My Heart From Hell

My Heart From Hell
Land of Giants



Para raksasa yang berada di sana tetap terjaga bahkan saat malam hari, semuanya bersikap waspada seolah ada sesuatu yang dikhawatirkan.


"Papi.."


"Yes?"


"Apa yang terjadi kalau kita melewati mereka begitu saja?"


"Ngg.. akupun tidak tahu, mungkin saja karena tahu kau adalah saudara mereka, mereka akan membiarkanmu lewat"


"Masak sih?", Erina tak yakin.


Sepuluh meter di depan mereka ada raksasa berjenis Buto Ijo, yang berotot dan berwarna hijau, serupa dengan Hulk, namun dengan tinggi badan dua puluh meter. Raksasa itu nampak siaga karena sudah melihat sosok Lucifer dan Erina.


"Si Hulk itu, kenapa dia siaga? bukankah kita sudah tidak mengeluarkan aura yang mengancam?"


"Memang, tapi aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan ras raksasa sepertinya"


"Memang apa bedanya ras raksasa dan ras titan?"


"Para titan memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, maka mereka bisa menjadi astral kelas dewa, bahkan raja neraka seperti Satan. Sedangkan raksasa kebanyakan hanya seperti budak yang menjalankan perintah"


"Begitu ya, aku kenal seorang raksasa namanya pak Uwo, dia seorang genderuwo yang membantuku saat di dunia bawah, dia sepertinya cukup memiliki prinsipnya sendiri"


"Ya, kalau sudah ribuan tahun hidup di dunia manusia akan berbeda, namun jika masih di alam baka, semuanya masih sangat primitif"


"Baiklah, aku akan mencoba melewatinya", ucap Erina sambil melangkah mendahului Lucifer.


"Hei, jangan bodoh! kalau kau diinjak bagaimana!?", Lucifer nampak khawatir.


Erina hanya menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh Lucifer diam. Lalu ia melangkah perlahan seperti orang yang takut ketahuan.


Raksasa hijau itu hanya diam dan menatap Erina, matanya mengawasi pergerakannya yang perlahan.


Jarak Erina hanya dua meter dari raksasa itu, dan tidak terjadi apa - apa.


"Hei lihat papi! aman saja, ayo cepat sini", Erina memanggil Lucifer dengan semangat.


Dalam kurang dari satu detik, Erina tak menyadari bahwa raksasa itu sudah mengangkat tangannya untuk meninju dirinya.


"AWAS!!!", Lucifer yang menyadari itu langsung berubah wujud dan berlari sangat cepat untuk mengambil Erina.


"BAAAMM!!", kepalan tinju sebesar mobil menghantam tanah.


Erina sangat terkejut, "Gila, jantungku hampir berhenti"


"UUUUAAARRGGHH..", Hulk berteriak dengan kencang, menjadikan raksasa lain bersiaga juga.


"Sepertinya berlari adalah pilihan terbaik", ucap Lucifer.


Lucifer dalam wujud tikus hitam besar berlari sekuat tenga dengan Erina yang menunggang di punggungnya.


Seluruh raksasa di area tersebut mulai mengejar mereka. Meskipun pergerakannya lambat, namun cukup menyulitkan karena jumlah mereka yang sangat banyak, ditambah lagi gelap karena malam hari.


Tanah bergetar seperti gempa bumi karena semua raksasa bergerak bersamaan.


"Aku kesal, kenapa mereka tidak mengenaliku sebagai saudaranya", Erina mengeluh.


"Jangan bodoh, kalau kau sedang dalam wujud titan, barulah mereka akan menghormat kepadamu"


Lucifer terus berlari menerpa angin malam yang dingin selagi menghindari injakan dan hantaman dari para raksasa.


Lalu Lucifer mulai melambat.


"Papi!? ada apa?"


"Hahh.. hah.. aku.. sangat lelah", Ia kembali ke wujudnya semula dan langsung terkapar di tanah.


"Energimu sudah banyak terpakai ya? baik, sekarang adalah giliranku", Erina berdiri tegap menghadap ke arah para raksasa datang.


"Mau apa kau? cepat kita harus terus berjalan selagi mereka masih jauh", Lucifer mencoba bangkit meskipun lututnya gemetar.


"Aku akan menghentikan mereka!"


"Dengan cara apa? kau tak punya kekuatan sekarang! itu akan percuma"


Erina tak mendengarkan dan terus melangkah.


Gemuruh getaran tanah akibat hentakan kaki para raksasa semakin mendekat.


"Argh anak bodoh itu benar - benar keras kepala, siapa sih bapaknya?", Lucifer menggumam.


Wajah Erina sangat serius, ia berharap di detik - detik terakhir, karena terdesak kekuatannya akan muncul secara tiba - tiba.


Ratusan raksasa semakin mendekat, Erina semakin tegang, jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap berusaha tenang.


Ketika jarak mereka hanya tinggal sepuluh meter, Erina mengangkat tangannya.


"BERHENTIIII!!!", Ia berteriak dengan lantang.


Seluruh raksasa menghentikan gerakannya.


Erina terdiam, tak menyangka dirinya akan berhasil.


Lucifer juga terdiam karena tak menduga hal itu.


Namun belum sampai sepersekian detik, Hulk yang berada paling dekat dengan Erina langsung menghantam dengan tinjunya.


"KYAAA..", tubuh Erina terpental jauh bersamaan dengan deburan tanah.


Dengan secepat kilat, Lucifer menangkap tubuh Erina sebelum jatuh ke tanah dengan wujud tikusnya.


"Apa kubilang!? percuma kan!", Lucifer memarahi Erina.


"Maafkan aku..", Erina lesu dan merasa tidak berguna.


"Apa kau terluka?"


"Cuma lecet sedikit"


Lucifer memaksakan dirinya yang masih lelah untuk berlari lagi.


Namun tak disangka, di depan mereka sudah ada tangan besar yang menunggu, dan langsung menghantam.


Mereka berdua jatuh tersungkur.


"Sial! tidak keren kalau kita mati di sini!"


Lucifer bangkit lalu memegang tanah, mengeluarkan akar - akar dari dalam tanah, lalu menjerat para raksasa.


"Wah papi hebat!"


"Itu tidak akan bertahan lama, ayo lari lagi"


Dalam sekejap raksasa itu bisa melepaskan diri dari jeratan akar.


"Apa!? semudah itu?", Erina terkejut.


"Karena di sekitar sini sangat gersang dan tak ada vegetasi, maka kemampuan itu melemah"


"Kira - kira berapa lama untuk sampai di pusat energi itu?"


"Kalau lancar mungkin bisa satu hari"


"Kalau sambil dikejar raksasa?"


"Mungkin bisa seminggu"


"Astaga"


Ketika berlari lagi, pandangan Lucifer mulai berbayang, ia sudah mencapai batasnya.


"Papi, kalau papi menggigit mereka bukankah bisa mendapatkan kekuatannya?", Erina memberi usul.


"Tidak mungkin, karena aku harus menghabiskannya. Tapi baiklah akan kucoba",


Lucifer mengangguk lalu mencoba melompat menggunakan kekuatan terakhirnya.


Ia menggigit lengan Hulk.


Lalu Hulk langsung melempar tikus besar itu selayaknya seonggok batu kerikil.


Erina langsung menghampiri Lucifer.


"Erina, maafkan papi, sepertinya hanya bisa sampai di sini", Lucifer lemas dan terkapar.


"Papi bertahanlah!"


"Maaf.. karena sudah merusak kehidupan bahagiamu"


"Sudahlah, aku.. juga tak apa kalau bisa menghabiskan hidupku dengan ayah kandungku"


Mereka sama - sama tersenyum, lalu berpelukan.


Raksasa sudah mendekat, mereka langsung hendak menginjak Lucifer dan Erina yang hanya seukuran jempol kakinya.


Erina memejamkan mata, bersiap menerima akhir hayatnya.


Namun tak terjadi apa - apa.


Tiba - tiba semua raksasa yang berkerumun, terpental semua.


Erina melihat sesosok raksasa yang tak sebesar yang lain. Penuh bulu panjang dan perawakannya seperti seorang yang dikenalnya, berdiri di depan mereka berdua.


Karena gelap, ia tak melihat wajahnya dengan jelas.


"Nona Erina, anda baik - baik saja?"


"Suara ini?.. pak Uwo! ini benar - benar kau?", Erina langsung beranjak dan memeluk tubuh berbulu pak Uwo.


"Ini memang saya, tapi.. kenapa anda bisa ada di tempat ini?"


"Ceritanya panjang pak, oh iya kenalkan itu ayahku", Erina menunjuk Lucifer yang masih terkapar.


Lucifer mengangkat tangannya untuk menyapa, "Panjang umur kau, Erina baru saja membahasmu"


Pak Uwo langsung menunduk memberi hormat, "Tuan Morningstar"


"Tak perlu formal, aku hanya orang biasa sekarang"


Pak Uwo tampak kebingungan dengan situasi yang terjadi.


Erina terkagum melihat para raksasa yang terguling,


"Kau bisa mengalahkan para raksasa itu ya pak, hebat banget"


"Ah tidak, itu hanya karena saya lebih berpengalaman saja"


Para raksasa mulai terbangun lalu memberi hormat kepada pak Uwo.


"Wooah jadi kau yang dihormati di sini ya?"


"Hehe.. begitulah nona", pak Uwo merasa malu.


"Pak Uwo setelah dari dunia bawah langsung kesini?"


"Tidak, saya sudah kemana - mana, pergi ke lebih dari tiga ratus dimensi dan jalur waktu alternatif"


"Se.. sebanyak itu?"


"Iya, karena alur waktu setiap makhluk kan bisa berbeda - beda"


"Lalu, kenapa kembali kesini? bukankah ini tempat paling awal para astral?"


"Memang benar nona, selama perjalanan saya mencoba mencari jati diri, tapi akhirnya, takdir membawa kembali ke tanah kelahiran ini"


"Begitu ya.. kau benar - benar hebat dan berpengalaman ya"


"Ah tidak..", pak Uwo tersipu.


Lalu Erina pun menceritakan bagaimana ia bisa berada di tempat itu bersama dengan Lucifer.


Bersamaan dengan itu, pak Uwo juga akan mengabdikan dirinya kembali untuk membantu Erina dalam petualangannya sekali lagi.


Pak Uwo membawa kedua orang itu di pundaknya.


"Sebenarnya, apa yang ada di sana itu? menurut kompas papi disana ada sumber energi yang besar", Erina bertanya sambil menunjuk.


"Ahh.. kalau itu..."