
Menara kekuatan.
Menara kekuatan yang berada di dunia bawah ini menyimpan begitu banyak misteri, setiap lantainya tidak akan berupa ruangan biasa seperti selayaknya sebuah gedung, namun seperti berada di luar.
Yang masuk ke dalamnya harus menjadi subjek dengan tingkat kepadatan atom tertentu, alias bukan astral yang merupakan kumpulan energi acak.
Namun semua yang menjadi penghuni menara itu mayoritas adalah astral yang sudah menjalin kontrak untuk mengabdi kepada menara.
Adam bersama dengan Eve, manusia berakal pertama yang diciptakan di atas bumi. Kini menjadi pengurus utama di menara. Mereka adalah manusia dari ras titan yang memegang peranan penting atas apa yang terjadi di menara, meskipun semua sistem yang ada di menara sudah dibuat dengan kuasa dari sekelompok entitas yang diduga merupakan petinggi astral, namun hal itu masih misterius.
...----------------...
Lantai keempat di menara kekuatan, berisikan dermaga dan lautan lepas, termasuk kapal bajak laut yang saat ini dipakai berlayar oleh Erina dan kawan - kawannya.
"Kita harus berlayar kemana ini?", tanya Erina bingung.
"Lah tadi kau bilang harus mengikuti kompas?"
"Oh begitu ya? habisnya tadi kan bukan aku yang memberi instruksi"
"Arwah siapa itu ya yang merasuki Erina? apa seorang bajak laut?"
"Iya sepertinya bajak laut pemilik kapal ini"
Tiba - tiba terdengar gelak tawa entah darimana yang membuat semua orang terkejut, "Juahahahahahah..."
"Selamat datang di kapalku, wahai manusia - manusia pemberani", muncullah sesosok tengkorak berpakaian lengkap seperti seorang bajak laut.
"Halo, apakah anda yang masuk ke dalam tubuhku tadi?", tanya Erina.
"Juahahaha..betul sekali, tubuhmu sangat nyaman, makanya sepertinya ada banyak penunggu di dalam tubuhmu"
Erina merinding mendengar pernyataan bajak laut itu.
"Perkenalkan aku adalah Vandoor Barbossa, kapten bajak laut yang menguasai samudera pasifik. meskipun sekarang hanya tulang belulang, namun kekuasaanku tak pernah pudar"
"Lalu kapten Barbossa, apa yang harus kami lakukan dengan kapal anda ini?", tanya Damien.
"Berlayar saja, nanti juga kalian tahu. Juahahahahaha...", Ia menghilang.
"Hmm..benar - benar sangat membantu", Damien menyindir.
Setelah beberapa jam berlayar, tiba - tiba keadaan laut mulai Bergejolak, langit menghitam, kawanan burung terbang ke arah kapal.
"Sepertinya akan datang badai, bersiaplah! berpegangan dengan sesuatu!", teriak Damien dari balik kemudi.
Erina memeluk tiang layar, Succubus bersama Varlo dan Leiva di berlindung dalam lambung kapal.
"Juahahaha...lama tak jumpa Mariana! kali ini aku takkan kalah"
"Siapa itu Mariana?"
"Itu nama badai ini, badai terdahsyat yang sudah ratusan kali menghancurkan kapalku dan seluruh kru nya. Namun kali ini aku akan bisa melewatinya"
"Jadi, ujian kita adalah harus melewati badai ini dengan selamat ya? astaga kapal sekecil ini mana bisa bertahan"
Di kejauhan nampak kepulan awan hitam berikut dengan petirnya yang menggelegar, pusaran air di bawahnya siap menelan apapun yang melewatinya.
"Damien! bagaimana ini?", tanya Erina yang mulai panik.
"Asal yakin, kita bisa melewatinya"
Succubus keluar dari dalam kapal, "Apa yang terjadi? aku harus apa?"
"Cukup berpegangan dan berharap kita gak tenggelam. Dan karena akan basah sebaiknya kalian semua di dalam, biar aku dan kapten yang diluar sini!"
Akhirnya para wanita dan anak - anak masuk ke dalam kapal, di dalam ada kamar yang cukup nyaman meskipun agak bau.
Kapten Barbossa berdiri di ujung kapal dan berpose menantang badai, Ia menghunuskan pedangnya. "Ayoo maju teruss..tidak ada kata putar balik!"
Damien sempat berfikir untuk memutar balik arah kapal, namun Ia melanjutkannya.
Kapal itu mulai memasuki badai yang hebat, seperti bermain kora - kora, guncangannya membuat ingin muntah.
Pandangan sangat terbatas karena hujan dan angin yang sangat lebat.
Damien hanya bisa melihat dua meter di depan, setelah itu tak nampak apa - apa, namun Ia terus melihat ke arah kompas dan mengatur arahnya.
Varlo, Leiva, Erina di dalam kamar berpelukan sambil memejamkan mata. Segala yang ada di dalam kamar itu semua berhamburan.
Succubus menuju keluar untuk melihat keadaan.
"Sue kau mau kemana?"
"Aku mau memastikan Damien, kalau tiba - tiba dia hilang gimana?"
"Oh iya benar juga, hati - hati ya"
Succubus mengangguk, lalu keluar.
Sangat sulit bahkan untuk membuka pintu, angin seolah menahan pintunya, berteriak juga percuma.
"Astaga, apa dia benar - benar hilang?", pikir Succubus.
Dengan berjalan merangkak sambil berusaha menerobos badai, Succubus berjalan menyusuri dek kapal yang sangat licin.
Tiba - tiba Ia melihat Damien bersama kapten Barbossa sedang melawan sesosok makhluk, wujudnya berbentuk wanita, namun terbuat dari badai.
Damien dan Barbossa mengayunkan sabit dan pedangnya berulang kali di tengah badai kencang, namun tampaknya tak berpengaruh terhadap makhluk itu. Mereka benar - benar kesulitan, apa lagi arah kapal menjadi tak menentu.
Succubus masuk kembali dengan basah kuyup, lalu menceritakan keadaanya kepada Erina.
"Kita harus meminta bantuan", ucap Erina.
...----------------...
Damien dan Barbossa yang sedang bertarung diatas.
"Akh..ini percuma kapten, dia tak terpengaruh"
"Pukul saja terus, Mariana harus kita kalahkan supaya bisa menuju ke tempat selanjutnya"
"Memang ada apa di tempat selanjutnya?"
"Pulau harta karun!"
"Ah aku tak percaya itu"
"Pokoknya serang dia terus sampai dia lelah"
"Rasanya aku yang akan lelah duluan"
Tiba - tiba, sesuatu yang sangat besar melompat melewati kapal, besarnya kira - kira tiga kali lipat kapal mereka. Dan itu berhasil memukul mundur Mariana.
"Grrroaaaaaarrr...", bergema suara raungan makhluk laut raksasa.
Itu adalah Leviathan, dengan wujud Basilisk yang super besar dan terlihat sangat kuat.
"Wah kita tertolong"
"Ah apa itu? ada monster lagi!", Barbossa terkejut melihat kedatangan Leviathan.
"Tidak, itu adalah teman kami, dan lagi sepertinya Ia lebih kuat disini"
Leviathan berhasil memukul Mariana dengan kekuatannya, Ia menciptakan ombak besar yang bisa menghapuskan badai itu.
Seketika badai pun reda, dan langit terlihat sangat cerah.
Di kejauhan nampak sebuah pulau kecil.
Leviathan mengawal hingga kapal berlabuh di pulau tersebut.
Kapten Barbossa nampak begitu girang, akhirnya setelah berabad - abad ada yang berhasil membantunya menyeberang ke pulau misterius yang Ia duga tersimpan harta karun si dalamnya.
Damien menghampiri yang sedang berada di dalam kamar.
"Hei, kita berhasil sampai di pulau harta karun, semuanya sehat - sehat saja kan?"
"Damien, Varlo nampaknya tidak sehat", ucap Erina yang sedang berada di samping Varlo di tempat tidur.
Damien melihat dan mengamati Varlo. Pembusukan di kakinya semakin parah, bibir dan wajahnya sangat pucat, lalu mulutnya sedikit berbusa, matanya berwarna kuning dan sangat sayu.
"Astaga apa yang terjadi? sepertinya ini bukan gejala mabuk laut"
"Iya memang bukan, namun sejak masuk ke dalam kapal ini, kondisi Varlo memang memburuk", jawab Erina.
"Anak itu terkena kutukan kapal. Fisiknya sudah sangat lemah, dan tak mampu menahan segala aura negatif yang menekan, maklum yang mati di kapal ini sudah sangat banyak", ucap Barbossa yang muncul tiba - tiba.
"Semua yang dilalui Varlo selama bersama kita juga sudah sangat berat. Ia masih sangat muda", Erina memeluk Varlo dan meneteskan air mata.
"Tapi petualangan harus tetap berlanjut, kita bagi dua kelompok, satu menjaga anak itu, sisanya ikut denganku ke dalam pulau", usul Barbossa.
"Sejak kapan kau yang jadi kaptennya?", tanya Damien sinis.
"Dari awal memang aku kaptennya disini", Barbossa mengacungkan pedangnya ke leher Damien.
"Ukh..baiklah, terserah"
"Tinggalkan......saja.....aku..disini..", Varlo berkata dengan lirih.
"Aku..tak...ingin....menghambat..."
"Nah! tinggalkan saja dia! atau buang ke laut agar tak tersiksa lebih lama", ucap Barbossa dengan enteng.
"Begini saja, aku akan menjaga Varlo, lalu kalian lanjutkanlah perjalanan ini, kalau Varlo sudah baikan aku akan menyusul", ucap Erina.
"Menyusul pakai apa? sudah aku saja yang menjaganya, lagipula Ia terluka karena aku juga, nanti kalau menyusul, aku bisa terbang", ucap Succubus.
"Tidak, akulah yang seharusnya tinggal menjaga Varlo, karena dari awal kami berdua yang sudah banyak merepotkan kalian", tambah Leiva.
"Ah susah sekali, yasudah aku tunggu diluar kapal!", ucap Barbossa yang kemudian menembus tembok.
Mereka semua bertatapan bingung harus berbuat apa.