My Heart From Hell

My Heart From Hell
Nightmares



Erina memeluk wanita yang Ia duga adalah ibunya dengan sangat erat, air manatanya terus menetes sambil menyatakan perasaannya.


"Mama, bagaimana kabarmu? akhirnya kita bertemu, maaf ya kalau dulu aku pernah menyusahkanmu"


Wanita itu membuka matanya secara tiba - tiba.


Erina terkejut.


Wanita itu melotot dan berbicara dengan


suara yang serak.


"Dasar wanita iblis!"


Erina merinding.


Wanita itu mengangkat tangannya perlahan, lalu mulai mencekik Erina.


"Aaahh.. Mamaa kenapa begini?"


Tiba - tiba pandangan Erina menjadi gelap.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


"Erina! Erina bangun!"


Terdengar sayup - sayup suara Asmodeus memanggil Erina.


Erina membuka matanya perlahan.


"Mama.. mana Mama??"


Erina panik lalu mencari wanita yang tadi bersamanya.


"Mama? kamu habis bermimpi ya?"


Tanya Asmodeus.


Rupanya Erina dan Asmodeus masih berada di samping mobilnya yang terbalik setelah terjatuh dari jurang.


"Aahhh.. rupanya cuma mimpi, padahal tadi rasanya sangat nyata, aku sudah sangat senang bisa ketemu Mama, meskipun sikapnya sangat aneh menurutku"


Erina merasa sangat kecewa.


"Kepalamu terluka, wajar kalau kamu pingsan dan berkhayal"


Asmodeus mengusap kepala Erina dengan tangan kirinya.


"Kamu gak luka? itu tanganmu kenapa?"


Erina melihat tangan kanan Asmodeus yang terkulai.


"Aku gak apa - apa kok?"


Asmodeus berusaha menyembunyikannya.


"Bohong, kok kayak nggak bisa bergerak begitu?"


Erina nampak begitu khawatir


Ia memegang tangan Asmodeus, dan ternyata lengan kanannya patah dan tidak dapat digerakkan.


Rupanya tangan kanan Asmodeus tergencet atap mobil ketika memeluk Erina saat mobil terjerembab ke dalam jurang.


Erina mengikat tangan Asmodeus menggunakan kain yang ada di dalam mobil.


"Mo.. kamu gak perlu segininya untuk melindungi aku"


"Itu b**ukan masalah, karena tujuan hidupku memang hanya untuk melindungimu**"


Erina merasa tersentuh, namun Ia lebih tak tega melihat kekasihnya yang mengalami cidera, yang akan membuat perjalanan ini menjadi semakin sulit.


"Disini sangat dingin, sebaiknya Kita mencari rumah warga di dekat sini"


Erina memberikan saran.


"Hah? memangnya ada desa di dekat sini?"


"Iya, desa Vyatskoye yang kita cari ada di dekat sini, dan aku bertemu seorang keturunan Lucifer lagi"


"Wah, siapa dia?"


"Kalau memang mimpiku tadi benar, Ia adalah seorang keturunan penyihir. Dia mengalami masa hidup yang benar - benar sulit, dan sangat ingin membalas dendam kepada Lucifer"


"Mungkin saja dia adalah arwah yang benar - benar masuk ke dalam mimpimu, dan Ia mencoba membimbingmu ke jalan yang seharusnya"


"Iya, aku juga merasa demikian. Hei lihat ada perbatasan! persis seperti di dalam mimpiku"


Erina menunjuk ke arah depan.


Namun ketika mereka mempercepat langkahnya, dari balik kabut muncul sesosok bayangan. Dua, tiga, lima, bahkan puluhan bayangan beruang coklat besar.


"Na.. cepat ke belakangku! ini berbahaya!"


Asmodeus maju ke depan Erina.


"Ini sih kita gak bakal selamat Mo..."


Erina bergidik ngeri.


"Kalau mereka menerkam aku, kamu lari sekencang mungkin!"


"Aku gak bakal ninggalin kamu! biar aja kita mati bersama"


Erina memeluk Asmodeus dari belakang dengan sangat erat.


Asmodeus menghela nafas, ia tahu Erina tak akan mendengarkan instruksinya kali ini.


Puluhan beruang coklat yang bertubuh sangat besar mulai berlari ke arah mereka berdua.


Mereka hanya bisa diam, menutup mata dan berpelukan.


Beruang itu hanya berjarak satu meter.


"Mimpi! ini hanya mimpi!"


Erina berteriak.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


"Mo.. bangun!"


"Ahh pusing, dimana kita?"


"Di mobil yang terbalik"


"Mana para beruang itu?"


"Kau juga bermimpi ada beruang? astaga


jangan - jangan mimpi kita sama"


Mereka saling menatap bingung, mereka tak bisa membedakan lagi mana yang mimpi mana yang kenyataan.


"Apa kita sedang berada di mimpi lagi?"


"Entahlah, rasanya begitu nyata", Erina melihat sekeliling.


"Menurutku, tempat ini memilki aura mistis yang begitu kuat, yang bahkan bisa mempermainkan alam bawah sadar kita"


Asmodeus membuat kesimpulan.


Erina memeluk Asmodeus.


Akhirnya mereka berdua berdiam diri sambil meringkuk di dekat mobil yang sudah terbalik itu.


"Mo.. di.. ngin banget", bibir Erina bergetar.


"Iya.. a.. aku juga"


Seluruh tubuh mereka menggigil hebat.


Mereka berdua pun berpelukan dengan sangat erat.


Lalu tubuh mereka mulai mengalami perubahan, dari yang merasa begitu dingin, tiba - tiba terasa begitu panas, hingga seperti terpanggang, semakin lama pandangan mulai kabur, mereka mengalami hipotermia.


"Mo.. aku.. mencintaimu.."


Ucap Erina dengan suara lirih.


Asmodeus terdiam.


Matanya memutih, bibirnya membiru, tubuhnya kaku, nyawanya sudah tak lagi di tubuhnya.


"Mooo.. jangan tinggalin akuuuu"


Erina menangis kencang.


Pandangan Erina menjadi gelap.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Erina membuka matanya, Ia berada di kamarnya di apartment.


"Oh tidak, apalagi ini?", gumamnya kesal.


Tiba - tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya dan membukanya sedikit, lalu terdengar suara yang begitu lembut.


"Nak, kalau udah bangun itu ada sarapan ya di meja, Ibu mau pergi kerja dulu"


Itu adalah suara mendiang ibu angkatnya.


"Ya ampun, bahkan sekarang waktunya mundur


jauh sekali", Erina memegang keningnya dan merasa pusing.


Erina benar - benar tidak mengerti apa yang sedang dialaminya, mana mimpi, mana halusinasi, dan mana kenyataan. Realita telah diputar balik.


Erina keluar dari kamar, suasananya nampak baik - baik saja seperti delapan tahun yang lalu.


"Erina, kamu nggak kuliah hari ini?"


tanya seorang pria paruh baya yang sedang menyesap secangkir kopi di meja makan.


"Nggak yah, hari ini gak ada kelas"


"Oke kalau gitu, ayah nanti lembur jadi pulangnya agak malam ya, kamu hati - hati dirumah", ucap ayah Erina seraya mengambil tasnya lalu beranjak dari kursi makan dan menuju ke pintu depan.


"Ayah pergi dulu"


Ayah Erina keluar sambil melambaikan tangannya, Erina juga melambai kepadanya.


Di luar Ia menerima telepon dari seseorang, suaranya terdengar sampai ke dalam.


"Iya..pasti saya bayar, sabar ya pak, minggu depan pasti saya bayar kok"


suaranya terdengar panik.


Terlilit hutang memang membuat hidup seseorang menjadi tidak tenang.


Erina termenung, Ia ingat betul ini adalah hari Ia kehilangan orangtua angkatnya yang mengurusnya sedari kecil.


"Apa yang harus kulakukan ya? a****ku tahu ini mimpi, tapi kalau aku bisa berbuat seperti yang kumau.. bagaimana jika kucegah kecelakaan itu ya?"


Erina berfikir untuk mencoba melakukan sesuatu.


...----------------...


Pukul enam sore, Erina bergegas pergi dari apartmennya. Ia tahu persis tempat kejadian orangtuanya mengalami kecelakaan. Ia berjalan dengan cepat.


Ketika sedang berjalan kaki, cuaca tiba - tiba berubah menjadi hujan deras. Erina pun berteduh di sebuah payung besar di cafe dekat jalan raya.


"Ah, setahuku dulu cuacanya nggak begini,


apa karena ini hanya mimpi ya? jadi bisa


berubah begini"


Erina menduga - duga.


Erina melihat perempatan di depannya, di sinilah mobil orangtuanya ditemukan hancur karena tertabrak truk tronton yang dikabarkan kehilang kendali akibat rem blong.


Erina menunggu, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan.


Tak lama, terlihat lampu dari mobil kuning kecil yang berjalan pelan, itu adalah mobil orangtuanya.


Di dalamnya terlihat sang ayah yang baru menjemput ibu sepulang bekerja, dan mereka sepertinya sedang membahas topik yang cukup serius.


Lalu dari arah berlawanan, di kejauhan terlihat truk tronton yang berjalan dengan kencang.


Erina menjadi tegang, namun karena ia yakin ini hanya mimpi, Ia memberanikan diri pergi ke persimpangan jalan dan berusaha meminggirkan mobil orangtuanya itu selagi masih jauh.


Erina melambaikan tangannya seraya berlari ke tengah jalan.


Ayahnya segera menghentikan mobilnya, "Erina, kenapa kamu ada di sini?"


"Sebentar lagi ada truk yang kencang dan remnya blong, ayah dan ibu harus hati - hati!"


Meskipun bingung dengan ucapan Erina, ayahnya meminggirkan mobilnya. Kondisi jalan saat itu sangat sepi.


Beberapa menit kemudian, diluar dugaan truk itu lewat begitu saja dan tidak terjadi apa - apa kepada mobil kuning.


Erina mengusap dadanya dengan lega, paling tidak di mimpi ini Ia berhasil mencegah kecelakaan itu terjadi.


"Nak, kamu tahu darimana kami di sini?", tanya ibunya dari dalam mobil.


"Aku..."


Belum selesai Erina berbicara, tiba - tiba truk yang tadi lewat, berbalik arah, dan langsung menghantam mobil kuning kecil dari belakang hingga hancur.


Kejadian itu terjadi tepat di depan Erina.


Erina begitu terkejut sampai tak mampu bergerak.


Ia pun menghampirinya perlahan. Mobil kuning ringsek tak berbentuk, darah berceceran dimana - mana.


Erina tak kuasa melihat kejadian ini, tubuhnya gemetar dan dengkulnya lemas, Ia terduduk.


Dari jendela supir truk, muncullah sang sopir


Itu adalah Lucifer.


"Hei, jangan coba - coba merubah takdir ya..ahahahaahaahahahahahahaahahahahahahahahahahahahahahahahaahahahahahahahahahahahahahhahahahaahahahahaha..."


Tawanya panjang dan menggema di kepala Erina, sangat sakit mendengarnya.


Erina pingsan,


Untuk yang kesekian kalinya.


Ia sudah muak,


Untuk meyakini lagi,


Yang mana kenyataan,


Yang mana yang mimpi buruk.


Ia terjebak, di ambang sadarnya.


Mungkin selamanya.