
"Papi, tolong jangan bertindak berlebihan ya", pinta Erina seraya menggenggam tangan Lucifer.
Lucifer tersenyum, "pfft.. memangnya mau bertindak berlebihan seperti apa juga? aku kan tidak memiliki kekuatan seperti dulu lagi"
"Papi bercanda ya?"
"Yaah kau lihat saja bagaimana hasilnya nanti"
"Kepada peserta nomor tiga, silahkan maju ke arena", ucap Arai.
Lucifer melangkah menuju ke arena dengan yakin.
Ratu melemparkan dadu berikutnya ke udara, terjatuh, menggelinding, dan mengeluarkan angka satu.
"Silahkan kepada peserta nomor du..."
Belum selesai Arai memanggil, terdengar suara memekik yang begitu nyaring.
"Quiiiiiiiii........."
Semua orang menutup telinga mereka.
Di udara nampak sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat hingga tak nampak di mata.
Lalu di tengah arena muncul Molian, seorang Harpy, astral berwujud gadis manis bertangan sayap dan berkaki burung. Ia turun perlahan dari udara.
"Pria ini lawanku?", tanya Molian dengan tatapan meremehkan.
"Molian Liquera sang Harpy, akan menghadapi Lucifer Morningstar sang mantan raja neraka"
"Heeeee!!?? kau adalah Lucifer??", Molian tak percaya, ia menatap Lucifer dari kepala hingga kaki.
Lucifer hanya tersenyum.
"Kalau aku bisa mengalahkanmu, tentu levelku akan naik"
"Silahkan saja, tapi aku tak akan segan - segan dengan anak kecil", Lucifer mengambil kuda - kuda selayaknya seorang petarung.
"Akuu.. bukan anak kecil..", Molian geram, ia paling tidak suka disebut anak kecil.
"Bersiap!"
Keduanya berhadapan dengan wajah serius.
"MULAI!!"
'Whoossshh", secepat kilat Molian langsung terbang menyambar Lucifer.
Lucifer terjatuh.
"Satu poin yang mudah bagi Molian Liquera!"
"Ha ha, jangan sombong kau laki - laki! kau bukan siapa - siapa di sini", Molian mencibir.
"Aduh papi..", Erina menepuk jidatnya.
"Hehe bagus, aku sudah memancing emosinya sekarang", ucap Lucifer dalam hati.
Lucifer bangkit, lalu meniup dan membersihkan luka di pundaknya akibat terkena serangan Molian tadi, "Uh.. kukira ada semut terbang yang lewat"
Mendengar itu Molian bertambah emosi, lalu ia mulai menyerang dengan membabi buta.
Lucifer bisa menghindarinya dengan teleportasi.
Dalam sekejap, Lucifer berhasil berpindah ke belakang Molian, lalu memukul kepalanya.
Molian hampir tersungkur, namun ia mengepakkan sayapnya yang membuatnya terbang kembali.
"Akhh.. padahal hampir saja"
Molian yang kesal, mendekati Lucifer lalu berteriak dengan suara supersonik yang bisa menghancurkan telinga.
"QUUUIIIIIIII...."
"Aarrgghhh..", Lucifer kesakitan dan terdorong oleh gelombang suara itu, namun ia masih bisa bertahan.
Ratu yang melihat situasi itu langsung bergerak cepat memasang lingkaran penahan, untuk melindungi orang di luar arena agar tidak terkena dampaknya.
Setelah hampir dua menit berteriak, Molian berhenti.
Telinga Lucifer mengeluarkan darah, namun ia tetap berdiri. Ia menyadari ini bukan lawan yang mudah, tapi ia juga berhasil menjalankan rencananya, meskipun harus mengorbankan pendengarannya.
Molian yang sudah berteriak lama, kini kehabisan suara, maka ia hanya dapat terbang sekarang.
Mengandalkan cakarnya yang tajam, Molian terus menerus menyerang selayaknya Lucifer adalah tikus kecil yang menjadi mangsa burung elang.
Tubuh Lucifer penuh luka dan jalannya mulai terhuyung.
Molian melihat itu sebagai kesempatan, lalu melancarkan serangan terakhirnya. Ia terbang tinggi ke udara, lalu terjun dengan kecepatan tinggi.
Lucifer sudah memahami situasinya, begitu jarak Molian semakin dekat, ia menempelkan tangannya ke tanah.
"Rasakan ini bocah!"
'Sraattt..', akar - akar bermunculan dari bawah tanah, bergerak cepat dan segera menjerat tubuh mungil Molian.
"Kyaaakhh.. kurang ajaar!!", Molian meronta karena kesal.
Erina dan Emily berdecak kagum melihat situasi itu.
Lucifer berjalan perlahan mendekati Molian.
"Aaahh..jangan mendekat! dasar laki - laki kotor!"
Lucifer dengan tenang mendorong tubuh Molian yang dijerat akar perlahan ke lantai.
"Satu"
"Yang mulia, tubuhnya sudah menyentuh lantai sebanyak tiga kali, yang artinya sama dengan tersungkur", ucap Lucifer kepada ratu.
"Aaah tidak tidak tidak! kurang ajaar! mana bisa begitu!?", Molian terus marah dan meronta karena merasa harga dirinya terluka.
"Baik, kau menang", ucap ratu sambil memalingkan wajah.
"Pemenangnya, Lucifer Morningstar dari timuur", Arai mengumumkan.
Lucifer menunduk, memberi salam pada semuanya, tapi tak ada yang bertepuk tangan.
Kecuali Erina.
"Waahhhh... hebat papi, mantap, super duper wow sekalii", Erina bertepuk tangan dan heboh sendiri.
Lucifer duduk di bangku tunggu.
Erina mencoba mengajak Lucifer bicara, namun ia tak mendengarnya karena efek serangan suara Molian.
Erina mendekatkan mulutnya ke telinga Lucifer,
"Papi, kau sengaja ya membuatnya marah?"
"Iya, anak kecil labil seperti itu, kalau kita serang mentalnya dia pasti akan membabi buta karena merasa harga dirinya dilukai"
"Lalu, kenapa akarmu bisa sangat kuat? bukankah di sini..."
Lucifer mendekat dan berbisik ke Erina,
"Hei, kau nggak lihat tanaman - tanaman besar dan berkualitas milik ratu itu?"
"Ahh.. iya ya", Erina menoleh ke kanan dan kiri, melihat pot - pot besar yang kini sudah kosong.
"Tapi kalau ratu menyadari tanamannya hilang, papi pasti akan dimusnahkan olehnya"
"Yaaa.. kurasa itu benar, jadi lebih baik jika tak ada yang menyadarinya"
Tim timur dan barat sama - sama memiliki satu pemenang sekarang, dan ratu nampaknya tidak senang.
Tak berlama - lama, ia segera melemparkan dadu lagi, dan muncullah angka tiga lagi.
"Untuk duel ketiga, dari sisi timur adalah tuan Lucifer Morningstar sekali lagi", Arai memberi pengumuman.
Lucifer tak menyadarinya.
Erina menepuk Lucifer dan menyampaikan situasinya.
"Heee? aku lagi?", tanya Lucifer.
"Iya, karena di tim kita hanya tiga orang"
"Ah ya benar begitu, baiklah", Lucifer yang bahkan luka - lukanya belum sembuh, berdiri untuk bertarung sekali lagi.
Dadu kedua yang dilempar ratu mengeluarkan angka empat.
"Dari sudut barat, Wita Nengisi sang wewe gombel, harap segera memasuki arena"
'Bumm..', kehadiran Wita yang bertubuh sebesar rumah dua tingkat membuat gempa.
"Ssiapaa.. makanankuu kalii iniii?", mata merah menyala Wita menatap Lucifer dengan tajam.
Aura kehadirannya begitu kuat hingga menekan lawannya.
Lucifer menelan ludah. Ia tahu ras wewe yang berukuran seperti raksasa adalah yang sudah berusia sangat tua ataupun kekuatannya yang begitu besar.
"Dari auranya saja terasa perbedaan yang begitu jauh", ucap Emily.
"Iya aku juga merasakannya, apalagi kondisi papi sedang tidak prima, aku sangat khawatir"
"Selama bisa menghindari serangannya, harusnya ia akan baik - baik saja"
Lucifer dan Wita berhadapan.
"Bersiap!"
Lucifer menarik nafas panjang, ia harus mengatur tempo pernafasannya agar dapat menghindar dengan baik dengan tubuh yang penuh luka.
"MULAI!!"
Wita yang bertubuh seukuran raksasa, bergerak dengan cepat dan gemulai, ia menghantam seluruh area dengan *********** yang besar dan berat.
Ia juga bisa terbang dan membanting dirinya ke tanah seperti meteor.
Tak seperti melawan harpy tadi, kali ini Lucifer kewalahan, ia menghindar terus namun selalu nyaris terjatuh. Ia tak mendapat kesempatan untuk menyerang balik.
'Sraat', tak disadari olehnya payudara yang berbentuk seperti lempengan besar berhasil menyelengkat kakinya dan membuatnya jatuh.
"Satu poin untuk Wita Nengisi!"
"O HO HO HO.. wahai makan malamku, jangan terlalu banyak bergerak, nanti kau akan capek"
"Sial, gerakannya tak bisa diprediksi untuk tubuh sebesar itu, tak ada celah untuk menyerangnya", Lucifer bingung.
"OO HO HO HO"
Selagi Wita tertawa, ia menyadari ada kesempatan. Lucifer berlari kencang dan menggunakan pisau yang ia sembunyikan, ia akan merobek perut besar itu.
'Dungg..', Lucifer yang hendak menusuk malah memantul karena perut itu sangat elastis.
Lucifer terlempar tinggi ke udara.
Dan dibawahnya mulut Wita penuh gigi tajam sudah menganga lebar.
"Hap.!", Lucifer ditelannya.
"PAPI...!!!", Erina histeris.