
Neraka level 1
Dibandingkan bekerja, Asmodeus lebih banyak termenung di mejanya. Dokumen semakin menumpuk.
Astaroth yang fokus bekerja, lalu memperhatikannya dan merasa jengkel.
"Woi! lihat ini udah menumpuk, mau sampai kapan bengongnya?" Astaroth menggebrak meja Asmodeus
"Ah, iya"
"Semenjak kejadian itu kau seperti orang linglung"
"Aku kangen.."
Astaroth berekspresi jijik melihat reaksi Asmodeus.
"Ah kau mana mengerti, kau kan gak punya hati"
"Sembarangan, dulu aku pernah ada di posisimu itu, sampai akhirnya dikhianati, dan aku malas untuk memulai hubungan seperti itu lagi"
"Itu sih memang kau yang susah move on"
"Yaa..mungkin memang begitu, tapi bekerja jadi fokus kalau tak sambil memikirkan hal - hal seperti itu"
"Kau menyepelekan aku, pekerjaan kayak begini sekejap juga beres"
"Cih" Astaroth tambah jengkel
Asmodeus menggunakan kekuatannya untuk mempercepat durasi kerjanya, dan semua selesai dalam kurang dari dua detik, lalu Ia berpose menyombong ke Astaroth.
"Yaa yaa aku tahu kekuatanmu itu lebih hebat daripada aku, tapi ya terserah saja, kan kau ketuanya disini" Astaroth kembali ke meja kerjanya
Asmodeus bangkit dari kursinya "Aku mau keluar sebentar cari angin"
"Huh, memakai istilah manusia, padahal gak berlaku disini" Astaroth menggumam
Asmodeus keluar dari kantornya dan berjalan - jalan, Ia terus memikirkan Erina, apa yang sedang dilakukannya, apa dia sakit, terluka dan sebagainya.
Karena berjalan sambil melamun, tanpa disadarinya, Ia tiba di depan kantor Lucifer.
"Hah!? kenapa tiba - tiba bisa sampai disini!?" Ia heran sendiri
Ia termenung selama beberapa menit di depan pintu, sampai terdengar suara dari dalam
"Hei, kau mau masuk atau apa?"
Entah kenapa, dengan segan Asmodeus masuk ke kantor Lucifer, padahal Ia tak tahu apa yang akan dibicarakan dengan orang yang sudah bermasalah dengannya itu beberapa saat yang lalu.
"Silahkan duduk" Lucifer mempersilahkan Asmodeus
Asmodeus duduk di kursi di depan Lucifer.
Dan mereka berdua tak berbicara apa - apa selama setengah jam lebih.
"Jadi..."
"Begini..."
Mereka berbicara bersamaan
"Ah silakan duluan..."
"Tidak, kau yang duluan..."
Hening beberapa saat
Terjadi awkward moment diantara kedua petinggi neraka ini
"Oke, aku yang akan berbicara lebih dulu" ucap Lucifer
"Baiklah, aku mendengarkan"
"Beberapa saat lalu, sepertinya situasinya cukup hectic"
"Benar"
"Sebelumnya aku ingin minta maaf" Lucifer berbicara sambil menghadap ke tempat lain
Asmodeus ternganga, Ia sangat terkejut bahwa sebuah permintaan maaf bisa keluar dari mulut seorang penguasa super angkuh ini.
"Apa kau benar Lucifer?" Asmodeus
bertanya saking tidak percayanya
"Sudahlah, aku serius! aku merasa sudah menimbulkan masalah yang banyak, padamu, juga pada akhirat"
Asmodeus tak sengaja melihat ke arah tumpukan dokumen diatas meja Lucifer, dan ada sebuah surat dengan judul 'Surat Peringatan'. Seketika Asmodeus mengerti situasinya.
"Aku tak menyangka bahwa situasinya jadi membesar, dan bahkan aku sendiri tak sanggup menyelesaikannya"
Asmodeus mengangguk - angguk
"Sejujurnya, aku merasa tak enak, harusnya sebagai sesama petinggi neraka kita semua saling membantu"
Entah kenapa tapi Asmodeus benar - benar tidak yakin bahwa yang di depannya ini adalah Lucifer yang dikenalnya. Yang Ia tahu Lucifer tak punya belas kasihan kecuali terhadap orang yang disayangnya.
"Aku kehilangan orang - orang kesayanganku"
"Siapa?"
"Succubus dan Behemoth"
"Ouhh.."
"Mereka sudah kupercaya, bahkan kuanggap sebagai saudara sendiri, meskipun gagal melakukan tugasnya, aku tak menghukum mereka. Tapi pada akhirnya, mereka pergi juga dari sisiku. Aku sadar bahwa selama ini aku sangat egois"
Mendengar seluruh ucapan Lucifer, Asmodeus bertanya - tanya, sebenarnya apa yang membuat Lucifer jadi se-sensitif ini, atau jangan - jangan ini memang sisi yang dimiliki Lucifer namun selalu ditutupinya, ya biar bagaimanapun, dulu dia adalah seorang malaikat.
"Jadi, mulai sekarang, kalau kau butuh bantuan jangan segan - segan untuk memintaku"
"Woah...ini sangat baru bagiku, kau tak bersikap seperti Lucifer yang semestinya"
"Mungkin situasi ini telah membuka pikiranku. Tapi, apa kau memaafkan sikapku yang sudah merepotkan kau dan kekasihmu itu?"
"Itu bukan masalah, toh sekarang sudah dicari jalan keluarnya. Yang jadi masalah adalah prinsip bahwa 'perkataan iblis tak bisa dipercaya"
"Aah..iya, soal itu. Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti aku sudah mengatakannya"
"Sebenarnya, aku sedang mengkhawatirkannya, tapi aku tak bisa mengetahui keadaannya dari sini"
"Aku juga mengkhawatirkan Succubus dan Behemoth, kedua orang itu bahkan mengabdikan diri untuk Erina, tapi aku tak yakin apakah semua berjalan lancar disana"
"Iya, setahuku di dimensi itu kehidupannya sangat keras, aku jadi makin kepikiran. Bahkan aku telah meminta Leviathan untuk mengawasinya"
"Hah!? kau menyuruh seorang petinggi neraka untuk mengawasi kekasihmu?"
"Aku memintanya sebagai teman, bukan sebagai rekan kerja"
"Ah, aku tak tahu rasanya punya teman"
"Ya meskipun berteman kadang merepotkan, tapi kau bisa punya banyak kebahagiaan darisana, apalagi punya teman yang dapat diandalkan"
Lucifer termenung, Ia mengingat banyaknya kesalahan yang dibuatnya selama hidup, membuatnya tak bisa dekat dengan orang lain, bahkan petinggi neraka yang berada di kubu bawah hanya memanfaatkan jika ada maunya saja.
"Baiklah, terima kasih untuk waktunya, sekarang aku mau jalan - jalan lagi"
"Oke"
Asmodeus beranjak dari ruangan Lucifer.
Ia tiba di lobby akhirat, lalu melihat Dewi yang sedang bekerja di meja resepsionis sedang melayani tamu.
Meskipun tersenyum, tapi nampak Ia sedang banyak pikiran.
Asmodeus menghampirinya dan menyapa "Hai"
"Akh, tuan Asmodeus!" Dewi langsung panik dan bergegas untuk memberi hormat.
"Hei, kenapa bersikap begitu? santai aja"
"Tidak mungkin saya bersikap dan berbicara santai dengan seorang petinggi akhirat"
"Sudahlah, aku memerintahkanmu untuk berbicara santai, mana supervisormu?"
"Pak Ergio ada di belakang, apa perlu saya panggilkan?"
"Ergio!"
"I..iya tuan" Ergio yang sedang di belakang langsung datang tergesa - gesa.
"Aku pinjam anak buahmu ini ya, tolong gantikan dia dulu"
"Ba..baik tuan"
Dewi nampak sangat khawatir, ada apa gerangan sampai Ia dijemput oleh seorang petinggi neraka.
"Ayo ikut aku"
Dewi hanya menunduk dan mengikuti.
Di jalan, Dewi terus menunduk dan dibanjiri keringat.
"Hei, apa kau sakit?" Asmodeus khawatir dan memegang kening Dewi
"Ti..tidak tuan, saya hanya takut"
"Kenapa takut?"
"Apa ini sudah waktunya bagi saya?"
"Waktunya apa?"
"Disiksa di neraka"
"Hee? -_-"
"Tuan pasti ingin membawa saya karena dosa saya sudah bertumpuk bukan?"
"Ahahahahahaha...kau lucu banget"
Dewi bingung
"Aku cuma ingin mengajakmu kesini kok" Asmodeus menunjuk sebuah restoran sushi yang cukup terkenal di akhirat.
"Ke..kenapa? apa saya harus makan makanan kesukaan saya untuk yang terakhir kalinya?"
"Yaampun kau kenapa berfikiran yang bukan - bukan sih? aku cuma ingin mengajakmu makan disini karena ada yang ingin kubicarakan"
"Oh begitu...maaf karena saya sedang banyak pikiran"
Asmodeus membukakan pintu dan membiarkan Dewi masuk terlebih dahulu dan memilih meja.
Mereka duduk bersebelahan, di depannya ada jenis - jenis sushi yang lewat menggunakan conveyor belt.
"Makanlah apapun yang kau mau, aku traktir"
"Be..benarkah?"
Dewi mengambil banyak sushi lalu memakannya dengan lahap.
"Wah, kau sudah lama tak makan ya?"
Dewi mengangguk dengan mulut yang penuh.
Asmodeus tersenyum.
"Kau pasti, ingin tahu kabar Damien kan?"
Dewi menghentikan makannya, Ia terdiam.
"Sebenarnya, aku tak tahu pasti keadaannya sekarang ini, tapi..."
Jantung Dewi berdegup kencang.
"Ia menitipkan sebuah permintaan maaf untukmu"
"Ke...kenapa minta maaf? memangnya dimana dia sekarang? apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ceritanya akan panjang wi, tapi intinya. Sepertinya dia tidak bisa kembali kesini untuk waktu yang tidak ditentukan"
Air mata Dewi mulai menetes "Apa dia....sudah menemukan cinta sejatinya?"
"Aku tak tahu, tapi dari tatapannya, Ia hendak melakukan sesuatu yang telah menggerakkan hatinya"
Dewi menunduk, tak bisa menahan tangisnya, air matanya membanjiri wajahnya.
"Maaf ya wi karena aku harus menyampaikan ini" Asmodeus memberikan tissue.
"Ti..tidak...ini salah saya...karena ter..lalu mengharapkannya...padahal...saya..hanya..
wanita..biasa" Dewi terisak - isak.
"Aku yakin kau wanita yang kuat"
"Saya...tahu siapa yang dia sukai"
"Erina?"
"Iya! tuan tahu kalau dia menyukai nona Erina?"
"Tentu saja aku tahu, tetapi aku bisa tahu juga bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan"
"Haa?!"
"Erina menyukai Damien sebagai sahabatnya, itu nampak sekali dari tatapannya, berbeda dengan saat Ia menatapku"
"Jadi, apa saya tak perlu khawatir soal itu?"
"Tidak perlu, yang membuat khawatir apakah dia bisa kembali kesini atau tidak, karena Ia telah mengemban tugas sebagai penjaga. Dan itu tidak mudah, Ia bisa saja mati ketika menjalankan tugasnya"
"Kalau soal itu, aku yakin dia kuat dan bisa mengatasi apapun" Dewi menghapus air matanya.
"Jadi, bersabarlah kalau kau yakin"
Dewi mengangguk dan tersenyum.
Mendadak ada bau kurang sedap disertai dengan sekumpulan lalat, Beelzebub datang. Ia muncul dengan wajah yang risau.
"Hei kenapa kau datang kesini tanpa pemberitahuan? baunya mengganggu tahu" Asmodeus jengkel
"Aku....membawa berita dari belahan dunia lain"
"Hah berita apa!? kok kau bisa tahu?
"Levi..."
"Levi kenapa??"
"Leviathan..."
"Iya kenapa Leviathan?"
"Dia..."
"Ah kau mulai membuatku emosi
"Dia sudah......"
'Praaangg' gelas yang sedang dipegang Asmodeus jatuh dan pecah.