My Heart From Hell

My Heart From Hell
Instigated



Succubus tiba - tiba tersadar, dan Ia melihat Wewe yang hendak memakan Varlo.


Ia mengeluarkan cambuknya kemudian mencambuk Wewe itu sekuat tenaganya.


Wewe itu terlempar jauh. Succubus mengambil kesempatan itu dan membawa Varlo terbang.


Ia pun tiba di sebuah tempat yang lapang, dan bertemu dengan Erina dan yang lainnya.


"Sue, syukurlah kau selamat, Varlo kenapa?",


tanya Erina.


"Dia terluka, apa Lily punya ramuan? mana Lily?"


"Emm..biar aku saja yang mengobatinya", Erina mengarahkan tangannya ke luka di kaki Varlo, perlahan luka itu sembuh, namun masih meninggalkan bekas.


"Kok kau bisa mengobati? sejak kapan? bajumu kenapa aneh begitu?", Succubus merasa heran.


"Aah..aku tak percaya akan mengatakan ini juga, tapi...ceritanya panjang"


"Hufftt..".


Mereka pun melihat di ujung tempat itu ada seorang pendeta bertopeng yang seperti berasal dari bangsa maya.


"Selamat, untuk kalian yang berhasil sampai kesini, saya turut berduka jika ada yang kehilangan, tapi..syarat dari kuil jiwa ini adalah jika ingin melewatinya harus melakukan pengorbanan"


"Apa yang dimaksud pengorbanan?"


"Nyawa ditukar nyawa"


Semua saling menatap satu sama lain dengan ekspresi yang khawatir.


"Mudahnya begini, salah satu dari kalian yang ada disini akan diambil nyawanya, untuk ditukar dengan seseorang yang gugur sebelumnya, nanti teman kalian yang hidup kembali akan menemani kalian melanjutkan perjalanan"


"Cih..kau pikir nyawa orang adalah mainan?", Erina mulai muak dengan peraturan yang semakin aneh.


"Sangat mudah bukan, kalian hanya tinggal memilih yang paling tidak berguna, lalu tukar dengan orang yang kalian anggap penting"


Erina geram.


Varlo tiba - tiba mengangkat tangannya, "Ambil saja aku, aku tak apa - apa"


Leiva langsung menutup mulut Varlo, "Hei apa maksudmu!?"


"Sudah Varlo kau diam saja!" ucap Erina dengan nada rendah.


"Lagipula, aku sudah sulit berjalan dengan luka - luka ini, aku tak ingin menghambat yang lainnya", ucap Varlo dengan nada lirih.


Succubus merasa iba dan merasa bersalah terhadap Varlo, karena Ia tak bisa menjaganya dengan baik.


"Tidak Varlo, aku tak ingin kehilangan siapapun lagi", Erina mengepalkan tangannya.


"Hei orang aneh! apa yang terjadi jika aku tak ingin menuruti persyaratanmu?", tanya Erina.


Damien, Succubus, dan Leiva menatap Erina dengan heran. Apalagi yang direncanakan olehnya kali ini?


"Yaa..pasti ada konsekuensi yang harus kau hadapi nanti di depannya"


Erina mengepalkan tangannya. Lalu nampak lingkaran mantra di tangannya.


"Erina kau mau apa? jangan aneh - aneh!", Damien mulai khawatir.


Erina bergerak dengan kecepatan penuh, dalam sekejap sampai di depan pendeta aneh itu dan melayangkan tinjunya sekuat tenaga dengan mantra penghancur.


Pendeta itu hancur bagaikan debu.


"A..apa yang kau?", Succubus tak percaya yang Ia lihat.


"Kuterima apapun konsekuensinya, asal tak perlu mengambil nyawa teman - temanku"


Lily berbicara di dalam pikiran Erina, "Nak, apa kamu yakin dengan perbuatanmu?"


"Biarkan ma, aku tak ingin lagi bersikap seolah orang - orang ini adalah penguasa dunia yang harus kita turuti semua perintahnya"


Erina yang diliputi ego mulai merasa bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


Meskipun segan, mereka akhirnya naik ke lantai selanjutnya.


Di lantai keempat, terdapat sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu, dan di depannya adalah lautan lepas berwarna biru gelap.


Di depan dermaga ada sebuah kapal kuno seperti kapal bajak laut.



"Sebenarnya seluruh tempat ini seperti ilusi ya?"


"Iya, semua nampak tidak masuk akal"


"Aku hanya berharap semua ini hanya mimpi, suatu saat ketika terbangun ini semua tak pernah terjadi"


Erina langsung menaiki kapal tersebut tanpa ragu, "Ayo semuanya naik!"


"Aku juga merasa begitu"


"Apa karena ada Lily di dalamnya?"


"Entahlah, mungkin keadaan juga yang membentuknya seperti sekarang, dulu waktu aku pertama bertemu dengannya, dia wanita polos yang penakut"


"Sekarang dia mampu meninju iblis tanpa ragu"


"Damien, lepaskan tali pengikat itu!, kita akan berlayar", tiba - tiba Erina menyuruh Damien.


"Ah...Baik nona", Damien yang tergesa langsung membuka tali yang menahan kapal ke dermaga.


"Succubus, kembangkan layarnya!"


"Siap", Succubus langsung bergegas terbang dan membuka layarnya.


Erina pergi ke arah kemudi, memegangnya, lalu memutarnya dan mengarahkan kapalnya.


"Kau...sejak kapan bisa mengemudikan kapal?", tanya Succubus.


"Ya bisa saja"


Succubus benar - benar menjadi heran dengan sikap Erina.


Kapal yang berukuran tidak terlalu besar itupun mulai berlayar dan mengikuti arah angin.


"Varlo, Leiva!"


"I..iya kak"


"Kalian cari tempat yang bisa dipakai, lalu siapkan tempat istirahat!"


"Baik"


Succubus menemani kedua anak itu ke dalam lambung kapal untuk mencari ruangan yang bisa dipakai, namun sebelum itu Ia berbisik lagi kepada Damien, dan Damien mengangguk.


Ketika Erina mengendalikan kapal, Ia


memanggil Damien, "Damien, kemari!"


"Ada apa?"


"Pegang kemudi ini! perhatikan arah pada kompas"


"Siap nona!", Damien melakukan perintahnya sambil mengamati Erina, memperhatikan apa ada yang salah.


Erina pergi ke moncong kapal dan berdiri dengan angkuh selagi diterpa angin laut.


Succubus datang menghampiri Damien, "Apa yang kau lihat?"


"Dia kan tidak memakai jimatnya, meskipun tidak parah tapi kurasa dia mendapat pengaruh dari roh jahat"


"Hmm..itu membuatnya jadi lupa diri ya"


"Iya, sepertinya pengaruh dari Lily berada di tubuhnya juga"


Mereka berdua akhirnya membuat sebuah rencana.


Succubus menangkap dan memegang Erina dari belakang dengan sekuat tenaga.


"Ayo cepat!"


"Akhh..mau apa kau!?"


Damien berdiri di depan Erina, lalu melayangkan sabit di depannya, "Lily keluarlah!"


Arwah Lily pun keluar dan menjadi wujud burung hantu.


Lalu Succubus memakaikan kalung jimat milik Behemoth yang masih tersimpan di saku Erina.


Erina terjatuh lemas.


"A..apa yang terjadi?", tanya Lily.


"Menurutku kalian terlalu lama menyatukan jiwa sehingga raga Erina menjadi rentan"


"Hmm..sejujurnya aku juga tak mengetahui hal itu, makin lama di dalam Erina aku merasa nyaman dan mendadak kehilangan kesadaran juga"


"Aku...apa aku mengacau?", Erina tersadar.


"Tidak parah kok, hanya saja kau jadi sok bossy", ucap Succubus.


"Ah itu bukan aku banget, lalu kita sedang dimana sekarang?"


"Dikapal, kau yang menjalankan kapal ini"


"Ha yang benar? mana aku tahu caranya menjalankan sebuah kapal", Erina bingung sendiri.