My Heart From Hell

My Heart From Hell
Goddess of Witchcraft



Lily mengacungkan tongkat sihir kayu yang berwarna hitam, ke arah para penyihir buruk rupa itu.


Para penyihir itupun merasa tertantang.


"Erina, memangnya Lily masih memiliki kekuatan sihir?" tanya Damien


"Aku juga tak tahu, semenjak aku bertemu, dia hanya seorang manusia biasa"


"Tapi selagi aku bersamanya, dia memang mampu menciptakan obat dan ramuan yang benar - benar manjur, jangan - jangan kekuatannya telah kembali"


Lily mengeluarkan potongan kecil batu permata dari cincin Erina.


"Nak maaf, mama meminjam ini"


"Memangnya mama mau apa dengan itu? sudahlah ikuti saja permainan mereka, itu mudah kok"


"Aku tak sudi, aku akan melawan mereka sebagai sesama penyihir"


Succubus berbisik "kalau yang kulihat, egonya tersenggol karena Ia juga adalah seorang penyihir"


Erina jadi sangat khawatir ibunya itu akan terkena masalah.


"Hihihihihi..menarik, kau mau melawan kami semua!? memangnya siapa kau? dengan bermodalkan tongkat jelek begitu saja"


Tanpa banyak berkata, Lily membuat lingkaran mantra yang mengelilinginya, kemudian tubuhnya dan matanya bercahaya.


"Kalian akan menyesal telah meremehkanku"


pakaian Lily berubah menjadi pakaian penyihir, jubah coklat panjang dengan tudung dan juga segala aksesorisnya yang berwarna emas.


Erina takjub melihatnya.


"Aku adalah Hecate Leeora, keturunan dari Titan Kronos, dan dewi penguasa ilmu sihir, bagi yang menentangku akan merasakan akibatnya" suara Lily menggema.


Ia juga memanipulasi auranya menjadi intimidatif, menyebabkan para penyihir menjadi ketakutan setengah mati.


"A..ampuni kami, kami tak tahu jika engkau adalah seorang dewi",para penyihir membungkuk dan menghormati Hecate.


"Ah untunglah, tidak perlu terjadi pertumpahan darah"


Erina merasa lega karena keadaan menjadi terkendali.


Namun ternyata tidak hanya itu, Hecate mengayunkan tongkatnya dan mengeluarkan mantra, "Kekuatan kalian sekarang adalah milikku! milikku semuanya!"


Semua kekuatan dari puluhan penyihir itu tersedot semua melalui tongkat sihir Hecate, layaknya penghisap debu.


Dalam sekejap para penyihir itu menjadi kurus kering dan tak berdaya, seperti mayat hidup.


"Aaahh..apa yang mama lakukan? bukankah mereka sudah memohon ampun?!" Erina merasa perbuatan ibunya itu agak berlebihan.


Hecate menatap Erina dengan tajam, tatapan itu bukanlah tatapan ibunya yang dia kenal.


"Erina, itu bukan Lily! kau harus berhati - hati"


Succubus melindungi Erina.


"Lily tidak memakai kalung jimatnya! sepertinya Ia berubah menjadi sosok yang tidak kita kenal"


ucap Damien


"Kalian makhluk rendahan, tidak akan berhasil melewati menara ini, akulah yang akan mendapatkan kekuatan" Hecate mulai melayang dan di sekitarnya timbul pusaran angin yang kencang.


Semua orang terjatuh.


"MAMA SADARLAH!!" teriak Erina


"Tidak ada mamamu disini bocah!" Hecate mengeluarkan mantra yang sangat kuat hingga merobohkan gerbang, lalu Ia terbang masuk ke dalam menara.


"Cepat, kita harus menyusulnya!" Erina mengajak semua orang menuju ke menara melalui sebuah jembatan besar.



Setelah masuk ke dalam, terlihat suasana yang seperti kastil tua dengan banyak ornamen yang sudah usang.



Erina dan yang lainnya melihat ratusan werewolf yang berdatangan dari setiap sudut ruangan dan mulai menyerang Hecate.


Namun Hecate membantai semuanya satu persatu dengan sihirnya.


Ada kawanan werewolf yang melihat ke arah Erina dan langsung menghampiri, namun Damien bertindak cepat dan langsung menebas semua hingga tak tersisa.


Leiva dan Varlo berpelukan dengan Succubus karena ketakutan.


Di kejauhan, Hecate bertemu dengan werewolf raksasa yang sepertinya merupakan pemimpinnya.


Pemimpin werewolf itu cukup tangguh, namun bukan hal yang sulit bagi penguasa ilmu sihir untuk mengalahkannya, beberapa mantra kejutan listrik dan juga kobaran api, dan akhirnya Ia tersungkur.


Hecate yang telah membantai ratusan werewolf jatuh pingsan karena kelelahan, Ia telah menggunakan energinya dalam jumlah besar.


Erina segera berlari menghampirinya


"Mama, mama gak apa - apa?"


Hecate telah kembali menjadi sosok Lily, Ia menjawab dengan setengah sadar "Nak, kita ada dimana?"


"Di dalam menara ma"


"Wah, kau berhasil membuka gerbangnya ya"


"Bukan aku, tapi mama yang membukanya"


"Hah, aku? kok bisa!?" Lily heran


Succubus menghampiri Lily dan memegang keningnya "Hmm..sepertinya kesadarannya telah diambil alih sejak kita memainkan permainan itu"


Setelah diceritakan kejadiannya, Lily terkejut.


"jadi Hecate yang melakukannya, padahal aku cuma sempat memikirkan hal seperti 'ah para penyihir ini level rendah dibandingkan aku dulu' lalu tiba - tiba aku tak ingat apa - apa lagi, apa karena aku lupa memakai kalung jimat ya"


"Iya ma, aku jadi sempat takut melihat mama"


"Maaf ya nak, kamu jadi lihat sisi mama yang gak semestinya terlihat"


"Tapi kau tak bisa menyembunyikan itu selamanya" ucap Succubus


"Iya aku tahu, ini bisa terjadi juga karena beberapa faktor, saat memasuki desa penyihir itu aku merasakan aura yang berbeda, aura yang dapat membangkitkan sumber inti kekuatan yang terpendam, lalu aku menyepelekan mereka, ditambah lagi tidak sedang memakai jimat itu"


"Tapi, aku jadi tahu kalau mama ternyata sangatlah kuat"


"Ah kalian sekeluarga adalah orang kuat semua ya, aku jadi iri" ucap Damien sambil menoleh ke arah lain.


"Kekuatan menjadi percuma ketika kita tidak mampu mengendalikannya Dam, lebih baik jadi orang biasa - biasa saja"


"Ya semoga setelah ini selesai, kita bisa jadi orang biasa - biasa saja"


"Memang kau tak mau jadi astral lagi?"


"Kalau bisa aku ingin reinkarnasi aja"


Mereka beristirahat sejenak karena Lily yang kelelahan. Namun meskipun tidak menjadi sosok Hecate, Ia tetap memiliki beberapa kekuatan sihir yang bisa digunakannya.


Ketika hendak melanjutkan perjalanan, muncullah sang pria misterius.


"Halo, kalian telah menyelesaikan lantai pertama dengan baik, silahkan naik ke tangga itu untuk ujian selanjutnya"


"Gila, apa ada orang biasa yang bisa melewati ujian semacam ini?"


"Tentu saja ada, faktor keberuntungan juga penting"


"Ngomong - ngomong, apa tiap lantai akan berbeda?"


"Ya, nanti saya akan muncul untuk memberitahukan tata cara yang harus dilakukan"


Pria itupun menghilang.


Mereka berenam menaiki tangga yang penuh dengan ornamen untuk menuju ke lantai berikutnya.