
Asmodeus kembali ke atas, Ia kemudian menceritakan yang terjadi di bawah kepada semuanya. Erina merasa lega karena rupanya cerita ibunya sudah wafat adalah karangan Belphegor semata. Berarti ia masih memiliki harapan.
Namun dirinya juga merasa sedih karena keadaan Igor yang entah telah mengalami kejadian apa sebelum kematiannya.
"Aku sudah membakar jasadnya dan mendoakannya, semoga Ia dapat tempat yang layak disana", ucap Asmodeus.
"Apakah doa seorang mantan iblis akan didengar?"
tanya Erina.
"Entahlah, aku tak memikirkan sampai kesitu, aku hanya menyerahkannya kepada Bos Besar, terserah beliau mau mendengarkannya atau tidak"
"Jadi, kalau berdasarkan informasi yang kita dapat, jika ibu Erina masih hidup, kemungkinan Ia berada di desa yang terpencil",
Behemoth menambahkan.
"Iya, kita harus menanyakan soal ini kepada Alexei, dimana saja lokasi desa - desa di
wilayah ini", Asmodeus mengeluarkan ponselnya untuk berbicara dengan Alexei dan mencari semua informasi yang dibutuhkan.
Mereka pun memutuskan untuk menginap karena hari sudah semakin larut. Setelah mencari - cari selama satu jam, mereka menemukan penginapan kecil bergaya klasik, lalu memesan dua kamar, untuk laki - laki dan untuk perempuan.
......................
Erina sekamar dengan Succubus.
Mereka merasa canggung karena tadinya mereka adalah musuh, namun sekarang malah bekerjasama. Apalagi Succubus juga menyukai Asmodeus.
Setelah saling diam selama tiga puluh menit
"Siapa yang mau mandi duluan?"
Erina bertanya.
"Kau saja yang duluan"
jawab Succubus dengan nada datar.
Erina pun menyiapkan perlengkapannya kemudian beranjak untuk mandi.
Di kasur, Succubus termenung memikirkan masa depannya sambil memainkan ponselnya. Ia kadang memiliki perasaan ingin membunuh Erina. Namun di satu sisi, Ia juga tak merasa bisa mendapatkan hati Asmodeus.
......................
Erina selesai mandi, Ia duduk di kasurnya sambil mengeringkan rambutnya. Kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Succubus yang memunggunginya.
"Hei", panggil Erina.
Succubus menoleh perlahan, merasa tidak yakin bahwa ia dipanggil.
Terlihat Erina sedang mengulurkan tangannya untuk bersalaman,
"Namaku Erina Muriella, sebenarnya aku hanya orang biasa, namun desas - desusnya aku keturunan Lucifer yang ke enam ratus enam puluh enam, salam kenal ya"
Succubus menjadi bingung, Ia tak menyangka dengan sikap Erina saat itu, namun Ia menyambut tangannya dengan perlahan.
"A.. a****ku Succubus Marionetta, keturunan iblis merah, mantan informan kepercayaan Lucifer. Tapi sekarang, hanya manusia yang bodoh"
Erina tersenyum,
"menurutku tidak ada salahnya menjadi manusia yang memiliki batasan, itu akan membuatmu menjadi lebih bijaksana"
"Apa iya? manusia kan begitu rapuh"
"Justru itu, kerapuhan itulah yang seharusnya membentuk mentalmu menjadi lebih kuat"
"Semenjak menjadi manusia, sejujurnya aku merasa lebih hidup, meskipun hatiku rasanya mati"
"Karena kehidupan sebagai astral benar - benar berbeda kan?"
"Iya, kami makhluk abadi tidak merasakan benar - benar 'hidup'"
"Akuu ingin tahu sebenarnya apa alasanmu menjadi membantu kami?, padahal kau tahu kalau akan menjadi manusia"
"Hufft.. kalau kuceritakan pasti kau akan lebih kesal", Succubus menenggak minuman kalengnya.
"Karena kau menyukai Asmo kan?"
Succubus menyembur minumannya,
"Da.. darimana kau tahu?"
"Sebagai sesama wanita, aku paham betul perasaanmu dari caramu melihatnya saja"
"Ahh.. ini awkward", Succubus mengeluh.
"Selagi masih punya waktu, aku ingin kita berteman", kata Erina.
Succubus tersedak.
"Bagaimana mungkin? a**ku kan sainganmu! lagipula aku ikut karena ingin menolong Asmo, tak ada hubungannya denganmu**"
"Aku tak peduli dengan itu, kalau memang kita semua bertemu disini, kemari, berarti memang kita semua terhubung oleh ikatan takdir"
Succubus terdiam sesaat,
"Apa kau merasa.. akan benar - benar mati setelah ini semua berakhir?"
"Iya.. nah jika aku akan mati nanti, aku akan menitipkan Asmo kepadamu, pertama kau pasti sudah menyukainya lebih lama dari aku, dan lagi kau lebih cantik daripada aku, kalian pasti akan jadi best couple"
Erina tersenyum.
Succubus tahu betul senyum itu penuh dengan kepedihan. Karena Ia sudah menjadi manusia, perasaannya pun menjadi lebih sensitif. Ia tak mampu menahan air matanya, karena tersentuh dengan kemurnian hati Erina.
Mereka pun berpelukan, selayaknya sahabat yang sudah lama tak bertemu.
...----------------...
Di kamar pria, Asmodeus dan Behemoth sedang tiduran sambil menonton TV.
"Tuan, apakah kau masih mencurigai kami?"
Behemoth bertanya.
"Hei jangan panggil aku tuan lagi, mukamu saja kelihatan lebih tua dariku"
"Tapi tetap saja, kau seorang petinggi"
"Kenapa? bukankah bisa saja kami akan mengkhianatimu kan?"
"Pengkhianatan itu sudah biasa bagi kaum iblis bukan? tapi aku percaya bagaimana kalian sudah mengorbankan seluruh kekuatan kalian demi menolong kami"
"Sebenarnya.. saya hanya ikut dengan Succubus, karena dia sangat ingin menolongmu"
"Kau membantunya karena menyukainya atau karena kalian sesama rekan kerja?"
"Karena saya sangat mengkhawatirkannya, dan tidak ingin terjadi hal yang buruk kepadanya"
"Jadi begitu ya, kita memang jadi mau melakukan apapun untuk orang yang kita sayangi"
"Iya meskipun orang itu tidak memperdulikannya"
"Meskipun begitu, tetaplah berusaha yang terbaik!"
"Baik! saya akan berusaha!"
Behoth jadi bersemangat.
"Sebaiknya kita tidur, besok kita akan jadi perjalanan yang panjang"
Behemoth mengangguk lalu menarik selimutnya dan langsung mendengkur.
......................
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Behemoth sudah terlelap dalam mimpinya. Namun Asmodeus gelisah dan tak bisa tidur.
Ia bangun dan keluar dari kamarnya, menuju ke ruang duduk yang agak jauh. Di sana ada beberapa kursi kayu yang mengelilingi sebuah meja kecil.
Asmodeus melihat ke arah kamar Erina, memperhatikan apakah Erina juga akan terbangun.
Berselang beberapa detik, kamar Erina terbuka, Asmodeus terkejut dan memalingkan wajahnya.
Rupanya yang keluar adalah Succubus, dengan pakaian tidurnya yang cukup terbuka.
Asmodeus melihat sekelilingnya berpura - pura tak melihat, namun Succubus berjalan menuju ke arahnya.
Succubus duduk di bangku sebelah Asmodeus.
"Hei, kau tak bisa tidur juga?"
tanya Succubus.
"Ah iya.. Erina sudah tidur?"
"Sudah.. dia tidur seperti bayi, sepertinya sangat kelelahan"
"Kalian tak bertengkar kan?" Asmodeus khawatir.
Succubus menggeleng sambil tersenyum.
Momen sunyi terjadi selama beberapa menit
Mereka tidak sengaja bertatapan, kemudian berpaling lagi.
"Apa kau? nyaman dengan menjadi manusia?"
tanya Asmodeus untuk mencairkan suasana.
"Aku merasakan.. perasaan yang benar - benar berbeda"
Succubus tiba - tiba membayangkan ketika mereka berada di atap apartment dengan posisi yang begitu dekat, Ia menjadi gelisah.
"Maksudmu perasaan seperti.."
Belum selesai pertanyaan Asmodeus,
wajah Succubus tiba - tiba berada tepat di depan wajahnya.
Dan bibir mereka langsung mengecup tanpa peringatan.
Di kamar, Erina mengintip dari balik jendela dah melihat kejadian itu. Namun Ia berbalik lalu berpura - pura tidur lagi.
Asmodeus langsung mendorong Succubus dengan perlahan, lalu memalingkan wajahnya.
"Maaf.. maafkan aku, tapi aku tidak mampu menahan perasaanku, aku benar - benar menyukaimu sudah sejak lima ratus tahun yang lalu", Succubus merasa tak enak.
Asmodeus hanya diam.
"Aku tahu, mustahil untuk mendapatkan hatimu, tapi.. aku hanya ingin.. mengungkapkan perasaanku saja"
Asmodeus tersenyum,
"Terima kasih, untuk kejujuran dari perasaanmu, dan juga bantuan selama beberapa hari ini"
Succubus menoleh ke arah lain, Ia menyembunyikan air matanya.
"Tapi untuk saat ini, bahkan mungkin sampai selamanya, hatiku sudah dimiliki oleh
satu orang", ucap Asmodeus dengan dingin.
Succubus beranjak dari kursi kayunya.
"Baiklah, aku hanya ingin menyatakan itu, sekarang aku mau tidur",
Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang,
Asmodeus memperhatikannya.
Ia paham betul bagaimana cara kerja 'cinta' yang begitu acak, siapa akan 'cling' dengan siapa adalah masalah takdir yang tak bisa ditebak siapapun, bahkan Bos Besar tak memberi ketetapan soal itu. Jadi semua akan memiliki dua pilihan, memperjuangkan dan merelakan.
Seberapa jauh mereka akan membawa perasaan itu, hanya mereka sendirilah yang dapat menentukan.
Erina mengintip dari balik selimut, Ia memperhatikan Succubus yang sesegukan dan naik ke atas ranjang.
Ia sadar, Asmodeus sudah menyatakan pilihannya, pilihan yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Namun Ia tetap berharap lelaki itu dapat menemukan seseorang yang baik setelah dirinya tiada.
Asmodeus berjalan mendekat ke arah jendela kamar Erina, lalu mengintip dari sela - sela gorden. Ia menatap Erina yang kasurnya terletak di sisi jendela.
Erina yang menyadari ada yang mengintip, berpura - pura memejamkan matanya. Padahal Ia juga sedikit mengintip.
Ia menunggu beberapa menit hingga Asmodeus pergi kembali ke kamarnya.