My Heart From Hell

My Heart From Hell
The Heist



Asmodeus dan Erina bingung memutuskan kemana mereka harus mencari.


"Kalau aku jadi ibuku, mungkin aku akan


ke Rusia"


"Kalau aku jadi ibumu, mungkin aku akan ke Amerika"


Mereka tidak sependapat, bahkan ketika melakukan suit hasilnya selalu seri.


"Kalau kita harus melakukan perjalanan jauh, setidaknya kita harus punya banyak uang", ucap Erina.


"Uang kita banyak kok", Asmodeus berkata dengan percaya diri.


Asmodeus hendak mengambil kopernya yang ditaruhnya di bawah meja.


Namun ketika tangannya meraba - raba, satu kopernya tidak ada, mereka langsung panik.


Tiba - tiba terlihat seorang anak muda berlari sangat kencang keluar dari restoran sambil membawa salah satu koper mereka. Asmodeus yang melihat itu langsung beranjak dan berlari mengejarnya.


Erina juga beranjak dan berteriak,


"Maliiingg.. ada maliingg.."


Orang - orang di sekitarnya hanya melihatnya tanpa bereaksi, Erina menghampiri satpam yang terlihat di lokasi parkiran, Ia berperut buncit dan nampaknya sudah tua.


..."Pak tolong pak, ada yang mencuri koper kami"...


Satpam itu hanya bereaksi seadanya,


"Yah udah sering itu mbak, makanya punya


barang itu dijaga"


Erina benar - benar geram dengan reaksi satpam itu. Sampai akhirnya Ia juga mencoba mengejar, dan bertemu Asmodeus yang sudah kelelahan.


Mereka melihat pencuri itu melompat melewati atap - atap rumah selayaknya spiderman.


"Sial, aku akan coba menghentikannya dengan kekuatanku"


Erina mencoba peruntungannya.


"Hah? kekuatan apa?"


Asmodeus bingung.


"Entahlah, tapi kamu bilang aku punya kekuatan kan? jadi aku akan mencobanya",


Erina mengarahkan tangan dengan cincin permatanya ke arah pencuri itu berlari, seraya memejamkan mata dan berkonsentrasi.


Namun tidak terjadi apa - apa, dan pencuri itu pun semakin jauh.


Mereka berdua merasa sangat sial hari itu.


Namun terpikirkan sesuatu oleh Erina,


"Kita kembali ke rumah mbah tadi, kemudian kita minta tolong carikan sama dia aja"


Asmodeus setuju, dan mereka langsung bergegas menuju ke rumah mbah Margono lagi, namun apa yang terjadi ketika mereka tiba disana,


"Ini..disini kan tadi rumahnya??"


"Iya..nama jalannya sama, tapi.."


Rumah itu tidak ada, hanya gang kecil buntu yang tadinya tidak terlihat disana.


"Br*ngs*k! mereka mengerjai kita! pasti pencuri tadi adalah antek - anteknya"


Asmodeus kesal sekali dan menendang batu.


"Ini karena dia melihat kamu mengeluarkan uang banyak dari koper itu"


"Ya sepertinya begitu"


"Memang berurusan dengan makhluk mistis tidak akan berujung baik", Erina berjongkok dan nampak menyesal.


"Ya, itu memang benar", Asmodeus merasa tersindir.


"Ah.. bukan kamuu.. kamu adalah hal terindah yang terjadi padaku", Erina takut menyinggung Asmodeus.


"Benarkah itu?", Asmodeus bertanya dengan tersenyum.


"Iya, tapi jangan bersikap aneh - aneh lagi", Erina mewanti - wanti.


Merekapun berpelukan sebentar.


"Oke, jadi, ada berapa sisa uang kita? yang diambil koper yang sudah terpakai apa yang masih penuh?"


"Yang masih penuh", jawab Asmodeus datar.


Erina mengelus dadanya sambil menghela nafas.


"Tapi sisa uang disini masih cukup untuk membeli sebuah rumah", Asmodeus mengangkat dan menunjuk kopernya.


"Rumah seperti apa?"


"Yaa.. yang cukup sederhana"


"Baiik, yang penting rumah yaa.. bukan gubuk atau bedeng kan?", Erina berusaha memastikan.


"Iya, setidaknya menurutku begitu"


Erina merasa pusing.


...----------------...


Akhirnya mereka berdua kembali ke apartment dengan lesu.


Erina menyiapkan beberapa rencana untuk meminta bantuan Clara dan rekan kantornya apabila mereka terdesak, namun Asmodeus berencana untuk meminta bantuan rekan - rekannya di neraka.


Erina tak setuju untuk merepotkan rekan - rekan Asmodeus lagi, karena Ia sudah merasa banyak berhutang, apalagi kepada Damien.


"Siapapun rekanmu yang dimintai tolong, mereka akan kehilangan kekuatannya kan?"


"Iya kalau mereka bersedia menolong dengan tujuan mencari ibumu, tapi kalau kita rubah sedikit kata - katanya, mungkin saja bisa"


Asmodeus berusaha mencari celah dalam mengakali mantra dari Lucifer.


'Krrruuukk',


sebuah bunyi besar menggema di apartment Erina, Damien memegang perutnya sambil tersenyum.


"Karena tadi habis lari - lari, aku jadi lapar.. padahal selama ini aku belum pernah merasa lapar", ucap Asmodeus dengan wajah memelas.


"Yasudah, Aku akan beli nasi padang di bawah, Kamu mau pakai lauk apa?"


Erina melotot.


"Ah baiklah nasi padang yang terbaik, lauknya ayam bakar"


Asmodeus menurut.


Erina pergi ke lantai bawah untuk membeli makanan, Asmodeus menunggu dengan sabar.


Sepuluh menit kemudian, mereka makan nasi padang dengan lahap.


Selagi makan Erina menyuruh Asmodeus untuk menatap matanya,


"Mulai sekarang, biarkan aku yang mengurus keuangan kita, kalau nggak kita gak bakal bisa pergi keluar negeri, oke!?"


"Siap laksanakan!", jawabnya dengan gestur memberi hormat.


Meskipun sebenarnya Asmodeus sangat enggan, tapi Ia berusaha mengikuti arahan Erina, karena bagaimanapun Ia adalah orang baru dalam hal ini, semua kemampuannya dan hak istimewanya saat jadi petinggi tak berguna lagi sekarang.


Setelah selesai makan, Erina membuka laptopnya untuk mencari tiket pesawat.


"Pergi ke Rusia akan lebih cepat dan harganya lebih murah", ucap Erina sambil menyeruput segelas es teh manis.


"Baiklah, kalau memang perasaanmu mengatakan Rusia lebih baik, aku akan mengikutinya, aku percaya intuisi wanita".


Erina berusaha untuk memantapkan hatinya, mengikuti intuisinya untuk pergi ke Rusia, mengikuti arahan dari paranormal yang bahkan sudah menipunya.


Namun meskipun banyak hal yang dipertaruhkan, Ia merasa ini adalah sebuah kesempatan sekali dalam hidupnya, karena toh masa hidupnya tinggal satu bulan lagi, pikirnya.


Erina lalu menyiapkan semua barang - barang yang akan dibawa, dan juga membeli tiket, tiket seharga dua puluh juta untuk berdua.


Sebelumnya Ia belum pernah traveling keluar negeri, bahkan kepergiannya yang paling jauh hanya ke Jogja bersama kedua orangtua angkatnya menggunakan kereta.


Asmodeus juga telah menyiapkan semuanya selagi masih menjadi petinggi, tanda pengenal, passport dan lain sebagainya, Astaroth yang merupakan spesialis urusan administrasi banyak membantunya.


Dengan situasi ini mereka merasa makin dekat satu sama lain, apapun yang terjadi mereka berencana untuk tetap bersama.


...----------------...


Esok paginya, mereka tiba di sebuah bandara internasional di daerah tangerang dengan menggunakan taksi, namun kali ini.hanya taksi biasa.


Asmodeus telah melakukan check- in lalu memasukkan barang - barang mereka ke bagasi pesawat.


Mereka menunggu penerbangan pukul 06:30 pagi sambil meminum kopi dan memakan roti croissant di sebuah restoran kecil.


"Akuu.. belum pernah naik pesawat,


aku agak takut", Erina mengeluh.


"Tenang, ada aku disampingmu, kamu tinggal memelukku", ucap Asmodeus meyakinkan.


"Kita di baris berapa? coba lihat tiketnya", Erina mengulurkan lengannya.


Asmodeus memberikan tiketnya, karena tadi dia yang melakukan check in.


"Hah!? kok kursi kita beda?"


Erina terkejut melihat nomor kursi miliknya dan Asmodeus yang berjauhan.


"Ah, tadi.. aku gak mengerti harus apa"


"Rrgghh.. yasudahlah ini salahku karena menyerahkannya padamu", Erina menggerutu.


"Seandainya Aku masih astral, cukup satu kedipan kita udah bisa sampai di Rusia"


"Sekarang kita tidak usah berandai - andai. N**gomong - ngomong, apa kamu punya kenalan di Rusia**?"


"Banyak kenalanku disana, bahkan ada petinggi beberapa lokasi penting, tapiii.."


"Tapi apa?"


"Karena telah menjadi manusia aku tak bisa melihat apalagi menemui mereka lagi"


"Hmm.. baiklah It's okay, nanti kita pikirkan begitu sampai disana".


Ini adalah perjalanan yang penuh ketidakpastian bagi seorang perempuan muda yang belum pernah traveling, dan pria muda (kelihatannya) yang dulunya terbiasa hidup enak. Karena mereka tidak memiliki tujuan yang pasti, hanya mencari seseorang di tempat asing yang begitu luas.


Mereka telah mendapatkan panggilan dari bandara untuk segera menaiki pesawat.


Ketika telah naik lalu duduk di kursi yang telah ditentukan, Ia memejamkan matanya dan mulai berdoa,


"Tuhan, kumohon lancarkanlah perjalanan kami. Ibu, tunggulah aku. Damien, bantulah kami apabila kami terjebak masalah, Amin"


tiga permohonan yang Ia ungkapkan di dalam hati.


...----------------...


Damien yang berada di lokasi yang berjauhan, namun Ia menyadari seseorang mengucapkan namanya dalam doanya. Ia tahu itu Erina, tapi Ia tidak bereaksi apa - apa, hanya menghela nafas.


...----------------...


Pesawat besar berkapasitas ratusan penumpang itu pun mulai lepas landas, hendak mengarungi luasnya langit, menuju ke tempat baru bagi sebagian penumpangnya.


Sepuluh menit setelah lepas landas, Asmodeus yang duduk di kursi bagian belakang mulai muntah - muntah, Ia tidak menyangka akan menjadi begitu mabuk udara.


Sedangkan Erina yang duduk di depan hanya memejamkan matanya, berharap semua yang direncanakannya secara terburu - buru ini dapat berjalan lancar.


Perjalanan udara yang memakan waktu delapan belas jam lebih, dibawakan dengan baik oleh sang pilot dan ko pilot yang handal dalam pekerjaannya. Kapten yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun menjamin perjalanan berlangsung lembut.


Meskipun tetap ada beberapa pihak yang tak mampu menikmati momen tersebut.


"Pak, apakah nda membutuhkan kantung muntah lagi?"


tanya seorang pramugari cantik dengan gaya rambut sanggul yang rapi dan elegan, dari maskapai yang berlambang seekor burung terbang ini.


"Ah tidak, terima kasih mbak"


Asmodeus menolaknya karena perasaannya sudah lebih tenang setelah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya.


"Kami juga menyediakan menu makanan ringan dan beberapa barang yang bisa dibeli jika bapak berminat", pramugari tersebut lalu mengambilkan sebuah katalog dengan isi sepuluh lembar.


"Ya tentu saya berminat! cepat berikan katalognya!"


Asmodeus menjadi bersemangat.


Erina yang duduk di kursi depan memiliki peraasaan yang sangat tidak enak, karena koper berisi uang tunai masih ada pada Asmodeus.


Akhirnya Ia menoleh ke belakang dan sangat terkejut ketika melihat sang pramugari membawakan begitu banyak barang dan makanan menggunakan troli ke tempat Asmodeus duduk.


"Oh, matilah aku"


Erina mengusap wajahnya dengan penuh penyesalan.