
Lucifer menatap mata Erina dalam - dalam,
"Lihatlah, warna mata kita sama"
Erina panik dan bingung, "Siapa kau? kenapa menggangguku?"
"Mengganggu? masa Aku mengganggu? Aku hanya ingin bersilaturahmi dengan putriku sendiri lho"
"Jangan bicara aneh - aneh ya pak, Saya tidak kenal dengan bapak"
"Lho, jadi pacarmu itu belum memberitahu ya? wah patut dipertanyakan tuh"
"Pacar...maksudnya..."
"Iya pacarmu yang petinggi neraka itu"
"Hah..?", Erina masih gemetaran disebabkan aura Lucifer yang begitu menekan.
Lucifer berbalik badan, kemudian menggunakan isyarat jari untuk memerintahkan anak buahnya agar membawa Erina.
"Kamu ikut sama p**api ya, kita berkenalan satu sama lain dulu, setelah itu..... kita lihat bagaimana nanti**".
Lucifer menoleh ke arah Erina dan menatap dengan tajam, "Papi tunggu di kantor!"
Ia lalu menghilang dalam kobaran api jingga.
Para astral mulai mendekati Erina secara perlahan dengan tatapan yang mengerikan.
Tak lama, Damien muncul di depan Erina dengan sabitnya, Ia langsung mengayunkan sabitnya dan mencabik - cabik astral - astral rendahan. itu
"Maaf, aku terlambat", ucap Damien sambil memunggungi Erina. Ekspresinya terlihat sangat serius.
"Nggak, kau sangat tepat waktu", Erina merasa lega dengan kedatangan Damien yang bak pahlawan super.
Pertarungan beda dimensi ini menyebabkan beberapa hal di dunia manusia, seperti listrik konslet, getaran, dan benda - benda terlempar seperti kejadian poltergeist.
Karena tempat kejadian berlangsung sudah cukup sepi, tidak banyak orang yang menyadarinya, tapi begitu ada orang yang lewat akan langsung kabur ketakutan.
Damien terus bertarung namun para makhluk itu tak ada habisnya, mereka bermunculan terus, hingga Damien mulai kelelahan. Namun Ia teringat satu nama.
"PAK UWOO!!!", teriak Damien.
Tak perlu waktu lama, pak Uwo pun muncul dengan tubuh besarnya. Para astral rendahan pun tertekan dengan kehadirannya lalu mulai mundur perlahan.
"UUOOORRRGGGHH.." Pak Uwo mengaum kencang, para astral terpental jauh.
Melihat kemunculan astral tetua dengan level menengah yang menyulitkan, Behemoth dan Succubus memutuskan harus turun tangan.
Mereka hendak maju untuk melawan Damien, Damien berusaha untuk melawan meskipun Ia tahu tidak akan menang.
Behemoth mengayunkan palu besarnya, Damien berusaha menangkisnya degan sabit, namun tak berhasil, sabitnya rusak dan Damien terpental jauh.
Pak Uwo yang lebih besar dari Behemoth bergerak untuk turut menyerang.
Namun Succubus memberi bantuan dari belakang, Ia melemparkan bola api yang kemudian menyelimuti palu Behemoth sehingga menggandakan kekuatannya.
Lalu Behemoth mengayunkan palunya dan menjatuhkan Pak Uwo dalam sekejap.
Erina terkcekat melihat situasi yang terjadi,
Succubus memanfaatkan kesempatan dan hendak menangkap Erina.
Namun tiba - tiba muncul air bah besar dari sungai yang menghalangi mereka, Succubus terjatuh.
Erina yang terkejut menutup matanya.
Muncullah sesosok pria tinggi, berbahu lebar dan berotot dengan gaya berpakaian yang kasual dari dalam air itu, Ia langsung menatap tajam kepada Succubus, Succubus langsung panik.
"Kenapa kalian membuat keributan disini? di dekat daerah kekuasaanku?", bentak pria bersuara berat itu.
"Maafkan kami tuan, kami akan pergi",
Succubus memanggil behemoth dan pasukannya kemudian pergi menghilang.
Pria itu menghampiri Erina dan memastikan keadaannya.
"Kau pasti Erina kan? apa Kau baik - baik saja?"
"I..iya aku baik saja, anda siapa ya?"
"Perkenalkan namaku Leviathan, penjaga lautan, aku adalah sahabat Asmodeus"
"Oh, anda salah satu pangeran neraka juga? terima kasih banyak atas bantuannya"
Erina membungkuk.
"Asmo sudah memberitahuku semuanya, dan meminta padaku untuk membantunya mengawasimu"
"Ah, saya jadi merepotkan banyak orang"
Erina merasa segan.
"Tidak masalah, aku juga sedang senggang"
Kemudian Leviathan membantu Damien dan Pak Uwo yang terluka, dan mengantar mereka ke apartment.
...----------------...
Di apartment, Erina mengurus Damien yang terluka, Leviathan mengawasinya.
"Hei malaikat maut"
"Iya tuan"
"Hebat sekali kau bisa menahan serangan dari salah seorang panglima perang Lucifer"
"Ah iya.. tapi, senjataku jadi hancur. Padahal itu sudah dibantu oleh gelang dari tuan Asmo"
"Tidak apa, itu bisa dibuat lagi. Tapi semangatmu untuk menyelamatkan Erina itu yang membuat kau bisa bertahan"
Erina mentap Damien, Damien memalingkan wajahnya karena malu.
"Tuan, apa yang tadi itu adalah Lucifer?", tanya Erina kepada Leviathan.
"Iya"
"Kenapa dia mengaku sebagai ayahku?"
"Karena memang begitulah faktanya"
"Aku gak mengerti"
"Ceritanya panjang, kau harus bertanya pada Asmo, dia yang mengetahuinya dari awal"
"Rupanya memang ada yang disembunyikan ya, pantas aku merasa ada yang aneh"
Asmodeus muncul tiba - tiba, dan langsung memeluk Erina, namun Erina malah mendorongnya,
"ada yang harus kita bicarakan",
wajah Erina menjadi serius.
"Baik, tapi sebelum itu.."
Asmodeus menghampiri Damien yang terkapar di sofa dan mengambil gelang yang sempat diberikannya.
"Mulai saat ini, kau kubebastugaskan, kau bisa menjalani pekerjaanmu seperti biasa, tanggung jawabmu sebagai penjaga Erina sekarang sudah kulepas"
Damien hanya terdiam mendengar itu, Erina langsung menghampirinya.
"Kenapa kamu begitu? Kamu gak tahu yang sudah dilakukan Damien, dia sudah berjuang sekuat tenaga"
"Iya aku tahu, justru aku tidak ingin dia mengambil resiko yang lebih jauh. Karena lawannya berat, mungkin nanti bukan hanya terluka yang dia alami. Maka biar selanjutnya aku dan Levi yang akan menangani ini"
Momen sunyi sesaat, Damien bangkit dari kursi kemudian membungkukkan badannya di hadapan Asmodeus dan Leviathan.
"Terima kasih, terima kasih untuk kepercayaan yang telah diberikan kepada saya, maaf kalau saya masih banyak kekurangannya"
Erina langsung memeluk Damien dan menangis penuh haru,
"Maafin a**ku yaa...udah banyak merepotkanmu**"
"Kita bakal ketemu lagi kan?"
Damien tersenyum, "Nanti kalau aku sudah lebih kuat, aku gak ingin jadi orang lemah, supaya bisa melindungi yang lain"
"Kau sama sekali gak lemah Dam, sampaikan salamku untuk pak Uwo juga ya"
Erina menjadi lesu.
Damien mengangguk, lalu memberi salam kemudian menghilang.
Leviathan juga menghilang setelah Asmodeus mengucapkan terima kasih.
......................
Kemudian Erina duduk berdua saja dengan Asmodeus di sofa.
"Sekarang kamu jujur aja aja deh, kasih tahu semuanya jangan ada yang ditutup - tutupi lagi!"
"Oke"
"Kenapa Lucifer mengaku sebagai ayahku?"
"Karena Kamu memang anaknya"
"Memang bagaimana kronologinya?"
Jadi begini ceritanya, Erina adalah seorang anak yang lahir dari rahim seorang ibu manusia dan ayah seorang iblis.
Ya, Lucifer memang memiliki hobi membuat keturunan dimana - mana.
Ia memiliki banyak istri manusia namun kemudian ditinggalkannya.
Oleh karena itu ibu yang melahirkan Erina, yang menderita sebuah penyakit langka, tidak sanggup mengurusnya sendiri dan memilih untuk menitipkan Erina ke panti asuhan.
Lalu ada pasangan yang sangat menginginkan anak, yang akhirnya mengadopsi Erina. Begitulah cerita tentang masa lalumu yang aku tahu.
Erina tersentak, Ia shock mengetahui bahwa Ia adalah seorang anak angkat. Pantas kadang Ia merasa tidak mirip dengan kedua orangtuanya.
"Tapi, Ia seperti ingin membunuhku? apa semua anak Lucifer akan dibunuhnya?"
"Tidak, Kamu adalah anaknya yang ke 666, yang menurut ramalan akan mampu mengambil tahta Lucifer dengan kekuatannya yang teramat besar"
Ekspresi Erina berubah menjadi aneh dan tidak percaya.
"Dari semua hal yang terjadi, Itu hal terbodoh yang kudengar hari ini"
"Kau mungkin tak menyadarinya, tapi aku dapat merasakan aura dari kekuatanmu"
Erina melihat kedua tangannya, "Jadi...intinya dia takut aku mengambil takhtanya?"
"Iya"
"Orangtua yang aneh"
"Sebenarnya dia memang paranoid berlebihan tentang hal itu, Ia sudah mewanti - wanti selama ribuan tahun"
"Padahal apa peduliku tentang takhta di neraka, memangnya ada orang yang mau masuk neraka?"
Asmodeus hanya mengangkat pundaknya.
"Ohh iya..apa ibuku yang sebenarnya masih hidup? apa aku bisa menemuinya?"
"Sebentar aku coba menerawanginya, maaf ya", Damien memegang kening Erina.
Mata Asmodeus berubah merah menyala, lalu Ia terdiam.
"Sepertinya aku melihatnya, tapi auranya sangat lemah, aku tidak bisa tahu lokasi persisnya, hanya samar - samar"
"Berarti dia masih hidup kan? Aku ingin mencarinya!", Erina menggebu - gebu.
"Boleh, tapi aku harus kembali dulu, nanti akan kembali secepatnya. Dan satu hal lagi..."
Asmodeus mengambil cincin permata dengan kekuatannya, kemudian memakaikannya di jari Erina.
"Kamu lupa terus memakai ini"
"Ah maaf"
"Baiklah, apa a**ku sudah boleh pergi**?"
"Tunggu!"
Erina menahan Asmodeus dan terdiam sesaat.
"Apa...apa Kamu menyukaiku karena aku memiliki kekuatan?", Erina bertanya dengan ragu.
Asmodeus tersenyum kemudian mencium kening Erina.
"Aku menyukaimu karena perasaanku memang menyukaimu, bukan karena kekuatan, anaknya siapa, atau apapun"
Asmodeus pergi.
Erina sendirian sekarang.
Ia tidak bisa tidur memikirkan semua yang terjadi, adopsi, anak iblis, kekuatan besar, tahta, cinta, ibu. Semua terasa sangat tidak masuk akal.
Tengah malam saat Ia hendak buang air, sebelum menuju ke toilet Ia melewati sebuah cermin bulat yang terpasang di tembok.
Ia merasa ada yang janggal, ketika dipastikannya lagi, bayangannya di cermin bukan wajahnya, melainkan wajah Lucifer, menyadari itu sebuah kesempatan, merekapun berbincang.
"Selamat malam putriku yang cantik"
"Tidak usah berbasa - basi, Kau ingin membunuhku kan?"
"Aduh aduh, jangan terlalu eksplisit begitu dong, aku hanya ingin mengobrol denganmu"
"Aku sudah dengar tentang ramalan takdir aneh itu, kalau pun cerita itu benar, aku tidak punya niat untuk mengambil tahtamu, kau tidak perlu khawatir"
"Sebenarnya lebih dari itu. Tidak hanya kamu, siapapun bisa memanfaatkan kekuatan itu, jadi aku tidak bisa mengambil resiko dengan melepaskanmu begitu saja"
"Bukankah bagi seorang raja neraka, membunuh satu orang manusia adalah perkara yang mudah?"
"Tentu, bahkan sangat mudah, aku bisa melakukan apapun dengan menjentikkan jariku"
"Lalu kenapa tidak kau lakukan?"
"Hei, dimana serunya kalau semua serba instan? a**ku menikmati semua proses, apalagi proses yang menyakitkan**"
"Dasar psikopat! Oke, kalau begitu aku ingin membuat kesepakatan denganmu!"
"Wah sangat menarik, baik aku mendengarkan"
"Aku ingin menemui ibu yang melahirkanku, wanita yang kau tinggalkan, tanpa diganggu. Jika Aku berhasil menemukannya dalam keadaan hidup lalu bisa berbicara dengannya, setelah itu barulah kau boleh mengambilku"
"Hmm...tetapi jika sudah melewati batas waktu yang kutentukan dan kau belum menemukannya, kau tetap akan kuambil"
..."Oke, deal!"...
"Ah satu hal lagi yang paling penting, bagi siapapun astral yang membantu perjalananmu dalam menemukan ibumu, semuanya akan kehilangan kekuatannya dan menjadi seperti manusia biasa"
Erina agak terkejut dengan persyaratan itu, namun Ia tidak dapat menolaknya karena bagaimanapun Ia telah membuat perjanjian dengan seorang raja iblis.
"Karena kau telah membuat kesepakatan dengan iblis, maka akan kutinggalkan sebuah tanda di tubuhmu"
Muncul sebuah lambang berbentuk mata satu di belakang leher Erina dan rasanya seperti terbakar.
"Ah, waktumu hanya satu bulan ya,
sampai nanti"
bayangan Lucifer menghilang.
Erina memegang cincinnya, kemudian itu bercahaya, Asmodeus tiba - tiba datang, Erina terkejut.
Kemudian terlihat lambang yang muncul di leher Erina, Asmodeus lebih terkejut,
"E..Erina..apa yang sudah Kamu lakukan?"
Matanya melotot dan ekspresinya sangat tegang.