My Heart From Hell

My Heart From Hell
The Lost Soul



"Alexei, kita bisa melewati ini dengan baik - baik saja kan?" tanya Erina.


"Jangan panggil aku Alexei lagi, aku adalah RA, sang penguasa piramida"


Erina berbicara dalam hati "Rupanya RA adalah penyebab Alexei bertingkah aneh, aku harus segera mengeluarkannya"


Tanpa ragu, Alexei melemparkan tombak emasnya, persis ke depan Erina, Erina tak sempat berkutik.


"Ah, aku meleset", tombak itu terbang kembali ke tangan Alexei.


"Aku tak ingin melukai Alexei, lebih baik kalau mau bertarung hadapi aku dengan wujud aslimu saja Ra! aku tidak takut"


"Hahaha..kau tak paham konsepnya ya, Aku dan Alexei adalah satu kesatuan sekarang, Ia telah menyerahkan segenap raganya agar bersatu dengan keabadian"


"Tidak, Ia tak mungkin melakukan itu"


"Sayangnya, kau tak mungkin bisa mengetahui isi hati setiap orang, bahkan orang terdekatmu. Lihatlah si malaikat maut itu"


Alexei menunjuk Damien.


"Dia telah menjalin hubungan wanita penyihir itu" Ia menunjuk Lily.


Erina tercekat, Ia tak tahu harus berkata apa.


"Kau tak tahu hal itu bukan? ya, ada beberapa hal yang kau takkan tahu hanya dari luarnya"


"Sudah cukup! bukan itu yang jadi masalah sekarang, keluarlah dari tubuh saudaraku!"


"Terlambat.....sudah terlambat. Sekarang kalian hanya bisa maju dan melawanku. Sampai mati"


"Aku tak suka ini, sudah cukup rekanku yang direnggut di dunia bawah ini"


"Makanya, majulah kalian sekaligus, Titan, Malaikat Maut, Iblis Merah, dan Dewi Penyihir"


Alexei mengambil posisi kuda - kuda siap bertarung.


Damien menghampiri Erina, "Bisakah kita benar - benar menghadapinya?"


"Iya, tapi hati - hati ya, aku yakin Ia telah mendapat banyak kekuatan"


"Oke, aku tak akan menahan diri ya"


"Heeaaaa..." Damien mulai menerjang Alexei dengan segenap tenaganya.


Semua sabetan sabit Damien berhasil ditangkis dengan santai menggunakan tombak emas Alexei.


Dari belakang Succubus juga menyerang, Ia menggunakan semua senjatanya untuk menyerang. Pecut, racun, dan api.


Setelah serangan bertubi - tubi Damien dan Succubus, Alexei tertutup oleh debu - debu pasir yang beterbangan.


Setelah debunya hilang, nampak bahwa Ia baik - baik saja.


"Gila, dia kuat sekali", Damien mengusap keringatnya.


"Sepertinya kita harus menggunakan cara lain" usul Succubus.


Belum selesai mereka berbicara, gerakan Alexei yang secepat kilat langsung melukai mereka berdua.


Lily yang melihat itu, memanggil kekuatannya kembali dan mencoba peruntungannya.


"Erina, mama akan menyerangnya!", Lily maju ke depan Erina lalu menyerang Alexei dengan mantra pendorong yang kuat.


Namun mantra itu berhasil ditangkis dan berbalik ke Lily, Ia terpental dan jatuh.


"Mama! jangan memaksakan diri!" Erina menghampiri lalu memeriksa Lily.


"Berkumpul semua disini!" Lily berseru.


Damien, Succubus, Leiva, Varlo, dan Erina berkumpul mengitari Lily.


Lily mengangkat tongkatnya, lalu merapal mantra sihir pelindung.


Terlihat lingkaran mantra yang mengelilingi mereka.


Alexei menyadari itu dan memutari lingkaran mantra.


Lalu Ia memukul lapisan pelindung itu dengan tongkatnya secara membabi buta.


Terus, tak berhenti, Alexei terus memukul tanpa henti selama beberapa menit.


"Alexei cukup! hentikan!" Erina berteriak.


Teriakan Erina tak digubrisnya, Ia hanya terus memukul tanpa berekspresi.


"Mama, apa pelindungnya bisa hancur kalau begini terus?"


"Iya, kekuatannya bisa menghancurkan pelindung ini jika dia melakukannya terus"


Dinding pelindung mulai retak.


"Serangan kita semuanya tak berefek, apa yang bisa kita lakukan?"


"Dia tahan api, racun, benda tajam, sihir, dan semuanya!"


Damien dan Succubus nampak putus asa karena semua serangan mereka tak mempan.


"Ini saatnya aku harus turun tangan" Erina bangkit.


Leiva dan Varlo sangat kagum melihat keberanian Erina "Waah dia sangat keren"


"Sepertinya kristal merah di dadanya itu adalah sumber kekuatannya, aku bisa merasakan energi yang besar dari sana" ucap Lily.


"Baik ma, sasaranku adalah kristal itu. Sekarang tolong buka pelindung ini"


Pelindung dibuka sedikit demi sedikit oleh Lily.


Alexei terdiam.


Erina menatapnya tajam, menunjuknya, kemudian berteriak, "LEVIATHAAN!!"


Dalam hitungan detik, Basilisk bernama Leviathan itu pun langsung muncul menerjang Alexei dari dalam pasir, Alexei terpental tinggi.


Erina meneriakkan satu nama lagi, "BEHEMOTH!!"


Succubus terkejut, Ia bertanya - tanya apa yang sekiranya akan terjadi.


Tiba - tiba muncullah seekor gajah berkulit hijau , dengan tubuh sebesar Mammoth dari dalam pasir. Ia langsung memukul Alexei dengan gadingnya yang berukuran sangat besar.


Alexei terpental hingga ke piramid.


"Woah ternyata berhasil!" Erina sangat senang dengan keberhasilan Ia memanggil kedua makhluk itu.


Succubus mendekati gajah itu perlahan kemudian membelainya, matanya berair. "Mothy, kau baik - baik saja?"


Gajah itu pun terdiam dan menatap Succubus dalam - dalam.


"Na, apa kau memang tahu kalau bisa memanggil mereka?" tanya Succubus.


"Aku hanya mencobanya, karena sewaktu pemanggilan arwah dengan Ouija, roh mereka berdua sepertinya memang berada disekitar kita dan berkata mereka siap membantu"


"Kau memang luar biasa, tapi semoga saja mereka bisa kembali ke wujud normalnya nanti"


"Benar, semoga saja. Setelah ini semua selesai"


Tiba - tiba dari kejauhan terdengar teriakan Alexei, "JANGAN KALIAN KIRA SUDAH SELESAI YA!"


"Tolong lindungi Lily dan yang lain, kami akan membereskannya"


"Ah tunggu!" teriak Damien.


Tanpa memperdulikan interupsi Damiem, mereka mulai berlari menuju ke piramida.


Lily menggenggam tangan Damien, "pulihkan tenagamu dulu, nanti kita menyusul ketika mereka membutuhkan bantuan"


"Iya, tante Erina kan sangat kuat, om tak perlu khawatir", ucap Leiva.


"Baiklah"


...----------------...


Dengan menaiki hewan besar, kedua wanita itu tiba di depan piramida.


Nampak Alexei yang sedikit terluka akibat dihajar kedua hewan itu, sedang berdiri di atas puncak piramida yang setinggi gedung tiga lantai tersebut.


"Sue, sepertinya serangan dari mereka berdua cukup memberikan dampak baginya"


"Iya benar, kita hanya perlu memperparahnya"


Kemudian Alexei memukulkan tongkatnya di dinding piramida, seketika semua lukanya kembali normal.


"Cih, rupanya piramida ini adalah sumber kekuatannya juga" Succubus kesal.


Erina menatap Behemoth, kemudian memberikan arahan melalui hatinya.


"Kau sedang apa?" tanya Succubus.


"Karena badannya besar, aku memintanya untuk menghancurkan piramida ini"


Behemoth pun segera bergegas, Succubus turun dari punggungnya.


"Apa rencanamu?"


"Behemoth dan aku menghancurkan piramidanya, Leviathan dan kau mengalihkan Alexei, apa bisa?"


"Kau? bagaimana kau menghancurkan benda sebesar itu?"


"Ya aku harus berubah dulu"


"Apa energimu cukup?"


"Entahlah, saat ini aku cukup lelah"


"Lagipula, kalau berubah sembarangan,naku tak punya baju cadangan lagi untukmu!"


"Ah maaf, tapi sepertinya kita coba melawannya dulu saja"


Erina menaiki Leviathan dan menyusuri dinding piramida dengan cepat, Ia menyerang Alexei menggunakan gigi, duri, dan racun yang dimiliki Basilisk.


Succubus juga mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menyerang.


Sementara itu Behemoth menabrakkan tubuhnya yang besar dan mengobrak - abrik batu yang mendirikan piramida.


Alexei teralihkan, Ia ingin menyingkirkan Behemoth agar tak menghancurkan piramidanya, namun Ia terus diserang oleh Leviathan dan Succubus.


'Ctarr..' pecut Succubus mengenai kristal di dada Alexei dengan keras.


"Na, ambil itu!" seru Succubus.


Namun tongkat Alexei menghujam perut Succubus dan membuatnya pingsan.


Lalu dengan kelincahan Leviathan, Erina berhas mendekat, tangannya menggapai kristal itu kemudian mencabutnya dengan paksa.


Di saat yang bersamaan, Behemoth berhasil menerobos masuk ke dalam piramida, dan melihat ada kristal merah besar di dalamnya.


Tanpa ragu Behemoth menginjak kristal itu dan menghancurkannya.


Erina juga melemparkan kristal yang digenggamnya, lalu dihancurkan dengan gigi tajam Leviathan.


"Aaaaakkkhh..." Alexei tersungkur, kekuatannya telah hilang.


Erina turun dan menghampiri Alexei.


"Saudaraku, ayo kembalilah bersama kami, tinggalkan jalan yang sesat ini"


Alexei menatap Erina, matanya menghitam, kulitnya menua dengan cepat, badannya menjadi kurus kering.


"Na...maafkan aku"


"Aku tak butuh maaf, yang penting kau jadi Alexei yang dulu lagi", Erina terisak.


"Aku...tak..bisa, perjanjiannya tak bisa dibatalkan"


"Perjanjiannya apa?! sini biar aku yang bicara!"


"Sudah....terlambat..kalau RA meninggalkan tubuhku, maka aku juga akan mati"


"Kau kan bisa meregenerasi ulang tubuhmu, karena kau seorang vampir"


"Kekuatan itu....telah diambil dariku"


"Oh Alexei, kenapa harus seperti ini"


"Aku yang salah, tapi...aku sudah merasa bahagia karena memiliki orang yang perhatian padaku"


"Kita...kita kan mau pergi makan bareng, ditempatku ada nasi padang, makanan yang sangat enak"


Alexei membelai pipi Erina, sambil berkata lirih.


"Lanjutkanlah saudaraku, aku yakin kau akan berhasil, dan tidak akan membuat kesalahan sepertiku"


"Tidak, jangan bilang begitu"


Mereka berpelukan.


"Selamat...tinggal..terima kasih..sudah...datang"


Tubuh Alexei menghilang jadi debu berwarna hitam.


"TIDAAAAKK..." Erina berteriak kencang.


Succubus yang pingsan terbangun, Ia melihat situasi itu dan turut bersedih.


Di atas piramida muncullah Anubis dan juga Horus.


"Ck ck ck..sangat miris ya"


"Iya, sungguh ikatan persaudaraan yang mengharukan"


Erina melihat mereka dengan geram.


"Tenang, kami akan membiarkanmu lewat seperti perjanjiannya, kau juga akan mendapatkan kemampuan khusus sementara seperti yang dimiliki penguasa piramida".


Jalan untuk ke tingkat selanjutnya telah terbuka.


Semua telah berkumpul, dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini Leviathan dan Behemoth menjadi tunggangan mereka selama perjalanan.


"Kenapa ya dunia bawah ini begitu keras? padahal baru tingkat kedua tapi begitu banyak yang sudah direnggut".


Erina merasa sedih, namun tetap bertekad untuk menyelesaikan perjalanannya.