My Heart From Hell

My Heart From Hell
Unleashed



Asmodeus, Succubus, Behemoth dan Erina berada dalam posisi siaga, namun tiga dari mereka merasa resah karena tak bisa melihat siapapun yang memasuki ruangan itu. Mereka hanya mampu merasakan aura yang berat yang menekan dan membuat perasaan menjadi tidak nyaman.


"Sial kalau mereka tidak menampakkan diri kita tidak bisa apa - apa", Asmodeus kesal


"Awas! mereka datang!", teriak Erina.


Mereka bertiga mulai menyerang, namun karena tak dapat melihat siapapun, mereka hanya memukul - mukul udara seperti orang bodoh.


Tiba - tiba Asmodeus, Succubus, dan Behemoth seperti tersedak. Sesuatu memasuki kerongkongan mereka, mereka mulai batuk - batuk, lalu sikap mereka berubah dan mulai bertingkah aneh. Mereka berteriak histeris dan mulai menyakiti dirinya sendiri, seperti membenturkan kepalanya ke dinding dan memukul - mukul perutnya, mereka kerasukan.


Erina terkejut melihatnya, karena yang Ia khawatirkan terjadi, "gawat, rupanya mereka bermain aman dengan cara merasuki tubuh"


Lalu, Asmodeus, Succubus, dan Behemoth bergerak hendak menyerang Erina. Mata mereka menjadi putih dan gerakannya seperti zombie.


Erina menghindar semampunya, karena serangan mereka benar - benar kacau dan tidak terarah.


Selagi menghindar, Erina melihat ke sudut gerbong, Belial menggerakkan jari - jarinya seperti sedang memainkan boneka wayang.


Erina langsung yakin Ialah biang keroknya. Namun Ia sadar diri bahwa tak mungkin ia mampu melawan seorang iblis berlevel tinggi.


Namun Ia teringat kata - kata Asmodeus, yaitu ada sedikit kekuatannya yang tersimpan di dalam cincin permata yang Ia pakai.


Erina mendekap cincin di jarinya, memejamkan mata, lalu memohon untuk diberikan kekuatan.


kemudian Ia mengacungkan kepalan tangannya ke arah para astral dan Belial, laku berteriak sekuat tenaga,


"PERGILAH KALIAAAN!!!"


Cincin tersebut tiba - tiba mengeluarkan cahaya jingga yang begitu silau, kemudian cahaya itu membuat semua astral termasuk Belial terlempar selayaknya angin topan yang sangat kencang.


Belial cukup terkejut dengan kekuatan itu, Ia tercengang. Para astral rendahan itu mulai kalang kabut dan berlarian, Erina mendekati mereka perlahan sambil mengarahkan cincinnya yang bercahaya.


"Aku akan memusnahkan kalian jika kalian tidak pergi dari sini!"


Ancam Erina dengan suara yang dibuat - dibuat.


Para astral pun lari tunggang langgang keluar dari kereta, namun Belial bangkit dan mendekati Erina.


"Sungguh menarik, aku akan mengabarkan hal ini kepada boss"


"Terserah! sudah sana pergi!", Erina memaksa.


Belial pun menghilang dalam kabut.


Lalu Erina melihat Asmodeus dan yang lainnya masih pingsan.


Erina berusaha menyadarkan mereka.


Asmodeus pun tersadar, dan langsung khawatir melihat Erina, "Na, apa yang terjadi!? kamu gak apa - apa?"


Erina tersenyum, "Aku gak apa - apa kok, aku berhasil mengusir mereka deng...... dengan..."


sebelum menunjukkan cincinnya, Erina kehilangan kesadaran lalu pingsan di pangkuan Asmodeus.


Masinis dan seluruh awak kereta yang sudah sadar, membuat kereta melanjutkan perjalanannya.


......................


Di gerbong kamar tidur.


Lebih dari dua jam berlalu, namun Erina tak kunjung sadar.


Ia seperti tenggelam di dalam mimpinya. Di mimpinya Ia melayang di tengah kegelapan yang begitu pekat, dan tak ada apapun di sekitarnya.


Perlahan cahaya jingga muncul tepat di depannya, kemudian berubah menjadi bentuk sosok Lucifer.


"Salam wahai putriku yang manis, bagaimana kabarmu?"


"Hei kenapa kau mucul di hadapanku? perjanjiannya bahkan belum berakhir"


"Karena ini di alam mimpi, jadi perjanjiannya


tak berlaku di sini"


"Lagipula, kenapa a**ku tetap diganggu oleh rekan - rekanmu? itu kan pelanggaran**"


"Karena mereka bukan anak buahku, jadi tak ada kaitannya"


"Hmm.. rupanya perjanjian itu banyak celahnya ya?", Erina menyipitkan matanya.


"Yah, bisa dibilang begitu", Lucifer tampak tak peduli.


"Akupun akan mencoba mencari celah untuk mengakalinya"


"Untuk apa repot - repot? toh sebentar lagi aku akan membawamu juga"


"Kenapa!?", Erina terkejut.


"Karena pencarianmu akan sia - sia, Ibumu sudah tiada, Ia akhirnya wafat setelah bertahun - tahun terbaring koma"


"Tidak mungkin! jangan memperdayaku!"


Erina mulai terlihat gentar.


"Aku sudah melihatnya, Ia berada di desa kecil, jauh dari tempat yang kalian tuju"


"Pergi Kau!! jangan ganggu aku!", Erina meneriaki Lucifer dalam mimpinya.


Lucifer tersenyum licik dengan sangat lebar, sosoknya perlahan menghilang.


Erina terbangun, kepalanya terasa sangat sakit


"Na.. kamu gak apa - apa? kamu pingsan


selama dua jam", Asmodeus sangat mengkhawatirkannya.


"Dua jam? aku gak apa - apa, tapi tadi Lucifer mengunjungiku di mimpi"


Erina pun menceritakan semua yang dikatakan Lucifer di mimpinya.


"Succubus, Behemoth, kalian kan pengikut setia Lucifer, menurut kalian apakah yang Ia katakan itu benar?"


Asmodeus bertanya.


Succubus dan Behemoth saling bertatapan dan berpikir.


"Setahuku, omongan iblis memang tak bisa dipercaya, namun berbeda jika itu tuanku, Ia tak pernah berbohong sebusuk apapun kata - katanya", Jawab Succubus.


"Satu - satunya iblis yang tak pernah berbohong adalah iblis yang pernah menjadi malaikat"


Behemoth menambahkan.


"Eh tapi, waktu Ia mengancammu akan mengambil kecantikanmu waktu itu, bukankah Ia berbohong?", Behemoth mengingat kejadian tempo hari.


"Tidak, Ia hanya menundanya, kalau terjadi lagi Ia akan benar - benar melakukannya", ucap Succubus dengan perasaan agak ngeri.


"Masa sih Lucifer dulunya malaikat?"


Erina terkejut.


"Makanya dia dijadikan iblis?"


"Benar, karena dia membangkang, sifat dasar iblis adalah membangkang dari aturan yang diberikan"


"Hmm.. seperti yang kamu lakukan terhadapku sekarang kan? kalian juga"


Erina menunjuk kearah Asmodeus, Succubus dan Behemoth.


"Iya Na.. biar bagaimanapun kami terlahir sebagai iblis"


Asmodeus bicara sambil menunduk.


"Sudahlah bukan itu intinya sekarang kan", Erina mengelus kepala Asmodeus.


"Eh ngomong - ngomong, bagaimana kamu tadi bisa melawan mereka?"


"Oh iya ini karena cincin darimu, hebat lho"


,ucap Erina seraya menunjukkan jarinya.


"Tak mungkin, cincin ini tak memiliki kekuatan seperti itu, sepertinya ini hanya menjadi medianya, tapi yang keluar adalah kekuatan dari dirimu"


"Waah begitu ya, tapi setelah mengeluarkan kekuatan itu aku jadi lelah banget seperti habis marathon dua hari non stop"


"Iya itu wajar, tubuhmu yang sekarang belum siap dengan hal semacam itu"


"Berarti memang hal yang ditakutkan Lucifer itu benar adanya ya", Erina merenung.


Merekapun melanjutkan perjalanannya.


Di kamar, yang kapasitasnya hanya untuk dua orang, terasa begitu sempit ketika diisi oleh empat orang.


Asmodeus memicingkan matanya kearah Behemoth, Behemoth menjadi gelisah.


"Ah.. Sue.. bagaimana kalau kita mencari kamar lagi? disini kan hanya untuk dua orang"


Behemoth membujuk Succubus.


"Begitu ya, biar saja, aku mau disini. Lagipula kita tak punya uang untuk menyewa kamar, kita hanya orang miskin yang menjadi penumpang gelap sekarang"


"Gunakan ini, kalian bisa mendapat kamar


tipe apapun"


Asmodeus menunjukkan kartu pass yang diberikan oleh Alexei.


Behemoth pun menarik paksa Succubus yang tidak ingin keluar


"Hei! kau nggak peka banget sih, aku kan ingin sekamar dengan pujaan hatiku!"


"Justru kau yang nggak peka, mau dilempar oleh Erina seperti Belial tadi?"


"Ah iya, kita sepertinya benar - benar tak berdaya sekarang, ahhh.. apa yang


kupikirkan sih?"


Succubus tampak menyesal dengan keputusannya menjadi manusia.


Setelah memesan, mereka berdua akhirnya mendapatkan kamar dengan kasur bertingkat.


Succubus langsung berbaring di kasur bagian atas dan menghadap ke dinding. Behemoth memperhatikannya dari bawah, Ia tak menyangka bisa sekamar dengan Succubus, namun Ia sadar diri bahwa Succubus sama sekali tak memperdulikannya.


Succubus menangis dibalik selimut, Ia merasa benar - benar menjadi makhluk tak berdaya, Ia ingin kembali ke kehidupannya yang dulu, meskipun Ia tahu hukumnya, pengkhianatan akan berujung kepada pemusnahan.


...----------------...


Empat hari berlalu dengan lancar di dalam kereta, tak ada kejadian aneh lagi.


Sebentar lagi mereka akan sampai di kota tujuan. Selama perjalanan, Behemoth selalu mengurus apapun kebutuhan Succubus, namun Succubus tak memperhatikannya dan tetap berusaha untuk dekat - dekat dengan Asmodeus.


"Mo...ada yang membuatku penasaran"


Erina bertanya


"Soal apa? kekuatanmu? iblis? malaikat? akhirat?"


"Bukan, tapi siapa mantannya Leviathan?"


"Ah.. itu..."


Asmodeus menggaruk kepalanya.


"Dia terlihat begitu kesal saat kamu mengancamnya"


"Jadi begini.. kamu tahu pantai selatan kan?"


"Ahh!! jangan - jangan Nyi Roro..."


"Iya betul, mereka sudah berpacaran ribuan tahun, namun wanita itu tetap saja posesif dan selalu curiga, sikap itu membuat Levi merasa sangat tak nyaman"


"Jadi mereka putus?"


"Ya, Ia menyebutkan alasannya putus waktu itu karena tuntutan pekerjaan di akhirat, karena saat itu dia baru menjabat. Padahal sebenarnya dia sedang berpacaran dengan wanita lain"


"Ih dasar semua cowok sama aja!"


"Enak aja! lalu.. ya jadi aku disuruh membantunya dengan mengatakan bahwa memang pekerjaannya membuat dia sangat sibuk sekali"


"Bagaimana kalau Nyi sampai tahu fakta itu?"


"Ia akan mengamuk sampai ke tujuh samudera"


"Dasar, jadi hutang budi seperti itu yang


kalian miliki"


"Ya tapi aku juga membantunya karena kami memang lumayan dekat, kami menjabat diwaktu yang berdekatan"


"Begitu ya, lalu soal kedua orang itu? apa kamu mempercayai mereka? mereka tadinya ingin membunuhku, lalu tiba- tiba datang begitu saja", Erina merasa ragu dengan kehadiran Succubus dan Behemoth.


"Rela menjadi manusia saja sudah membuktikan bahwa mereka memiliki hal lain


untuk dibuktikan, namun bukan untuk memenuhi tugas dari atasannya"


"Tapi bisa saja mereka memang mata - mata Lucifer"


"Kalau mereka mengkhianati kita, aku akan menghabisinya!", Asmodeus meyakinkan Erina.


Erina hanya tersenyum penuh ketidakyakinan.


...----------------...


Kereta pun tiba di stasiun terakhirnya, di kota Vladivostok.


Erina keluar dari kereta, tidak merasa bersemangat sama sekali, Ia begitu takut hal yang dikatakan Lucifer adalah sebuah kenyataan.