My Heart From Hell

My Heart From Hell
Massive Raid



Di sebuah cafe di akhirat, ada seorang wanita yang sangat kesal karena teman kencannya malah ngobrol dengan wanita lain.


"Damy, a**ku pergi dulu ya, thanks untuk chit - chatnya, jangan lupa call me**!"


Wanita bartender beranjak dari bangkunya, meninggalkan secarik kertas berisi nomor ponselnya, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Damien hanya tersenyum dan masih terdiam menatap Succubus yang berjalan keluar dari cafe tersebut.


..."Ookeee.. jadi apa itu wanita yang kamu sukai?"...


Dewi langsung meluncurkan pertanyaan yang to the point.


"Oh bukan, dia hanya bartender yang kutemui waktu lagi galau di bar, dia menanggapi curhatanku"


Jawab Damien sambil senyum - senyum.


"Aku bukannya mau judgemental ya tapi sikap dan gayanya seperti bukan wanita baik - baik", ucap Dewi dengan sinis.


"Aku tahu, itu bukan tipeku kok, tapi sepertinya seru aja kalau punya teman seperti itu"


"Memangnya tipenya mas yang seperti apa?"


Dewi tiba - tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Damien, agak terkejut.


Damien berpikir sambil melihat ke atas,


"Eehmmm.. kalau fisik sih cukup umum ya, aku suka wanita berambut panjang dan berbadan langsing"


"Seperti kunti dong?", tanya Dewi.


"Benar juga, menurutku para kunti memang memiliki standar penampilan yang cukup baik, bahkan kau sebenarnya juga cocok menjadi salah satu dari mereka"


Dewi yang merasa itu adalah pujian, pipinya langsung menjadi merah. Sambil memainkan rambut panjangnya, Ia melihat ke bawah memastikan badannya masih langsing seperti saat berumur tujuh belasan.


"Kalau karakternya, aku suka orang yang bisa kuberikan perhatian dan kujaga.. yaa kalau bisa sih jangan lebih kuat dari aku ya, haha.."


Dewi mengambil kesimpulan itu adalah ciri - ciri dari Erina. Kadang Ia merasa gondok, namun di satu sisi juga merasa memiliki kesempatan yang besar untuk mengambil hati Damien.


...----------------...


Di kantor Lucifer, Ia kedatangan tamu yang tak pernah diduganya. Seorang pria tua bertubuh sangat kurus menggunakan dengan kursi roda yang sudah berkarat, yang didorong oleh seorang iblis wanita bertubuh ular.


"Hei..."


Sapa pria itu dengan nada yang malas.


"Hah!? aku gak salah lihat nih? ada keperluan sepenting apa sampai kau mau datang kesini?"


Lucifer cukup terkejut melihat kedatangan pria itu.


"Aku mendengar tentang desas desus kemuncupan sang pembawa takdir kehancuran"


"Ya, sebagai petinggi neraka sudah sewajarnya kalau kau mendengarnya bukan?"


Lucifer meminum teh di cangkir berwarna emas dengan figur yang anggun.


"Aku.. ingin ikut campur"


Kata pria itu dengan suara pelan.


Lucifer menyembur tehnya.


"Ahahahaha.. apa aku gak salah dengar!? Belphegor sang raja kemalasan mau turut campur masalah ini?"


"Ya kau tahu.. aku malas melakukan apapun, tapi rasa bosan ini benar - benar menggangguku"


"Kau ingin bermain - main ya?"


"Tentu, sudah lama sejak aku ingin melakukan sesuatu, jadi apakah a**ku boleh mengganggunya**?"


"Tentu saja, perjanjiannya hanya anak buahku yang tidak boleh mengganggunya, tapi kalau petinggi lain tidak disebutkan. Jadi Kau bisa menyuruh anak buahmu untuk mengganggu dia"


"Bagus, tapi aku sudah tidak punya anak buah lagi sekarang, aku malas menggaji mereka. Sekarang aku hanya punya Lamia yang tidak perlu kugaji"


Belphegor menoleh ke wanita ular yang mendorong kursi rodanya.


"Baiklah, lakukan saja sesukamu", ucap Lucifer.


Belphegor tersenyum licik, lalu mengisyaratkan agar Lamia membawanya keluar dari ruangan itu.


"Ah tunggu, ada satu hal lagi, kau jangan sampai membunuh anakku, harus aku yang melakukan itu"


"Bagaimana dengan Asmodeus?"


"Kalau itu aku tak peduli"


Senyum Belphegor menjadi semakin lebar.


...----------------...


Succubus sedang duduk di kantin neraka sambil melihat sekelilingnya, Ia merasa bosan karena harus menunggu untuk kasus Erina, Ia tak bisa melakukan apapun akibat perjanjian yang dibuat Lucifer.


Behemoth menghampiri Succubus perlahan, lalu menaruh segelas jus alpukat dingin di depannya, "Nih, kesukaanmu"


"Wahh..makasih Mothyy, tahu aja aku lagi haus"


Ia merasa senang dan langsung menyeruput minuman kesukaannya itu.


"Kau masih mencoba mengganggu


si malaikat maut itu?"


tanya Behemoth sambil memakan semangkuk bakso belatung.


"Iya, tapi tak ada gunanya, aku benar - benar bosan"


"Memangnya kau nggak ada pekerjaan lain?"


"Aku kan ditugaskan khusus untuk tugas ini, tapi malah ada perjanjian itu.. jadi buyar semua"


"Kau senang banget ya kalau disuruh


jadi mata - mata?"


"Iya itu impianku sejak kecil"


"Atau kau senang karena ada Asmodeus?"


Succubus tersenyum dan melihat ke atas sambil membayangkan sesuatu.


"Hmm.. soal itu, aku jadi teringat waktu dia mengancamku selagi berada di atas atap apartemen. Aroma nafasnya, wangi tubuhnya,.merasuk di jiwaku, rasanya sungguh membuat hampir pingsan"


Behemoth diam saja, Ia paling malas kalau Succubus sudah mulai menceritakan tentang Asmodeus, apalagi cerita yang sudah sering diulangnya.


"Aku sudah mengidolakannya semenjak di akademi, kalau tuan Lucifer tidak merekrutku, Aku pasti akan masuk ke tempatnya"


"Kau sudah ribuan kali menceritakan itu, lagipula dia kan tidak menerima orang luar sebagai koleganya"


"Ya aku tahu, makanya si Astaroth kutu buku itu yang berada disana, padahal seharusnya itu aku"


"Padahal seharusnya aku yang bersamamu"


ucap Behemoth dalam hatinya.


Tak jauh dari tempat mereka berdua duduk, terlihat beberapa iblis tingkat atas, anak buah para petinggi berkumpul dan seperti merencanakan sesuatu.


"Mothy..lihat deh mereka pada ngapain?"


Succubus berbisik.


"Itu kan Belial anak buah tuan Mammon, dan Mephistopheles anak buah tuan Satan, mereka sepertinya sedang mengumpulkan pasukan", ucap Behemoth sambil memperhatikan.


"Aku akan curi dengar, kau tunggu disini ya"


Succubus menyamar menjadi ibu - ibu kantin, lalu mencoba menguping pembicaraan para iblis.


Belum juga berhasil mendekat, Ia sudah dicegat oleh seseorang yang langsung menyapanya,


"Hallo, nona Marionetta"


"Ah tuan Mammon!", Succubus terkejut.


Namun Succubus langsung menunjukkan ekspresinya kesalnya kepada Mammon, karena dianggap mengerjainya sewaktu di dunia.


"Hei kau masih marah? padahal aku gak bohong ya, aku juga gak tahu kalau level kita sebegitu jauhnya sehingga kau tak bisa memakai itu"


"Ah sudahlah tuan, memang sepatutnya perkataan iblis itu tak bisa dipercaya"


Succubus membuang muka.


"Bagus kalau kau paham hal itu"


"Tapi ngomong - ngomong apa yang kau dan anak buahmu rencanakan?"


Mammon pun mendekatkan mulutnya ke telinga Succubus lalu berbisik.


"Aku dan Belphegor akan turun tangan untuk


mengganggu Asmodeus dan pasangannya itu, kami bahkan berencana untuk membunuhnya lalu mendapatkan kekuatan itu, seru kan?"


Succubus terdiam.


"Membunuh? siapa? wanita itu?"


"Ya Asmodeus dong, karena dia kan sedang menjadi manusia, lalu kudengar kinerjanya sedang tak bagus juga, jadi lumayan kalau ada yang menggantikan posisinya. Sedangkan kalau wanita itu tak akan dibunuh, karena kekuatannya merupakan elemen yang sangat penting"


Succubus kembali terdiam, kulitnya mendadak memucat, Ia merasa takut. Apakah Ia takut posisi atasannya akan tersingkir oleh rekannya sendiri, tidak, Ia takut Asmodeus akan dibunuh.


Succubus tak mempercayai yang Ia dengar. Ia kembali ke meja dengan tatapan kosong, duduk di kursinya lalu menceritakan semuanya kepada Behemoth.


"Aku akan segera memberitahu tuan Lucifer"


Behemoth hendak beranjak, namun ditahan oleh Succubus.


"Tidak, jangan! dia tidak akan mempercayai kita"


"Hmm..iya juga ya, dia pasti akan lebih


percaya para petinggi dibanding kita"


Behemoth mengiyakan.


"Aku harus memberitahu Asmo", ucap Succubus bertekad.


"Hah? kau serius? kita kan tidak perlu


ikut campur masalah ini"


"Aku akan ikut campur karena ini menyangkut hidup calon suamiku"


"Hei jangan berkhayal, dia tidak mungkin mau sama kamu"


"Biarin, yang penting usaha dulu aja"


"Memang cinta ini benar - benar toxic ya, membuat orang jadi tidak berpikir jernih"


keluh Behemoth.


..."Behemoth, kau bantu aku ya!", pinta Succubus...


dengan mata berbinar.


Behemoth menepuk jidatnya, padahal Ia cuma ingin bekerja dengan lurus - lurus saja, namun ada saja gangguannya.


...----------------...


Di bagian selatan akhirat, terlihat ratusan astral jahat yang berbondong - bondong menuju gerbang untuk berpindah dimensi.


Di kejauhan Succubus dan Behemoth mengikuti mereka diam - diam dari belakang, namun ternyata ada yang melihat mereka.


"Ehemm.. permisi"


Suaranya menggema dan begitu menentramkan hati.


Rupanya itu adalah gabriel sang malaikat utama petinggi surga.


Mereka berdua menoleh namun tak bisa membuka matanya karena cahaya yang begitu terang, "Aaakhh.. tuan Gabriel!"


"Maaf - maaf, cahayanya akan kukurangi", dalam sekejap cahaya di tubuh Gabriel sudah berkurang.


Succubus dan Behemoth menunduk untuk memberi hormat kepada Gabriel.


"Ada hal apakah sampai tuan mampir ke tempat yang hina ini?", tanya Behemoth.


"Ah, sebenarnya aku hanya ingin membeli makanan kesukaanku, namun kurirnya tidak bisa mengantar, jadi aku harus datang sendiri"


"Mohon maafkan kurirnya tuan, apa perlu saya carikan gantinya?"


"Ah tidak, urusan itu sudah beres. Namun yang membuatku penasaran, kenapa para astral itu pergi beramai - ramai begitu? memangnya ada takdir apa yang akan terjadi?"


"Ah kami juga kurang tahu tuan, mungkin mereka lulusan baru akademi yang hendak pergi magang", Succubus mengalihkan.


"Oh begitu, banyak juga lulusan tahun ini.. baiklah kalau begitu. Terima kasih infonya, sekarang aku akan kembali ke tempatku", Gabriel memutar tubuhnya lalu berjalan perlahan.


"Selamat jalan tuan Gabriel"


Succubus dan Behemoth memberi hormat.


"Tuan Gabriel sangat rendah hati ya, Ia bahkan berjalan kaki ke tempat seperti ini, padahal Ia berada di tingkatan yang jauh berbeda"


"Iya, padahal dengan kekuatannya dia bahkan bisa mengguncangkan dunia"


"Eh bukan hal itu yang penting, tapi para astral ini bagaimana?"


Mereka berdua saling menatap dan bingung harus berbuat apa.