My Heart From Hell

My Heart From Hell
Crown to Control



Pak Uwo pun membawa mereka ke tempat sumber energi itu berada. Itu adalah sebuah menara setinggi seratus meter yang terbuat dari bebatuan yang ditumpuk.


"Silahkan, kalian bisa beristirahat di sini", pak Uwo menurukan Erina dan Lucifer di lantai paling atas, yaitu ruangan besar yang serupa dengan singgasana kerajaan.


"Luar biasa, kau adalah raja di sini", ucap Erina kagum seraya memperhatikan sekelilingnya.


Lucifer hanya terdiam, lalu ia melihat kursi panjang yang empuk dan begitu menggoda untuknya beristirahat.


"Yang mulia, bolehkah hamba beristirahat di kursi itu?", tanya Lucifer.


"Ah tidak perlu begitu, tuan boleh beristirahat dimanapun", pak Uwo merasa segan terhadap orang yang dulunya merupakan salah satu petinggi nomor satu di akhirat tersebut.


Lucifer langsung terlelap dan mendengkur kencang begitu menyentuh kursi panjang dan empuk tersebut.


Astral memang tidak butuh makan dan minum, namun harus beristirahat untuk memulihkan energi yang telah terpakai.


Pak Uwo terlihat sedang sibuk menyiapkan tempat istirahat yang nyaman untuk Erina.


"Pak, tak perlu repot - repot"


"Tidak masalah, karena saya jarang punya tamu di sini"


"Ehmm.. sebelumnya, bolehkah aku melihat sumber energi itu?"


"Oh iya, ada di sini", pak Uwo mempersilahkan Erina mengikutinya.


Pak Uwo membuka sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu. Di dalamnya ada ruangan yang tidak terlalu besar, berbentuk spiral dan di tengahnya terdapat sebuah mahkota yang berputar di atas lubang sumur yang mengeluarkan cahaya dengan aura yang kuat. Mahkota itu terbuat dari bahan perunggu dan memancarkan cahaya berwarna kekuningan.


"Ini.. mahkota apa ini?"


"Ini, saya menemukannya dari sebuah negeri yang saya datangi beberapa waktu lalu, rupanya mahkota ini memiliki fungsi dapat memerintah kaum raksasa"


"Hoo.. maka dari itu pak Uwo bisa menjadi pemimpin di tempat ini ya?"


"Benar sekali, aslinya tempat ini sangat runyam dan tak beraturan, semua raksasa bisa saling membunuh dan menghancurkan tanpa alasan di sini"


"Hmm.. pantas saja awalnya mereka seperti berbaris rapi"


"Itu karena saya menyuruh mereka melindungi tempat ini, karena memang di alam baka ini harus ada media untuk menyalurkan sumber energi besar untuk menyeimbangkan aliran dimensinya, kalau tidak akan menjadi kacau"


"Kacaunya seperti apa?"


"Semua makhluk bisa bebas keluar masuk tempat ini, sedangkan tempat ini adalah tanah kelahiran astral baru yang masih murni"


"Jadi, mahkota ini sangat kuat ya?


"Benar, tapi sekarang mahkota ini berfungsi sebagai media, untuk menstabilkan energi alami yang berasal dari tanah ini"


Erina mengangguk.


"Tapi, saya minta maaf sebesar - besarnya karena para raksasa bodoh itu sudah menyusahkan nona dan tuan", pak Uwo bersujud.


"Hei sudahlah pak, toh kami tidak apa - apa. Lagipula memang kehadiran kami di tempat ini tidak diduga oleh siapapun bukan?"


"Benar, saya tak menduga bahwa tuan Lucifer punya rencana seperti ini, kalau beliau mengabarkan pasti saya akan membantu"


"Memangnya bapak tahu keadaan akhirat sekarang?"


"Sangat mengerikan, tak ada yang bisa menghentikan amukan tuan Satan"


"Lalu bagaimana dengan surga? apa ikut terkena dampaknya?"


"Tentu tidak, surga sudah mengisolasi diri sehingga tak terjangkau oleh siapapun"


Erina mendengar lebih jauh cerita tentang bagaimana Satan mencari kedua orang yang menurutnya harus dihukum, dan itu menyebabkan banyak hal menjadi semakin rumit, bahkan jalur kematian menjadi kacau dan menyebabkan banyak jiwa yang tak mendapat tempat di akhirat.


"Lalu, kalau pak Uwo mau ikut membantuku, bagaimana dengan yang di sini?"


"Tak masalah, saya memiliki penerus di sini"


Lalu muncullah Hulk yang tadi menyebabkan kehebohan. Rupanya Ia adalah penerus yang ditunjuk oleh pak Uwo.


Erina yang melihat Hulk merasa agak kesal karena sikapnya sebelumnya. Hulk pun bersujud dan meminta maaf berkali - kali. Karena Erina baik, ia langsung memaafkannya.


Keesokan harinya, Lucifer terbangun dengan tubuh yang segar. Erina dan pak Uwo juga sudah siap untuk berangkat.


"Jadi, kita tak bisa mendapatkan kekuatan di sini ya?", tanya Lucifer.


"Hei, kita sudah mendapat bantuan dari pak Uwo kan papi?", balas Erina.


"Ehem begini.. ada sesuatu yang ingin saya jelaskan sebelumnya"


Pak Uwo memberitahukan bahwa mahkota yang tersimpan di sana bisa menjadi sumber kekuatan, namun hanya untuk kalangan yang memiliki ikatan khusus dengan kaum raksasa atau titan.


Mendengar itu Lucifer sangat senang, karena ia yakin kekuatan itu akan berguna untuk kedepannya, namun Erina merasa ragu.


Setelah diyakinkan, Erina pun mendekat ke arah mahkota, lalu menyentuhnya perlahan. Mahkota tersebut bercahaya terang yang sangat menyilaukan.


Lucifer memeluk Erina yang lemas,


"Hei, tubuhnya panas dan menggigil'


"Itu pasti efek sampingnya, mungkin ia bisa tertidur selama beberapa hari tuan"


"Iya benar, sudah lama tubuhnya tak menyimpan kekuatan seperti dulu, pak Uwo kau tolong gendong dia ya"


"Baik", pak Uwo mengambil tubuh Erina yang lunglai dan menggendongnya di dalam dekapan bulu - bulu yang hangat.


"Apa kekuatan mahkota itu masuk sepenuhnya ke tubuh Erina?"


"Tidak, hanya sebagian saja. Kalau mahkota ini diambil nanti energi di tanah ini akan tidak stabil kembali"


"Apa kau tahu arah ke tingkat selanjutnya?", tanya Lucifer.


"Saya tahu, tuan harap mendekat, saya akan berteleportasi menggunakan segenap energi saya, untuk mempersingkat perjalanan"


"Baiklah, tapi jangan sampai menghabiskan energimu ya"


"Iya tuan. Tapi sebelumnya.. mohon maaf sebenarnya saya agak segan jika.menuju ke gerbang berikutnya, jadi kalau bisa tuan yang nanti angkat bicara ya"


"Hmm.. baiklah tak masalah.


Pak Uwo mulai berkonsentrasi mengumpulkan kekuatannya. Memusatkan energinya pada satu titik, lalu 'Wusshh..', mereka bertiga menghilang.


...----------------...


Mereka bertiga tiba di depan sebuah gerbang besar berwarna putih. Gerbang tersebut nampak bagus dibandingkan keadaan di tanah para raksasa yang gersang.


Pak Uwo nampak gusar, bukan hanya karena ia kelelahan setelah menempuh jarak yang jauh, namun ada hal lain yang disembunyikannya.


"Pak, kau baik - baik saja?"


"I.. iya, saya tak apa - apa"


Lucifer merasa pak Uwo bersikap aneh.


Tak lama, muncullah seseorang di depan gerbang.


Itu adalah seorang wanita berambut hitam panjang, berkulit pucat dan berkuku runcing. Perawakannya cantik meskipun angker, ia memakai baju putih panjang dan kakinya tak menapak tanah.


Pak Uwo semakin gusar karena kemunculan wanita tersebut.


"Salam wahai saudaraku sesama makhluk tuhan, ada gerangan apa saudara sekalian menuju gerbang ini?", tanya wanita itu dengan suara berat dan anggun.


"Ehmm.. begini, kami ini..", Lucifer agak bingung menjelaskan tujuan mereka, lalu ia menatap pak Uwo, dan pak Uwo memunggunginya.


"Hei pak, tolong jelaskan dulu sama mbak ini, kan kau yang berkuasa di tempat sebelumnya", pinta Lucifer.


Pak Uwo hanya diam dan tak menatap ke arah Lucifer ataupun wanita itu.


"Sebentar, sepertinya saya mengenal saudara yang di sana itu", ucap wanita itu.


"Tentu saja, dia raja para raksasa!", Lucifer menambahkan.


Wanita itu tak mempedulikan ucapan Lucifer dan melayang untuk menghampiri pak Uwo.


Pak Uwo menghindari tatapan wanita itu.


Lucifer menjadi semakin bingung dengan sikap pak Uwo. Sebenarnya ada hubungan apa antara dia dan wanita itu.


"Ahaaa.. kau Saruwo kan!?", wanita itu berteriak.


"Hahh.. iya ini aku", pak Uwo menyerah.


"Kok bisa - bisanya kau muncul di sini? setelah seratus ribu tahun?"


"Penjelasannya, akan sangat panjang Ratna"


"Aku punya waktu seumur hidup untuk mendengarkan"


Lucifer menghampiri kedua orang itu, "Hmm.. rupanya kalian saling kenal, kenapa kau menghindar tadi pak?"


"Di sini.. adalah Land of Banshee, rumah para astral wanita seperti Kuntilanak, Sundel Bolong, Wewe Gombel dan sebagainya"


"Hmm.. ya aku tahu itu, lalu kenapa?"


"Di sini adalah tempat dimana Saruwo bertemu dengan istrinya, Hilda. Dan aku adalah Ratna Sulastri, sahabatnya Hida", Ratna menjelaskan.


"Nah, lalu kenapa kalau ini kampung halaman istrimu? apa ada pengalaman buruk yang terjadi?"


Ratna membisikkan ke telinga Lucifer, "Mereka sudah lama bercerai, dan Saruwo sangat menghindari tempat ini"


"HOOO.. BEGITU RUPANYA", Lucifer mengangguk memahami situasinya.