My Heart From Hell

My Heart From Hell
Treasure Island



Asmodeus membuka matanya, Ia melihat rekan - rekan yang diajaknya, semua tetap seperti wujudnya dan juga berada di posisi yang sama seperti saat ritual.


"Guys, kalian semua baik - baik aja kan?", tanya Asmodeus.


"Pusing...pusing banget. Ueeekkhh..", Clara langsung muntah didepan mereka semua.


Karena Clara seorang manusia Ia tak terbiasa dengan hal - hal semacam berpindah dimensi dan sebagainya.


"Ini...sepertinya di sebuah pulau", ucap pak Uwo sambil melihat sekeliling.


Semua orang memperhatikan kondisi sekelilingnya, pasir putih, barisan pohon kelapa yang cukup padat di satu area. Semua tampak normal.


"Aahh..pas banget gue udah lama gak liburan ke pantai nih, tau gitu bawa baju yang lebih santai", ucap Clara selagi menimbun bekas muntahnya dengan pasir.


"Kita, kesini bukan mau main - main mbak", ucap Emily.


"Yaa..gue tahu, sebenarnya kan gue kesini karena dibutuhin sama Asmo untuk ritualnya, jadi selagi nyari Erina, sisanya gue akan anggap ini liburan"


"Terserah kau, tapi kita harus hati - hati karena kita gak tahu bahaya apa yang mengintai di tempat ini", ucap Asmodeus.


"Siap pak komandan! pokoknya jangan lupa lindungin saya ya pak, saya cuman manusia biasa", ucap Clara sambil menghormat ke arah Asmodeus.


"Sekarang, para astral, apa kalian masih memiliki kemampuan magis? atau hilang sama sekali? karena aku tak bisa menggunakan sebagian indraku untuk penglihatan jarak jauh", tanya Asmodeus.


"Eehmm..sepertinya kita masih memiliki kemampuan, hanya saja sangat dibatasi", jawab pak Uwo.


"Jadi kita hampir seperti manusia biasa dong ya?", tanya Dewi.


"Waduh, kalau semua kayak manusia biasa gawat dong, siapa yang bisa ngelindungin gue?", Clara mulai khawatir.


"Tetap bisa kok, hanya dikurangi saja kapasitasnya", ucap Emily.


"Okelah", Clara mulai berjalan duluan.


Emily mulai bergumam kepada Dewi dan pak Uwo, "Dimana sih mas Asmo nemuin cewek itu? resek banget"


"Kau yang sabar ya, dia kan satu - satunya manusia teman Erina yang dikenal mas Asmo", Dewi menenangkan.


"Cih, kalau dia menyebalkan aku gak mau menolongnya nanti"


"Hei jangan begitu, karena kita berada di satu kelompok, harus saling tolong menolong", pak Uwo bersabda.


"Iyaa pak, aku hanya bercanda"


'Bluusshh', "Kyaaaaa...tolongg..tolongin guee...", Clara terjerembab ke dalam lubang pasir.


Semua orang yang tidak merasakan itu berbahaya hanya menontonnya.


"Hei kenapa pada diem aja? tolongiiinn"


Pak Uwo menghampiri kemudian menarik Clara dengan mudah.


"Hahh..makasih ya pak, yang lain ini pada diem diem bae"


"Kalau berada di tempat asing, kita harus menjaga sikap, jangan sampai terjadi apa - apa karena kita sembrono"


"Ba..baik pak", Clara menjadi segan terhadap pak Uwo yang menjadi sosok yang dituakan.


Perjalanan berlanjut, mereka mulai memasuki area hutan lebat yang berbeda dengan pantai tadi.


"Intuisiku mengatakan kita harus lewat hutan ini, bagaimana dengan yang lain, apakah ada yang punya pendapat lain?", tanya Asmodeus.


"Kami ngikut mas saja", ucap yang lain.


Clara mengangkat tangannya, "Apa intuisimu itu benar - benar akurat? bukankah karena itu Erina jadi terjebak dalam bahaya?"


"Ah itu...", Asmodeus jadi kebingungan menjawab.


Emily tersulut emosi mendengar pertanyaan Clara, "Mbak..kalau punya pendapat yang lebih baik ya langsung utarakan saja! kenapa harus berkata tak sopan begitu?"


"Loh, kok lo yang emosi?"


"Emily sudahlah, sekarang ini aku tidak dalam kondisi yang terbaik, jadi kalau ada yang punya ide lebih baik aku akan mendengarkan"


"Gue gak punya ide yang lebih baik, cuma mastiin aja kalau kita semua gak bakal jatuh ke dalam bahaya"


Emily benar - benar geram dengan sikap Clara. Namun pak Uwo dan Dewi menepuk - nepuk pundaknya sambil menyuruhnya bersabar.


Mereka semua pun mulai memasuki area hutan


hutan tersebut memiliki pepohonan yang sepertinya telah berusia ribuan tahun.



"Kalian harus waspada dengan sekitar! di hutan banyak hewan yang berbahaya", Asmodeus memperingatkan.


"Gue pernah memegang ular, kalajengking dan tarantula juga, kayaknya B aja", ucap Clara.


"Jangan takabur, kita gak tahu akan menghadapi apa disini", ucap pak Uwo dengan suara yang menenangkan.


"Iya pak...ucapanmu selalu bijak ya, padahal wujudmu seram begitu"


Lagi - lagi Emily merasa geram dengan Clara yang ceplas ceplos.


Namun Dewi yang menenangkan Emily.


Dijalan mereka bertemu dengan hewan seperti laba - laba, ular, dan kalajengking namun dengan ukurang sebesar kuda atau sapi.


Clara adalah orang pertama yang melompat dan berteriak ketakutan.


Namun semua bisa diatasi oleh Asmodeus, karena mereka hanya hewan biasa yang tak memiliki kekuatan khusus.


Lalu di depan mereka terlihat sebuah goa batu yang gelap.


"Ah gue ogah masuk kesana", ucap Clara dengan yakin.


Namun semua orang mulai memasuki goa itu sesuai instruksi Asmodeus.


"Oh, apa harus kesana? kan banyak jalan yang lain"


"Kalau mbak mau tinggal disini silahkan", ucap Emily sambil masuk kedalam.


"Akh..sial", Clara akhirnya ikut masuk ke dalam goa.


Di dalam goa, Asmodeus mengeluarkan pedangnya yang berapi untuk menerangi jalan.


Ada tangga yang terbuat dari bebatuan yang disusun menuju ke arah dalam goa yang lebih dalam.


"Kalau di dalam sana ada jebakan gimana?"


"Bisa jadi"


Satu persatu jebakan mulai muncul selayaknya film - film pencarian harta karun.


Panah - panah yang menembak otomatis, kampak yang mengayun diantara tembok, semburan api, juga duri - duri yang muncul dimana - mana.


"Ke...kenapa ini seperti di film - film yang pernah kutonton?", Clara ketakutan setengah mati sambil mendekap di belakang Asmodeus.


Kemudian mereka tiba di sebuah ruangan yang agak luas, dan di tengahnya ada sebuah podium yang menyimpan benda kecil seperti kristal.


Semua orang tak ada yang berani menyentuh kristal itu, mereka memperhatikan sekitarnya mencari petunjuk.


Clara mendekati kristal itu, "sepertinya kristal ini sebuah jebakan, kalau diambil nanti akan terjadi sesuatu"


"Iya..maka itu jangan...", sebelum Asmodeus selesai bicara.


Clara sudah mengambil kristal tersebut.


Mereka semua tercekat.


Dalam sekejap lantai yang mereka pijak langsung rubuh, dan semua orang terjatuh ke lubang hitam.


"Aaaaaaaaahhhh....."


...----------------...


Beberapa orang tak sadarkan diri karena terjatuh di tempat yang berisikan benda - benda keras.


"Dimana ini?"


Rupanya mereka telah tiba di ruang harta karun.



Ruangan yang berukuran sebesar lapangan sepak bola itu penuh dengan emas yang bergelimpangan dan berbagai benda berharga lainnya.


Namun aura di tempat itu sangat negatif dan menekan.


Clara yang melihat begitu banyak emas langsung terpukau.


Asmodeus yang tadinya waspada juga sekarang tak memperhatikan, Ia tak menyadari ada sesuatu yang mengawasi mereka.


Kemudkan seperti ada yang berlari sangat kencang, sekelebat, tak bisa dilihat oleh mata orang biasa.


Asmodeus langsung waspada, Ia mengacungkan pedangngnya, dan menyuruh semuanya berkumpul.


Lalu ada yang keluar dari kegelapan.


Itu adalah seekor kera putih, dengan baju seperti seorang pendekar cina dan tongkat emas yang panjang, "Kulihat kalian tertarik dengan benda - benda yang berkilau ya?"


"Sun Wukong?!"