
Erina agak merasa pusing, Ia membuka matanya. Rupanya Ia berada di sebuah pantai. Namun Ia hanya sendirian, yang lainnya tidak nampak dalam pandangannya.
"Guys..kalian dimana guys?" Erina memanggil teman - temannya berulang kali, tapi tak ada jawaban
Ia berjalan berusaha menelusuri sekitarnya, pasir putih yang lembut, deburan ombak di laut yang berwarna biru kehijauan, sinar matahari yang hangat, serta hembusan angin ke arah yang meniup daun kelapa. Semua nampak normal seperti di dunia yang biasanya.
Namun setelah diperhatikan lagi...
Pasir lembut yang rupanya bisa menelan siapa saja yang menginjaknya, air laut yang berbuih dan mendidih, matahari yang berjumlah tiga buah, serta angin yang bercampur kerikil tajam
Semua berubah mengerikan dalam sekejap
Di kejauhan Erina melihat ada seseorang yang terjerembab ke dalam pasir
Erina bergegas untuk menolongnya
"Pak Behe! tarik tanganku!"
"Uukkhh.."
Behemoth keluar dari dalam pasi
"Ah Erina, terima kasih banyak telah menolongku" Ia membersihkan badannya dari pasir yang menempel
"Tak masalah, tapi sepertinya kita semua jadi terpencar - pencar"
"Iya..gawat ini"
"Apa kau memiliki sebuah kemampuan khusus sewaktu menjadi astral?"
"Hmm..apa ya? aku biasanya hanya menjadi pion dalam perang"
Erina melihat sekeliling
"Lihat, disana ada palu besar"
"Wah itu sepertinya milikku, mungkin para astral mendapatkan senjata yang sesuai miliknya dulu" Behemoth mengambil palu kayu besar itu lalu mengikatnya di punggungnya
"Apa kita harus masuk ke dalam hutan? diluar sini sepertinya tak aman ya?"
"Perasaanku mengatakan kalau di dalam hubtan lebih tak aman, tapi coba pastikan dengan kuncimu itu"
"Oh iyaa..aku hampir lupa kalau punya kunci itu"
Erina mengeluarkan kuncinya, dan mengarahkannya ke dalam hutan. Itu mengeluarkan cahaya berwarna biru, lalu diarahkannya ke pantai, cahayanya berwarna kuning
Pasir - pasir putih mulai bergerak - gerak, dari dalam pasir mulai keluar kepiting - kepiting raksasa sebesar mobil keluarga. Capitnya lebih besar dari tubuhnya, sekali capit tubuh akan langsung tak berbentuk.
Erina dan Behemoth memutuskan untuk langsung masuk ke dalam hutan
"Ahh..mengerikan sekali, sebenarnya kita di dunia apa sih?"
"Mungkin di dunia paralel, aku juga tak begitu paham, tapi beruntung aku bertemu kau Erina, jadi kita bisa tahu jalan"
"Iya, tapi aku tak memakai kalung jimat, kalau tiba - tiba aku hilang kendali, bisa saja aku mencabikmu pak"
"Waduh" Behemoth menelan ludah
Mereka berdua mulai memasuki hutan semakin dalam, hutan lembab dengan pepohonan yang begitu rimbun, bentuk pohonnya yang begitu besar benar - benar tak biasa, tak seperti yang ada di bumi
...----------------...
Di tempat lain, pegunungan tinggi yang diliputi kabut
Damien membuka matanya. Persis di depannya terbaring Lily yang pingsan
"Ibu mertua! ah maksudku tante Lily"
Damien menggoncangkan tubuh Lily dengan kuat
"Ngghh..dimana ini?" Lily mulai sadar sambil memegang kepalanya yang pusing
"Aku tak tahu, tapi lokasinya seperti di atas gunung"
"Dimana yang lain? Erina?"
Damien menggeleng
"Yaampun, semua jadi terpencar? ah percuma saja, padahal aku ingin bersama Erina"
"Aku..juga mau bersama dengan Erina" Damien berbicara sangat pelan
"Apa katamu?"
"Ah tidak"
"Tadi aku mendengar kau memanggilku ibu mertua"
Wajah Damien menjadi merah
"Aku tahu kau sangat menyukainya, tapi dengan kondisi seperti sekarang, entahlah ya"
"Iya aku paham kondisinya kok tante, kalaupun dia gak suka aku balik, aku gak apa - apa"
"Bukan itu masalahnya, kondisinya kan sekarang kita semua terpisah, bagaimana caranya agar dapat bertemu kembali"
"Oohh.." Damien malu
"Lagipula, sebenarnya aku lebih setuju dia bersamamu daripada pangeran neraka itu"
Damien mendadak antusias "Ah yang benar tante!? kenapa memangnya?"
"Aku memiliki trauma terhadap iblis, mereka kan memiliki hati yang terbuat dari api, kita tak tahu pasti apakah mereka memang bisa dipercaya atau sebenarnya ada tujuan tertentu"
"Yang kudengar, malaikat maut adalah astral yang cukup berdedikasi"
"Uhuk..ya itu memang benar" Damien berlagak sok keren
"Yasudah, sekarang harus kemana kita?"
"Ah tante, awas...sepertinya ada yang mengawasi kita"
Di tengah kepulan kabut nampak cahaya yang seperti sepasang mata besar, itu adalah macan gunung raksasa.
Damien mengambil sebilah sabit yang tergeletak di dekatnya.
"Tante, berlindunglah di belakangku"
...----------------...
Di tempat berikutnya, sebuah goa yang gelap dan lembab
"Heeeiii..ada orangkah disini...??" Succubus mencari yang lainnya yang terdampar bersamanya
"Ada aku" jawab seorang lelaki
"Siapa?" disini sangat gelap"
"Orang ganteng"
"Ah..si hantu laut rupanya"
"Kurang ajar"
Succubus terdampar bersama dengan Leviathan di goa yang gelap dan panjang, tak nampak cahaya sedikitpun. Dan karena berlumut menyebabkan dasarnya menjadi licin.
...----------------...
Di sebuah gurun pasir yang begitu gersang
Alexei, terdampar seorang diri
Ia bingung, tak tahu harus berbuat apa
Sejauh mata memandang, hanya gunungan pasir dimana - mana
"Ah sial, kenapa malah aku sendirian disini?"
Alexei mencoba berjalan ke arah manapun, Ia hanya ingin berjalan tanpa tujuan karena Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sendiri di tempat asing ini
"Sepertinya aku menyesal melakukan ini, aku menyesal sudah menawarkan diri untuk ikut dalam perjalanan yang tak jelas ini, padahal aku baru saja mengenalnya, tapi kenapa aku harus melakukan banyak hal untuknya"
Hati Alexei mulai diliputi oleh sedikit aura kegelapan yang berasal dari rasa kesal dan penyesalan. Namun kalung jimat yang Ia pakai, meredakan perasaan itu sedikit demi sedikit. Meskipun, ada kemungkinan jimat itu bisa kalah jika aura kegelapan dalam hati sudah merasuk dengan hebatnya.
Entah apa yang akan terjadi dengan Alexei
...----------------...
Di neraka
Satan sebagai penguasa tertinggi kedua di neraka mengunjungi kantor Asmodeus, Ia ingin memastikan keadaan kedepannya dapat lebih kondusif, Ia datang dengan wujud yang seukuran dengan orang biasa
Astaroth menyambutnya
"Tuan Satan, kenapa tak memberitahu kalau akan kemari?"
"Ah, aku hanya sebentar saja, mana bosmu?"
"Disana, sedang fokus bekerja, ngomong - ngomong dia bukan bosku, tapi rekan kerja"
"Ya terserah....Asmodeus!"
"Tuan Satan" Asmodeus memberi hormat
"Urusanmu dengan manusia itu sudah selesai?"
"Sudah tuan, sekarang saya akan fokus bekerja"
"Sudah tak ada rencana membuat kekacauan lagi?"
"Tidak tuan"
"Sudah kau musnahkan dia?"
"Tidak, tapi dia akan menetralkan kekuatannya"
"Apa jaminannya dia akan menjalaninya?"
"Dia diawasi oleh Leviathan?"
"Ah omong kosong, bahkan Lucifer pun tak bisa menghadapinya disaat genting"
"Saya sudah mendapat laporan bahwa mereka sudah menuju ke menara kekuatan"
"Kalau begitu....aku akan mengirim beberapa anak buahku untuk mengawasinya"
"Ah tak perlu tuan"
Satan mendekatkan wajahnya ke Asmodeus
"Bukan kau yang mengatur! tapi aku!"
"Baik tuan" Asmodeus menunduk
Satan pergi dari kantor Asmodeus
"Baphomet, Mephisto, dan Cerberus. Aku punya tugas khusus untuk kalian!"