My Heart From Hell

My Heart From Hell
Beginning



Setelah mendengar cerita Erina, Alexei diam dan berpikir.


"Wah, mencari ibumu ya? aku tak tahu apa bisa membantumu atau tidak soal itu, tapi aku punya banyak informasi tentang semua warga di sini".


"Sepertinya itu bisa berguna", ucap Erina bersemangat.


"Baik, kalau begitu aku harus menyiapkan beberapa hal terlebih dahulu", Alexei beranjak dari kursinya.


"Tunggu, ada yang ingin kupastikan"


"Apa itu?"


"Apakah kau memiliki kekuatan? bisa mengendalikan pikiran, mengangkat benda tanpa memegang atau semacamnya?"


Erina mulai mencoba mengorek informasi yang sekiranya dapat membantunya.


"Hahaha.. tidak, kekuatanku hanya uang dan umur yang panjang. Tapi entah umur panjang bisa dikategorikan sebagai kekuatan atau tidak, karena sejujurnya itu sangat menyakitkan"


"Ooh begitu, kupikir semua keturunan Lucifer memiliki semacam kekuatan"


"Setahuku tidak, tapi ada desas desus, keturunan ke empat, sembilan, tiga belas, dan enam ratus enam puluh enam adalah keturunan spesial yang memiliki sesuatu. Sisanya kalau tidak salah hanya orang biasa yang memiliki mata berwarna jingga"


Erina belum menyatakan dirinya keturunan yang ke enam ratus enam puluh enam , Ia takut akan menimbulkan kecurigaan karena belum jelas sebenarnya Alexei adalah orang baik yang akan membantu mereka, atau justru orang yang akan memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya sendiri.


"Memangnya Kau keturunan keberapa?"


Alexei balas bertanya.


"Aku.. juga tidak tahu pasti"


Erina menjawab dengan ragu.


"Tapi sampai tuan Asmodeus dicabut kekuatannya karena membantumu, pasti ada suatu hal yang besar"


Alexei menyimpulkan.


"Tapi terlepas dari itu, aku senang ada yang berkunjung, karena selama ratusan tahun aku terus hidup menyendiri karena aku disebut keturunan yang terkutuk, jadi sering diburu oleh orang - orang"


"Apa ibumu benar seorang vampir? vampir itu sungguh ada?", Erina sangat penasaran.


"Ya mereka benar - benar ada, namun sama sekali tak pernah menunjukkan diri. Karena kehidupannya tidak sebagus yang ditunjukkan di film - film"


"Apakah ada kategori vampir keturunan murni maupun hasil dari menggigit orang?"


"Ya kau benar. Kalau digigit memang bisa ikut berubah, namun tidak akan mendapatkan darah keabadian, melainkan hanya kemampuan regenerasi. Nah, kalau ibuku adalah keturunan asli dari vampir pertama di dunia yaitu count Drakula dari rumania, Ibuku adalah keturunan langsungnya. Makanya aku mendapatkan darah keabadian juga, meskipun tidak sempurna"


"Memang apa bedanya kemampuan regenerasi dengan darah abadi?"


"Kalau abadi, kau tidak akan mati meskipun tidak makan dan minum, kecuali kau dibunuh. Tapi kalau regenerasi, selama kau meminum darah segar, tubuhmu tak bisa mati"


"Jadi para keturunan murni tak meminum darah manusia ya?"


"Sebenarnya tidak perlu, tapi nafsu akan haus darah tetap mengalir di tubuh mereka"


"Apa kau suka meminum darah?"


"Haha tidak, aku makan dan minum seperti manusia biasa, itu cukup untuk membuatku berumur panjang"


Alexei pun bercerita tentang kehidupannya menjadi makhluk hampir abadi yang sebenarnya tidak enak. Karena Ia harus kehilangan orang - orang yang pernah dekat dengannya. Namun seiring berlalunya waktu, sekarang Ia sudah lebih baik, karena sudah bisa membangun kerajaan bisnis yang besar di Rusia, lalu mendapatkan kehormatan dari masyarakat dan melupakan sejarah kelamnya.


Sekarang Ia menjadi semacam petinggi di kotanya sehingga Ia bisa memantau seluruh kegiatan masyarakat.


Alexei mengatakan bahwa Ia ingin pergi bersama Erina selayaknya saudara, berbelanja, makan di restoran atau melakukan hal - hal yang dilakukan para saudara pada umumnya, namun waktu Erina tidaklah banyak.


"Lex, apa kau pernah berkomunikasi


dengan ayahmu?"


Erina penasaran, karena biasanya anak Lucifer ditinggal dan tidak dipedulikannya.


"Tentu, karena aku anak ke tiga belas, aku pernah beberapa kali bicara dengannya, Ia bercerita tentang banyak hal, menjelaskan tentang keberadaannya, tatanan neraka dan akhirat, termasuk para keturunan yang harus Ia waspadai"


Erina diam dan melihat ke arah Asmodeus.


"Apa kau salah satu keturunan yang Ia waspadai?"


"Ah, mana mungkin? sepertinya aku hanya orang biasa"


Erina berusaha mengelak.


"Hmm.. Ia juga pernah berpesan jika keturunannya yang pembawa takdir penghancuran itu bertemu denganku, aku harus melapor padanya"


Erina dan Asmodeus saling bertatapan dan berpegangan tangan, mereka siap untuk kemungkinan terburuk.


"Katanya sih wujudnya laki - laki berbadan besar yang terlihat kuat"


Erina menghembuskan nafas lega.


Alexei yang merasa senang karena dikunjungi pun memutuskan untuk membantu Erina, Ia memakai seluruh kemampuannya sebagai seorang petinggi daerah untuk mencari orang yang mirip dengan Erina, tapi Ia membutuh waktu kira - kira tiga hari.


Selagi menunggu, Erina dan Asmodeus pun menginap di kastil dan mendapatkan fasilitas seperti di hotel berbintang.


...----------------...


Tiga hari kemudian, salah seorang anak buah Alexei menghampiri mereka berdua yang sedang meminum teh hangat di depan perapian.


Telah ditemukan beberapa orang yang wajahnya menyerupai Erina.


Asmodeus melihat tiga foto yang diberikan.


"Wah benar, mereka bertiga ada kemiripan denganmu", ucap Asmodeus semangat.


Terdapat keterangan pada ketiga foto tersebut,


Bella Ashkush, 48 tahun, Novosibirsk


Miranda Patoha, 64 tahun, Volgograd


Ketiganya memiliki wajah yang dominan asia meskipun nampak ada campuran Eropanya.


"Apakah mereka tinggal di daerah yang berdekatan?"


Erina bertanya kepada sang anak buah


"Tidak, mereka berjauhan, jaraknya


ratusan kilometer"


Asmodeus melihat Erina dan merasakan kegalauan dalam hatinya, Jika harus mengunjungi ketiganya akan sangat menghabiskan waktu, sedangkan mereka sudah memakan waktu perjalanan selama satu minggu.


"Aku punya perasaan yang kuat kepada


Lily Erverglade",


Erina mengatakan pendapatnya sambil menunjuk satu foto.


Sang anak buah pun memberikan data lengkap tentang Lily Everglade.


Seorang anak ketujuh dari delapan bersaudara


Ayahnya orang Indonesia


Ibunya orang Rusia


Tinggal berpindah - pindah karena pekerjaan ayahnya.


Sempat bermukim di Indonesia selama lima tahun.


Kabarnya semua saudaranya menikah kecuali dirinya.


Menderita penyakit langka.


"Aah.. dia pernah di Indonesia, dan gak menikah karena sudah punya anak dari Lucifer bukan, yaitu aku. Kemudian karena menderita sakit Ia kembali ke kampung halaman Ibunya di Rusia."


Erina membuat kesimpulan berdasarkan data - data yang diberikan serta cerita yang pernah dikatakan Asmodeus.


Alexei datang menghampiri, "**bagaimana? sudah menentukan pilihan?"


"Sudah**", jawab Erina dengan penuh keyakinan.


"Seberapa kau mempercayai intuisimu?"


"Kali ini seribu persen"


"Kali ini?"


"Iya sebelum aku bertemu Asmodeus intuisiku sangat buruk, karena aku selalu mendapatkan pria yang salah, namun kini tidak lagi. Jadi bisa dibilang intuisiku sudah membaik"


"Baiklah kalau kau sudah benar - benar yakin, aku akan memesankan tiket kereta untukmu pergi ke Vladivistok"


"Kita naik kereta?"


"Ya itu transportasi paling cepat"


"Berapa jam kira - kira?" , tanya Asmodeus.


"Paling cepat lima hari"


Asmodeus dan Erina saling bertatapan karena terkejut.


"Jika kita memutuskan untuk pergi, tak bisa mundur lagi bukan?", Erina merasa agak ragu.


"Ya, makanya kutanya, seberapa yakin kau dengan intuisimu? karena ini adalah perjalanan satu kali yang tak bisa diulang"


Erina menghela nafas, "Doakanlah semoga aku benar"


Alexei dan Asmodeus mengangguk.


...----------------...


Esoknya, mereka pergi diantar Alexei menggunakan sedan mewahnya menuju ke stasiun kereta Trans - Siberian untuk menuju ke Vladivostok, yang merupakan kota pelabuhan terbesar Rusia di tepi pantai Samudera Pasifik yang terletak di wilayah Rusia Timur, jaraknya sangat jauh sehingga akan memakan waktu hampir enam hari.


Alexei berdiri di pinggir peron selagi anak buahnya membantu membawakan barang - barang Erina dan Asmodeus.


"Erina, kita baru sebentar bertemu. Kalau bisa nanti kita ketemu lagi, kau jangan mati dulu"


"Haha iya, semoga semua bisa berjalan lancar ya. Terima kasih atas segala bantuanmu ya, kalau tak ada kau aku gak tahu nasib kami gimana"


"Sudah sewajarnya saudara saling membantu bukan?"


Erina dan Alexei berpelukan sebentar, lalu melambaikan tangan selagi Ia masuk ke dalam gerbong.


Setelah masinis mengumumkan informasi, kereta mulai berjalan perlahan.


Di kaca, Erina melihat ekspresi Alexei yang sebenarnya khawatir namun berusaha disembunyikan. Ia seperti memiliki firasat yang buruk.


...----------------...


Erina dan Asmodeus berada di dalam gerbong kereta mewah Trans - Siberian Railway, interiornya sangat nyaman seperti hotel berbintang, dengan sofa besar yang berhadapan, meja makan, televisi, dua buah kasur dari bulu angsa, dan kamar mandi berlapiskan granit. Ini jauh lebih baik daripada motel tempat mereka menginap sebelumnya.


Erina menatap jendela, Asmodeus merebahkan dirinya, mencoba kasur yang begitu empuk.


"Aku gak menyangka kita bisa sampai sejauh ini", ucap Erina sambil melihat keluar jendela.


Asmodeus menghampirinya, duduk di sebelahnyabkemudian memeluknya dengan hangat.


Erina menatapnya dengan posisi wajah yang sangat berdekatan,


"Terima kasih ya sudah hadir di hidupku",


Mereka pun berciuman.