My Heart From Hell

My Heart From Hell
Vyatskoye



Di hutan malam itu, angin yang berhembus sangatlah dingin hingga mendekati suhu minus.


Lalu kabut mulai turun dan memblokir pandangan hanya beberapa meter saja.


Dan di dalam kegelapan, di balik semak - semak, beberapa sepasang mata yang penasaran melihat ke arah mobil SUV yang terparkir di pinggir jalan.


Asmodeus dan Erina yang sudah terlelap di dalamnya, tidak menyadari kalau mobilnya mulai bergoyang perlahan.


Hingga terdengar suara gesekan di kaca mobil, hingga membuat Erina tersadar.


"Kyaaa.. Mo.. bangun! apa itu?"


Erina terbangun dan panik.


Asmodeus juga terbangun mendadak lalu melihat sekelilingnya dengan keadaan pusing.


Ternyata mobil yang mereka tumpangi, dikelilingi oleh beberapa ekor beruang berbulu coklat yang berukuran sangat besar, yang sedang menggoyang - goyangkan mobil dengan bobot tubuhnya.


Para beruang itu mengaum bersamaan.


"Ini.. bisa berbahaya, sepertinya para beruang ini sangat kelaparan", ucap Asmodeus.


"Kasihan, apakah mereka kesulitan mencari makan di musim ini?"


Erina merasa iba.


"Setahuku seharusnya beruang itu sedang berada dalam kondisi hibernasi ketika memasuki musim dingin"


"Tapi sekarang belum musim dingin"


"Makanya, cuaca di tempat ini sepertinya sangat aneh. Kita harus bergegas meninggalkan tempat ini!"


Asmodeus menyalakan mesin mobil.


"Apa kita bisa memberikan sedikit


perbekalan kita pada mereka?"


"Jangan bodoh! mereka hanya bisa kenyang kalau memakan kita"


Erina pun merasa ngeri mendengar hal itu.


Asmodeus bergegas memacu mobilnya dan melewati para beruang tersebut.


"Tempat yang banyak beruang coklat, sepertinya kita makin dekat ke tujuan seperti kata dukun itu"


"Kalau mengikuti jalan ini terus, seharusnya kita akan sampai ke desa Vyatskoye"


Erina sambil melihat peta.


Mendadak jalanan semakin hancur, berbatu, dan berlumpur. Mobil mereka semakin kesulitan untuk melewatinya.


"Mo.. awas! di depan ada jurang!"


"Aakhh.. mobilnya gak bisa kukendalikan", Asmodeus panik.


"Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh......."


Mobil mereka terjerembab ke dalam jurang yang dalam.


...----------------...


"Uuhh.. sakit.. Mo.. Asmo dimana kamu?"


Erina terbangun dengan kepala yang sakit, mobilnya dalam posisi terbalik dan Asmodeus tidak nampak di pandangannya.


Erina merangkak keluar dari mobilnya yang ringsek.


Ia melihat sekitar, warna yang terlihat di sekitarnya, putih, semua putih, pohon berwarna putih, tanah berwarna putih, karena tertutup oleh salju yang begitu tebal.


"Bukankah ini baru bulan juni, tapi kenapa bersalju? a**duh mana mobil Alexei jadi hancur begini**..", Erina berjalan mengelilingi mobilnya dengan khawatir.


Ia lalu merogoh ke dalam kabin mobil untuk mencari selimut tebalnya untuk menghangatkan badan.


Dengan berbalutkan selimut tebal, Erina berjalan perlahan sambil meneriakkan nama Asmodeus.


"Moo.. kamu gak dimakan beruang kaan?", suara Erina mulai serak.


Setelah berjalan beberapa meter, ia melihat jejak kaki yang mulai tipis di atas salju, lalu segera mengikutinya.


Jejak kaki itu menuju ke luar hutan. Di sana nampak perbatasan panjang yang terbuat dari batu bata setinggi pinggul orang dewasa, dan di sisi lainnya terlihat sebuah desa.


Desa yang tertutup oleh salju.


Yang rumah - rumahnya terbuat dari batu bata dan kayu - kayu.


Semuanya berwarna gelap.


Bentuknya seperti dari abad ke tujuh belas.


Nuansa yang suram dan aura yang mistis begitu kuat terasa.


"Apa ini desa Vyatskoye? semoga saja Asmo pergi ke arah sini, tapi kenapa dia meninggalkan aku tanpa petunjuk? perasaanku jadi tidak enak"


Kabut yang begiru tebal membuatnya sulit melihat.


Rumah - rumah yang dilewatinya seperti sudah tidak berpenghuni semua, seperti desa yang sudah ditinggalkan sejak ratusan tahun yang lalu.


......................


Setelah rasanya sudah berjam - jam berjalan di tumpukan salju yang tebal, kaki Erina mulai sakit, kepalanya pusing, dan perutnya terasa lapar.


Tiba - tiba terlihat seperti ada cahaya api di tengah - tengah salju, Erina segera menghampiri sumber cahaya itu untuk memastikan.


Rupanya ada seorang wanita tua yang menggunakan jubah hitam dan membawa obor.


Wanita itu terlihat jelas di tengah kabut dan salju.


Wanita itu menggunakan isyarat tangan seperti memanggil Erina, mau tak mau Erina mengikutinya karena ia juga tak punya pilihan harus kemana lagi.


Erina mengikuti wanita tua tersebut masuk ke dalam salah satu rumah yang dibuka pintunya tanpa berkata sepatah katapun.


Di dalam rumah sangatlah hangat, semuanya terbuat dari kayu dan batu bata, tidak ada estetika dari barang - barang dirumah itu, semuanya dibuat dengan apa adanya seperti sudah berusia ratusan tahun.


Erina duduk di kursi makan, sang wanita menghidangkan teh hangat untuk Erina.


Erina memperhatikan teh itu untuk sesaat kemudian meneguknya perlahan. Tenggorokan dan perutnya langsung terasa begitu hangat, dingin yang menusuk dari luar tadi hilang begitu saja.


Sang wanita tua pergi kembali ke dapur nampak seperti menyiapkan sesuatu lagi.


Erina merasa ada yang janggal dengan wanita itu, ia tidak seperti seorang manusia, tapi tidak memiliki aura astral juga.


Sepiring sup hangat diletakkan di depan Erina, Erina tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Namun ketika Ia hendak menyendoknya, sup itu bergerak bagai pusaran, dan mulai terlihat seperti sesuatu, sebuah kilasan balik dari masa lalu.


Tanpa sadar, Erina seperti memasuki dimensi berbeda kemudian menonton kejadian yang terjadi pada masa dahulu melalui sepiring sup.


Tahun - tahun ketika kerajaan saling berperang, zaman kegelapan, yang belum ditemukannya kedamaian, semua manusia belum memiliki rasa kemanusiaan, yang mereka lakukan hanya,


Membunuh


Menyiksa


Memperkosa


Berkhianat


Berebut kekuasaan.


Erina meneteskan air matanya. Ia tak sanggup melihat semua itu, namun Ia tersadar semua yang Ia lihat adalah sudut pandang dari seseorang.


Seorang anak perempuan, yang sering disiksa, diperkosa, dan diperlakukan tidak semestinya.


Erina menyadari sesuatu , Ia melihat ke arah sang wanita, wanita itu membuka tudung jubahnya, dan terlihat matanya yang berwarna jingga terang seperti miliknya.


"Ka.. kau adalah keturunan Lucifer?", tanya Erina gugup.


Wanita tua itu mengangguk.


"Kau, merasakan semua yang terlihat


di sup ini?"


Ia mengangguk lagi.


Erina menutup mulutnya, Ia merasa sangat iba.


"Kenapa? kenapa kau harus merasakan


semua itu? dan.. apakah kau makhluk abadi? "


Sang wanita memperlihatkan lagi beberapa kilasan masa lalunya, dan terlihat bahwa Ia adalah anak dari seorang penyihir, seorang penyihir yang dihamili oleh iblis, sang iblis kemudian memfitnahnya dan sehingga Ia dianggap sangat hina dan berbahaya, sang Ibu dibakar hidup - hidup, dan sang anak dibuat tersiksa seumur hidupnya.


Sang anak membuat ramuan rahasia agar bisa panjang umur, menunggu waktunya, saat yang tepat untuk membalas dendam kepada sang iblis.


"Jadi, kau masih hidup sampai sekarang, karena ingin balas dendam?"


Wanita itu mengangguk.


..."Apa kau mengenal siapa aku?"...


Wanita itu tersenyum, kemudian menunjuk kearah hati Erina, Erina tak mengerti maksudnya.


Nenek itu mulai berjalan dan menyuruh Erina mengikutinya.


Mereka keluar lewat pintu belakang rumah itu dan sampai di sebuah halaman. Di ujung halaman terdapat sebuah pondok kecil yang terbuat dari kayu.


Mereka lalu memasuki pondok kecil yang hangat itu, dan langsung terlihat seorang wanita yang terbaring di tempat tidur yang kumal.


Erina mendekati wanita yang tak sadarkan diri tersebut, jantungnya berdegup sangat kencang, dan pikirannya menjadi kosong, apakah ini akhir dari pencariannya?


Wanita tersebut memiliki bentuk wajah, warna kulit dan rambut yang sama dengan Erina, hanya saja nampak sangat tua dan kurus, di sampingnya terdapat alat infus dan seperangkat peralatan medis untuk menopang hidup seseorang.


Erina tak mampu menahan tangisnya, airmata membanjiri wajahnya, Ia memeluk wanita yang terbaring kaku itu. Lily Everglade.