My Heart From Hell

My Heart From Hell
Motivated



Di akhirat, Dewi sedang menemani Damien mendaftar untuk masuk ke akademi penjaga.


Damien membawa begitu banyak berkas yang dibutuhkan dan juga harus mengikuti tes yang sangat lama dan melelahkan.


Dewi menunggu sambil makan, minum, bermain game ponsel, menonton drama dan juga merenung tentang masa depannya. Ia sudah menunggu selama lima jam.


Setelah lima jam berlalu, Damien keluar dari ruangan dan terlihat lesu, Dewi langsung menghampirinya.


"Ya ampun sampai kucel begini, pasti susah


banget ya?"


"Iya, udah kayak pelatihan militer aja"


Damien mengelap keringatnya.


"Biar rileks gimana kalau kita minum - minum


di bar V?"


Ajak Dewi.


"Hmm menarik, yuk!"


Selagi berjalan, mereka melewati berbagai macam toko yang ada di akhirat, tempat dimana para astral yang mampu untuk memperbaiki penampilannya.


Namun banyak juga astral yang menggelandang, dan terlihat cukup mengganggu pemandangan.


Dewi berhenti di sebuah toko pakaian dan melihat ke arah patung display yang memakai dress kuning panjang yang feminim.


"Mas, menurutmu aku cocok gak pakai yang kayak begini?"


"Badanmu kan bagus, jadi pakai apa aja cocok"


Mendengar itu Dewi pun tersipu.


"Wi, aku mau tanya dong"


"Kenapa mas?"


"Kok kamu bisa suka aku?"


Dewi tersedak padahal tidak sedang makan atau minum apapun.


"Ehh.. gimana ya, kok tiba - tiba nanya begitu?", Ia bingung menjawabnya.


"Kukira astral akan cling pada seseorang yang menurutnya melebihi kapasitas dirinya, seperti sosok yang patut dikagumi. Nah masalahnya, aku ini.kan bukan siapa - siapa, kenapa kamu bisa suka?"


"Hmm.. karena menurut aku, mas Damien adalah sosok yang luar biasa! dari awal di akademi udah hebat"


"Kok kamu bisa tahu waktu aku di akademi? di sana kan sangat tertutup"


"Kan aku kenal orang dalam"


"Oh ya, siapa?"


"Aku keponakannya Coach Dion"


"Hee!? coach yang killer itu, wahh.. aku lumayan tersiksa dulu karena dia"


"Waahh.. begitu ya, aku jadi gak enak", Dewi langsung merasa segan.


"Gak apa - apa kok itu kan udah lama, tapi nanti kalau kita jadian, aku bakal ketemu


dia lagi dong ya?"


"Dia aslinya santai kok.. ehh.. apa? jadian?"


Dewi langsung salah tingkah mendengar pertanyaan Damien.


Tiba - tiba Damien berlutut di depan Dewi


Dewi shock dan badannya menjadi kaku, dan jantungnya berdebar hebat.


"Dewi, mungkin ini terlalu cepat, tapi apa kamu bersedia menjadi kekasihku?",


ucap Damien seraya memberikan sebuah kotak kecil.


ketika dibuka isinya seutas kalung cantik dengan permata berwarna hitam mengkilap.


Dewi merasa mau pingsan, namun Ia tak akan melewatkan kesempatan itu.


"A.. aku.. aku mau banget mas"


Dewi menjawab dengan malu - malu.


Damien tersenyum kemudian memakaikan kalung itu dari belakang.


"Mas kapan persiapin ini? kok tahu kalau aku suka banget permata hitam?"


"Pasti dong aku tahu", Damien menjawab dengan misterius.


Permata hitam dan putih adalah batu gaib dengan level magis paling rendah di dunia astral, sehingga harganya cukup terjangkau. Namun beberapa orang memang menyukai warnanya yang simpel.


Lain halnya dengan permata jingga milik Erina yang harganya bisa selangit.


"Makasih banget ya mas",


Dewi terharu.


"Sama - sama sayang"


Damien merangkul pundak Dewi kemudian berjalan bersama.


"Semoga dengan begini, aku bisa melupakannya dan move on dengan lancar"


Ucap Damien dalam hatinya.


...----------------...


Ketika sudah dekat tempat tujuannya, muncullah dua orang yang terjatuh dari langit


'Gabrukkk' suaranya mengejutkan.


Itu adalah Behemoth dan Succubus yang habis melewati pusaran dimensi di laut.


"Aakhh.. dasar gendut, kau menimpaku",


Succubus kesal.


"Maafkan aku", Behemoth segera menyingkirkan badan besarnya.


"Ka...kalian?", Damien terkejut melihat kedua orang itu.


"Eh, kau kan si mantan penjaga Erina", Behemoth mengenalinya.


"Hai, kita ketemu lagi, sudah ada pacar


baru rupanya ya", Succubus menyapa Damien.


"Itu bukan urusan kalian", Damien meneruskan jalannya bersama Dewi melewati mereka berdua.


Namun ketika Damien melewati Succubus, Succubus berbisik,


"Apa kau tidak penasaran dengan kabar Erina? kami habis berpetualang bersama lho"


Damien tersentak, namun Ia tetap melanjutkan langkahnya.


"Kau ini, masih saja mengganggunya"


Behemoth menegur Succubus.


"Habisnya hatinya sangat gampang goyah,


jadi ini menarik"


"Hei, Ingat, kita harus kembali ke tempat


"Aahh iya, padahal kembali kesana sama saja dengan mati bukan?"


"Aku siap mati bersamamu kok"


Behemoth pasrah.


"Oh aku terharu Behemoth, tapi tidak, Kita akan mencoba mengambil hati tuan untuk mengampuni kita"


"Kita tidak perlu mengatakan semuanya dengan jujur bukan?"


"Iya, biar bagaimanapun dia pasti bisa mengetahui faktanya, sekarang tinggal bagaimana mempengaruhinya"


...----------------...


Di dalam bar, Damien dan Dewi duduk di kursi yang berhadapan, memesan minuman ringan dan juga sayap ayam goreng.


Damien menjadi lebih sering termenung sejak kejadian tadi.


Dewi menjadi agak kesal karena menyadari ini pasti karena tiba - tiba muncul orang - orang yang berkaitan dengan Erina


"Mas, kamu kenapa? kok diam aja?"


"Ahh.. aku gak apa - apa kok, cuma kecapekan"


"Aku tahu kok kamu belum sepenuhnya


move on"


Dewi juga menjadi kurang bersemangat.


"Nggak Wi, ini karena kecapekan setelah menjalani tes yang panjang tadi"


Damien mencoba berkilah


"Oh iya ya, nih cepat makan ayamnya!"


Dewi mencoba melupakan kekesalannya, lalu menyuapi Damien ayam goreng.


"Wi, kalau aku berhasil diterima menjadi penjaga, kita sepertinya akan lebih banyak mengalami LDR karena aku akan lebih banyak di dunia manusia, kamu gimana?"


Dewi nampak berfikir sejenak kemudian menjawab,


"Aku gak ada masalah mas, dari awal aku sudah tahu resiko pekerjaan ini kok, yang penting tetap kasih kabar aja"


Damien tersenyum kemudian mengusap


kepala Dewi,


"Iya Wi, makasih ya pengertiannya, kamu memang baik"


Dewi tersipu lagi.


...----------------...


Lobby kantor Lucifer.


Succubus dan Behemoth memutuskan untuk bertemu dengan atasan merka yang terkenal galak, sehabis pergi mendadak tanpa adanya kabar.


Behemoth tampak gelisah dan begitu khawatir,


"Sue, dia pasti sudah tahu kan kita habis darimana?"


"Ya pastilah, dia kan orang nomor satu


di neraka"


"Jadi kita cukup minta maaf dan memohon ampun tanpa mengatakan apapun kan?"


"Iyaaa.. sudah kau diam saja, biar aku yang bicara nanti", Succubus meyakinkan Behemoth.


Terlihat pintu kantornya agak terbuka sedikit, dan mereka pun mengetuk kemudian masuk ke dalam, Lucifer sedang mengetik surat di mesin tik klasik miliknya.


"Per.. permisi tuanku"


Succubus menyapa pelan.


"Ya, ada apa?"


Lucifer terlihat cuek.


"Kami, mau meminta maaf...."


Ucap Succubus seraya membungkuk bersama Behemoth.


Kemudian hening.


"Minta maaf untuk apa?", tanya Lucifer sambil tetap mengetik surat


Succubus dan Behemoth bertatapan, mereka bingung apa yang sedang terjadi, apakah sang bos mengetahui tentang yang mereka lakukan atau tidak. Kalau sampai salah bicara keadaan malah bisa menjadi kacau.


"Maaf untuk.. belum selesai Behemoth bicara.


"Karena menghilang beberapa hari ini",


Succubus menimpali.


"Kalian pikir, aku tidak tahu yang kalian lakukan?", tanya Lucifer dengan nada santai.


Behemoth dan Succubus kembali bertatapan dan mereka banjir keringat.


Lucifer bangkit dari kursi coklatnya yang terbuat dari kulit para manusia pendosa zaman dahulu.


Ia mulai berjalan mendekati Behemoth dan Succubus yang masih membungkuk.


Aura yang keluar dari Lucifer terasa begitu siap untuk membunuh, Behemoth pasrah bahwa Ia akan dimusnahkan, tapi Ia tak tega jika Succubus harus merasakan hal yang sama.


"Aku.. juga pernah muda. Yang namanya iblis, pasti kodratnya adalah membangkang, itu bisa dimaklumi, aku juga dulu membangkang dari Bos Besar", ucap Lucifer dengan tenang.


Dua orang yang ketakutan ini masih bingung kemana arah pembicaraan ini, apakah Lucifer sengaja mengeluarkan kata - kata jebakan, atau memang Ia menduga hal yang lain.


"Jika pembangkangan itu adalah berkhianat kepada musuh, aku tidak akan mengampuni.. namun.."


Keringat Behemoth sudah membanjiri seluruh pakaiannya, dan badan Succubus merinding dan menggigil karena ketakutan akan ketahuan dan menerima hukuman yang mengerikan.


"Jika kalian cuma ingin waktu berdua, hei bilang saja padaku, aku akan memberikan kalian kesempatan, tidak perlu diam - diam dan tidak bisa dihubungi begitu"


Succubus dan Behemoth menjadi semakin bingung, mereka kembali bertatapan dan saling menunjukkan kebingungannya dengan ekspresi wajah.


"Aku tahu, kalian sudah saling megenal dan bekerja bersama cukup lama, dan memang, kadang timbul perasaan yang sulit


untuk ditutupi"


Succubus dan Behemoth akhirnya memahami kemana arah pembicaraan Lucifer, dan saling mengangguk memberi kode untuk mengikuti saja apa yang dibicarakan.


Lucifer menghampiri dan menepuk pundak keduanya.


"Jadi, aku turut berbahagia untuk hubungan kalian, dan aku harap itu tidak mempengaruhi pekerjaan kalian, dan satu lagi, jangan susah untuk dihubungi lagi"


"Baik tuanku, kami akan bekerja lebih baik


lagi kedepannya", Mereka berdua memberi hormat kemudian pergi keluar ruangan.


"Ffuuhhh.. itu tadi nyaris sekali"


Succubus menghembuskan nafas lega.


Behemoth hanya tersenyum.


"Hei, kenapa kau senyum - senyum sendiri? jangan harap hal itu bakal terjadi ya",


Succubus pergi meninggalkan Behemoth


"Yang penting kita berdua selamat sekarang", ucap Behemoth dari jauh.