
Damien kembali ke akhirat, Ia berencana untuk memeriksa jiwa siapa yang sudah terambil dengan tidak sengaja itu.
Sesampainya disana Ia menuju ke meja resepsionis untuk bertanya.
"Selamat datang kembali mas Damien, ada yang bisa aku bantu?", sapa seorang wanita muda berambut hitam panjang dengan name tag bertuliskan 'Dewi, resepsionis', dengan nada yang manja
"Mau ke bagian pengecekan, lagi ada mas Irwannya gak?"
"Ada kok, langsung aja", ucap Dewi seraya menggunakan tangannya untuk mengarahkan Damien ke sebuah ruangan bertuliskan 'Checking Room'.
Ekspresi Damien terlihat agak ragu, Ia tidak ingin orang bernama Irwan ini mengetahui hal yang diperbuatnya.
Di dalam checking room yang bernuansa gelap, di depannya ada tabung tabung besar seukuran manusia dewasa, yang digunakan untuk memeriksa jiwa - jiwa yang diambil apakah sudah sesuai, apabila sudah maka akan diproses ke tahap selanjutnya.
Di dalam ruangan tersebut ada Irwan sang kepala bagian, pria berkumis dengan rambut berponi dan badan yang kurus, yang kebetulan sedang ada di tempat itu untuk mengurus sesuatu.
Damien memutuskan untuk bersembunyi dan memperhatikannya dari pintu masuk, berharap Irwan tidak melihatnya.
"Mas ngapain disini? kok gak masuk?", tanya Dewi yang datang karena penasaran melihat gerak - gerik Damien yang aneh.
"Ssstt..jangan berisik, aku gak boleh ketahuan sama mas Irwan!", bisik Damien.
"Wah, lagi ngelakuin sesuatu yang rahasia ya?",
mata Dewi berbinar.
"Iya, udah kamu sana dulu!"
"Oke - oke mas", Dewi pun pergi kembali ke meja resepsionis.
Kemudian saat Irwan keluar dari ruangan tersebut, dengan tergesa - gesa Damien masuk ke ruangan. Ia melihat seorang anak magang yang sedang bertugas menjadi pemeriksa disana, lalu memutuskan untuk menyuruhnya.
"Boy, mau check ini ya, cepetan!"
ucap Damien seraya memberikan kantung hitam bercahaya miliknya.
"Baik kak Damien, mohon ditunggu ya"
Anak muda bertubuh agak pendek dan berambut pirang itupun menaruh kantungnya di sebuah platform berbentuk piringan. Kemudian muncullah proyeksi wujud seorang manusia di tabung besar itu.
Dan wujud yang muncul adalah Erina, betapa terkejutnya Damien melihat sosok itu.
Ia bergumam dalam hati,
"Hah!? ini kan cewek yang nangis di mall, kok bisa keambil sih?"
Anak magang itu pun membuka buku catatannya, dan berkata, "Kak Damien maaf, kalau menurut catatan kayaknya ini bukan pak Samsul yang harusnya diambil deh".
Muncul data keterangan pemilik jiwa di platform
Nama: Erina Muriella
Kelamin: Perempuan
Status: Belum Menikah
Tgl. Lahir: 6 Juni 1988
Tgl. Kematian: -
Pengambil nyawa: -
"Kak, ini sepertinya ada kesalahan, jadi saya harus crosscheck dulu ke bagian listing ya", ucap si anak magang sambil memperhatikan data - data yang muncul.
Damien pun menjadi panik, "Eh gak usah! lebih baik gak perlu ada yang tahu!
Sang anak magang pun mulai membacakan peraturan yang telah dihafalkannya,
"Menurut undang - undang akhirat bagian pengambilan jiwa, apabila ada hal tidak wajar yang terjadi, salah satunya yaitu tidak sesuainya prosesi pengambilan jiwa berdasarkan urutan pengambilan jiwa yang benar, maka pihak pemeriksa wajib melaporkan kepada atasan ataupun departemen yang bersangkutan".
"Yaa..yaa aku juga tahu akan hal itu", Damien menjadi kesal.
"Baik kalau begitu, harap ditunggu ya kak, sebentar aja kok", si anak magang bergegas pergi ke ruangan pengawas.
Damien merasa makin gusar, Ia tahu jika kesalahan ini sampai diketahui oleh supervisornya, apalagi para petinggi, karirnya bisa terancam, karena Ia masih tergolong anak baru yang bekerja di dalam divisi itu.
Sambil berpikir, Damien memperhatikan wajah Erina yang sedang tidak sadarkan diri,
"Cakep juga ni cewek, sayang mati muda".
Tiba - tiba mata Erina terbelalak, Damien tersentak. Tubuh Erina keluar lalu jatuh dari atas tabung dan menindih tubuh Damien yang tak sempat menghindar, "Gubrakkk!"
"Aduuhh...aah siapa kau?!"
Erina yang panik langsung bergegas lari, dan menginjak Damien.
"Aarghh.. dasar cewek gila, kok dia bisa bangun sih!? aneh banget!"
Damien kesakitan dan bingung dengan situasi yang terjadi.
Karena seharusnya, jiwa yang masuk ke ruang pemeriksaan sudah berada di dalam kondisi yang netral dan tidak memiliki kesadaran.
Erina berlari ke luar ruangan, Ia menyadari ini bukanlah mall tempatnya berada tadi.
Ia melihat ruangan lobby yang seperti hotel berbintang lima dengan arsitektur yunani kuno, nuansanya putih dan temaram.
Ia melihat meja resepsionis, lalu menghampirinya dan bertanya,
"Mbak! ini dimana ya?".
Dewi bingung menjawabnya,
"Ya ini tempat apa? saya kok tiba - tiba ada disini?"
"Ini.. lobby akhirat kak, perhentian pertama dalam jalur kematian", jawab Dewi ragu - ragu.
Erina yang merasa jawaban itu aneh, Iangsung pergi.
Dewi heran melihat sikap Erina yang tidak wajar. Biasanya orang yang berkeliaran di akhirat adalah orang yang sudah tahu dimana tempatnya.
Damien muncul dengan tergesa - gesa, lalu bertanya kembali kepada Dewi, "Wi, lihat cewek yang lewat sini gak pake baju warna marun?"
"Perginya ke arah sana mas", Dewi menunjuk kearah perginya Erina.
"Makasih ya"
Damien bergegas mengejarnya.
Dewi bingung melihat kejadian tersebut dan berusaha menalar sendiri situasinya.
Erina melihat sekeliling dengan ekspresi gusar, Ia tidak yakin apakah sedang bermimpi atau apa.
Ia melihat orang - orang yang berada disana hanya memakai pakaian hitam atau putih, semuanya tampak dingin dan memiliki aura aneh yang tak dapat dijelaskan.
Erina memiliki perasaan apa Ia benar - benar sudah mati seperti yang dipikirkannya saat di mobil, karena memang saat ini Ia tak merasa hidup seperti biasanya.
Kemudian Ia tiba di sebuah aula, nampak di kejauhan orang - orang berbaju putih mengantri sangat panjang, mungkin ribuan bahkan ratusan ribu orang, diatas jembatan yang bercahaya, suasananya terlalu tidak nyata untuk menjadi kenyataan. Ia semakin yakin jika sedang bermimpi.
Erina menginjakkan kakinya di luar area lobby dan melihat suasana yang begitu berbeda. Suram dan terlihat seperti kota yang sudah lama tidak dihuni. Banyak makhluk yang wujudnya tidak masuk di akal, Erina bergidik ngeri dan merasa ingin cepat terbangun dari mimpi ini.
Tiba - tiba ada tangan lelaki yang menggenggam tangan Erina, tangan itu terasa kokoh dan hangat.
"Hey, disini sangat berbahaya untukmu",
suaranya terdengar berat dan menenangkan.
Erina melihat sesosok di depannya, pria tinggi dengan bahu yang lebar, wajahnya proporsional, kulit pucat, dan mata merah yang agak sipit, rambutnya lurus dan bergaya seperti aktor korea. Ia memakai overcoat warna abu - abu selayaknya musim dingin.
Erina terdiam melihat pria di depannya itu, Ia tak mampu berkata - kata, seperti terhipnotis. Ketika melihat tatapan matanya, rasanya seperti ada perasaan ngeri sekaligus tenang.
"Kenapa kamu bisa berada disini? kalau sampai ketahuan bisa bahaya"
"I..iya, tapi aku juga gak tahu kenapa bisa ada disini", Erina merasa tersipu saat berbicara dengan pria itu.
Tiba - tiba Damien muncul di tengah mereka dengan rasa segan.
"Eehmm..mohon maaf sebelumnya tuan Asmodeus, saya boleh bicara sebentar?"
Mereka berdua pergi menjauh dari Erina.
Asmodeus melihat Damien dari atas sampai bawah, "Kau siapa? malaikat maut yang baru ya?"
"Iya betul tuan, saya Damien, baru tiga bulan bekerja".
Kedua lelaki itu pun berbincang berdua, dan Erina merasa berada di situasi yang aneh. Namun yang Ia sadari, Ia merasa nyaman ketika berbicara dengan pria bernama Asmodeus itu.
Damien mulai menjelaskan keadaan yang terjadi, "Jadi, sebenarnya ada kendala sewaktu saya sedang melakukan pengambilan jiwa hari ini, saya membawa jiwa yang salah"
"Bukan cuma salah, tapi dia masih hidup, belum waktunya dia berada disini"
"Iya tuan saya tahu, saya juga tak mengerti kenapa bisa terjadi hal seperti ini"
"Kau harus segera mengembalikannya sebelum ketahuan para petinggi, nanti Ia malah akan dieksekusi ditempat"
"La.. lalu saya harus bagaimana?"
"Pergilah lewat pintu belakang, disana ada portal yang hanya dijaga oleh dua penjaga level rendah, gunakan saja senjatamu!"
"Tapi, saya hanya punya sabit sewaan ini yang kualitasnya sangat rendah, makanya tadi jiwanya salah terambil mungkin juga karena sabit ini"
"Ya ampun, baiklah akan kupinjamkan gelang ini, ini akan memberikan senjatamu kekuatan tambahan".
Asmodeus memberikan sebuah gelang berwarna keemasan kepada Damien.
Asmodeus kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Damien,
"Dan satu hal lagi, sepertinya dia adalah sang pembawa takdir yang ditakutkan"
"Hah!? se.. serius? masa sih?"
Damien terkejut bukan main.
"Ya, tapi jangan sampai dia tahu dulu, jaga dia dengan segenap nyawamu!", Asmodeus menepuk bahu Damien dengan kuat.
Setelah selesai bicara, Asmodeus dan Damien menghampiri Erina.
"Ada yang bisa jelasin ke aku gak tentang situasi saat ini? ini mimpi kan?"
Erina merasa bingung.
Asmodeus memegang kedua pundak Erina dengan lembut, "Erina, maaf belum memperkenalkan diri secara layak, tapi kamu pergilah dulu bersama Damien, dia akan menjagamu, dan nanti Ia akan menjelaskan apa yang terjadi"
Erina tersenyum dan mengangguk, Ia nampak percaya saja dengan perkataan pria yang bahkan belum dikenalnya itu.
Damien meraih tangan Erina lalu mengajaknya pergi.
"Kenapa orang itu bisa tahu namaku? dan lagi Dia sangat tampan", Erina berkata dalam hati.
Di kejauhan, ada sepasang mata yang mengintai gerak - gerik ketiga orang itu.