan mata karena lelah.


Erina tak menyangka sama sekali, Lucifer yang ia nobatkan sebagai makhluk yang paling ia benci, kini malah menjadi rekan seperjalanannya. Memang jalan takdir itu sangat sulit dimengerti.


Hari pun mulai gelap.


"Papi.."


"Ya anakku"


"Menurutmu apa wujud dari sumber energi itu?"


"Kemungkinannya terlalu banyak, tapi kalau sampai dijaga ketat, mungkin itu sangat berharga"


"Seperti benda pusaka?"


"Bisa jadi, bisa juga itu hanya sumber energi alami. Tapi, kalau itu benar benda pusaka yang bisa kita pakai, atau ternyata itu adalah Asmodeus yang sedang dalam proses kebangkitan, maka perjalanan kita sudah selesai setengahnya"


"Ahh semoga saja begitu"


Mereka sama - sama terdiam.


Erina berpindah posisi jadi menghadap ke arah Lucifer lalu menatapnya tajam, Lucifer jadi merasa canggung.


"Ke.. kenapa menatapku begitu?"


"Aku punya pertanyaan yang sangat krusial, papi harus jujur"


"Baik, silahkan, tanyalah"


"Kalau papi sudah mendapatkan kekuatan kembali, apa kau akan kembali angkuh dan menyebalkan seperti dulu?"


"Hee?", Lucifer terkejut dengan pertanyaan itu.


"Bagaimana yaa? kalau itu aku juga tidak tahu"


"Biasanya, iblis kan bisa memiliki niat terselubung untuk menyesatkan, nah apakah papi hanya memanfaatkanku, demi mendapatkan kekuatan, atau kau benar berjuang demi neraka dan akhirat?"


Lucifer terdiam.


"Mungkin akan terdengar sangat naif, tapi aku merasa tidak seperti dulu lagi. Sekarang aku hanya ingin semuanya berjalan lancar, aku tidak lagi ingin mengacaukan segalanya"


"Hmm benarkah?", Erina memicingkan matanya karena curiga.


"Oke begini, kalau ternyata nanti aku berbohong, kau boleh menghajarku"


"Akan kuhajar sampai tak berbentuk"


Lucifer menelan ludah.


"Ah sepertinya suasananya sudah sejuk sekarang, mari kita berangkat"


"Tapi ini jurang, bagaimana turunnya?"


"Tenang, sekarang ada ini", Lucifer memegang tanah, lalu akar mulai tumbuh dengan sangat cepat"


Erina dan Lucifer menuruni jurang perlahan dengan memegang akar - akar.


Mereka menuju tanah para raksasa.