My Heart From Hell

My Heart From Hell
Turned Around



Rangda menatap Erina dengan tajam.


Erina terlihat kecewa, karena sosok Ratna tak seperti dugaannya.


"Ratna, kukira kau baik. Tapi ternyata mengerikan juga"


Tiba - tiba Erina seperti mendengar suara Ratna


"tolong.. tolong aku..Erina"


Erina celingukan mencari asal suara itu.


"Ah apa hanya pikiranku saja? tapi suara Ratna seperti benar - benar butuh pertolongan"


Rangda hanya berdiam diri, namun ia terus meneruh mengeluarkan aura berat yang menekan energi astral.


Erina perlahan mulai merasakan kelelahan meski belum melakukan pergerakan apapun.


"Erina hati - hati, dia bisa menguras energimu bahkan tanpa bergerak!", Emily memperingatkan.


"Ah aku tahu, tapi apa yang harus kulakukan, jelas - jelas aku bukan lawannya"


Erina memikirkan semua kemungkinan di dalam pikirannya.


"Kalau aku menyerang duluan, dia pasti akan langsung menghajarku sampai mati"


"Tapi kalau aku diam saja, dia juga bisa membuatku kelelahan sampai mati"


"Ah biar sajalah toh kemungkinannya aku pasti tetap akan mati juga"


Erina mengumpulkan keberanian, lalu berlari untuk menyerang Rangda.


"Hiaaat.."


Emily terkejut melihat tindakan gegabah Erina. Ia tahu Erina tak memiliki bakat bertarung kecuali dalam wujud titannya, ditambah sekarang ia hanya astral biasa yang tak memiliki kekuatan apapun.


Rangda hanya menggeser tubuhnya sedikit, Erina yang mencoba memukulnya langsung jatuh tersungkur.


"Satu poin untuk Rangda!"


Emily menepuk jidatnya sendiri.


"Hiaaaatt..", Erina kembali menyerang Rangda dengan bodohnya.


"Dua poin untuk Rangda!!"


Emily bangkit, ia tak sanggup lagi menyaksikannya, "Astaga Erina!! hentikan perbuatan bodohmu! pikirkan dulu cara menyerangnya dengan baik"


"Hehe.. tidak apa, aku sengaja"


"Hah sengaja? apa sih yang kau pikirkan?", Emily bingung.


Ratu mulai kesal, "Rangda, tak perlu bermain - main, selesaikan dia sekarang!"


Rangda pun langsung mengangkat tangannya dengan posisi memegang, dan leher Erina merasa tercekik meski dari kejauhan.


"Aakkkhh..", tubuh Erina terangkat ke udara dan ia kesakitan karena tak bisa bernafas.


Rangda semakin menguatkan cengkramannya.


"Raa..Ratna..aku tahu kau di dalam sana", Erina mencoba untuk mempengaruhi Rangda.


Tapi Rangda tak bergeming dan malah mencengkram dengan semakin kuat.


"Uu.. uekh, Ratna.. kau.. tak akan, tega.. mem.. bunuh.. bukan?"


"Erina! percuma mencoba mempengaruhinya! lawan saja dia! keluarkan kekuatanmu!", Emily berteriak.


Mendengar itu Rangda menjadi waspada, begitu pula ratu dan para penonton, mereka ingin menyaksikan kekuatan macam apa yang akan dikeluarkan Erina.


Namun Erina tak melakukan apapun selain berbicara terbata - bata karena dicekik.


"Kau.. benar.. benar.. mau.. melawan..ku?"


Rangda mengangguk, "Ya! lawan aku!"


Ia lalu melepaskan Erina.


Erina hampir terjatuh tapi ia tetap berdiri meskipun agak sempoyongan.


"Ukh..sakit, meskipun tak benar - benar dicekik tapi rasanya sangat mengerikan", Erina mengelus lehernya yang memerah dan terasa panas.


Rangda mengambil posisi kuda - kuda, menandakan siap untuk bertarung.


Erina melihat itu lalu menggumam dalam hatinya, "Sial dia serius sekali, padahal aku tak tahu akan menggunakan kekuatan apa. Mahkota itu hanya untuk saat terdesak saja. Hmm.. sepertinya aku akan mengulur waktu saja"


Erina mulai bergaya - gaya seperti petarung wanita di film - film aksi.


Semua orang tertegun.


Karena tak merasakan aura apapun, Rangda menganggap Erina tak menanggapi pertarungan mereka dengan serius.


"Dasar wanita bodoh! sebaiknya kau mati saja!"


Akhirnya ia menggunakan kedua tangannya untuk memegang tubuh Erina dan berencana mematahkannya.


"KYAAAA.. SAKIITT..", Erina menjerit.


Lucifer yang tadinya tak sadarkan diri langsung terbangun.


"Anakkuu!!!", ia mencoba masuk ke arena dengan kaki yang masih lemah, namun terpental oleh penahan gaib.


"Tuan! jangan memaksakan diri! aku yakin Erina sudah memikirkan caranya", Emily beranjak dan memapah Lucifer kembali ke bangku.


"Tapi.. tapi dia bisa mati"


"Bukannya anda dulu memang menginginkan dia mati?"


"I.. iya itu dulu. Tapi sekarang aku menyayanginya", wajah Lucifer berubah muram.


Pak Uwo berkeringat banyak, ia sungguh tak tega melihat situasi Erina, namun ia tertahan oleh Hilda yang menggunakan kekuatannya.


"Ayolah! katanya kau sang penghancur neraka! mana!? aku butuh lawan yang sepantar! kalau begini tak ada bedanya dengan si tukang sapu itu! sia - sia aku datang", ucap Rangda jengkel.


Di tengah kesakitannya, Erina menatap pak Uwo, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Pak Uwo tersentak, ia belum memahami maksud kedipan itu, namun ia siap untuk keadaan apapun.


"Rat.. bukan.. Rangda.. kalau.. kau.. ingin pertarungan yang layak.. akan... kuberikan", ucap Erina lirih.


"Bagaimana caranya? sebentar lagi tubuhmu akan kulipat bagaikan baju yang habis diseterika"


Tak lama, muncul cahaya yang menyilaukan di atas kepala Erina.


Rangda yang menyukai pertarungan langsung merasa bersemangat, karena akhirnya ada sesuatu yang akan terjadi.


Muncullah sebuah mahkota berwarna perunggu di kepala Erina.


Melihat itu ratu Hilda segera berdiri dengan mata terbelalak karena sangat terkejut, "I.. itu bukannya Tiarna Fathach!?"


Erina dilepaskan kembali oleh Rangda.


Rangda sangat menggebu - gebu, menunggu yang akan terjadi.


Lalu Erina menegakkan tubuhnya, dan mengangkat tangannya, tiba - tiba bertiup angin kencang di sekelilingnya.


Mata Erina memancarkan cahaya berwarna jingga.


"Dengan ini kuperintahkan kau, menghancurkan musuh di depanku ini!", ucap Erina dengan lantang.


Namun tak ada yang tahu siapa yang ia perintahkan.


Rangda celingukan.


'BAAAMMM!!!'


Sebuah benda besar bagaikan meteor menghujam arena.


Rangda terpental dan mengalami cedera yang cukup serius karena ia benar - benar tak siap dengan situasi itu.


Asap dan debu menutup seluruh ruangan.


"Apa itu!? apa yang jatuh?", ratu panik. Lalu ia menyadari pak Uwo sudah tak ada di sampingnya.


Lantai arena berlubang dengan diameter sepuluh meter, di tengahnya ada pak Uwo.


"UUAAARGGHH", Pak Uwo meraung, ia berada dalam mode berserk yang akan menghancurkan apapun di depannya, dan ia bergerak mengikuti perintah Erina yang memakai mahkota.


"Jadi, Erina berencana menggunakan mahkota itu untuk mengendalikan pak Uwo ya? tapi apa sebenarnya mahkota itu?", tanya Lucifer kepada Emily.


"Setahu saya,Tiarna Fathach adalah satu dari sepuluh benda gaib yang terkuat di alam baka. Karena membuat penggunanya mampu mengendalikan kaum raksasa"


"Apa hebatnya bisa mengendalikan raksasa? aku juga bisa dulu"


"Memangnya menurut tuan, orang terkuat di neraka berasal dari ras apa?"


"Satan? dia kan titan"


Lucifer terdiam sejenak.


"Tunggu! titan kan raksasa juga, jadi? mahkota itu bisa mengendalikan Satan???", Lucifer mendadak bersemangat dan meremas bahu Emily.


"Aduh.. i.. iya, konon katanya begitu, makanya mahkota itu disembunyikan di dalam dimensi alternatif yang jauh"


"Tapi entah bagaimana Uwo berhasil mengambilnya, dan Erina bisa menggunakannya sekarang karena ia masih ada keturunan titan, woah! keadaan akan berbalik sekarang!"


Pak Uwo menyerang Rangda dengan kencang dan brutal, Rangda sangat kewalahan.


Erina hanya berdiri mematung seperti tak sadarkan diri.


Ratu menggumam dan merasa tidak tenang di kursinya, "Kurang ajar, rupanya dia memiliki kartu as itu, kalau saja tidak ada Saruwo di sini, itu tak akan berguna"


Dari kejauhan, ratu Hilda memberikan energi tambahan kepada Rangda.


Gerakan Rangda menjadi lebih cepat, dan pertarungan pun menjadi seimbang.


Erina yang mematung, ternyata rohnya sedang memasuki alam bawah sadar.


Di dalam kegelapan yang pekat seperti luar angkasa.


Jiwanya melayang tanpa arah.


Menuju lubang hitam.


Lalu menginjakkan kaki di sebuah planet.


Udaranya hangat.


Namun memiliki aura yang tak asing.


Muncul bayangan seseorang.


Posturnya adalah sosok seorang laki - laki yang bertubuh sangat kekar.


Semakin mendekat semakin besar.


Itu adalah sosok titan setinggi lima puluh meter.


"KAU! SIAPA KAU!? KENAPA KAU BISA ADA DI SINI?", tanya titan tersebut dengan suara yang menggelegar.


"Aku.. adalah.. keturunanmu", jawab Erina.


Titan tersebut mendekatkan wajahnya ke Erina lalu memperhatikan dengan seksama.


"LUAR BIASA! KAU ADALAH CUCUKU!"


"Benar, wahai Kronos yang agung"