My Heart From Hell

My Heart From Hell
Information



"Bisa gak lo jelasin ke gue sebenernya apa yang terjadi?", tanya Clara kepada Asmodeus.


"Ceritanya bakal panjang dan rumit"


"Gak apa - apa, eh bentar ya anak gue tidur nih", Clara yang menggendong bayinya lalu memberikannya kepada baby sitter untuk ditidurkan di kamar.


"Oke, sekarang gue siap dengerin. Tapi...ini bukan tentang lo yang sebenernya udah ngebunuh Erina kan?"


"Ya nggaklah, ini jauh lebih rumit daripada itu"


"Pokoknya kalau lo ternyata ngapa - ngapain dia gue bakal lapor polisi"


"Iyaa..itu gak jadi masalah"


"Terus?"


Asmodeus memikirkan ribuan kata dan kalimat di kepalanya yang sekiranya bisa diterima oleh Clara.


"Gini, lo percaya sama dunia gaib gak?"


"Hmm...", Clara mengernyitkan dahinya, Ia mulai merasa agak aneh.


Di meja sebelah, Emily berbisik kepada pak Uwo, "Padahal Ia punya kemampuan untuk mempengaruhi pemikiran orang dengan mudah"


"Mungkin dia mencari tahu pendekatan yang lebih baik", ucap pak Uwo.


"Gue..percaya sih..gue punya agama dan beribadah kok"


"Berarti lo gak menutup diri dari hal - hal kayak gitu kan?"


"Nggak, tapi ini tentang apa sih? jangan - jangan lo ganteng - ganteng freak lagi"


"Yaampun nggak. Gini, gue boleh pegang tangan lo gak?"


"What? fix lo aneh ya!?", Clara memundurkan badannya, Ia mulai berfikir yang aneh - aneh.


"Please dengerin dulu, gue mau ngejelasin semuanya biar lebih simpel, ini satu - satunya cara"


"Lo mau hipnotis gue ya? gue telpon suami gue nih?"


Emily mendekatkan badannya lalu berkata dengan tenang, "Mbak, mas Asmo orangnya gak begitu kok, dia baik, ini semua supaya mbak lebih gampang paham aja"


Clara menatap Asmodeus, di matanya bisa terlihat Ia tidak sedang berbohong atau menipu.


"Oke, tapi akan ada saksinya. Pak Yanto, Farid, sama suster, kesini sebentar", Clara memanggil sekuriti, salah satu baristanya, dan juga baby sitternya untuk menjaga seandainya Ia diperalat.


Asmodeus tersenyum, Ia menyadari bahwa Clara bukan orang yang mudah terpengaruh, dia sangat berhati - hati dan berfikir panjang.


Saat ini Clara dikelilingi oleh tiga orang, didepannya ada Asmodeus dan Emily.


Clara menaruh tangannya di meja, "Apa yang mau lo lakuin?"


"Oh iya, sebelumnya tolong siapkan air putih, handuk kecil, dan obat sakit kepala jika perlu", ucap Asmodeus kepada sekuriti.


Sekuriti itu pun mengambilkan semuanya yang diminta.


"Sebenarnya lo mau ngapain sih? gue jadi takut nih"


"Gue cuma mau ngasih informasi, tapi takutnya informasi itu terlalu berat nanti kepala lo sakit"


"Yaudah cepetan. Pak Yanto kalau saya kenapa - kenapa cepet tolongin ya"


"Siap buk"


Semua orang menjadi tegang.


"Siap ya?"


"Jujur gue gak siap akan apapun, tapi yaudah"


Asmodeus memegang punggung tangan Clara dengan lembut. Clara pun merasakan kehangatan.


Namun dalam sekejap, jutaan informasi mengalir melalui aliran darah Clara menuju ke otaknya, otak dan semua syarafnya mengalami kejutan, hidungnya menjadi mimisan, kepalanya sakit, telinganya berdengung, dan seluruh tubuhnya berkeringat.


Tubuh Clara bergertar hebat, pak Yanto khawatir, "Mas, diapain ini ibuknya?"


"Tenang aja pak dia gak apa - apa kok"


"Aaaaaaakkhhh..", Clara berteriak kencang.


Pengunjung lain yang merasa gusar segera meninggalkan cafe.


"Buk..ibuk gak apa - apa?", tanya pak Yanto.


"Sadar bu", Farid menggoyangkan badannya.


Clara mengangkat kepalanya perlahan, matanya sayu.


Sang baby sitter segera mengelap darah mimisan dan juga keringatnya, lalu meminumkan obat sakit kepala dengan air putih.


Tiba - tiba Clara bangkit dari kursinya, membuat orang - orang terkejut.


Ia berjalan pelan menuju ke pintu kaca, lalu menatap ke arah luar.


"Gila, benar - benar gila", itu komentar pertama yang keluar dari mulutnya.


Semua orang terdiam, Clara kembali duduk dan menatap Asmodeus dalam - dalam.


"Waw, itu informasi yang sangat banyak"


"Jadi...what do you say?", tanya Asmodeus.


"Okay, I'm in", Clara menjawab tanpa ragu.


Emily tercekat, Ia tak menyangka.


"Yess.."


"Tapi, syaratnya gue harus kembali kesini di waktu yang sama kayak gue pergi, bahkan suami dan anak gue gak tahu kalau gue pergi"


"Itu bisa diatur"


"Sip"


Emily berbisik kepada Asmodeus dan bertanya, "Apa kau memasukkan informasi soal penjaga gerbang waktu juga?"


"Yup, rupanya saat proses itu ada beberapa informasi yang masuk tanpa bisa kucegah"


"Kapan kita berangkat?", tanya Clara yang antusias.


"Aku akan memanggil satu orang lagi", jawab Asmodeus.


"Genderuwo ini juga ikut?", Clara menunjuk pak Uwo.


"Iya, dia kenal dengan Erina"


"Lho, saya sudah kelihatan toh?"


"Aku sudah sekalian membuka mata batinnya, informasi tentang astral pun sudah masuk, jadi Ia takkan merasa takut"


"Hoo..begitu"


Asmodeus menelepon Dewi agar segera datang, lalu mengabarkan Beelzebub juga bahwa Ia akan melakukan ritual di bumi.


...----------------...


Sore hari menjelang magrib, semua orang berkumpul di cafe Clara yang sudah ditutup.


Clara pun memberikan pesan - pesan agar ketiga orang tadi menjaga keluarganya selama Ia pergi. Sang baby sitter merasa sedih dan khawatir.


Beelzebub mengatakan kepada Asmodeus agar mencaritahu tentang Leviathan, apakah berita kematiannya benar, atau Ia masih hidup. Karena yang memicu Asmodeus ingin pergi adalah berita tentang Leviathan ini.


Asmodeus, Dewi, pak Uwo, Clara dan juga Emily membentuk lingkaran, lalu saling berpegangan.


"Semua sudah hafal mantranya kan?", tanya Asmodeus.


"Ya, semua mantra itu membuat kepalaku mau meledak rasanya", jawab Clara.


Sisanya mengangguk semua.


Mereka melafalkan mantra tersebut secara bersamaan, lingkaran mantra muncul, unsur api ,cahaya, dan tanah bersatu dan membuat lingkaran cahaya besar yang menembus ke dalam bumi.


Tercipta sebuah lubang dimensi besar di tanah.


Mereka semua lompat ke dalamnya.


Lubang itu menghilang, semua kembali ke keadaan semula di cafe. Beelzebub pergi, pak Yanto, Farid, dan baby sitter saling bertatapan, bingung harus mengatakan apa.


Suami Clara pulang, Ia bingung dengan keadaan cafe yang tutup.