
"Kamu...kamu masih waras kan? kenapa sampai melakukan perjanjian dengan iblis?"
Asmodeus memegang kening Erina seperti memeriksa orang sakit, Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Yang penting adalah, aku jadi punya waktu untuk mencari ibuku tanpa diganggu"
"Ya lalu?"
"Setelah itu dia bisa mengambilku"
"Aaarrrgghh.. aku benar - benar gak ngerti jalan pikiranmu", Asmodeus stress.
"Tenang ajaa..nanti kalau aku sudah mati ditangan Lucifer, jiwaku akan mencarimu di akhirat dan kita bisa bersama selamanya"
Asmodeus berjalan ke pintu kaca, kemudian kepalanya bersandar di kaca, Ia menghela nafas yang panjang.
"Tidak, tak begitu konsepnya Erina. Jika Kamu meninggal secara normal, memang jiwamu akan dibawa ke akhirat, dan mungkin kita bisa bertemu, tapi jika dimusnahkan akan berbeda ceritanya. Dimusnahkan berarti jiwa kita akan hilang selamanya dan seperti tidak pernah ada"
Erina menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut.
"Ma..maaf..aku tidak mengetahui soal itu. Tapi mari berharap kalau Lucifer hanya membunuhku, tidak memusnahkanku, ya kan?"
"Mana mungkin, kamu benar - benar gak menghargai perasaanku ya"
Asmodeus terlihat begitu kecewa karena perbuatan Erina yang gegabah.
Erina tertunduk lesu karena merasa sangat bersalah.
"Yasudah, yang penting kita coba cari ibumu dulu, nanti mungkin aku bisa mencoba beberapa cara untuk mengulur waktu, berapa waktu yang diberikan?"
"Satu bulan"
"Ya tuhaan..itu cepat banget!", Asmodeus semakin stress.
Mereka berdua terlihat sama - sama frustrasi
dan terdiam beberapa saat.
"Oke, Aku akan membant....."
"Tunggu! ada satu persyaratan lagi"
"Hah? apa lagi?"
"Semua astral yang membantuku, akan kehilangan kekuatannya"
Asmodeus terduduk lesu, pikirannya kosong, mencari orang akan sangat mudah dengan kekuatan astral, namun jika jadi manusia, bisa butuh berbulan - bulan bahkan bertahun - tahun lamanya.
"Aku akan kembali dulu untuk mengajukan cuti dan membawa beberapa barang"
Asmodeus menghilang.
Erina berfikir ulang, merasa keputusannya yang telah diambilnya salah, tapi Ia tak punya pilihan lain.
...----------------...
Keesokan harinya Erina menghampiri cafe tempatnya bekerja, lalu Ia menyampaikan kepada Clara bahwa Ia akan mengajukan resign karena akan mencari ibunya. Clara terkejut dengan keputusannya itu, namun Ia tak kuasa untuk menahannya.
Dari seberang jalan, Damien yang ternyata masih berada di sekitar situ memperhatikan Erina tapi tanpa menunjukkan kehadirannya.
...----------------...
Di apartment, Erina menyiapkan semua uang tabungannya dan apapun yang bisa dibawa, meskipun Ia belum tahu akan pergi kemana. Ibunya bisa berada dimanapun, bisa di perkampungan belakang apartemen, atau bahkan di belahan dunia lain yang sangat jauh.
Lalu Asmodeus datang, dengan celana pendek, baju kaos, kacamata hitam dan dua koper besar ditangannya.
"Kamu... mau traveling ke Bali?"
Erina menatap heran.
"Habis aku gak to tahu pakaian untuk mencari orang hilang tuh seperti apa. Siapa tahu dia ada di pantai"
"Hahh..yasudah sebaiknya kita mulai mencari dimana? kantor polisi? kelurahan? kantor imigrasi?"
"Eits, dari orang pintar dong"
"Hah?
Erina cukup terkejut mendengar jawaban dari Asmodeus.
Kenapa orang pintar? karena orang pintar bukan astral tapi memiliki kekuatan supranatural yang diharapkan dapat membantu mereka. Begitu setidaknya menurut Asmodeus.
"Tapi, kamu benar - benar kehilangan kekuatanmu?", Erina memastikan.
"Lihat ini, semenjak aku kembali kemari tanda ini muncul", Asmodeus menunjukkan munculnya tanda yang sama seperti Erina di tengkuknya.
...----------------...
Di luar apartment mereka pun berdebat.
"Kenapa gak mau pakai mobil aku aja? kan gampang kalau mau kemana - mana?"
"**Nggak , karena kalau bawa mobil, kita akan repot, juga harus cari parkir dan segala macam"
"Tapi mobilku kan kecil dan praktis"
"Kita naik taksi aja, taksi burung perak**"
"Ih ngapain? itu kan mahal banget tahu"
Asmodeus mengangkat kedua koper yang dibawanya lalu memukul - mukulnya,
"tenang, kita sultan sekarang".
Erina merasa pusing, namun Ia menurut kepada Asmodeus. Ia heran kenapa Asmodeus seperti orang lupa diri, padahal Ia hanyalah manusia biasa sekarang.
Mereka berdua pun naik setelah menyetop sebuah taksi dengan cat berwarna hitam metalik dan logo bergambar burung, seperti yang diinginkan Asmodeus.
Asmodeus telah mencaritahu soal tempat praktek orang pintar. Setelah memberikan alamat kepada sopir taksi, mereka tiba di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Jakarta Barat dalam waktu empat puluh menit.
Erina melongok melihat argo, dan argonya menunjukkan angka 750.000.
Erina melotot kaget, lalu berbisik kepada Asmodeus,
"Kalau bensin mobilku, segini sudah bisa sampai ke luar negeri nih"
Asmodeus dengan percaya diri mengeluarkan segepok uang seratus ribuan, jumlahnya Kira - kira sepuluh jutaan
"Ini pak, ambil aja kembaliannya".
Sang sopir taksi terkejut namun juga sangat senang. Ia mengucapkan terima kasih yang sangat banyak.
Erina semakin shock melihat sikap Asmodeus, tapi karena itu uangnya, Ia tak berkata apa - apa dan hanya bisa mengelus dada.
Setelah turun dari taksi, mereka berdiri di depan rumah yang terlihat cukup tua dan kecil. Pintu pagarnya terbuka lebar. Namun tak ada tanda - tanda rumah ini adalah tempat praktek perdukunan.
"Kamu yakin disini?", tanya Erina yang tampaknragu.
"Benar kok, ini alamatnya", Asmodeus memastikan dengan ponsel pintarnya.
Tak berlama - lama, merekapun masuk ke rumah tersebut. Nampak interior rumah itu sebagian besar terbuat dari kayu, dan banyak ornamen yang terlihat mistis di dalamnya. Namun rumah itu sangat sepi.
"Permisi, selamat siang...Mbah Margononya ada?", tanya Asmodeus.
Tiba - tiba muncul seorang anak muda berkacamata dan berpenampilan lusuh,
"Mbak Erinawati ya?"
"Erina aja gak pakai wati mas"
"Oke, harap tunggu sebentar ya, bapak sedang siap - siap dulu, silahkan diminum air putihnya"
Erina dan Asmodeus duduk di bangku kayu jati tua yang sudah cukup usang dan bau.
"Kok dia bisa tahu namaku? berarti orang ini terpercaya ya?", Erina mulai antusias.
"Oh..", Ekspresi Erina berubah datar.
Selagi menunggu, mereka memperhatikan sekelilingnya, banyak debu dan sarang laba - laba di seluruh penjuru tempat itu.
Ketika Erina mencoba air putih dalam kemasan gelas itu Ia Iangsung menyemburnya, rasanya seperti air dari jaman penjajahan dulu.
"Apa kamu benar yakin dengan tempat ini?"
Erina semakin tidak yakin dengan rekomendasi Asmodeus.
"Iya, di reviewnya bintang lima semua lho, semua pelet dan santetnya berhasil"
Erina hanya bisa percaya omongan mantan petinggi neraka yang sekarang hanyalah
mas - mas ganteng yang tidak pandai mengatur keuangan.
Setelah menunggu setengah jam, mereka akhirnya dipanggil masuk ke dalam ruangan.
Ruangan itu sempit, gelap, dan sangat berbau dupa. Di depan mereka ada meja kayu kecil dan dibelakang meja itu ada mbah Margono yang bertubuh kurus dan berambut gondrong, lengkap dengan blankon dan baju tradisional jawa hitam yang sudah kumal.
"Jadi gini mbah..."
Erina belum selesai bicara.
"Eits! jangan bicara lagi! Saya sudah tahu", sang dukun menggerak - gerakkan tangannya di atas dupa.
Erina dan Asmodeus saling bertatapan.
"Kalian mencari orang hilang kan?"
"Iya betul mbah"
"Sebenarnya dia tidak hilang, dia tepat berada dimana dia menginginkannya",
sang dukun berbicara sambil tetap memejamkan matanya.
"Iya, tapi lokasinya dimana ya mbah?"
"Hmm..saya juga kurang jelas ini lihatnya"
Sang dukun melakukan gerak - gerik yang aneh sambil melihat kedalam cangkir dari tanah liat yang di dalamnya ada kopi hitam pekat.
Kemudian Erina baru menyadari bahwa ada sesosok astral yang berada di belakang sang dukun, sosoknya tinggi hitam dan memiliki lima buah mata.
"Apa si mata lima itu yang digunakan untuk mencari orang hilang?"
Erina menunjuk ke arah astral tersebut.
Mbah Margono terkejut, karena Ia pun tak dapat melihat sosok astral yang membantunya, Ia hanya diberikan petunjuk melalui suara. Sementara Asmodeus tak bisa lagi melihat sosok astral karena penglihatannya sudah menjadi seperti manusia biasa.
"Hei! aku tahu kau bisa melihatnya, cepat katakan dimana lokasinya! jangan bertele - tele!"
Erina lantas membentak astral itu.
Astral itu pun menjadi gusar,
"Ngghh.. jadi begini, saya sebenarnya melihatnya, tapi saya tak tahu juga ini benar orangnya atau bukan"
"Bagaimana caranya supaya bisa dipastikan?"
"Minta sehelai rambut dari mbaknya", astral itu menunjuk rambut Erina.
Erina pun mendekat ke astral itu, mencabut dan memberikan sehelai rambutnya. Kemudian mereka sama - sama melihat kearah cangkir.
Sang dukun dan Asmodeus hanya diam dan memperhatikan saja.
Isi cangkir itu pun tiba - tiba menjadi mendidih, dan mengeluarkan cahaya jingga, astral tersebut terkejut dan menjauh dari Erina.
"Mmm.. mbaknya keturunan raja iblis?"
tanyanya dengan merinding.
"Iya.. kurang lebih begitulah"
Erina menjawab dengan santai.
Astral itu pun mulai bersujud kepada Erina, namun Erina menjadi kesal.
"Hei itu nggak perlu, tolong cepat dilihat lokasi orangnya!"
Ketika dilihatnya lagi cangkir itu, Ia tidak melihat apa - apa.
"Nhggh.. anu, maaf tapi sepertinya tiba - tiba saya kehilangan kemampuan saya", Astral itu merasa sangat sungkan.
Erina menepuk jidatnya, "Astagaa.."
"Ada apa?", tanya Asmodeus.
"Astral ini bilang kekuatannya tiba - tiba hilang"
"Hmm.. sepertinya gara - gara rambut itu, astralnya jadi terpengaruh ke dalam mantra perjanjian"
Asmodeus membuat kesimpulan.
"Yasudah begini saha, dari penglihatanmu yang sebelumnya, kira - kira dia ada di negara yang sama seperti kita atau tidak?"
"Tidak, sangat jauh"
"Penampilan orang - orang disana seperti apa?"
"Orang bule semua"
"Ah ini tidak membantu, negara yang isinya bule ada banyak"
"Hmm.. saya melihat beruang, banyak beruang besar, berbulu coklat"
"Beruang coklat?"
"Ya"
"Lalu apa lagi?"
"Tempatnya putih semua"
"Salju?"
"Saya tidak tahu apa itu salju"
"Akh.. lalu? apa lagi yang bisa kau deskripsikan?"
"Sudah, saya tidak tahu lagi"
Merekapun sepakat untuk mengakhiri kunjungan mereka.
Ketika itu lagi - lagi Asmodeus mengambil kopernya kemudian menyerahkan segepok uang tunai, sang dukun terkejut, Erina juga terkejut.
"Hei, mereka tak banyak membantu! sedikit saja!", Erina berbisik dengan nada kesal.
Akhirnya Asmodeus hanya memberikan sejumlah uang.
...----------------...
Setelah mengakhiri kunjungannya di rumah mbah Margono, mereka berkunjung ke rumah makan cepat saji di dekat sana untuk menumpang menggunakan jaringan internet.
Setelah mencari cari di internet, hanya dua negara yang memiliki banyak beruang coklat, Amerika dan Rusia.
"Ahh..apa kita harus ke luar negeri?"
"Iya dong, sepertinya akan seru"
Erina memicingkan matanya, kesal karena menganggap Asmodeus seperti main - main.
Tapi Asmodeus berpendapat, karena mungkin ini saat - saat terakhir mereka bisa bersama, maka Ia berharap untuk Erina agar menikmati seluruh perjalanan yang akan mereka lakukan.