My Heart From Hell

My Heart From Hell
Hiring Members



"Maaf wi, aku terlalu bersemangat", Asmodeus melepaskan pelukannya.


"A...ada apa ini?", tanya Dewi ke Emily.


Emily hanya tersenyum seadanya.


"Jadi begini, Emily mengatakan bahwa kau adalah keturunan malaikat, apa itu benar?"


"Ah!", Ekspresi Dewi berubah menjadi gusar.


Asmodeus melihat mata Dewi dari dekat, "Wah rupanya kau memang seorang dewi"


Dewi pun tersipu.


"Jadi..tuan Asmo disini ingin mengajakmu dalam petualangannya"


"Aku mau", Dewi menjawab dengan spontan.


"Yang benar?", Asmodeus pun tak percaya mendapatkan jawaban secepat itu.


"Iya, tapi apa hubungannya dengan menjadi keturunan malaikat?"


Lalu dimulailah penjelasan yang lebih mendetail dari Asmodeus dan Emily.


"Hmm..oke kalau begitu, aku akan mempelajari mantra itu"


"Yess..", Asmodeus senang dan mengekspresikan kebahagiannya.


Lalu Emily menghampiri Dewi dan berbisik, "Kau kenapa mau - mau saja? bukankah ini bisa berbahaya? dan bahkan perjalanan ini demi mencari pacarnya?"


"Aku tidak masalah, yang penting tidak bekerja di belakang meja yang membosankan ini"


"Ow begitu"


"Lagipula aku bisa bertemu dengan dia"


"Pacarmu? ehm mantanmu maksudnya?"


"Aku tak bisa bilang dia pacar atau mantan, hanya saja aku butuh penjelasan darinya nanti"


Emily mengangguk mengerti.


Asmodeus datang menghampiri mereka berdua, "Oke sekarang tinggal seorang manusia"


Emily dan Dewi menatap Asmodeus.


"Kenapa? kalian tak punya kenalan manusia?"


Mereka menggeleng.


"Duhh..siapa selain Erina ya?", Asmodeus berfikir keras.


"Aha! aku ingat seseorang, yuk kita pergi", Asmodeus menarik tangan Emily, namun Emily tertahan.


"Aaa...apa tuan masih membutuhkan saya?"


"Lho? kau kan asistenku sekarang"


"Haa??", Emily terkejut.


Emily menatap Dewi dengan bingung.


"Sudah ikut saja, kau juga bagian dari petualangan ini sekarang", ucap Dewi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Wi, hafalin mantranya ya nanti aku kabarin lagi"


"Siap mas", Dewi mengacungkan jempolnya.


Asmodeus dan Emily pergi ke bumi.


...----------------...


Mereka tiba di kota tempat tinggal Erina dulu, pada pukul sembilan pagi, cuaca sangat cerah.


Emily yang belum pernah ke bumi takjub melihat keadaan sekitarnya.


"Wah kau ini kutu buku yang belum pernah kemana - mana ya?"


"Iya, begitulah tuan"


"Jangan panggil tuan lagi dong, rasanya kaku banget"


"Jadi apa?"


"Nama aja"


"Tidak, jangan, rasanya tak sopan"


"Yaudah mas aja"


"Baik mas", Emily tersenyum.


Asmodeus tiba di depan gedung apartment Erina. Ia terdiam agak lama sambil melihat ke atas.


"Ini tempat mbak Erina tinggal?"


"Iya, sudah lama rasanya, ayo kita keatas"


Setelah diatas, nampak keadaan di apartmentnya sama persis seperti mereka pergi bersama dulu waktu itu. Asmodeus merasa emosionil.


"Suasana ini mirip dengan kosan saya di akhirat mas"


"Wah, lumayan juga kau bisa mendapatkan kosan yang seperti ini"


"Iya itu karena Dewi"


"Keluarganya Dewi kaya ya?"


"Nggak, tapi...."


"Tapi apa?"


"Saya gak bisa cerita karena dia minta merahasiakan ini"


"Baiklah nanti aku akan menanyakannya langsung kalau dia bersedia"


Saat Asmodeus dan Emily sedang melihat - lihat, ada seseorang yang mengintip dari luar balkon.


"Mas, sepertinya ada yang mengintip diluar sana"


"Oh, aku akan menyapanya"


Mereka keluar ke balkon.


"Pak Uwo!"


"Mas Mo!"


"Apakabar pak?


Mereka bersalaman.


"Saya baik aja, masnya gimana? saya pikir sama mbak Er tadi"


"Saya kesini juga karena ada hubungannya sama Erina"


"Tempat yang sangat jauh, saya mau mencarinya"


"Wah, sepertinya terjadi sesuatu ya?"


"Iya, sesuatu yang besar. Ehmm ngomong - ngomong, pak Uwo sibuk gak?"


"Nggak sih mas, cuma ngawasin aja kayak biasa"


"Ikut saya aja yuk"


"Ke..kemana mas? saya sudah terikat di tempat ini jadi gak bisa jauh - jauh"


"Itu gampang, saya tinggal memutuskan mantra pengikatnya"


"Be..benarkah?", pak Uwo cukup terkejut mengetahui hal itu.


"Iya, saya butuh orang tambahan untuk ikut pergi ke dunia bawah"


"Dunia bawah? dengar - dengar itu tempat yang mengerikan bahkan bagi astral sekalipun


"Begitulah, apa bapak mau?"


"Mau banget, saya sudah berabad - abad tidak pernah jalan - jalan"


Emily melihat yang terjadi dan berfikir, begitu mudahnya Asmodeus mengajak orang untuk ikut dengannya, sepertinya bahkan bisa mengumpulkan satu batalyon dalam sekejap jika dia ingin.


Di kamar Erina, Asmodeus mengumpulkan barang - barang yang sering dipakai Erina, tujuannya agar bisa menemukan Erina dengan cepat di dunia bawah.


Asmodeus melakukan ritual pelepasan ikatan agar pak Uwo bisa pergi.


"Nah, bapak sudah menunjuk wakil untuk menggantikan disini?"


"Sudah, ada keponakan saya"


"Baik, sekarang kita menuju ke tempat berikutnya"


Mereka tiba di depan cafe tempat Erina pernah bekerja.


"Sekarang aku akan menampakkan diri dan masuk ke dalam dan, kalian tunggu disini ya"


"Baik mas, kalau butuh bantuan panggil saja ya"


"Okay"


Asmodeus menampakkan dirinya yang berwujud pria muda tampan yang mudah disukai bagi semua wanita.


Ia masuk ke dalam cafe. Hanya ada tiga orang pengunjung di pagi itu.


"Selamat datang", sambut Clara sang pemilik cafe yang juga melayani pelanggannya.


"Saya mau pesan hot americano satu"


"Baik, mau dibawa pulang atau.....hei rasanya saya pernah lihat anda. Ah, pacarnya Erina kan?"


"Betul, aku Asmo. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu"


Asmodeus dan Clara kemudian duduk berdua di kursi paling pojok.


"Gila udah lama banget ya? gimana kabarnya Erina? udah ketemu sama nyokapnya?"


"Lama banget? emang berapa lama?", Asmodeus heran dengan pernyataan Clara.


"Lah, masa lo gak inget? kayaknya udah hampir dua tahun deh"


"DUA TAHUN!?", Asmodeus berteriak.


Para pengunjung melihat ke arahnya.


"Maaf, tapi...masa selama itu sih?"


"Iya, gue aja udah punya anak sekarang"


Suami Clara muncul sambil menggendong anaknya, yang kemudian diberikan kepada Clara, "Aku berangkat kerja dulu ya"


"Iya sayang", mereka berciuman.


"Ah, kenalin ini pacarnya Erina yang teman sekolahku dulu"


"Halo, Asmo.."


"Wahyudi"


Setelah menyapa dan berbasa - basi, suami Clara pun pergi.


Asmodeus menghela nafas, Ia menyadari bahwa tidak mungkin mengajak Clara untuk ikut pergi karena Ia sudah berkeluarga sekarang.


"Kenapa lo jadi lesu? emang Erina ada dimana sih? apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Gue bingung juga gimana mulai jelasinnya"


Diluar, Emily dan pak Uwo melihat ke dalam cafe.


"Ah dia memesan kopi, saya juga mau"


"Yuk kita masuk aja, aku juga ingin kopi"


Asmodeus yang menyadari keinginan mereka menyuruh masuk dan menampakkan diri.


"Aku aja yang menampakkan diri, nanti pak Uwo kupesankan kopi", ucap Emily.


"Iya, kalau saya yang nampakkin diri, bisa kacau"


"Mbak, mau kopi susu gula aren satu, samaa....pak mau apa?", Emily bertanya kepada pak Uwo dengan berbisik.


"Kopi menyan"


"Hah? gak ada yang kayak gitu"


"Yaudah pokoknya kopi hitam yang pahit aja"


"Sama espresso dua shot ya mbak"


"Baik ditunggu ya, atas nama siapa?"


"Asmo"


Emily pun duduk di meja yang berada di sebelah, Asmodeus mengenalkannya pada Clara.


"Duduknya disini aja barengan", ajak Clara.


"Nggak, aku disini aja gak apa - apa"


"Wah pagi - pagi minum espresso sebanyak itu, mantap juga lo"


"Hehe..", Emily hanya tersenyum.


Pak Uwo yang duduk di depan Emily mulai menyeruput kopinya secara gaib, "Aaahhh enaknyaaa, sudah lama aku tak minum kopi seenak ini, biasanya selalu kopi sachet itu"


"Nikmatilah pak, mumpung ditraktir sama petinggi"


Asmodeus kembali termenung, Ia menjadi sangat bingung untuk menjelaskan kepada Clara apa yang sebenarnya terjadi.