My Heart From Hell

My Heart From Hell
Roviolo Clan



Keesokan harinya, Erina dan rombongannya melanjutkan perjalanan sesuai dengan arahan dari pria misterius, dan juga intuisi dari Erina untuk memilih salah satu dari kubu yang akan berperang, kubu itu adalah klan Roviolo dari wilayah timur.


Setelah berjalan kaki kira - kira lima kilometer, mereka melihat sebuah kota kecil yang terlihat seperti dari abad pertengahan.



"Sue, coba tolong berubah menjadi wujud manusia biasa, jangan sampai kita nampak mencurigakan disini"


"Baik tuan putri" Succubus merubah wujudnya menjadi wanita yang berpakaian biasa


"Nak, siapa yang akan bernegosiasi dengan pemimpin dari klan ini? sepertinya tidak boleh sampai salah bicara" Lily bertanya


"Biar aku sendiri yang akan melakukannya, dulu kan aku kuliah ilmu komunikasi"


"Baiklah kalau begitu, dulu mama gak ada saat di masa kamu kuliah" Lily merasa bersalah


"Tenang, serahkan padaku" Erina yakin.


Kemudian mereka mulai mendekat ke kota kecil itu.


Ada seorang anak kecil yang sedang bermain, melihat rombongan Erina, tanpa basa - basi Ia langsung berteriak memanggil orang - orang disana.


Tak lama, ramai orang berkumpul sambil menatap mereka berempat.


Orang - orang yang muncul adalah orang tua dan anak - anak.


Erina maju dan mencoba berbicara kepada yang dituakan "Permisi, apa benar ini klan Roviolo?"


Seorang kakek tua menjawab, "Ya benar, apakah kalian pahlawan yang akan membantu klan kami?"


"Ehhmm...mungkin bukan pahlawan, tapi iya kami berada di pihak kalian"


Kakek itu nampak terharu, Ia segera berbalik badan dan memberikan pengumuman kepada warga yang lainnya.


"Wahai rakyatku, syukurlah para pahlawan muda ini sudah datang, akhirnya setelah bertahun - tahun kalah dalam perang, ada harapan bagi klan Roviolo untuk bangkit kembali"


"Waaaaaa...." seluruh warga yang berisikan orang - orang tua dan anak kecil bersorak.


Mereka berempat saling melihat satu sama lain dengan ekspresi bingung.


Kemudian Kakek itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam penginapan.


"Silahkan, kalian bisa beristirahat disini, selagi bersiap untuk berperang esok hari. Namaku adalah Luvo"


"Pak, saya ingin bertanya boleh?"


"Apa saja seputar kota dan warga disini akan kujawab"


"Apa disini ada orang yang masih muda dan produktif? karena kami lihat tadi hanya ada orang tua dan anak - anak"


Kakek Luvo menunduk lesu "Memang begitulah keadaannya, para kaum muda sudah gugur dalam peperangan, dan akhirnya kami selalu kalah dari klan barat"


"Jadi, tidak ada lagi yang sanggup berperang?"


"Beberapa tahun lalu, karena klan kami sudah kekurangan orang bahkan wanita dan anak - anak ikut berperang, namun semua dibantai"


"Ya ampun, itu sangat tidak wajar, tapi...kenapa harus selalu berperang? apa tak ada cara lain?"


Erina merasa miris mendengar hal tersebut.


"Kedua klan hanya ingin anggotanya bisa masuk ke menara itu dan mendapatkan kekuatan, dengan cara itulah klan kami bisa meningkatkan derajatnya"


"Apa sebelumnya sudah ada yang berhasil?"


"Ya, silahkan lihat lukisan di dinding ini, merekalah semualah perwakilan Roviolo yang berhasil memiliki kekuatan" ucap kakek seraya menunjukkan puluhan lukisan wajah orang yang berjejer di tembok.


Erina memperhatikan "Lumayan banyak juga ya"


"Iya, tapi sayangnya, sebagian besar dari mereka telah melupakan kewajibannya ketika telah mendapatkan kekuatannya. Mereka malah pergi dari kota ini, bahkan berpindah ke dunia paralel untuk mencari peruntungan"


"Jadi pada akhirnya klan Roviolo tidak pernah berkembang ya?"


"Betul, selain itu masih banyak lagi masalah lainnya. Sebenarnya kami sudah ingin berputus asa, tapi kalian datang"


"Kalau saya boleh tahu, saat ini berapa banyak warga yang siap untuk berperang?"


Luvo terdiam sesaat "Sepertinya tidak ada. Ah, ada!...dua orang anak muda, yang satu perempuan berusia tujuh belas tahun, yang lelaki berusia empat belas tahun, rumah mereka terdapat di bagian tenggara"


"Baik kek, terima kasih banyak atas infonya, sekarang kami akan mengadakan diskusi terlebih dahulu"


"Baiklah, kalau butuh apa - apa kalian bisa mengabarkan nyonya Niusa sang pemilik penginapan"


Erina mengangguk dan tersenyum, kemudian Ia duduk di kursi kayu tempat teman - temannya berada.


"Kalian dengar sendiri kan bagaimana keadaannya?"


"Iya, ini lebih parah dari dugaanku" jawab Succubus


"Benar, kukira paling tidak mereka sudah memiliki pasukan, dan kita tinggal masuk ke dalam pasukannya, tapi sepertinya, kitalah yang akan menjadi pasukan utamanya"


"Nak, apa kamu yakin dengan ini?" Lily mulai khawatir


"Kita sudah sejauh ini, aku rasa kita tak punya pilihan. Kita harus mengatur strategi dengan baik"


"Benar, aku pasti akan berada di garis terdepan" Damien yakin.


Sebelum malam terlalu larut, Damien dan Erina memutuskan untuk menyusun strategi perang dengan para tetua yang pernah ikut dalam peperangan.


Damien membuka pembicaraan, "Jadi, kita harus mengetahui ciri - ciri musuh kita, bagaimana rupanya, kekuatan mereka, strategi mereka dalam berperang, serta apa yang membuat mereka unggul dari klan Roviolo"


"Ehem.." salah seorang tetua mulai berbicara


"Namaku Envo, aku sudah delapan kali ikut berperang dari semenjak aku muda"


Damien mendengarkan dengan seksama


"Klan Arblegas tidak terdiri dari manusia semuanya, banyak monster yang menjadi anggota mereka, bentuknya sangat mengerikan. Para monster itu sangat brutal sehingga klan Roviolo yang hanya berisikan manusia ini sering kalah"


"Iya, mereka bergabung dengan Orc, Ogre, bahkan Troll raksasa dalam berperang"


"Pernah ada naga juga!"


"Mereka memakai teknologi alat perang seperti panah, catapult, dan lainnya"


"Mereka menaiki serigala besar yang buas dan larinya kencang, sedangkan kami hanya naik kuda"


Satu persatu tetua yang pernah ikut perang mulai menyuarakan pengalamannya, namun terdengar semakin tidak masuk akal bagi damien dan yang lainnya.


"Lalu, bagaimana strategi perang klan Roviolo sewaktu kalian memenangkan perang?" tanya Damien


"Kami tak punya strategi, kami hanya maju dan berdoa agar diberikan kemenangan oleh tuhan"


Damien menepuk jidatnya.


"Jadiii...kalian selama ini pernah menang bukan karena punya strategi tapi karena dibantu tuhan kalian?" tanya Succubus


"Tentu, klan kami berisikan manusia yang sangat religius. Kami yakin kekalahan selama ini adalah berkat dari tuhan yang tertunda"


"Bukankah itu bisa dikategorikan keberuntungan?" tanya Lily


"Bukan keberuntungan tapi anugerah tuhan"


Succubus berbisik kepada Erina "Ini sulit, sepertinya kau memilih klan yang salah"


Erina memutuskan bertanya kepada kedua orang anak muda, "Kalian? apa kalian pernah dibekali keterampilan berperang oleh keluarga kalian?"


"Tidak, kami hanya anak petani"


Succubus merasa pesimis.


"Apakah kalian percaya dengan monster?"


"Tidak, monster tak bisa dipercaya. Monster itu jahat"


Erina menatap Succubus.


Succubus heran "kemana arah pembicaraanmu?"


"Kalau aku bilang, aku punya teman monster yang baik, yang bisa membantu kalian memenangkan perang, bagaimana?"


Para tetua langsung menatap satu sama lain sambil berdiskusi.


"Kami tidak yakin, mungkin monster itu utusan Arblegas untuk menghancurkan klan kami"


"Tidak, monster ini adalah utusan dari tuhan untuk klan Roviolo"


Succubus mulai merasa tidak nyaman


"Temanku disini adalah seorang monster wanita yang baik"


Erina merangkul Succubus, Succubus terkejut dengan perkataan Erina.


Para tetua menjadi gusar dan mulai menjauh dari meja.


Namun kedua anak muda tertarik dengan hal itu, bagi mereka ini adalah hal baru.


"Kalian...jangan macam - macam ya!"


"Tidak, kek tenang dulu, aku tidak akan mencelakai kalian, Succubus tolong perlihatkan wujudmu yang sebenarnya"


"Ah aku tak suka ini, kita sudah mulai diterima tapi tiba - tiba bisa dilempari batu kalau begini" Succubus tak yakin.


Erina tersenyum kepada Succubus untuk meyakinkannya.


Succubus menjauh dari meja, dan bersiap - siap, Ia melihat satu persatu tatapan para tetua yang tak ramah seperti akan melihat iblis, ya meskipun dia memang iblis, Ia tetap tak terbiasa melihat tatapan seperti itu.


Tubuh Succubus mulai terbakar api, dan berganti wujud ke sosok astralnya, dengan tanduk, sayap, dan ekor berwarna hitam.


Semua tetua terkejut, ada yang terjungkal, ada yang pingsan. Namun sebaliknya, kedua pemuda sangat bersemangat.


"I...iblis, kau adalah iblis jahat yang menyalahi peraturan tuhan" ucap salah seorang tetua yang merasa ngeri sambil mengacungkan tongkatnya


"Tidak, aku tak pernah begitu, aku pun berada di bawah peraturan tuhan" Succubus menjawab


"Benar, meskipun iblis, semua sudah diatur pada kodratnya, tak semua iblis berlaku jahat pada manusia" Damien menambahkan, berusaha meyakinkan


"Bagaimana kami bisa mempercayai kalian?"


"Biarkan kami berada di barisan depan, dan kami akan memenangkan perang ini untuk kalian", Erina berkata dengan sangat yakin


Lily, Damien, dan Succubus menatap Erina, mereka semua tercekat, namun merasa ada hikmah dibalik keyakinan Erina.