
Lucifer memacu kereta kudanya hingga maksimal. Emily berpegangan erat, karena sangat kencang ia hampir terpental.
"Sial, aku benar - benar tak dapat merasakan aura mereka, bagaimana denganmu?"
"Saya juga tidak, sepertinya tempat ini sudah terkena sihir isolasi"
"Kalau bisa mengisolasi seluruh tempat ini, berarti caster sihir itu sangat kuat"
"Yang saya tahu, tempat ini dikuasai oleh raja goblin, dan dia memang terkenal kuat"
"Menarik juga, aku jadi ingin melawannya", Lucifer menjadi bersemangat.
...----------------...
'Jlebb', perut pak Uwo ditusuk oleh tombak Rajho.
"Uukkhh..", bukan hanya sakit, tapi pak Uwo merasa pusing, lemas dan langsung tersungkur.
"Bagaimana rasanya? sekuat apapun kalau terkena tombak ini pasti akan langsung kalah"
"Bohong!", bentak pak Uwo.
"Ha!?", Rajho tersentak.
"Tak mungkin itu terbuat dari Stone of Qabiletti, paling - paling itu hanya diisi racun"
Rajho pun terkejut dan langsung bereaksi sebagaimana orang yang terbongkar rahasianya.
"Yah biar bagaimanapun, kau tetap akan mati! ohohoho", Rajho mengarahkan tombaknya hendak menusuk kepala pak Uwo.
...----------------...
Jumlah goblin dan tuyul yang mengeroyok Ratna tak ada habisnya, ia pun mulai kewalahan karena kehabisan energi.
Ada satu goblin yang muncul dari belakang lalu langsung mencekik Ratna dengan kawat berduri, lalu yang lainnya memegang tangan dan kakinya dengan kuat.
Lalu Goblin biru muncul dari depan, membawa sebuah kampak yang tidak besar, namun itu sangat berkarat.
"Gadis manis, tak usah meronta lagi, kami ingin bersantap dengan tenang", Goblin itu menjilat kampaknya.
Ia mendekat, Ratna sudah tak mampu bergerak.
Kampak itu sudah diarahkan ke perut Ratna.
"Bagi yang ingin bagian jeroan, silahkan ambil duluan!", teriak sang goblin biru.
...----------------...
"ERINA! ERINA! MAU TIDUR SAMPAI KAPAN!?"
Terdengar suara teriakan lantang.
Erina membuka matanya, ia masih berada di tempat gelap entah di mana.
"Ah kupikir aku sudah bangun, ternyata masih di sini"
Muncul sosok seorang pria bertubuh tegap yang datang menghampiri Erina yang sedang duduk mendekap kakinya.
"Apa kabar?", sapanya pria itu.
"Levi!?"
"Maaf, kalau aku berteriak padamu"
"Kau hanya ingatan semu atau halusinasi ku saja kan?, jadi aku tak perlu menanggapimu", Erina membuang muka.
"Hei, kok begitu?", Leviathan berjongkok di depan Erina.
"Aku lelah Lev"
"Aku tahu"
Erina meliriknya, tatapannya sayu.
"Apa kau tak mau menyelamatkan teman - temanmu?"
"Memangnya aku bisa apa? kerjaku cuma menghancurkan semuanya"
"Hmm.. tidak juga"
"Kau saja sudah beberapa kali membantuku, tapi apa hasilnya?, kau tetap mati kan!"
"Yaa.. ini hanya mati secara fisik, tetapi tidak jiwanya"
"Apa kau, belum melakukan reinkarnasi?"
"Reinkarnasiku masih berwujud Basilisk, aku belum punya rencana untuk bangkit dengan wujud yang ini"
"Begitu ya? apa terasa lebih nyaman?"
"Yaa.. memang tanggung jawab sebagai Basilisk lebih sedikit"
Erina tersenyum,
"enak juga kalau bisa memilih ingin hidup jadi apa, aku sepertinya nggak bisa, dimanapun aku berada, aku selalu jadi si pembawa petaka"
"Kenapa sih kau selalu berfikiran buruk tentang dirimu sendiri?"
"Bukannya memang begitu?"
"Ya nggaklah, itu cuma pengaruh dari sisi negatifmu sendiri, jangan sampai pikiran negatif itu meracunimu!"
"Lalu, bagaimana cara menghilangkannya?"
"Dilawan dong! semua makhluk yang berakal itu memiliki dua sisi, nah jangan sampai sisi buruk yang mendominasi, kau harus lebih memikirkan hal - hal yang baik, seperti kebahagiaan, cinta, rasa sayang, dan lain - lain. Itu harusnya membuatmu lebih kuat"
Erina termenung. Ia pun mulai mengingat - ingat apa saja hal yang pernah membahagiakannya.
Saat ia selalu dirawat penuh kasih sayang hingga dewasa.
Lily
Meskipun bertemu sebentar, namun hubungan darah yang begitu kuat membuat mereka saling terikat.
Asmodeus
Pertama kali merasakan cinta yang tulus.
Damien
Teman yang selalu melindungi.
Clara
Sahabat yang selalu ada untuk mendengarkan curahan hatinya.
Succubus
Dari musuh lalu berubah menjadi sahabat.
Dan beberapa wajah lain yang berlalu lalang dalam kehidupannya selama ini.
"Kau, mau bertemu dengan Asmo lagi kan?", tanya Leviathan.
"Memangnya ada di mana dia!? apa kau tahu lokasi kebangkitannya!?", Erina langsung bersemangat.
Leviathan tersenyum, "Yaa.. kalau kau ingin tahu, ya kau harus melewati ini semua dengan selamat, begitu pula dengan teman - temanmu"
Wajah Erina berubah menjadi serius, mulai timbul tekad yang kuat di dalam dirinya.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kulakukan?"
"Ikuti saja kata - kata kedua ibumu yang hadir sebelum ini!"
"Hah? menggunakan mata, hati, jiwa, dan pikiran itu? aku nggak mengerti maksudnya"
"Berkonsentrasilah, lalu ikuti ikatan aura dari mata, hati, jiwa, dan pikiranmu, maka kau akan bisa melakukan apapun", setelah mengakhiri pembicaraan, sosok Leviathan pun menghilang.
"Astaga, dia hanya membuatku tambah bingung", ucap Erina kesal.
Erina mulai memperhatikan sekelilingnya lagi, nampak sosok Ratna dan pak Uwo yang sudah berada di ambang batasnya, sedikit lagi mereka akan hancur.
"Aaahhh jangaan! aku tak boleh membiarkan mereka mati di sini!"
Erina pun segera memejamkan matanya, mulai mencoba berkonsentrasi untuk memusatkan auranya.
...----------------...
Tiba - tiba tubuhnya serasa ditarik ke atas dan kebawah dengan kecepatan tinggi, seperti menaiki roller coaster.
Ia berteriak namun tak bersuara.
Mendadak semuanya menjadi putih, hening, tenang.
"Aduh, di mana lagi ini?", Erina celingukan melihat tidak ada apa - apa di sekitarnya, hanya pemandangan putih seperti awan.
"Halo - halo, selamat datang", sapa seorang pria bertubuh kurus, berbalut kain putih dan bersayap seperti burung. Suara pria itu memiliki wibawa yang terasa berbeda.
Pria itu berdiri di depan sebuah podium yang terbuat dari marmer, dengan taburan bunga mawar di depannya.
"A.. apakah anda seorang malaikat? apa saya ada di surga?", tanya Erina panik.
"Ehem sebelumnya, perkenalkan namaku adalah Barachiel, salah satu dari tujuh Archangel. Dan tempat ini, bukanlah surga"
"Lalu kalau bukan surga? kenapa ada archangel dan semua tempat ini berwarna putih?"
"Ehmmm.. tolong jangan terlalu stereotype ya, pertama tidak semua malaikat itu hanya berada di surga, lalu surga itu tidak spesifik serba putih, namun jauh lebih indah daripada tempat ini"
"Lalu? kalau begitu tempat apa ini?"
"Jadi, sebenarnya aku juga tak menduganya kau akan datang, tapi kau sudah berada di lapisan alam yang melebihi kehampaan"
"Kehampaan?", Erina mengernyitkan dahi.
"Tadi kau berada di dalam kehampaan kan? tempat yang semuanya gelap berwarna hitam, lalu kalau kau berhasil melewati tempat itu, ada ini, tempat yang semuanya berwarna putih"
"Hee? lalu artinya?", Erina makin bingung.
"Ah baiklah, begini penjelasan detailnya"
Kehampaan adalah fase dimana jiwa manusia mengalami transisi, di saat ia belum mati, namun juga tidak hidup. Lebih tepatnya seperti koma.
Banyak hal yang dapat terjadi di dalam kehampaan. Segala macam pikiran dan aura negatif maupun positif bisa merasuki dan merubah pemikiran dan keadaan jiwa seseorang.
Kondisi kehampaan ini bisa disebabkan oleh keadaan yang alami, ataupun juga dibuat.
Lalu kalau bisa melewati fase kehampaan, akan bisa masuk ke fase ini, yang bernama kesadaran kosmik.
Di sini, siapapun bisa melihat berbagai macam hal yang terjadi di dunia, dari sudut pandang manapun.
Namun tidak semua makhluk bisa sampai di fase ini. Hanya yang terpilih atau entitas yang memiliki kekuatan spiritual sangat tinggi yang bisa menembus batasan antara kehampaan dan kesadaran kosmik.
"Nah, karena kau adalah makhluk spesial, biarkan aku mengajakmu jalan - jalan dulu Erina", Barachiel menggenggam tangan Erina dengan lembut.
Erina diajak terbang dengan kecepatan supersonik hingga tak bisa membuka matanya.
Dalam sekejap sekitarnya berubah menjadi luar angkasa.
Mereka berada di luar lingkaran galaksi bima sakti.
"Ini... di luar angkasa? indahnyaaa", Erina terpana melihat milyaran cahaya bintang dan warna - warni debu angkasa yang bertebaran.