
Di apartemen lantai 13, Damien datang berkunjung dan melihat ruangan yang gelap dan sepi, Ia merasa memiliki kenangan yang berharga di ruangan itu, Ia memutuskan berdiam diri untuk sesaat.
"Kau kangen d**ia ya**?"
Ucap pak Uwo yang tiba - tiba muncul dan membuat Damien sedikit tersentak.
"Iya pak, tapi tak ada gunanya bukan?
bahkan Ia masih memanggil namaku dalam doanya, padahal aku sudah bukan penjaganya lagi"
"Bukankah kalau memang menjadi penjaga secara resmi, kau bisa mengangkat derajatmu lebih tinggi? aku punya orang dalam yang bisa membantumu, kalau dari lulusan akademi pencabutan nyawa sepertinya lebih mudah"
"Ah tidak usah p**ak, aku mau menikmati menjadi pengangguran dulu**"
"Memangnya Kau sudah dipecat?"
Damien hanya mengangguk, Ia menunjukkan surat PHK yang diterimanya pagi tadi.
Astral yang diangkat menjadi penjaga seorang manusia, baik itu secara langsung maupun turun temurun, memiliki derajat dan kemampuan yang lebih tinggi dibanding pekerjaan lain, namun untuk bisa menjadi penjaga dibutuhkan kualifikasi yang cukup berat, karena harus mampu menghadapi gangguan dari kedua alam.
Damien pun mengajak pak Uwo untuk pergi ke bar tempat mereka minum tempo hari, Ia penasaran dengan gadis bartender itu. Ia mungkin akan mencoba peruntungan cintanya lagi.
Namun sesampainya disana, orang yang dicarinya tidaklah hadir.
"Hahh..apa aku akan jadi jomblo
seumur hidup?"
Damien merasa putus asa.
"Hei! perkataan apa itu? kau kan masih muda, aku saja dulu, meskipun terlambat menikah...tapi sempat bahagia"
"Kau punya keluarga pak?"
"Ya, seorang mantan istri yang cantik dan seribu anak"
"Kenapa kalian berpisah?"
"Aku jadi sedih kalau mengingatnya, tapi istriku menggoda pria lain"
"Apakah istrimu seorang Kunti?"
"Iya"
"Oh pantas, bukankah itu memang sudah kodratnya?"
"Tapi aku masih mencintainya, dan ingin dia kembali...hu..huu.."
Pak Uwo mulai menangis tersedu.
Damien merangkul badan besar pak Uwo dan berusaha menenangkannya.
Damien jadu berpikir, apa yang sebaiknya Ia lakukan?
...----------------...
Neraka tingkat satu, kantor Asmodeus.
Terlihat Astaroth yang begitu sibuk mengurus dokumen - dokumen sejak kepergian Asmodeus ke alam manusia.
Terdengar ketukan di pintunya.
"Permisi, Asmonya ada?"
Seorang pria agak gemuk berambut ikal masuk ke ruangan.
"Ah tuan Beelzebub, maaf tapi Asmo sedang tidak ada"
"Kemana dia? Aku mau bayar hutang judi seminggu yang lalu"
"Beliau sedang cuti, saya yang menggantikannya selama satu bulan"
"Satu bulan? memangnya ngapain dia?"
"Penjelasannya panjang dan sulit, silahkan tuan baca saja pikiranku"
Beelzebub memegang kepala Astaroth yang sedang bekerja, Ia menerima semua informasinya dari sana.
"Astaga anak itu, dia bahkan meminta bantuanku melalui pikiranmu ini", Beelzebub melepaskan tangannya.
"Ya, entah Kau mau membantunya atau tidak, tapi kejadian ini akan membuat situasi semakin memanas di antara kedua kubu"
"Ah, aku paling benci dengan permasalahan antar kubu ini, aku hanya ingin kerja, makan dan berjudi"
Dua kubu yang terbentuk dari sering terjadinya pertikaian yang disebabkan oleh ego antar petinggi neraka, kadang penyebabnya hal - hal yang bisa dibilang sepele, namun sebagian besar disebabkan karena pihak dari kubu bawah yang merasa lebih senior dan lebih hebat.
...***...
Kubu Bawah: Lucifer, Satan, Mammon, Belphegor
Kubu atas: Asmodeus, Leviathan, Beelzebub.
...***...
"Apa dia meminta bantuan Levi juga?"
"Pastinya!"
"Sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur dengan prahara cinta anak muda ini, aku akan menyampaikannya juga pada Levi"
Beelzebub pergi dari kantor Asmodeus, untuk menyampaikan pesan ke kantor Leviathan di tingkat dua. Kantor yang bernuansa atlantis.
Di kantornya, ada anak buah Leviathan, Cthulhu Junior, anak dari makhluk laut berwujud manusia gurita raksasa yang pernah berjasa untuk Leviathan di masa lalu.
"Lho! Chtulhu **, kenapa kau ada disini? bukankah kau tugasnya selalu di lapangan?"
"Dasar, Dia pasti ingin menggoda para siren di laut, dasar mata keranjang! memang sama saja kedua bocah itu"
Beelzebub yang kesal pun meninggalkan ruangan.
...----------------...
Damien yang berputus asa, memutuskan untuk kembali ke akhirat. Ia hendak mengembalikan beberapa properti dari tempatnya bekerja.
Ia berjalan dengan lesu sejak menerima surat pemecatan.
Di lobby, Dewi sang resepsionis memperhatikan gelagat Damien yang terlihat aneh, lalu ia memutuskan untuk menghampirinya,
"Mas Dam, kok lesu amat? lagi sakit ya?"
"Aku gak sakit kok, cuma mau mengembalikan ini.. buku hitam, sabit, sama lencana"
"Hah kenapa?? kok dikembalikan?"
"Aku.. sudah dipecat Wi"
Dewi ternganga mendengar hal itu, selama ini Ia mengenal Damien sebagai orang yang selalu taat dalam bertugas. Ia cukup mengagumi para petugas pencabut nyawa terutama Damien, Ia selalu menaruh perasaan padanya.
Damien menuju ke sekretariat pencabutan nyawa, Ia berada disana sekitar sepuluh menit, kemudian keluar. Ada rekan seprofesinya disana yang memeluknya dan mengucapkan perpisahan.
Dewi terlihat sudah menunggunya diluar, lalu segera menghampiri Damien dengan cepat,
"Mas, Aku mau dengar ceritamu dong, sebentar lagi shiftku berakhir, nanti kita ke Cafe
di gang X ya"
"Boleh saja Wi"
Damien setuju saja, karena merasa tidak ada yang perlu dilakukan lagi.
Damien duduk di kursi tunggu tamu sambil menunduk lesu. Dewi memperhatikannya dari jauh dan merasa iba. Ia segera membereskan barang - barangnya, memakai cardigan, kemudian pamit kepada supervisornya.
Ia lalu menghampiri Damien dan menepuk pundaknya pelan,
"Yuk! aku udah booking tempat nih di cafenya".
"Yuk, tapi emang gak apa - apa nih Kau pergi sama aku? nanti pacarmu marah", Damien berbasa - basi.
"Haha...pacar apaan?", Dewi salah tingkah.
"Justru ini mau jalan sama calon pacar"
ucap Dewi di dalam hati.
...----------------...
Di akhirat juga ada cafe, meskipun desainnya tidak seperti di dunia manusia.
Damien dan Dewi duduk di kursi bulat kecil, dan meja bulat berbahan granit.
Suasana cafe cukup temaram, banyak makhluk astral dengan berbagai wujud yang berada di dalam tempat itu, mereka semua sedang santai menikmati suasana.
Dewi yang masih memakai baju kerjanya mengangkat lengannya lalu memanggil pelayan dan memesan minuman,
"Saya mau teh barli hangat, lalu a**mericano dingin dengan gula satu sendok**"
"Hei, kau kok tahu apa kesukaanku?", Damien cukup terkejut, karena yang Ia tahu, tak pernah membicarakan minuman kesukaannya dengan Dewi.
"Tahu dong", jawab Dewi dengan bangga.
Sambil minum - minum mereka pun bercerita. Damien curhat tentang apa yang dialaminya dalam satu minggu terakhir ini, yang Ia rasa merupakan minggu terberat dalam hidupnya. Dewi tampak sangat bersimpati mendengar cerita Damien, Ia ingin menghiburnya, namun tidak ingin terlalu terlihat kalau Ia menyukainya.
"Kalau menurutku ya mas, dengan kejadian itu kamu kan jadi punya pengalaman sebagai penjaga, ada baiknya kamu coba beneran melamar kerja ke divisi itu deh, mana tahu benefitnya lebih besar"
"Iya benar Wi, nanti akan aku coba, makasih banyak ya sarannya", Damien tersenyum ke Dewi.
Dewi bertanya sambil memalingkan wajahnya karena grogi,
"Terus, kira - kira mas bakal move on gak dari cewek itu?"
Damien terdiam sesaat sambil memainkan sedotan di gelasnya,
"Hmm.. pastilah. Capek juga kan kalau berharap tapi harus bertepuk sebelah tangan terus"
Dewi yang mendengar hal tersebut merasa sangat senang. Ia merasa akan datang kesempatan baginya untuk memiliki seorang pacar yang sudah lama ditaksirnya.
Di luar, Succubus yang sedang melewati cafe, tak sengaja melihat ada Damien disitu. Karena sedang bosan Ia pun terpikir untuk mengerjainya dengan berubah menjadi sang bartender seksi.
Succubus pun mengganti kostumnya, kemudian masuk ke dalam cafe dengan bergaya seksi. Keadaan menjadi slow motion bagi para pria yang berada di cafe tersebut, semua menoleh padanya, begitu juga dengan Damien.
Succubus menghampiri Damien tanpa ragu,
"Eh, kamu cogan yang di bar itu kan?"
"Eh mbak bartender!? ru.. rupanya kau penghuni akhirat juga?", Damien menjadi grogi.
"Pastinya dong, siapa sih yang gak suka dengan vibesnya akhirat", Succubus berbicara dengan gaya sok asik.
"Aku.. tadi sore ke bar mencarimu", ucap Damien malu - malu.
Succubus lantas mengambil kursi kosong dan langsung duduk sebelah Damien, tanpa memperdulikan keberadaan Dewi di depannya.
Dewi otomatis merasa sangat kesal dengan situasi itu.
"Oh ya? kamu nyariin aku? duh seneng banget deh ada yang nyariin, mana ganteng lagi..hihihi", Succubus bersikap segenit mungkin.
"Siapa sih perempuan sialan ini? kenapa dia harus mengganggu momenku bersama Damien di sini?"
ucap Dewi dengan geram di dalam hati.