My Heart From Hell

My Heart From Hell
Narrow Tent



Seekor singa gunung dengan tubuh sebesar kuda menyeringai dan mulai mendekati Damien dan Lily


"Damien hati - hati, hewan itu sangat besar"


"Iya tante, tenang saja aku seorang penjaga sekarang, tante akan kujaga dengan hidupku" Damien mengarahkan sabitnya ke arah singa gunung itu


'Rrraaaww..' singa itu mulai mengaum dan berlari ke arah Damien


Tanpa ragu Damien menyabetkan sabitnya, dan singa itupun terluka


Namun singa itu tak menyerah dan tetap menyerang Damien dengan cakarnya


Damien kewalahan


"Aku akan meracikkan obat untuk lukamu!" Lily segera membuka ranselnya dan mulai mengambil ramuan untuk membuat obat


"Aakh sial!" lengan kiri Damien terkena cakar singa itu hingga terluka parah


Damien memancingnya ke pinggir jurang dengan darah yang mengucur


"Sini kau!" Damien menyiapkan ancang - ancang


Begitu singa itu menerjang, Damien berguling ke bawahnya


Singa itu terjatuh ke dalam jurang.


Damien menghampiri Lily


"Apa hewan itu sudah mati?"


"Sepertinya sudah tante"


"Astaga, lukanya parah banget, ayo duduk


disini"


Lily menyuruh Damien duduk di sampingnya


"Aku bersihkan dulu lukanya ya" Lily menuang air ke lengan Damien


"Aduuhh.." Damien mulai mengerang kesakitan


"Hei, ini belum bagian terbaiknya, siap - siap ya!" Lily memberikan kain untuk digigit Damien


Lily menuangkan ramuan obat ke luka Damien secara langsung


"RRRRRGGGGHHHHHH....." Damien berteriak kencang sambil menggigit kain di mulutnya, suaranya mirip seperti singa gunung


"Jaringan ototmu robek semua, tapi ramuan ini dibuat untuk memperbaiki itu dalam waktu singkat, namun ya kekurangannya.....sangat sakit"


Tubuh Damien banjir keringat dan bergetar, Ia menahan sakit yang teramat sangat


"Aku heran kenapa tiba - tiba hewan itu menyerang kita, padahal kita tak mengganggunya" tanya Lily


"Karena dia hewan yang teritorial, dia pasti mempertahankan wilayahnya"


"Oh begitu ya, jadi sebenarnya ini tuh tempat apa sih?"


Damien melihat sekeliling


"Aku juga tak tahu, ini cukup misterius"


Lily berfikir sejenak, kemudian bertanya


"Eh bukankah di ranselmu ada tenda?"


"Iya ada, tapi.."


"Kenapa?"


"Aku belum pernah mendirikan tenda"


"Tenang aku bisa caranya, aku sudah cukup lama hidup sebagai manusia di berbagai fase"


"Jadi kita bermalam disini?"


"Sepertinya harus begitu, lukamu harus kurawat dulu"


"Baiklah...uhh aku tak bisa merasakan tanganku"


Lily pun mencoba mendirikan tenda yang sudah dipersiapkan sebelum mereka berangkat


Dengan sedikit bantuan Damien, dalam waktu kurang dari dua puluh menit, tenda sudah berdiri


"Tante benar - benar hebat"


"Ini karena aku sempat terlahir menjadi anak pramuka"


Mereka pun menyalakan api unggun di depan tenda, kemudian menyiapkan makan malam


"Dam kau mau sup, sarden, atau mie instan?"


"Mie instan sepertinya terbaik"


"Sudah tentu" Lily mengambil dua bungkus mie instan goreng untuk direbus


Damien dan Lily makan mie instan bersama di depan tenda


"Mie buatan tante ini sangat enak" Damien memuji


"Hei, semua mie sama aja, kau gak usah lebay"


"Tante.."


"Hmm?"


"Gimana rasanya waktu tante masih jadi seorang dewi? apakah dipuja - puja?"


"Kenapa? bukankah dewa dan dewi diberikan kuasa untuk bertindak? apalagi kalian bisa bertambah kuat jika banyak yang memuja kalian"


"Yaa..secara konsep memang begitu, tapi kenyataannya..."


"Kenyataan memang lebih pahit ya?"


"Betul, hanya karena aku masuk di kelas B, banyak yang menganggap remeh, padahal ilmu yang kugunakan sangat terpakai pada masa tertentu"


"Ilmu ramuan dan obat - obatan kan?"


"Dan sihir, ilmu sihir erat dengan ramuan"


"Kalau sekarang tante masih bisa menyihir?"


"Singa itu bisa kujadikan kucing dengan mudah"


"Woah...tapi, kau juga mengambil langkah berani dengan meminta reinkarnasi ya"


"Saat itu, kupikir hidup sebagai manusia lebih memiliki arti"


"Hmm begitu...aku juga..waktu memilih pekerjaan menjadi malaikat maut, kupikir itu sangat keren"


"Menurutku malaikat maut memang keren, aku pernah jatuh cinta dengan salah satunya ketika masih di akademi"


"Oh ya!?"


"Iya, namanya Crumps, dia sangat baik dan lembut"


"Nama lengkapnya Zellian Crumps?"


"Iya, kau mengenalnya?"


"Begitulah, dia adalah head chief di kantor pusat"


"Wah sudah tinggi juga posisinya, aku jadi kangen"


Damien mengingat - ingat bahwa Crumps adalah orang yang cukup keji, sering menghina bawahannya, dan berlaku kasar, Ia juga yang memecat Damien karena dianggap tidak becus dalam pekerjaannya. Namun Damien tak ingin mengungkapkan itu dan merusak kenangan Lily.


"Lalu...waktu tante bertemu Lucifer dulu, apa tak ada firasat sedikitpun?"


"Sama sekali tidak, dia sangat handal dalam menyembunyikan jati dirinya. Aku jatuh begitu saja ke dalam perangkapnya"


"Apa tante merasa hubungan itu spesial?"


"Dia bisa membuat aku merasakan bahwa seolah aku adalah satu - satunya"


Damien tersenyum, Ia pun memahami bahwa wanita kadang terbuai perasaan yang kadang menghanyutkannya ke arah yang salah.


"Hooaamm.." Lily menguap


"Tante tidurlah duluan, biar aku yang berjaga disini"


"Berjaga? justru kau yang harus istirahat"


"Aku tak apa"


Damien duduk di depan tenda, dan Lily tidur di dalam dengan keadaan tenda terbuka setengah


"Damien"


"Iya tan?"


"Kau tak perlu memanggilku tante"


"Ah masa begitu?"


"Iya...selama disini kita bersikap seperti rekan seperjuangan saja"


"Hmm baiklah"


"Seandainya aku tak selamat sebelum bertemu Erina, aku menitipkannya padamu"


"Enak saja, kau harus hidup sampai perjalanan ini berakhir"


"Aku tak yakin, fisikku ini sudah cukup tua"


"Jangan berbicara seperti tak punya harapan begitu, mungkin kau diberikan hidup sampai sekarang, karena untuk saat ini"


"Hmm..benar juga ya, terima kasih ya kau sudah memberiku semangat"


"Itu tak seberapa"


"Damien masuklah kesini, tak perlu berjaga, kau juga butuh istirahat"


Damien pun masuk ke dalam tenda dan membaringkan diri di sebelah Lily, karena tendanya kecil posisi mereka menjadi sangat dekat


Damien menatap Lily yang tertidur


Damien berkata dalam hati "Wajahnya benar - benar mirip dengan Erina, akupun merasa tak yakin dapat bertemu lagi dengan Erina atau tidak"


Lily membuka matanya


Damien salah tingkah


Lily menatap Damien dalam - dalam


Damien pun menatapnya dengan pikiran kosong


Lily mendekatkan wajahnya ke wajah Damien


Damien tak bergeming


Bibir mereka pun...