
Setelah satu patung berhasil dihancurkan, masih ada sebelas lagi yang tersisa.
Emily terlihat berfikir.
"Sebentar sebentar, Dewi kan punya unsur cahaya, seharusnya para patung itu tak akan menyerangnya", ucap Emily.
"Benar juga, karena mereka tak akan menganggapmu sebagai pendosa bukan? Asmodeus menambahkan.
"Tapi....aku bukan keturunan murni, jadi ada kemungkinan yang terjadi bisa sebaliknya", Dewi terlihat ragu.
"Ah benar juga.."
"Tak apa, ini patut dicoba", Dewi meyakinkan dirinya.
Asmodeus mendekatkan wajahnya, "Apa kau sudah yakin? kau harus menetapkan hatimu dan tak boleh ragu jika memang ingin melakukan ini".
"Aku sudah ikut kesini, maka aku akan melakukan apapun yang seharusnya bisa kulakukan untuk membantu".
"Aku akan berada di belakang untuk melindungimu"
"Baiklah"
Asmodeus mengeraskan suaranya,
"Oke, Kali ini, kita akan maju satu persatu! Succubus, Damien, bersiaplah! disaat ada yang lengah langsung habisi!"
Succubus dan Damien mengangguk. Mereka langsung menyiapkan senjatanya masing - masing.
"Erina, Emily dan Clara paling belakang, lalu pak Uwo menyusul terakhir ya"
"Tidak, saya yang akan melindungi para wanita"
"Pokoknya jangan memaksakan diri ya pak"
Kemudian setelah bersiap - siap.
Dewi mengeluarkan wujud malaikatnya, sayapnya memang tidak berwarna putih bersih, namun Ia sangat bercahaya, auranya sangat berbeda.
Damien yang melihatnya ternganga dan tak mampu berkata - kata, Ia sangat terpesona melihat wujud yang memukau itu.
Erina berbisik di telinga Damien, "Dia sangat cantik lho".
Damien hanya mengangguk tanpa bicara.
Kemudian Dewi berjalan dengan percaya diri ke tengah ruangan sambil mengibaskan rambutnya, semua adegan terasa slow motion bagi Damien.
Para patung yang dalam sedang dalam posisi siaga, langsung menurunkan senjatanya.
Dewi yang berjalan perlahan merasakan para patung itu menghormatinya.
Namun disaat Asmodeus mulai berjalan di belakangnya, para patung itu langsung mengarahkan senjatanya dan menembaknya.
Tapi Asmodeus menahan serangan itu dengan pedangnya, karena Ia seorang petinggi, levelnya cukup untuk bisa menahan serangan kelas Archangel.
"Sue, Damien! sekarang!"
Succubus langsung terbang ke arah kepala patung yang sedang fokus menyerang Asmodeus dan memecut kristalnya hingga terlepas.
Begitu pula dengan Damien, Ia berlari cepat menaiki tubuh patung yang tinggi, lalu dengan sabitnya melepas kristalnya hingga terlepas.
"Hei, ini mudah rupanya", Damien merasa takabur.
Tiba - tiba, para patung yang tersisa membuat barikade dengan dinding cahaya sehingga tak ada yang bisa lewat, kecuali Dewi.
Dewi yang menyadari hal ini pun menjadi panik,
"Wah bagaimana ini? aku sendirian disini!"
"Tenang Wi, jangan panik dan coba lanjutkan, pelajari apa yang ada di depan sana", ucap Asmodeus.
Dewi pun meneruskan berjalan dengan tenang menuju ke arah altar.
"Lalu sekarang bagaimana? para patung ini sudah tak menyerang, tapi kita tak bisa maju lagi", tanya Erina.
"Entahlah, kita mencari perlindungan dulu di sekitar sini sambil menunggu kabar dari Dewi"
...----------------...
Dewi menuju ke atas altar, Ia naik perlahan. Orang yang berpakaian seperti uskup yang sedang merapalkan mantra tak menghentikannya.
Dewi kemudian menghampiri peti mati yang terlihat mewah karena penuh dengan ukiran dari emas, lalu melongok untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
Di dalam peti itu nampak jasad seorang pria, yang berkulit cerah, bertubuh tinggi dan berpakaian serba putih. Ia seperti meninggal dalam damai.
Dewi berfikir, kenapa kebangkitan orang ini harus dihalangi? Ia nampak seperti orang baik.
Sang pria tua berpakaian uskup mendadak berhenti merapalkan mantra lalu melirik ke arah Dewi.
"Ah...akhirnya...", ucap sang uskup.
"Apa? akhirnya apa?", Dewi menjadi khawatir.
"Seseorang yang ditunggu - tunggu"
Dewi menoleh ke belakang dan sampingnya, tak ada orang lain selain dirinya.
"Seseorang yang cukup layak, setelah penantian ribuan tahun"
"Saya? layak untuk apa?"
"Tum..tumbal?"
"Iya..bukankah kau datang dengan sukarela kesini? karena tahu berkorban untuk kebangkitan suci ini"
"Tidak, saya tidak datang sebagai tumbal", Dewi mulai gusar.
"Kenapa tidak? kau kan seorang astral berunsur cahaya, sebuah kelangkaan yang sempurna untuk master"
"Memang master itu siapa? kenapa saya harus jadi tumbal untuknya?"
"Ini...adalah master Samael, seorang setengah malaikat setengah iblis, ditakdirkan untuk menjadi penengah bagi kaum yang memiliki dua sisi kepribadian"
"Kalau dia begitu hebat, kenapa dia mati?"
"Berselisih dengan seorang petinggi membuatnya berada didalam posisi ini, padahal beliau hanya membela kaumnya saja"
"Ukh..ini membuatku di dalam posisi yang sulit", Dewi pun berlari turun dari altar lalu menuju ke dinding cahaya yang dibuat para patung.
Asmodeus dan Damien menghampirinya dari sisi sebaliknya.
Dewi menceritakan tentang apa yang terjadi kepada dua orang itu.
"Samael? orang gak jelas itu", Asmodeus terlihat geram.
"Wi, kami akan cari cara nyelamatin kamu, bertahan disana ya", ucap Damien.
Dewi mengangguk perlahan.
Asmodeus dan Damien mencari cara bagaimana untuk melewati dinding ini, namun para patung tak memberikan celah.
Di sisi dalam, sang uskup perlahan menghampiri Dewi.
"Anak muda...apa kau tahu tentang sejarah orangtuamu?".
"Ah, kenapa tanya soal itu?".
"Kau tampil disini selayaknya seorang malaikat, padahal aku tahu ada sejarah kelam di balik itu, ayahmu adalah seorang malaikat yang melakukan dosa".
Dewi menundukkan kepalanya.
"Aku yakin kau tahu soal itu, dan kau beruntung karena mewarisi tujuh puluh persen unsur cahaya dibandingkan api, jadi para patung itu tak menyerangmu"
"Lalu, ayahmu juga harus menjalani hukuman selama hidupnya karena kau telah lahir, maka dari itu, salah satu cara untuk meringankan hukumannya adalah dengan berkorban disini, jadilah seseorang yang berguna bagi banyak kaum"
Dewi hanya terdiam.
"Kau tak mampu berkata - kata karena aku benar bukan? jika kau mempermudah ini, maka nanti jiwamu juga akan tenang ditempat yang baik"
Dewi menatap mata sang uskup.
"Tatapan matamu menyiratkan bahwa kau adalah insan yang kesepian, mencari jati diri kesana kemari, harus menutupi masa lalu, dan juga cinta yang terbalas, ahh..untuk apa lagi berlama - lama".
"Kehidupan lamamu yang datar dan membosankan itu akan sirna karena telah berbakti kepada master Samael"
Dewi menatap Damien dari sisi dalam dinding, tatapannya menyiratkan banya arti.
"Aku tak suka ini", ucap Damien.
"Kenapa?", tanya Asmodeus.
Terlihat di sisi dalam, Dewi pingsan seperti dibius, lalu digendong oleh sang uskup dibawa menuju ke altar.
Damien dan Asmodeus langsung panik dan tergesa - gesa dengan mencoba menyerang dinding cahaya.
Namun dengan diserangnya dinding itu, para patung bereaksi. Mereka menembakkan cahaya ke langit - langit, dan mulailah hujan meteor dengan diameter sebesar bola basket.
Semua orang panik dan menyelamatkan diri.
Pak Uwo membesarkan badannya dan memeluk Erina, Clara, Emily, juga Leiva.
"Pak, jangan begini, nanti kau..."
"Tak apa, yang penting kalian aman"
Damien dan Asmodeus berlarian menghindari meteor.
Succubus menempel di pojok ruangan sambil mencari celah dari serangan itu. Namun tiba - tiba ada meteor yang bergerak secara horizontal dengan cepat, karena tak sempat menghindar, Ia terkena serangan itu.
Dua puluh menit meteor berjatuhan, Damien, Asmodeus, dan Succubus terluka.
Sisanya yang berlindung dibawah pak Uwo selamat, namun. Seluruh punggung pak Uwo bolong - bolong terkena hujan meteor itu. Ia langsung terkapar di lantai.
"Pak Uwo, sadarlah!", Erina sedih melihat keadaan pak Uwo.
Emily melihat sekeliling, gerejanya hancur lebur seperti terkena bom, lalu Ia melihat yang lainnya sedang terkapar juga.
"Mbak Erina, mbak Clara, Leiva..kita harus tolong yang lainnya".
Para wanita itu menolong para pria juga Succubus yang terluka, dan berkumpul di pojok
untuk merawat luka - lukanya.
Emily berdiri, Ia melihat kondisi para patung yang diam.
Di sudut bawah, nampak ada celah yang tak ada sebelumnya, Ia pun berinisiatif.
"Semuanya, aku akan mencoba untuk berguna, doakan ya".