My Heart From Hell

My Heart From Hell
Jealousy



Di pantai, Erina mencari - cari Damien kemana - mana, Ia mulai resah, kenapa Damien pergi tanpa memberitahunya.


Setelah lima belas menit mencari dibawah terik matahari, terlihat Damien duduk di pinggir jembatan yang seperti dermaga, Ia hanya bengong menatap laut, Erina segera menghampirinya.


"Hoi, susah banget dicariin, yuk pulang"


"Oh...sudah selesai?"


Damien beranjak lalu mereka menuju ke mobil.


...----------------...


Di perjalanan Erina tak berhenti tersenyum dan memandangi cincin permata di jarinya, dan terus menceritakan betapa manisnya pengalamannya hari ini.


Damien nampak tidak perduli sedikitpun, Ia hanya fokus menyetir dengan ekspresi wajah yang datar.


"Hei, kok diam aja? Kau sakit?", Erina menegur Damien.


"Gak apa - apa"


Erina merasa Damien bersikap aneh.


Setelah agak dekat dengan apartemen, Erina meminta Damien untuk mampir ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan di rumah.


Erina memilih - milih barang, Damien mengikuti di belakangnya.


"Hmm..odol masih banyak gak ya?"


"Odol masih ada setengah, pewangi toilet habis, minyak goreng tinggal seperempat, lampu di ruang tengah sudah mau mati, kalau mau beli telur empat butir saja, lalu roti tawar kadaluwarsanya tinggal sehari lagi jadi harus dihabiskan"


Erina tertegun mendengarnya, Ia tak menyangka Damien begitu teliti.


Ia menatap wajahnya kemudian tersenyum.


Kemudian di rak makanan ringan Erina mengambil sebungkusncamilan keripik.


"Wah ini kan yang dari korea itu, mau


cobain ah", Erina hendak memasukkan camilan itu ke dalam keranjang.


Namun Damien menahan tangan Erina,


"Snack ini bahan bakunya mengandung udang, kau kan alergi dengan itu"


Erina terdiam, bahkan Damien lebih ingat tentang alerginya dibanding dirinya sendiri.


Damien berlanjut menuju ke kasir dengan membawa keranjang belanjaannya, kemudian membayar semuanya tanpa berkata apa - apa.


Erina terlihat benar - benar heran.


...----------------...


Di mobil, Erina menatap Damien dan bertanya,


"Kau membayar dengan apa?"


"Ya pakai uanglah, masa pakai daun? gini - gini Aku juga punya uang, meskipun belum bisa beli cincin permata"


Damien lalu meneguk sebotol minuman kopi yang baru dibelinya.


"Oohh..Kau cemburu ya?"


Mendengar kata - kata itu, Damien menyembur kopinya, "ya nggaklah, ngapain juga"


Damien mengambil tisu lalu membersihkan bekas kopi di dashboard mobil Erina.


Erina tersenyum,


"Tenang Damien, kau kan udah banyak membantuku, kau sahabat terbaikku sekarang, saranghaee.."


Erina memberikan simbol hati seperti orang korea dengan jarinya.


"Pesanku, Kau harus hati - hati saat ada astral yang jatuh cinta kepadamu", ucap Damien dengan tegas.


"Kenapa memangnya?"


"Mereka bisa begitu terobsesi padamu dan tidak ingin melepaskannya"


"Hmm..itu bisa jadi hal yang baik sekaligus buruk juga sih"


"Ya, seperti Aku saat ini", ucap Damien dalam hati.


...----------------...


Sesampainya di apartemen.


"Aaah..Aku capek banget, mau mandi terus tidur ah", Erina menaruh tas belanja di meja makan, lalu mengambil handuk.


Damien melihat ke arah jendela balkon, nampak pak Uwo yang memberikan kode kepadanya.


"Aku......mau ke bar di seberang jalan untuk


minum - minum", ucap Damien setelah melihat kode dari pak Uwo.


"Ah serius? kok gak ngajak aku?"


"Kau kan capek, aku ingin bertemu dengan teman disana"


"Hmmm...baiklah, sejak bersamaku kau jadi jarang bersosialisasi ya"


"Aku pergi setelah kau tidur kok"


......................


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Erina sudah terlelap.


Damien keluar ke balkon lalu pergi bersama pak Uwo.


...----------------...


Mereka tiba di bar, bar itu bergaya arsitektur eropa tahun 70an. Di dalamnya ada banyak manusia yang menikmati kehidupan malam, mengobrol, tertawa, maupun menari sesuai dengan alunan musik yang terdengar.


Begitu pula dengan para astral, banyak dari mereka yang berada di tempat itu, namun begitu menyadari kedatangan Pak Uwo mereka langsung menyingkir sambil memberi hormat.


"Wah Pak, Kau disegani banget ya di daerah sini?"


"Ya namanya juga faktor usia, lagipula memang penglaris tempat ini Aku yang mengatur kok"


"Oh, pantas".


Mereka berdua duduk di kursi bar tinggi yang menghadap ke tempat bartender bekerja.


Bartender yang bekerja malam ini adalah seorang wanita cantik berumur sekitar akhir dua puluhan, rambutnya berwarna magenta dan dijepit menggunakan jedai, tubuhnya dibalut kostum bartender berwarna hitam yang ketat dan juga rok mini. Kulitnya sangat putih dan berkilau, dandanannya cukup mencolok layaknya seorang foto model. Sebagai seorang bartender wanita, Ia sangat seksi.


Bartender itu menghampiri mereka berdua dan bertanya, "Halo tuan - tuan, mau pesan apa?"


Damien tidak menduga dengan interaksi bartender itu, Ia langsung menoleh ke belakang, kekanan dan kirinya karena mengira bukan dia yang dimaksud. Ia menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.


"Loh, iya, Kamu..sama tuan besar ini, kalian mau apa?"


Damien dan Pak Uwo bertatapan karena bingung.


"Mbak bisa lihat kami?"


"Sepertinya begitu, kalau sudah mau pesan kasih tahu ya", ucapnya seraya mengelap meja di depan Damien.


"Aku, mau tequila", Damien menyebutkan keinginannya.


"Hmm..ada yang lagi banyak pikiran niih..kalau tuan besar mau apa?"


"Saya arak bali saja"


"Apa kau, juga seorang astral? auramu sepertinya berbeda"


"Yah, sebut saja aku bartender dua alam", ucap ya santai selagi mengocok minuman.


Pak Uwo dan Damien merasa bartender itu agak misterius.


Mereka berdua pun mulai minum, tapi hanya Damien yang menjadi mabuk


Semakin malam Ia mulai banyak berbicara segala macam tentang kehidupannya.


Sang gadis bartender pun mendengarkan dan menanggapinya.


"Jadi, kamu terpaksa jadi bodyguard cewek itu? padahal kamu suka sama dia?


tapi dia cuma nganggep kamu teman biasa?


kamu ikut cuma buat lihat dia mesra - mesraan sama pacarnya? yaampun kasihan banget sih"


"Iya, Aku merasa sangat bodoh"


Damien berbicara dengan kesadaran yang menipis.


Pak Uwo merasakan ada yang tidak beres dengan bartender ini, namun dia tidak bisa memastikannya.


"Kalau menurutku sih yaa, ngapain kamu


capek - capek, cowok seganteng kamu gak worth it sama cewek seperti itu"


Wanita itu mendekatkan mulutnya ke telinga Damien dan berbicara dengan nada yang menggoda, "you deserve more...."


Damien merasa terpengaruh dengan perkataannya, jantungnya berdegup kencang, nafasnya terengah - engah dan berkeringat seolah habis berolahraga, matanya tidak fokus.


"Emmm..terimakasih ya mbak untuk minumannya, ini uangnya", Pak Uwo yang masih sadar berinisiatif untuk membawa pergi Damien dari tempat itu agar tidak terpengaruh lebih jauh.


Sang bartender hanya tersenyum.


Setelah mereka berdua pergi, bartender itu membuka samarannya, yang ternyata adalah Succubus.


...----------------...


Di kamar Erina, lampu dimatikan dan AC menyala namun Ia merasa sangat gerah.


Aura di kamar Erina mulai berubah, Ia mulai mengalami mimpi buruk. Makhluk - makhluk berwujud mengerikan mulai datang ke mimpinya, semuanya mulai mengatakan hal - hal yang tidak wajar baginya seperti,


'anak haram iblis, 'keturunan terkutuk', Kau akan mati, 'dunia membencimu'.


Ia terbangun, dan didepannya ada sesosok makhluk hitam bermata satu, berambut gimbal namun tidak memiliki badan, sedang menjulurkan lidah panjangnya yang berlendirr ke tubuh Erina, sambil berkata,


"Kau akan membusuk di neraka"


"Kyaaaaaaaaaaaaa...Damieeeennn toloongg."


teriakan Erina menggema.


Mendengar itu, Damien yang berada di luar langsung tersadar dan segera berteleportasi ke balkon kamar Erina.


Ia sangat terkejut melihat seluruh ruangan telah dipenuhi astral jahat dari berbagai sisi, mereka dapat masuk dengan mudah karena Pak Uwo sebagai tetua di area itu sedang tidak ada ditempat.


Damien yang geram langsung mengeluarkan sabitnya dan membasmi makhluk - makhluk itu, Pak Uwo juga ikut mengusir mereka.


Damien menangkap salah satu makhluk berbentuk monyet tapi memiliki delapan mata dan tujuh tangan, "Hei, siapa yang menyuruh kalian?"


"Kikikikikikikk..kalian akan musnah"


makhluk itu hanya tertawa dan mengancam,


Damien langsung melenyapkannya.


"Ini pasti ulah Lucifer, kurasa beritanya


sudah tersebar", ucap Damien.


"Apa Kau yakin?"


"Iya, yang dapat mengerahkan astral sebanyak ini hanya dia"


Damien masuk kekamar, Erina terlihat sedang meringkuk, menggigil dan menangis, Damien segera memeluknya.


"Tenanglah, sudah kuusir semuanya"


"Hhhuuu..Aku takuutt"


Damien memeluknya dengan lebih erat, lalu menemaninya hingga Ia tertidur.


Damien melihat ponselnya dan berencana menghubungi Asmodeus, namun Ia mengurungkan niatnya.


......................


Pagi pun tiba, Erina terbangun dengan mata berwarna merah, di balkon Ia melihat Asmodeus berdua dengan Damien terlihat seperti berbicara sangat serius namun Ia tak dapat mendengarnya.


"Aku tak percaya Kau bisa sebodoh itu dengan meninggalkannya tanpa penjagaan"


"Maaf, Saya hanya pergi sebentar"


"Tapi itu membuatnya diserang, kalau dia kenapa - kenapa, apa tanggung jawabmu?"


Asmodeus terlihat benar - benar marah dan kecewa terhadap Damien, padahal Ia mempercayakan Damien sebagai penjaga Erina.


"Tapi Saya bisa mengusir semuanya dan membalikkan situasi"


"Apa kau yakin? bagaimana kalau ada yang sempat merasukinya? memasukkan energi jahat ke dalam tubuhnya"


Pak Uwo turut angkat bicara.


"Ini juga salah saya Tuan, karena saya yang mengajak Damien pergi"


"Tidak, ini bukan salah bapak, orang inilah yang seharusnya lebih peka atas tanggung jawabnya", Asmodeus menunjuk - nunjuk Damien.


Damien tertunduk lesu.


Erina keluar ke balkon.


"Mo..tidak perlu menyalahkan Damien, dia sudah berusaha semampunya menjagaku"


Asmodeus memegang pundak Erina,


"Kamu yakin baik - baik saja?"


"I'm fine"


Erina melongok dan melihat Pak Uwo yang berada di dipojokan.


"Apakah itu genderuwo penghuni gedung ini?"


Pak Uwo terkejut karena kehadirannya disadari.


"I..iya mbak, saya Tarwo, penghuni lama disini"


"Mohon maaf ya Pak, kalau kehadiran penghuni apartemen ini telah mengganggu kediaman bapak?"


"Oh gak ada masalah mbak, selama semua bisa bekerjasama dengan baik"


Asmodeus terlihat heran dengan sikap Erina.


"Kamu tidak apa dengan bisa melihat semuanya?"


"Sepertinya Aku sudah mulai terbiasa melihat teman - teman baru ini, udah gak takut lagi".


Erina tersenyum kepada Pak Uwo.