My Heart From Hell

My Heart From Hell
Witch's Game



Erina terbangun di keesokan harinya.


Dia melihat semua orang masih tidur, dan Ia menyusuri jalan sendirian hingga sampai di depan Cerberus yang juga sedang tidur.



Erina menatap Cerberus, Ia mendekati dan mulai membelainya.


Ia berusaha memberikan seluruh kehangatan dari dalam dirinya kepada makhluk besar itu.


Cerberus terbangun, mereka terkejut dengan keberadaan Erina, namun Erina nampak begitu tenang.


Erina menatap mereka tajam, dan Cerberus tak bereaksi apa - apa.


Erina mengambil kunci yang bergantung di kalung lehernya dengan perlahan.


"Terima kasih ya, kalian sangat baik"


Setelah Erina membuka gerbangnya, Ia berjalan kembali ke tempat rombongannya berada.


Dan terlihat semua orang sedang panik mencari dirinya.


"Ah, itu dia orangnya!" Damien menunjuk ke arah Erina.


Semua langsung menghampirinya.


"Yaampun nak kamu kemana aja? kami kira kamu diculik monster", Lily memeluk Erina


"ih lebay banget semuanya, aku cuma mengambil kunci dan membuka gerbang itu kok".


Semua orang merasa heran.


"Kau mengalahkan Cerberus sendirian?"


"Aku hanya mengambilnya saja kok, rupanya anjing itu cukup baik"


Setelah diliputi keheranan, mereka semua berangkat untuk menuju gerbang kedua pada pagi hari yang cukup cerah.


Mereka sampai di tempat Cerberus, anjing berkepala tiga setinggi tiga meter itu hanya duduk, mengeluarkan lidahnya, dan menggoyangkan ekornya. Kedua orang bocah nampak ketakutan.


"Karena kalian sudah baik, ini sebagai imbalannya" Erina memberikan tiga potong daging yang dibawa dari perbekalannya.


Anjing itu makan dengan lahap.


"Sebenarnya kau tak perlu memberikan tiga potong, kan badannya cuma satu"


"Ya tetap aja kepalanya kan ada tiga, kalau satu makan kasihan yang lain nanti merasa iri"


"Dasar orang yang terlalu baik"


"Ah aku tidak baik, aku sudah membantai banyak orang. Bahkan aku tak tahu apakah mereka memang pantas mendapatkan itu atau tidak"


Erina masih merasakan penyesalan atas perang tempo hari, baginya tak ada yang pantas dibunuh apapun alasannya.


"Anggap saja dunia yang kita tempati sekarang adalah mimpi, jadi tak ada yang nyata"


"Apa bisa begitu?"


Mereka pun melewati gerbang kedua dengan aman tanpa hambatan.


Succubus masih merasa penasaran "Aku masih heran kenapa Cerberus bisa dijinakkan begitu mudah, setahuku hewan itu sangat liar dan brutal".


"Aku hanya menatapnya dan mengatakan aku tak berniat buruk di dalam hatiku, lalu nampaknya Ia memahaminya".


"Hmm..jelas Erina semakin kuat dan handal dalam menggunakan kekuatannya, ini akan sangat berpengaruh dalam misi ini", ucap Damien dalam hatinya.


Mereka tiba di areangerbang ketiga, di sekitar gerbang banyak gubuk - gubuk yang menjadi tempat tinggal para penyihir.


Dalam hitungan detik, keluarlah para penyihir yang berpenampilan buruk persis seperti di buku cerita atau film. Badan pendek, kulitnya hijau dan kering, hidung panjang, gigi ompong, menggunakan jubah dan topi hitam panjang. Mereka semua menaiki sapu terbang.


"Hihihihihihi.......selamat datang di desa penyihir, kalian harus menjawab pertanyaan - pertanyaan kami kalau ingin lewat"


"Aku punya ini!" Erina lantas mengeluarkan kunci gerbang dan mengangkatnya tinggi - tinggi.


"Ouwh...kunci gerbang ya? kau pikir kau spesial karena memiliki itu? kau tetap harus melalui kami dulu"


"Lho, kok tak seperti yang dibicarakan, kukira mereka akan membiarkan kita lewat" Damien bingung


Lily maju ke depan, "Kali ini waktunya aku yang beraksi, apa yang kalian inginkan? aku akan meladeninya"


"Ah iya, mama kan dulunya adalah dewi ilmu sihir, kalau kekuatannya masih ada, pasti lebih kuat daripada mereka - mereka ini"


"Kalian hanya akan memainkan beberapa permainan mudah, jika berhasil melewatinya kalian bisa masuk"


Di depan mereka muncul sebuah meja kayu, dan tiga buah apel hijau beserta tiga buah tudung saji.


"Lihatlah, dari ketiga apel hijau ini, yang ditengah ada racunnya" kemudian Ia menutup apel dengan tudung lalu mengacaknya dengan sangat cepat.


Semua menjadi tegang, karena tak ada yang tahu dimana posisi apel yang beracun tadi.


"Tenang, kalau memakan yang beracun kalian tak akan merasa sakit kok, tapi akan langsung mati. Kalian harus mengajukan diri, namun tak boleh berdiskusi"


"Boleh aku duluan?" Succubus mengangkat tanha


"Apa kau yakin?"


Succubus dengan yakin menuju ke meja dan membuka salah satu tudung, kemudian memakan apelnya "Ini sangat mudah".


"Oke kau berhasil, sekarang permainan kedua, kue jahe ini. Jika salah satu dari kalian dapat mengembalikan bentuknya dalam kurang dari sepuluh detik, maka akan berhasil"


Sang penyihir menunjukkan sepotong kue jahe berbentuk manusia, kemudian menghancurkannya.



"Varlo menyukai kue jahe dan juga bermain puzzle" ucap Leiva


"Ah.." Varlo nampak ragu


"Cobalah nak, gunakan keahlianmu" Damien meyakinkan Varlo.


"Kalau tak berhasil bagaimana?" tanya Erina


"Kuenya meledak" jawab penyihir santai


"Uuuh.." Varlo semakin kikuk


Leiva berusaha meyakinkan Varlo bahwa Ia akaj berhasil.


Varlo akhirnya menghadap ke arah meja, kemudian melihat kue jahe yang berantakan.


"Bersiap ya bocah, aku akan menghitung"


..........


"Mulai!"


Varlo bergegas mengambil setiap potongan , dan menyusunnya kembali di piring. Mungkin totalnya ada lebih dari dua puluh kepingan.


"9"


"8"


"7"


"6"


"Ayoo Varloo kamu bisaa!" Erina dan Leiva menyemangati.


Damien dan Succubus dalam posisi siaga seandainya terjadi sesuatu.


"5"


"4"


Varlo banjir keringat, matanya fokus kepada kue di piring.


"3"


"2"


"1"


Sang penyihir langsung menutup mata dan telinganya seolah akan ada sesuatu yang meledak.


Ternyata tak meledak.


Varlo berhasil.


Semua bersorak sorai atas keberhasilan Varlo.


Varlo pun merasa tenang sekarang, Ia menuju ke tempat Succubus.


"Bagus bocah, kau hebat" puji Succubus


Penyihir membereskan mejanya dan menyiapkan sesuatu yang baru.


"Baiklah, bocah itu cukup beruntung, yang sekarang agak sulit"


Terlihat sebuah papan Ouija berisikan huruf dan angka.



"Sekarang aku akan memanggilkan arwah yang ada di sekitar sini dengan cepat, lalu kau harus menuliskan ulang apa yang dikatakan arwah tersebut"


Erina melihat ke arah Leiva, "Kau pandai membaca kan?"


"Aku sangat suka membaca"


"Bagus, bacalah dengan cepat"


Leiva maju ke arah papan Ouija kemudian bersiap memegang, jarum penunjuknya.


Sang penyihir mulai menggunakan mantra - mantra pemanggilan arwah "Datanglah, wahai penunggu disini, kami membutuhkanmu"


Beberapa saat, sang penyihir seperti kesulitan.


"Ah, tak ada arwah yang cocok di sekitar sini"


Kemudian Ia mencoba lagi.


Mendadak tangan Leiva yang memegang jarum penunjuk mulai bergetar, dan langsung bergerak kesana kemari tak beraturan dengan sangat cepat. Leiva panik namun matanya berhasil mengikutinya.


"Cepat tuliskan apa yang disebutkannya tadi"


perintah sang penyihir.


Leiva menuliskan kata - katanya di kertas


'Hai apa kabar kalian sepertinya semua baik - baik saja'


Erina dan Damien saling menatap, heran dengan kata - kata itu.


Tangan Leiva kembali bergerak dengan sangat cepat, kemudian Ia langsung menuliskannya kembali.


'Syukurlah Erina selamat, maaf aku tak bisa menemani kalian sampai kesini'


"Apakah ini? arwah Behemoth?" tanya Erina


Succubus tercekat.


'Aku pasti akan tetap membantu kalian melalui wujudku yang lain'


"Yang ini terdengar seperti Leviathan, Ia sepertinya memakai wujud Basilisk itu"


"Sepertinya itu memang arwah mereka berdua, Sue, kau kan astral, apa kau tak bisa melihat arwah - arwah ini?" tanya Damien


Succubus menggelengkan kepala.


"Oke oke cukup, sana kau bocah!"


Leiva pun berpindah tempat, lalu memeluk Varlo.


"Sekarang permainan untuk dua orang"


Penyihir menyiapkan seutas benang, yang dipelintir kemudian ditengahnya ditaruh sebuah kelereng.


"Dua orang membawa kelereng ini sampai kesana dengan benang ini dalam satu menit, apabila jatuh, kedua orang akan mendapatkan hukuman"


"Wah kok seperti tujuh belasan"


Lily menyuruh Erina dan Damien untuk memulai permainan.


Mereka pun memegang benang di masing - masing ujungnya. Kelereng itu sangat riskan untuk jatuh.


"Mulai!"


Mereka berjalan bersamaan dengan sangat hati - hati.


"Ayo cepat, waktunya berjalan terus!"


Damien mempercepat jalannya, namun Erina tidak, dan kelereng itupun bergoyang sampai nyaris jatuh.


"Hei jangan tergesa - gesa, santai saja yang penting stabil"


"Ah, baik"


Setelah berkonsentrasi dan berkeringat, mereka berdua berhasil sampai di detik ke lima puluh delapan.


"Hmm..kalian semua berhasil sejauh ini, tinggal satu orang" penyihir itu menunjuk Lily.


"Cukup main - mainnya, aku tak akan mengikuti permainan bodohmu itu" Lily mengeluarkan tongkat sihirnya.


"Akh, apa yang mama lakukan!?" Erina panik.