
Erina dan Behemoth berjalan menelusuri hutan yang rimbun, sulit untuk berjalan cepat karena penuh dengan akar tebal dan juga ranting berduti yang menjulur dimana - mana.
"Ah banyak sekali nyamuk" Behemoth digigit banyak nyamuk hutan, namun Erina tidak
"Sabar ya pak, feelingku sebentar lagi kita akan menemukan sesuatu"
"Erina"
"Ya pak?"
"Kalau aku tak selamat dalam misi ini, aku ingin kau menyampaikan sesuatu"
"Untuk Succubus?"
"Betul"
"Tidak, aku tak mau! kau harus selamat dan menyampaikannya sendiri"
"Ah jangan begitu, baru jalan begini saja aku udah capek sekali"
"Baiklah kita istirahat dulu saja ya"
Erina dan Behemoth mencari tempat untuk beristirahat, lalu membuka perbekalan
Memeka memakan makanan ringan yang dapat membangkitkan tenaga seperti coklat dan roti yang dibawa dari tempat Alexei
Angin berhembus cukup kencang, pohon - pohon bergoyang, dan Behemoth melihat sebuah sarang tawon yang berukuran cukup besar, kira - kira seukuran lemari dua pintu tergantung di ranting pohon
"Nngg..perasaanku tidak enak, sepertinya kita harus cepat pergi dari sini"
"Ada apa memangnya pak?"
Behemoth menggunakan gestur menunjuk dengan kepalanya
Erina menoleh ke arah yang ditunjuk
"Sepertinya jika tak diganggu, tak ada yang akan keluar kan?"
"Semoga saja"
Behemoth membereskan perbekalan mereka
Tiba - tiba seekor serangga raksasa berbentuk tawon muncul dan melihat ke arah mereka, dan tanpa berlama - lama, mulai berdatangan ke arah mereka
"Erina, ke belakangku!" Behemoth bersiap dengan palu besarnya
Tawon menyerang dan Behemoth mengayunkan palunya
Dua, tiga, empat tawon berhasil dipukul mundur, namun semakin banyak yang berdatangan
"Erina! larilah kesana, biar aku yang mengurus tawon si*lan ini"
"Tidak, aku takkan meninggalkanmu!"
"Oh ayolah, semua akan percuma kalau kau mati disini, mereka sangat banyak"
"Tapi kau juga ikut lari bersamaku pak!"
"Tak mungkin, fisikku sebagai manusia ini adalah pria buncit berusia empat puluhan, lari hanya akan memperkeruh suasana"
"Ta...tapi" Erina mulai merasa sedih dan khawatir
"Aku akan menemuimu nanti"
"Janji ya!"
Behemoth tersenyum
"Ah..aku paling benci momen - momen seperti ini harus meninggalkan orang lain dan menyelamatkan diri sendiri"
Erina yang kesal, pergi berlari namun berharap bisa mendapatkan kekuatannya, berubah dan menyelamatkan Behemoth
Erina berkonsentrasi, Ia membayangkan wajah bulan yang menatapnya waktu iru
"Ayolaaah, dimana kau saat dibutuhkan?"
Akhirnya Ia sudah berlari cukup jauh, Behemoth dan para tawon tak nampak lagi di pandangannya
"Pak, kau harus selamat!"
Beberapa jam kemudian, Erina sampai di sebuah desa dengan bentuk bangunan yang unik dan terbuat dari tanah dan bebatuan. Di dalamnya hidup makhluk yang seperti kurcaci
"Permisi, aku mau minta bantuan" Erina mengetuk salah satu pintu rumah itu tanpa ragu
"Ya..ada keperluan apa?" seorang kurcaci tua dengan tongkat panjang menjawabnya
"Temanku butuh bantuan, Ia diserang tawon raksasa"
"Tawon? tak akan ada yang selamat dari serangan tawon, seharusnya jangan mengusiknya sejak awal" jawab tetua kurcaci dengan santai
"Eh..kami tak tahu itu pak..kami hanya makan perbekalan di sana"
Tetua itu memperhatikan Erina dari kepala sampai ujung kaki
"Kamu..sepertinya kamu punya kekuatan, kenapa tidak menyelamatkan temanmu?"
"Aa..itu...aku tak tahu cara menggunakannya"
"Kekuatan yang diturunkan ya? bukan kau yang meminta?"
"Iya betul pak"
"Ikut aku!"
Erina mengikuti arahan bapak itu sambil menoleh ke belakang, Ia mengkhawatirkan Behemoth.
Di dalam rumah kayu yang cukup kecil, Erina dipersilahkan untuk duduk di sebuah kursi yang terbuat dari potongan kayu jati. Di depannya ada meja bulat dan terdapat sebuah bola kristal.
"Maaf, tapi apakah anda seorang peramal?"
"Ya kurang lebih begitu, biasanya orang - orang akan mencari tempat ini untuk menanyakan peruntungan mereka, ilmu atau kekuatan apa yang akan mereka dapat, bagaimana masa depan mereka, jodoh dan lainnya"
"Aku tak butuh itu, aku hanya ingin tahu apakah ibu dan teman - temanku semuanya selamat?"
"Hmmmm....sebentar" sang peramal mulai meraba - raba bola kristalnya
"Aku jadi teringat oleh dukun penipu yang dulu, aahh..pengalaman yang seru" Erina berkata dalam hati
"Hah!?" sang peramal terkejut, Erina juga terkejut
"Ada apa pak?"
"Takdirmu aneh, masa depanmu tak jelas"
"Tunggu! aku tak perlu tahu itu, tapi teman - temanku"
"Ya..ya..ya..teman - temanmu itu, akan berpengaruh dalam takdir dan masa depanmu"
"Tapi mereka selamat kan semuanya?"
"Untuk saat ini semuanya masih hidup"
"Oh syukurlah" Erina merasa lega
"Apa? kenapa?"
"Takkan lama"
"Apanya pak?"
"Hidup mereka"
"Hah!? yang benar?"
"Ya, mereka semua datang kesini, bukan hanya untukmu, tapi mereka akan mendapat ujiannya masing - masing"
Erina menjadi makin khawatir mendengar omongan peramal itu
"Tapi tenang, tak usah khawatir"
"Karena?"
"Kau takkan mati"
"Tapi teman - temanku?"
"Banyak yang akan mati! mereka akan mati demi kamu....muhahahahaha"
"Aakkhh stop! aku takkan mempercayaimu!"
Erina bangkit dan keluar dari rumah itu
"Enak aja mati matiin orang, peramal macam apa itu!?" Ia merasa kesal
Diluar, Ia melihat ribuan tawon raksasa yang terbang dari seluruh penjuru, menuju ke dalam hutan
Erina memutuskan untuk kembali ke dalam hutan dan menyelamatkan Behemoth entah bagaimana caranya
"Sungguh tak berguna aku mendengarkan peramal itu, tak membantu sama sekali, padahal sebaiknya dari awal aku tak meninggalkan pak Behe sendirian" Erina bergumam
Setelah beberapa jam berjalan, Ia bertemu Behemoth yang terkapar tak berdaya, disekitarnya terdapat ribuan bangkai tawon raksasa
"Pak Behe!"
"Ah, Erina kau selamat"
"Yaampun, kau sampai begini..." Erina mulai sedih melihat Behemoth yang terluka parah
"Tenang, aku sudah mengalahkan seluruh koloni tawon itu di hutan ini, jadi kau tak perlu khawatir akan bertemu mereka nanti"
"Tidak, bukan itu masalahnya. Kau bagaimana? lukamu parah sekali" Erina mengeluarkan pakaian yang dibawanya di ransel dan mulai membalutkan di luka Behemoth
"Ini tak seberapa nak, luka - luka seperti ini mengingatkan aku waktu abad pertengahan dulu, peperangan dimana - mana, tak ada kemanusiaan sama sekali, dan kurasa itu adalah masa kejayaanku"
"Sudah jangan banyak bicara dulu pak"
"Sebagai astral therian yang terlahir di kalangan biasa, aku cukup handal untuk akhirnya bisa masuk ke jajaran pasukan neraka"
"Pak bisa diam dulu gak?"
Erina fokus membalut luka Behemoth, sedangkan Behemoth asik bercerita
"Semuanya seru, aku bisa memimpin satu batalyon astral anak buah Lucifer, sampai ketika, dia datang"
Erina mulai sedikit memperhatikan pembicaraan Behemoth
"Dia datang dengan rambut merahnya yang berkilau, tanduk hitam, serta pakaian yang terbuat dari kulit buaya darat"
"Apakah itu cinta pandangan pertama?"
"Sudah pasti"
"Tapi pasti kau gengsi untuk mengungkapkan perasaanmu lebih dulu kan?"
"Tentu! aku kan kepala batalyon, jatuh cinta tak boleh ada dalam kamusku, itu dapat mengacaukan semuanya"
Erina hanya tersenyum mendengar cerita orang tua itu
"Awal - awal dia direkrut, seperti masih polos, meskipun dia seorang iblis merah tapi dia tak pernah menyombongkannya"
"Oh iya, Succubus juga pernah memberitahuku, apa artinya menjadi keturunan dari iblis merah?"
"Itu adalah keturunan iblis murni dari awal penciptaan, lebih tepatnya keturunan dari Satan"
"Jadi, iblis yang lain tidak murni?"
"Iya, ada yang berasal dari malaikat seperti Lucifer, dan sebagian besar dari astral biasa yang diangkat menjadi iblis"
"Asmodeus juga bukan keturunan murni?"
"Setahuku bukan, tapi ada keturunan - keturunan lain yang hebat juga, namun biasanya iblis merah merasa dirinya paling tinggi dan bersikap angkuh"
"Hoo..jadi begitu"
"Erina, ini kuberikan padamu" Behemoth memberikan kalung jimatnya pada Erina
"Eh kenapa!?"
"Karena, aku tak bisa melanjutkan perjalanan ini"
"Apa!? jadi kau menyerah begitu saja?"
"Bukan begitu, tapi kakiku sudah tak bisa digerakkan, sepertinya tulangnya patah"
"Yaampuun...aku harus bagaimana?"
"Lanjutkanlah perjalananmu, ini adalah tentangmu, aku disini senang sudah bisa membantumu meski hanya sedikit"
"Oh pak Behe..masa aku harus meninggalkanmu sendirian disini?" Erina mulai menangis.
"Hei jangan menangis, aku kan kuat, jadi kau harus tegar! perjalanan seperti ini pasti akan banyak naik dan turunnya" Behemoth merangkul Erina.
Erina memeluk Behemoth dan mengangis kencang
"Huu...huuu..pak, aku akan merindukanmu"
"Jangan lupa pesanku untuk Sue ya"
Erina mengangguk
Meski segan, Ia berpamitan dan mulai berjalan mengikuti arah cahaya dari kunci gerbang.
Erina sudah jauh
Tubuh Behemoth mulai gemetar, Ia menahannya daritadi
Racun dari sengatan tawon raksasa
Nafasnya mulai sesak
Jantung berdebar sangat cepat
Mulutnya mengeluarkan busa
Tubuhnya membiru.