
Asmodeus menjelaskan rencana yang dia pikirkan kepada Beelzebub.
"Oke Bub, jadi rencananya begini, karena butuh unsur cahaya dan tanah, maka aku akan mencari seorang malaikat, juga seorang manusia untuk kuajak ikut"
"Kau bicara seolah mudah untuk mengajak manusia dan malaikat untuk ikut denganmu, memangnya kau sudah memikirkan siapa orangnya?"
"Ehmm..belum sih"
"Ck..kalau begitu lebih baik kau ke perpus dulu untuk mempelajari mantra itu, lalu ajaklah orang - orang yang kau kira akan mau"
"Ah baiklah, ternyata ini akan memakan waktu juga"
"Sudah kubilang, ini tak akan semudah itu, yasudah aku mau kembali ke kantor dulu"
"Baik, terima kasih untuk bantuanmu ya"
Beelzebub memberi salam kemudian Ia pergi.
Asmodeus keluar dari ruang rapat, dan mulai memikirkan siapa yang sebaiknya dia ajak, paling tidak orang itu harus dalam posisi mengenal Erina atau mengetahui apa yang sedang terjadi.
...----------------...
Asmodeus tiba di perpustakaan pusat akhirat.
Arsitektur klasik dan bahan kayu yang menghiasi semua elemen menimbulkan kesan yang hangat.
Ia menemui penjaga perpustakaan yang sedang sibuk mengurus dokumen dan pendataan.
Penjaga itu adalah seorang wanita
berkacamata dan berambut pendek, tubuhnya cukup mungil untuk tersembunyi di balik meja pustakawan.
"Permisi..", sapa Asmodeus.
Wanita itu sangat sibuk dan tak menyadari kedatangan Asmodeus.
"Permisi, apa saya boleh bertanya?"
Ia masih didiamkan.
Asmodeus akhirnya menekan sebuah bel di meja itu, 'tingg..'
Wanita itu menyadari sesuatu, Ia membetulkan kacamatanya lalu melihat Asmodeus.
"Ah maafkan saya, saya tak menyadari ada orang, apa yang bisa saya bantu?"
"Saya mencari sebuah buku untuk ritual pindah dimensi ke dunia bawah"
"Wah maaf mas, tapi itu disimpan di rak terlarang, hanya yang memiliki akses khusus yang bisa melihatnya"
"Oh begitu"
"Iya maaf ya"
"Apa ini bisa membantu?", Asmodeus menaruh kartu tanda pengenalnya di meja.
Wanita itu pun mengamati kartu itu sambil membetulkan kacamata tebalnya.
Kemudian Ia bulak balik melihat ke wajah lalu ke kartu Asmodeus untuk memastikan ini orang yang benar.
"Aa...anda tuan Asmodeus?", suaranya mulai bergetar.
"Benar"
"Aaakkk...maafkan saya! saya benar - benar tidak tahu", wanita itu panik dan langsung bersujud sambil memohon ampun.
"Hei, tak usah begitu, biasa aja", Asmodeus menyuruhnya bangun.
"Ba..baik saya akan mengantar anda ke area terlarang, silakan naik ke atas platform ini, kita akan ke lantai tiga belas"
Asmodeus dan wanita itu naik ke atas platform berbentuk persegi, lalu platform itu melayang naik ke atas secara perlahan.
Asmodeus berdiri di belakang wanita itu, lalu mendekatkan kepalanya.
"Siapa namamu?"
Wanita itu terkejut dan menjadi sangat tegang, "Na...sa..ma..ya..E..mily"
"Emily ya"
"A...apakah saya...akan dihukum di neraka?"
"Yaampun", Asmodeus menepuk jidatnya.
"Kau tenang aja, aku sekarang ini bukan perwakilan neraka. Ini hanya urusan pribadi"
Emily menatap Asmodeus dengan penuh harap, "Tuan tidak akan mencatat dosa - dosaku kan?"
"Itu sama sekali bukan urusanku"
Emily menghela nafas lega.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di segmen buku terlarang, terlihat ada lapisan pelindung yang berlapis, dan di tengahnya ada kotak kecil yang seukuran dompet pria.
"Silahkan tanda pengenal tuan ditaruh di kotak ini"
Asmodeus menaruh kartunya, lalu lapisan pelindung itu langsung hilang semuanya.
Asmodeus memasuki area terlarang.
"Sekarang ini tuan memiliki akses penuh untuk seluruh bagian terlarang. Sekarang saya tinggal dulu ya, kalau sudah selesai mohon panggil saya kembali", Emily memberi hormat dan hendak naik ke platform.
"Emily tunggu!"
"Ya tuan"
"Kau disini saja, temani aku"
"Ah..tapi"
"Suruh temanmu untuk berjaga di depan"
"Ba..baik", Emily kemudian menghubungi temannya untuk berganti shift dengannya.
Emily berdiri di sebelah Asmodeus yang sedang mencari - cari buku.
"Rupanya ada tiga buku ya?"
"Benar tuan, ketiganya saling berhubungan"
Asmodeus mulai membaca, Emily duduk dengan canggung di sebelahnya.
"Emily, apa kau punya orang yang kau sayang?", Asmodeus bertanya dengan mata yang tetap membaca buku.
"Ah..em..i..iya ada"
"Kalau dia jauh darimu, lalu kau tahu dia dalam bahaya, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku...akan berusaha menolongnya meski dari jauh"
"Tepat sekali"
Emily yang bingung sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, namun Ia bisa melihat kekhawatiran di mata Asmodeus yang nampak tenang.
"Selama berabad - abad, tak pernah ada hal yang membuatku sekhawatir ini"
"Maaf tuan jika saya lancang, tapi apakah saya boleh mengetahui permasalahannya?, siapa tahu saya dapat membantu"
Asmodeus pun menceritakan semua permasalahannya yang panjang lebar kepada Emily.
"Hmm..saya rasa cukup pelik juga"
"Begitulah, kurasa aku bahkan akan melepaskan posisiku sekarang ini"
"Sungguh dia adalah wanita yang begitu beruntung"
"Justru yang beruntung"
Emily berbicara didalam pikirannya, "Wanita manalagi yang bisa seberuntung itu, dicintai oleh petinggi super tampan dan rela mengorbankan apapun ini"
"Menurutmu begitu ya?"
"Hah, apanya?"
"Aku bisa membaca pikiranmu"
"Astaga, maafkan saya..", wajah Emily berubah sangat merah.
"Tidak apa.."
"Saya.."
"Nah!", Asmodeus menutup buku ketiganya.
"Anda sudah menyelesaikan ketiga bukunya?"
"Iya, aku sudah hafal seluruh mantranya"
"Waah...petinggi memang beda ya..", Emily takjub.
"Sekarang, dimana aku bisa mencari seorang malaikat dan seorang manusia?", Asmodeus menatap Emily.
"Malaikat? apa harus seorang malaikat murni atau bisa keturunan campuran?"
"Entahlah, yang pasti tertulis harus ada unsur cahaya"
"Setahu saya sulit untuk bisa mengajak seorang malaikat murni karena mereka terikat dengan tugas, namun anda bisa mencari seorang astral yang memiliki keturunan malaikat"
Asmodeus langsung antusias, "Apa benar ada astral keturunan malaikat? aku bahkan tak mengetahui hal itu"
"Tentu, itu dijelaskan di dalam buku 'Tentang Astral dan berbagai keturunannya', buku itu juga ada di segmen terlarang ini"
Emily mengambilkan buku yang dimaksud, lalu membiarkan Asmodeus membacanya.
"Woaahh..luar biasa, rupanya banyak hal yang aku belum tahu selama ini"
"Astral terus membuat keturunan campuran baru hingga saat ini, jadi semuanya selalu tercatat di halaman baru buku ini, padahal buku ini sudah sangat tua"
"Kau benar - benar hebat Emily! kau sangat membantuku"
"Ah tidak..", wajah Emily memerah lagi.
"Ciri - ciri astral keturunan malaikat, di pupil matanya yang merah terdapat lingkaran putih di sekitarnya, dan di punggungnya nampak ada bekas putih seperti pangkal sayap"
"Nah tinggal cari orang yang memiliki ciri - ciri tersebut"
Asmodeus langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Emily dengan sangat dekat, Emily membeku.
"Ah matamu tidak ada lingkaran putihnya"
"Tentu...saya bukan keturunan malaikat"
"Padahal enak kalau kau, bisa langsung kuajak"
Asmodeus pun berfikir keras tentang siapa saja astral yang dikenalnya yang tahu permasalahannya.
"Saya, sebenarnya kenal seseorang yang merupakan keturunan malaikat"
"Kenapa tak bilang daritadi? cepat antarkan aku kepadanya!", Asmodeus menjadi sangat antusias.
"Tapi, belum tentu dia mau ikut denganku", Ia langsung lesu lagi.
"Karena dia teman satu kosan saya, saya bisa membicarakannya supaya dia mau ikut dengan tuan"
"Benarkah?"
"Ya tapi saya harus mencobanya dulu"
"Baik, cobalah. Bilang padanya bahwa aku akan memastikan keamanannya selama perjalanan"
Mereka berdua pun pergi meninggalkan perpustakaan.
...----------------...
Mereka tiba di depan lobby akhirat.
"Lho, temanmu kerja disini?", tanya Asmodeus.
"Iya, itu dia", Emily menunjuk ke arah meja resepsionis.
"DEWI!!!", Asmodeus berteriak penuh kebahagiaan.
Emily terkejut, Dewi pun terkejut.
"Ah aku sangat bahagia bertemu denganmu", Asmodeus langsung memeluk Dewi tanpa ragu.
Dewi sangat bingung dengan situasti ini, begitupun Emily yang tak menyangka bahwa mereka saling mengenal.