
Erina, seorang gadis 24 tahun yang memiliki paras manis untuk wajah asia, mata besar yang berwarna oranye, rambut panjang lurus kecoklatan, badan yang cukup proporsional dengan kulit putih seperti keturunan orang Manado. Fisiknya yang melebihi orang - orang di sekitarnya membuatnya sering didekati oleh lawan jenis, ya, pria - pria yang cuma ingin memanfaatkannya saja. Ia tidak memiliki sifat yang nakal, namun sangat mudah percaya dengan omongan orang, makanya Ia memiliki banyak mantan, bahkan ada yang hanya bertahan beberapa hari saja.
Kematian orangtuanya karena kecelakaan di usianya yang baru 20an, membuatnya harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan membayar hutang almarhum orangtuanya. Karena sibuk bekerja, Ia tidak sempat berteman, sahabatnya hanya satu semenjak SMA dan sudah lost contact. Semua saudaranya berada di pulau lain, dan mereka tidak begitu dekat. Ia sering menangis sendirian di malam hari di kamarnya ketika merasa bahwa hidup tak adil baginya, namun Ia tetap bersemangat di esok harinya, karena Ibunya pernah berkata bahwa selalu ada hari baik untuk yang mau berusaha.
Erina mendapatkan pekerjaan si sebuah agensi periklanan di bilangan Jakarta, pekerjaannya
banyak dan Ia cukup sering lembur, namun tetap harus mengambil pekerjaan sampingan sebagai kasir di coffeeshop, demi melunasi hutang yang jumlahnya tidak sedikit.
Di usianya yang ke 24, dan sedang bekerja keras untuk hidupnya, Erina menjalin hubungan dengan seorang pria bertubuh tambun dan berkulit gelap, berbeda dengan mantan - mantannya yang mayoritas berparas tampan. Edo namanya, seorang teknisi IT yang menyukai anime, Erina bertemu dengannya di sebuah konferensi komik jepang, ya, mereka memiliki hobi yang sama yaitu membaca komik. Sudah dua bulan mereka berpacaran, Erina lebih sering bercerita dan Edo cenderung pasif, Erina menyukai Edo karena Ia percaya Edo tidak akan memanfaatkannya untuk apapun seperti mantan - mantannya. Meskipun secara fisik Edo bukanlah tipenya, namun Ia menyayanginya.
Hari kamis sore, Erina menyetir mobil peninggalan ayahnya, sebuah city car hemat energi mungil berwarna kuning terang. Ia baru pulang dari kantor sehabis menyelesaikan setumpuk pekerjaan, wajahnya lelah. Kemudian smartphone korea nya berdering, terlihat nama "HRD" di layar ponselnya. Karena merasa itu panggilan mendesak, Ia segera menjawabnya sambil tetap menyetir.
"Halo, ini mbak Erina kan?"
"Iya betul mas, ada apa ya?"
"Mbak maaf sebelumnya, tapi kontrak mbak tidak kami perpanjang, ini sesuai dengan instruksi dari manajemen ya"
Erina terkejut dan wajahnya memucat, "Hah!? ke..kenapa mas?"
"Iya, karena manajemen memutuskan tidak memakai jasa mbak lagi, besok silahkan tandatangani suratnya ya"
Erina terdiam dan mendadak pikirannya kosong.
"Apa....nggak bisa diusahakan lagi mas?"
"Maaf, tapi keputusan ini sudah final mbak"
"Ba..baik mas, terima kasih atas infonya ya"
Ia mengakhiri panggilan itu, kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Saat itu pukul setengah enam sore, langit mulai menorehkan jingganya, jalanan cukup ramai karena jam pulang kantor.
Ia menatap jalanan dengan tatapan kosong. Tiba - tiba ponselnya berdering lagi, terlihat pesan dari nama "Baby Huey" di layar, pesannya berisikan ajakan untuk bertemu di sebuah mall di Tangerang selatan karena ada yang ingin dibicarakan.
Erina langsung sumringah karena merasa ada tempat untuknya curhat dan menghilangkan penat di dadanya. Ia pun segera memacu mobilnya untuk menuju ke mall tersebut.
Ketika sampai di parkiran, pesan dari Edo berkata akan bertemu di Lobby, Erina merasa tidak sabar ingin menceritakan sesuatu juga.
Sesaat tiba - tiba timbul perasaan aneh seperti akan terjadi sesuatu yang buruk, namun Ia tidak memperdulikannya. Ia turun dari mobil tanpa ragu.
Erina masuk ke area lobby mall, Ia celingukan menoleh kekiri dan kekanan mencari kekasihnya. Dalam beberapa menit langsung terlihat sosok Edo yang besar di tengah kerumunan orang. Ia memakai baju hijau kumal dan celana jeans kusam serta sandal jepit, kacamatanya yang tebal membuat matanya tidak terlihat. Edo bukanlah orang yang mengurus dirinya, karena beratnya saja mencapai ratusan kilogram.
Erina yang memakai sweater berwarna merah marun, legging hitam, dan sepatu converse tinggi berwarna merah langsung memeluk tubuh yang besar dan kumal itu,
"Gembuuulll.."
Namun Edo hanya mematung tidak bereaksi.
"Sumpah kamu tumben banget ngajakin ketemu disini, pas banget aku mau cerita deh",
Ucap Edo dengan wajah dan suara datar.
Erina terdiam sesaat, tak percaya dengan yang didengarnya barusan.
"Apaan sih kamu becandanya?!"
"Aku serius, aku udah males.."
Ekspresi Erina berubah menjadi khawatir. Kenapa pria ini tiba - tiba bersikap tak masuk akal, padahal sebelumnya masih baik - baik saja.
"Males kenapa?? jelasin dong!"
"Kamu tuh selalu mikirin diri sendiri, kalo cerita ya tentang kamu aja, kayak hidup kamu yang paling susah, kamu gak pernah tanya
aku maunya gimana", ucap Edo dengan datar.
"Hah? kalo soal itu, kita kan bisa omongin baik - baik, kenapa harus putus?", Erina memelas.
"Aku...udah berusaha buat sayang kamu, tapi ternyata gak bisa".
"Jadi..selama ini kamu gak sayang aku?
cuma pura - pura gitu? jahat banget!"
Suara Erina mulai terdengar sengau.
"Iya, begitulah", Edo tak menatap mata Erina sedikitpun.
"Ke..kenapa? kenapa tiba - tiba banget, padahal aku baru aja mau cerita..."
Erina menunduk sambil menangis sambil menggenggam tangan Edo.
"Aku gak perlu lagi denger cerita kamu!
udah kita gak usah contact lagi aja!",
Edo melepaskan genggamannya lalu pergi melewati Erina begitu saja.
Erina terdiam terpaku, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Orang - orang ramai berlalu lalang, namun Ia hanya membelalakkan mata dan tak bergerak.
"Oh..Wow.. baru sedetik berfikir bahwa hidup gak bisa lebih buruk dari ini, namun.."
Ia terduduk di tengah kerumunan, dan mulai menangis, orang - orang yang lewat melihatnya bahkan ada yang merekamnya.
Sesaat kemudian, muncul seorang pria kurus tinggi, memakai kemeja dan celana hitam dengan rambut acak - acakan, kulit sangat pucat, dan mata berwarna merah menyala memperhatikan Erina dari jauh.
"Hmm..auranya sangat negatif, sepertinya Ia sedang diliputi kesialan yang bertubi - tubi, ah tapi itu bukan urusanku"
Pria itu pun pergi melewati Erina.