
"Mo, apa maksudnya para astral itu mendatangiku? memangnya karena aku salah masuk akhirat lalu mereka jadi begitu marah?", Erina masih penasaran dengan kejadian semalam.
"Hmm..sepertinya begitu, lebih baik kita pergi untuk menyegarkan pikiranmu, gimana kalau cari sarapan?", Asmodeus berusaha mengubah pembicaraan.
"Bolehlah, Aku ganti baju sebentar"
...----------------...
Di mobil.
"Kenapa Damien nggak diajak?"
"Dia bilang mau menyusul saja, masih ada urusan katanya"
"Kamu, masih marah sama dia?"
"Ngg.. l sebenarnya sih iya"
"Ayolah, semua orang kan bisa berbuat salah, tapi Damien benar - benar berusaha untuk menolongku kok, aku juga banyak merepotkan dia, jadi tolong maafin dia ya"
"Baiklah, karena kamu yang minta".
...----------------...
Mobil Erina menepi di pinggiran jembatan tepi sungai yang jernih. Banyak orang yang berjualan disini, mulai dari makanan, kopi keliling sampai asesoris. Ini adalah tempat yang populer untuk mencari sarapan.
"Kamu mau bubur ayam apa seafood?"
"Ayam aja, Aku alergi seafood soalnya"
"Oke"
Asmodeus pun memesan makanan mereka, kemudian duduk bersama di bangku plastik
"Aku lebih suka makanan pinggiran kayak begini deh, lebih santai", ucap Erina sambil melihat sekitarnya.
"Sekali - kali ke resto juga mau kan?
aku yang traktir"
"Gampanglah itu", Erina menepuk bahu Asmodeus.
Sang penjual bubur menghampiri mereka lalu menghidangkan dua mangkok bubur hangat yang menggugah selera. Mereka berdua mulai makan sambil bercengkrama.
...----------------...
Damien yang sudah menyusul melihat kedua orang itu sedang makan bersama, Ia pun menjadi malas dan mencari posisi yang agak jauh dari pasangan itu.
Damien duduk di pinggiran sungai, Ia tak lapar ataupun haus, Ia hanya memikirkan kapan Asmodeus pulang ke akhirat dan tak mengganggunya lagi.
Tak diduga, ada seseorang yang menghampirinya. Ia adalah teman seprofesinya yang dulu pernah mengikuti pelatihan bersama.
"Damien?", sapa orang yang bermata sipit itu.
"Eh, Lim Kwang?"
Mereka pun bersalaman dan saling menanyakan kabar.
"Wah, lo udah tingkat berapa sekarang? udah lengkap banget atributnya", Damien memperhatikan temannya dari atas sampai bawah.
Terlihat Lim Kwang yang bermata sipit, berpakaian jubah hitam panjang dengan tudung, banyak atribut di pakaiannya yang menunjukkan pangkatnya, membawa sabit yang berwarna emas, serta diiringi dua ekor anjing pitbull hitam yang membantunya.
"Ai udah tingkat tujuh ni, yu gimana?"
Yang terlihat pada Damien adalah kemeja biasa selayaknya pakaian waktu mereka baru lulus dari akademi pencabutan nyawa.
"Gue..masih tingkat satu, kok lo cepat banget bisa tingkat tujuh dalam kurang dari setahun? ada orang dalam ya?"
"Haha ya ndak laa, kerja pintar dan rajin aja, serta inisiatif buat request job diluar area kita juga membantu banget buat naik tingkat"
"Oo begitu ya", Damien mengangguk - angguk.
"Yoi, yaudah ai kerja dulu ya, tuh ada yang mau terpeleset ke dalam sungai"
"Oke oke, gue juga ada kerjaan", Damien berbohong.
Lim Kwang melompat pindah ke seberang sungai, menghampiri seseorang yang sudah ditakdirkan akan mengalami musibah.
Damien termenung sesaat, Ia merasa tertinggal dari temannya yang dulu bahkan saat lulus nilainya masih dibawah dirinya, tapi dia berusaha mengejar karena itu pekerjaan impiannya. Bahkan mungkin dalam setahun Ia bisa dipromosikan menjadi supervisor.
Damien melihat pasangan Erina dan Asmodeus dari kejauhan lalu bergumama dalam hati,
"Sebenarnya gue ngapain sih?"
......................
Setelah selesai makan, Asmodeus sedang menasihati Erina,
"Na..kamu harus pakai cincin itu terus, supaya Aku bisa pantau keadaan kamu, kalau ada
apa - apa aku jadi bisa langsung tahu"
"Iyaaa...aku gak apa - apa kok, kalau mereka ganggu lagi aku udah gak takut"
"Hhhhh..tetap ajalah Aku pasti bakal kepikiran, kamu gak tahu apa yang bisa mereka lakukan ke kamu"
Ponsel Asmodeus berdering, Ia hanya melihat ke layar dan terlihat lesu.
"Udah harus balik ya?", tanya Erina.
Asmodeus mengangguk pelan.
"Udah sana, nanti jadi masalah kalau kamu sering cabut"
Asmodeus memegang tangan Erina.
"Di dalam cincin itu, Aku udah menaruh sedikit kekuatanku disitu, kalau kamu fokus, itu bisa dipakai untuk mengusir astral yang mengganggu"
Erina tersenyum sambil mengacungkan jempol.
"Eh tunggu, aku mau tanya sesuatu...kenapa para astral itu memanggil aku dengan sebutan anak iblis...anak haram dan sebagainya?"
"Ah itu...namanya juga makhluk jahat, jadi ngomongnya suka sembarangan, jangan terlalu dipikirin ya", Asmodeus mengusap rambut Erina.
Erina mengerutkan keningnya, Ia merasa ada yang janggal, Ia melihat sekeliling, banyak astral yang sebelumnya tak terlihat, ada yang menempel pada manusia, ada yang duduk diam di sebuah tempat, berbagai ukuran dari yang seperti anak kecil sampai setinggi pohon, dan Ia sudah biasa saja melihatnya, selama ini mereka memang selalu hidup berdampingan dengan kita.
"Aku berangkat dulu ya, buburnya udah kubayar", Asmodeus beranjak dari kursi.
"Iya, hati - hati ya", Erina melambaikan tangannya.
Asmodeus pergi perlahan sambil menoleh ke arah Erina dan tersenyum. Lalu Ia menghilang disaat tak ada yang melihatnya.
...----------------...
Di akhirat, Asmodeus memutuskan untuk menghampiri kantor Lucifer untuk menyampaikan keberatannya jika Ia mengganggu Erina, namun ternyata Ia sedang tak ditempat. Hanya ada Behemoth di kantornya.
Akhirnya Asmodeus membuat surat permohonan dan meminta Behemoth menyampaikannya. Namun ketika Asmodeus pergi ,dihancurkannya surat itu diam - diam.
...----------------...
Erina pulang dengan sendiri menggunakan mobilnya dan tidak mencari Damien karena Ia tahu Damien punya urusannya sendiri.
Di apartemennya, Ia melihat tempatnya masih seperti Ia pergi. Beberapa hari kemarin, Damien sempat beres - beres bahkan menyiapkan makan. Ia merasa tidak enak karena Damien disalahakan Asmodeus padahal Ia sudah berusaha yang terbaik.
Erina merenung sebentar di meja makan, berfikir apa ada yang salah pada dirinya atau tidak, karena alasan para astral datang ketempatnya kemarin pasti lebih dari itu.
Setelah sepuluh menit termenung, kemudian Ia mandi dan bersiap untuk bekerja shift sore di cafe.
...----------------...
Erina masuk ke cafe, Clara langsung menghampirinya dengan menggebu - gebu
"Eh eh Na, cowok lo itu kenal dimana?
mirip artis deh"
"Nngggg..temen di...eh..kenal di..aplikasi..eh nggak, dikenalin sama orang kantor"
"Wah beruntung banget lo, tapi setahu gue lo dulu pernah bilang udah trauma sama cowok ganteng deh, karena ujung - ujungnya mereka bakal make kegantengannya untuk mainin perasaan cewek, bener gak sih?"
"Iyaaa bener, tapi gue pengalaman sama yang gak ganteng juga sama aja, jadi ya why not to try again?"
"Bener juga, semoga aja yang sekarang udah sama - sama dewasa ya"
"Iya, Gue mau siap - siap kerja nih ya"
"Ehh..kalau ada temennya yang gantengnya sama, kasih tahu gue dong, tapi jangan langsung bilang kalau gue janda"
"Siap Bu!"
Erina memberi hormat, kepada temannya yang pernah gagal dalam pernikahan, dan akhirnya mencoba untuk membuka bisnis dan hidup mandiri.
......................
Pukul 9 malam, shift Erina berakhir dan Ia bersiap pulang, Clara mulai kepo lagi terhadap Erina
"Cowok Lo gak jemput lagi?"
"Nggak, lagi sibuk dia"
"Kerjanya apa sih?"
"Hmmm...CEO"
"Oh yaaa? perusahaan apa?"
Clara terlihat sangat berbinar.
Namun Erina semakin bingung menjawabnya,
"Hmmmm..kayak, apa ya? startup gitu lah"
"Nice, stylenya sih kayak udah mapan banget yaa, udah lo gak usah kerja lagi juga gak apa - apa tinggal married terus hidup bahagia selamanya"
"Haha..emangnya princess di dongeng".
Merekapun keluar cafe bersama kemudian berpamitan.
Ketika menuju ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, suasana berubah menjadi sangat aneh. Sepi, gelap, dan auranya terasa sangat berat. Erina menjadi resah dan sesak, perasaan ini sama seperti waktu Ia bermimpi buruk tempo hari.
Dari kegelapan di ujung jalan, nampak beberapa orang berjalan menghampiri Erina perlahan. Kemudian di sekitarny mulai bermunculan makhluk - makhluk aneh, mulai dari hantu - hantu lokal, setengah binatang, maupun yang berbentuk absurd lainnya.
Di tengah - tengah mereka hadir behemoth dan Succubus.
Erina mulai takut dan merasa terpojok, Ia melupakan soal cincin Asmodeus.
"Hei, mau apa kalian? jangan mendekat!"
"Halo putri cantik, Kau sangat mirip
dengan papamu", ucap Succubus.
"Ya, papamu ingin segera bertemu", Behemoth menambahkan.
"Papa? papa siapa? papaku sudah meninggal!"
Erina menjadi panik dan bingung.
Di depan Erina muncul kobaran api berwarna jingga.
Muncullah orang nomor satu di neraka dengan gaya yang flamboyan.
"Bonjour mademoiselle", Lucifer menyapa dengan aksen perancis.
Lucifer mendekat, sedangkan Erina tak mampu bergerak, Ia seperti membeku.
"Kamu tidak ingat dengan papimu ini?", tanya Lucifer seraya memegang dagu Erina.
Mata Erina terbelalak, Ia sangat tak memahami dengan situasi yang terjadi.