
Erina dan Succubus berada di padang rumput yang luas, dengan bangunan seperti menara yang jauh berada di depan mereka.
"Kita tinggal menuju ke menara itu saja kan?" tanya Erina
"Entahlah, perasaanku mengatakan tidak akan semudah itu" jawab Succubus
"Oke, kita coba saja!"
"Baik, tapi aku akan coba melihat situasi di sekitar sini dulu" Succubus mengepakkan sayap hitamnya kemudian mulai terbang perlahan.
Tiba - tiba beberapa meter di depan "Kyaaa"
Succubus terpental jatuh, seperti ada yang menabraknya.
Erina berlari menghampirinya, "Kau tak apa - apa? ada apa tadi?"
"Di sekitar sini ada dinding yang tak terlihat, aku tak bisa melewatinya"
Erina penasaran dan mencoba dengan tangannya.
Tangannya seperti menyentuh benda padat kemudian tersetrum pada area tertentu.
"Ah bagaimana ini? rupanya kita tidak bisa lewat, padahal kita sudah sampai disini dengan cepat" Erina merasa kesal
Tiba - tiba entah darimana muncul seorang pria misterius dengan jubah dan tudung yang menutupi wajahnya.
"Apa kalian hendak menuju ke menara kekuatan?"
"Akh..i..iya pak, betul" Erina terkejut
"Kalian tak bisa masuk begitu saja, ada persyaratannya"
"Duh..apa boleh tahu syaratnya apa pak?"
"Dalam dua hari kedepan, disini akan terjadi peperangan"
"Peperangan?"
"Ya, perang antara dua klan yang berkuasa, satunya adalah klan Roviolo penguasa wilayah timur, dan satunya lagi klan Arblegas penguasa wilayah barat"
"Lalu?"
"Kedua klan ini sudah berperang selama berabad - abad untuk memperebutkan posisi untuk masuk ke menara kekuatan, namun setiap kali berperang, hasilnya selalu berbeda, karena mereka memiliki kualitas yang hampir sama. Jadi, sekarang ini, bagi yang ingin masuk ke menara, harus memilih ingin berada di pihak klan yang mana, lalu jika klan tersebut menang dalam perang, maka kalian bisa masuk ke dalam menara"
Erina dan Succubus saling bertatapan, mengkomunikasikan perasaan mereka yang bingung dengan penjelasan tersebut.
"Pergilah ke kota di sebelah timur jika kalian merasa Roviolo adalah pemenangnya, lalu ke barat jika yakin itu adalah Arblegas"
Erina mengangkat tangannya "Pak maaf"
"Ada apa?"
"Apakah benda ini memiliki fungsi yang penting di menara itu?" ucap Erina seraya menunjukkan kunci gerbang bercahaya yang dibawanya
"Aaahhh..kunci gerbang ketiga, bagus, itu mempermudah jalanmu nanti, tapi, sebelum itu kau tetap harus melalui dua gerbang sebelumnya"
"Jadi gerbangnya saja ada tiga?!"
"Betul, aku akan berikan bocoran. Gerbang pertama harus dilalui melalui perang klan, kemudian gerbang kedua, ada penjaga yang besar yang harus kalian lewati, yang ketiga, harus menjawab pertanyaan - pertanyaan sulit dari klan penyihir, namun jika memiliki kunci itu kau bisa melewatinya"
"Hufft..banyak sekali ya rintangannya" Erina mulai mengeluh
"Baiklah, semoga berhasil, aku yakin kalian adalah orang - orang yang terpilih" pria itu kemudian menghilang
"Bagaimana perasaanmu Erina?"
"Aku bingung"
"Aku juga, kurasa meski wujudku astral tapi tak bisa banyak membantu"
"Semoga saja kita bisa bertemu yang lainnya disini dalam dua hari"
Succubus terfikirkan sesuatu "Apa cahaya kunci itu dapat menunjukkan klan mana yang kemungkinan menang?"
Erina pun segera mengangkat kuncinya dan mengarahkannya ke timur, lalu barat.
"Ah, warnanya biru hanya ketika diarahkan ke menaranya"
"Eh tapi coba perhatikan! timur dan barat memiliki intensitas warna merah yang berbeda"
"Masa sih?" Erina memperhatikan
"Aku tak melihat perbedaannya"
"Aku merasa kita harus ke barat" Succubus yakin
"Tidak, feelingku mengatakan kita harus ke timur"
Mereka berdua pun semakin bingung karena tak memiliki perasaan yang sama.
"Oh teman - teman, cepatlah datang, bantu kami memutuskan"
Matahari sudah mulai akan terbenam.
"Sue, apa kau bisa melihat posisi kedua kota itu?"
Succubus terbang dan membelalakkan matanya "Ya..kedua kota itu lumayan jauh jika kita berjalan mungkin cukup akan menghabiskan waktu"
"Dan sepertinya kita tak bisa masuk begitu saja bukan?"
"Iya, sepertinya kita harus bernegosiasi dan menyesuaikan diri dengan klan yang kita pilih juga"
"Ada yang lupa kukatakan, kedua klan tersebut tidak mempercayai makhluk seperti monster, iblis dan sebagainya, jadi, baiknya kalian hanya bisa dalam wujud manusia untuk mendapatkan kepercayaan mereka"
"Ah tunggu, jadi mereka juga bisa menolak kami?"
"Tentu, mereka bisa menolak, mengusir, bahkan membunuh kalian jika mereka tak percaya. Makanya manfaatkan dua hari ini untuk mengambil hati klan yang kalian pilih" Ia menghilang lagi.
"Ribet banget deh ah persyaratannya" Succubus kesal
"Kita sepertinya gak bisa membuang waktu dengan hanya berdiam disini"
"Iya, tapi bahkan kita gak memiliki keputusan yang sama, masa kita harus berperang satu sama lain"
"Iya benar, sebaiknya kita tunggu sebentar lagi, mungkin Mama, Damien, dan Alexei udah mau sampai"
Malam pun tiba, suasana di padang rumput itu sangat hening, tak ada angin, suara hewan atau apapun.
Namun di kejauhan, seperti ada aktivitas di menara kekuatan. Atap menara itu mengeluarkan cahaya yang ditembakman lurus ke atas langit, dan terdapat pusaran udara dan petir diatas langit.
"Menurutku, itu adalah tanda seseorang sudah resmi mendapatkan kekuatannya"
"Yang benar? wah siapa dia ya kira - kira? seperti apa ya kekuatannnya? aku jadi penasaran"
Erina dan Succubus memutuskan untuk tidur di rerumputan lembut di alam terbuka karena merasa aman.
Namun terdengar suara orang yang mendekat, seperti suara dua orang. Erina dan Succubus menjadi waspada dan mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.
Erina mengintip dari balik rerumputan, itu adalah pria dan wanita yang sedang berpegangan tangan.
"Ayo kesini, lihat sepertinya itu menara yang dicari"
"Apa dia juga sudah ada disini?"
"Sepertinya sudah"
"MAMA!! DAMIEN!!" Erina panik dan berlari
"ERINA!"
Erina memeluk Lily, kemudian Damien dengan penuh haru.
"Syukurlah kalian menemukan jalan kesini"
"Kamu baik - baik aja nak?"
"Aku baik, mama gimana? banyak banget lukanya"
"Damien udah berusaha dengan baik melindungi mama"
Erina mentapa Damien dan tersenyum, Damien juga tersenyum.
Damien menyapa Succubus dan mempertanyakan penampilannya, "Hei, kok kau bertanduk dan bersayap?"
"Oh ini...ah pokoknya aku sudah menjadi astral lagi"
"Yang benar? gimana caranya?" Damien langsung antusias.
Succubus melihat ke arah Erina yang sedang terharu bertemu ibunya, kemudian berbisik kepada Damien.
"Oh waw, kau yakin begitu?" Damien nampak terkejut
Succubus mengangguk.
"Okeh, sekarang aku akan mengajukan pertanyaan secara spontan, barat atau timur!?"
Erina mendadak bertanya kepada Lily
"Ah, ada apa ini?"
"Udah mama jawab aja"
"Hmm..barat"
"Kalau Damien?"
"Timur"
Erina berjongkok dan merasa pusing.
"Sebenarnya ada apa nak? coba jelaskan?"
Erina mencoba menjelaskan semua yang dikatakan pria misterius kepada mereka berdua.
"Hmm..itu cukup gambling sebenarnya"
"Betul"
"Tapi, aku setuju untuk mengikuti feeling Erina"
ucap Damien
"Aku juga" tambah Lily
"Hmm..baiklah, aku juga ngikut aja" Succubus setuju
Erina bergumam dalam hatinya
"Duh..kenapa aku malah merasa jadi terbebani ya, semoga aja perasaan ini mengarah kepada hal yang benar"
"Baiklah, besok kita pergi ke klan Roviolo di arah timur" ucap Erina dengan yakin.