My Heart From Hell

My Heart From Hell
Blinded



Erina dan Asmodeus bertatapan lalu menempelkan dahi mereka.


"Waktu kita semakin sedikit ya", Erina merasa tak bersemangat.


"Sepertinya begitu.. tapi aku tak akan


tinggal diam begitu saja"


"Memangnya apa yang mau kamu lakukan nanti?"


"Lihat aja nanti"


"Aku gak mau kamu berbuat yang aneh - aneh ya, jangan sampai mempertaruhkan hidup kamu"


"Hidup aku, suka - suka aku dong"


"Gak gitu moo.. masih banyak yang butuh kamu"


"AKU YANG LEBIH BUTUH KAMU! KAMU YANG KUBUTUHKAN LEBIH DARI HIDUP AKU SENDIRI!", Asmodeus menaikkan nada bicaranya, mempertegas prinsipnya.


Erina terdiam, ia jadi bingung harus


menjawab apa.


"Maaf aku jadi terpancing, sekarang k**ita coba cari solusi dulu, bagaimana cara menyadarkan mama kamu, lalu cara kita untuk menghadapi Lucifer besok**"


"Tapi, besok sudah kurang dari dua puluh empat jam, kita harus ngapain di tempat antah berantah begini?"


"Coba pikir, desa ini kosong, tapi mama kamu bisa hidup disini sendirian dalam keadaan koma. Infus ini juga masih terisi, berarti pasti ada orang yang menjaganya, tapi dia segera pergi ketika kita datang"


"Jangan - jangan nenek di dalam mimpi",


Erina tersentak.


Tiba - tiba angin berhembus, dan lilin hampir padam.


"Halo, nak.. kita bertemu lagi"


sang nenek di mimpi Erina, muncul dari area bayangan yang gelap.


"Nenek! rupanya kau benar - benar ada"


Erina menghampiri dan memeluk nenek itu tanpa ragu.


Asmodeus memicingkan matanya, Ia tampak tidak yakin dengan sosok nenek itu.


"Sebenarnya kau itu siapa nek?",


tanya Asmodeus.


"Kau pasti sang iblis yang meninggalkan takhtanya demi seorang manusia ya?",


nenek itu balas bertanya.


"Iya nek, dia adalah pasanganku"


jawab Erina.


Sang nenek tersenyum.


"Memang ya, garis darah keturunan keluarpaga kita selalu bertautan dengan iblis"


"Kita? jangan - jangan nenek.."


"Ya.. aku adalah keturunan Lucifer yang ke tujuh, dan juga nenek moyangmu Erina"


Mata Erina dan Asmodeus terbelalak karena tak menyangka dengan hal yang diucapkan oleh nenek itu.


"Kok bisa? apakah nenek adalah makhluk abadi?", Erina penasaran.


"Tidak, tapi aku mendapatkan kemampuan meramal dan membuat ramuan, jadi ketika aku meramalkan akan mati, aku membuat ramuan untuk memperpanjang hidup organ


tubuhku lagi"


"Wah itu luar biasa, tapi kenapa kau ingin hidup lama? bukankah itu menyakitkan?"


"Memang, tapi semua kulakukan demi hari ini..."


"Hari ini?"


"Iya, hari bertemunya aku denganmu"


"Jadi kau telah mengetahui semua yang akan terjadi?"


"Iya, selama ratusan tahun aku menunggu, bertemu dengan orang yang terlahir memiliki dua sisi. Hati yang begitu murni, juga kekuatan yang begitu dahsyat"


"Memangnya sudah pasti aku orangnya?"


"Betul, itu tidak mungkin salah"


"Tapi.. kau hanya ingin membalas dendam kepada Lucifer bukan?"


"Tidak, tapi tujuanku lebih dari itu"


"Bisa kau beritahukan kepada kami?"


"Maaf tidak bisa"


Erina kembali melihat kepada wanita di depannya yang keadaannya seperti ada dan tiada.


"Nek, lalu apakah di masa depan wanita ini akan sadar dan berbicara dengan Erina?",


Asmodeus bertanya.


"Kalian tunggu saja, akan terjadi sesuatu


yang luar biasa"


Asmodeus berfikir.


"Jadi, kau juga tahu apa yang akan


kulakukan nanti?"


Sang nenek mengangguk pelan sambil tersenyum.


Erina panik.


"Hei, kamu mau melakukan apa? kenapa nggak memberitah**u aku**??"


"Kamu tidak perlu tahu, itu adalah rahasia takdir", Asmodeus menjawab dengan tenang.


"Benar, rahasia takdir tidak boleh kita ungkapkan sembarangan, itu adalah kutukan bagi orang yang mengetahuinya"


tambah sang nenek.


"Hufftt.. padahal kau sudah memperlihatkan banyak hal dalam mimpiku nek",


Erina sebal karena tak diberitahu.


"Itu hanya beberapa petunjuk, tapi yang akan terjadi disini nanti, melebihi apapun yang pernah terjadi selama abad ini"


Erina terlihat sangat terbebani dengan pernyataan itu.


...----------------...


Kembali ke akhirat.


Dewi yang bahagia karena telah berhasil memadu kasih dengan lelaki impiannya, dan Damien yang berusaha move on namun masih memikirkan Erina.


Di suatu pagi, Damien terbangun dan langsung sumringah karena mendapatkan pesan pengumuman bahwa Ia berhasil diterima di akademi penjaga. Ia langsung mengabari Dewi, dan Dewi juga turut berbahagia.


"Yuk, kita rayakan dengan makan - makaaan"


ajak Dewi.


"Okee, mau di resto yang all you can eat nggak?"


"Waahh mau banget doong"


"Okay baby", Dewi tak bisa berhenti tersenyum.


Damien pun bersiap - siap kemudian keluar dari kamar kosannya.


Di perjalanan, Ia melihat ada sosok arwah wanita yang berjalan pelan dengan pandangan kosong.


Damien ingin cuek, karena sudah sering melihat yang seperti itu, namun ada sesuatu yang membuatnya penasaran.


Ia memperhatikan arwah itu dari seberang jalan.


"Kenapa aura dari arwah itu seperti tidak


asing ya, coba kupastikan dulu ah",


Damien yang penasaran menghampiri arwah yang berwarna pucat itu.


"Hei! wajahnya mirip Erina!", Damien terkejut.


Tapi arwah itu memiliki wujud yang hampir tembus pandang, yang dimana berarti Ia belum sepenuhnya mati, setengah jiwanya masih ada di dunia.


"Jangan - jangan ini ibunya Erina?! tante.. halo tante", Damien mencoba memanggilnya, namun arwah itu tak bergeming dan terus bergentayangan.


Damien memikirkannya, ada yang salah dengan arwah ini, Ia harus mengembalikannya ke tubuhnya, mirip sekali dengan kasus yang Ia alami dulu.


"Oh tuhan, apa memang harus aku lagi yang mengalami hal seperti ini? tapi ini kan bukan akibat dari perbuatanku, aku tidak harus bertanggung jawab"


Damien mencoba untuk pergi dan meninggalkan arwah itu untuk menemui kekasihnya.


Namun, setelah berjalan beberapa meter, Ia menoleh ke belakang. Ia merasa tak tega, lalu menghampirinya kembali.


Damien mengikuti arwah itu berjalan tanpa mengetahui kemana arahnya, Ia pun tak tahu harus melakukan apa. Jika Ia membawanya ke gerbang dimensi, mereka tak akan kembali ke tempat yang seharusnya, karena arwah ini tak menyadari dimana tempatnya.


Tanpa disadari, Damien yang terlalu fokus pada arwah itu, menabrak seseorang saat berselisih jalan.


"Eh, maaf - maaf saya tak sengaja"


"Kau? malaikat maut rendahan? kau menumpahkan minumanku"


Rupanya itu adalah Succubus yang sedang membeli minuman boba.


"Ah kau rupanya", ekspresi Damien langsung berubah menjadi malas.


"Siapa yang kau ikuti ini? dasar orang aneh"


"Bukan urusanmu, dasar wanita penggoda"


"Cih, kau saja tergoda"


"Huh mana mungkin aku tergoda"


Succubus merubah wujudnya menjadi sang bartender seksi, "Bagaimana kalau sekarang, Dammy?"


Damien jatuh terduduk, Ia tak menduga hal itu.


"Tuh kan, mana mungkin ada yang tak tergoda, kecantikanku ini tak terhindarkan",


Succubus mengibaskan rambut panjangnya yang berwarna merah.


"Sial, aku khilaf", Damien merasa menyesal.


"Sudahlah, tak usah memungkiri, aku tahu perasaanmu yang sedang goyah"


"Yah, mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur cling namun tak mampu menggapainya, kau pasti tak tahu perasaan itu karena semua lelaki bisa tunduk padamu"


Succubus berfikir sejenak,


"Sebenarnya, aku sangat tahu perasaan itu"


Tiba - tiba keadaan menjadi berubah, Succubus dan Damien berjalan berdampingan dan mengobrol karena mereka merasa senasib.


"Bukannya kau sudah bahagia dengan kekasih resepsionismu itu? nampaknya dia begitu cinta padamu", tanya Succubus.


"Aku memacarinya dengan tujuan agar bisa melupakan Erina, dan berharap bisa menyayanginya juga kelak"


"Akan sulit untuk melupakan seseorang jika kita sudah cling dengannya"


"Aarrggh, seandainya saja cling itu selalu terjadi antara dua pihak, pasti keadaan tak akan sesulit ini"


"Wah kalau begitu sih dunia akhirat bakal damai sentosa, tidak ada pihak yang tersakiti"


"Aku iri dengan Asmodeus dan Erina yang keduanya bisa cling bersamaan"


"Ya, kurasa mereka adalah pasangan spesial, namun aku tetap nggak rela"


Pada akhirnya Succubus menceritakan semua yang Ia alami saat berada di dunia manusia saat membantu Asmodeus.


"Hah? lalu kalian pergi begitu saja?"


"Sebenarnya aku belum mau pergi, tapi Behemoth yang memutuskan"


"Pasti pertimbangan Behemoth adalah supaya kalian tidak mencampuri urusan mereka lebih jauh lagi, karena kalian juga punya urusan di sini"


"Aku tahu, memang waktu memutuskan untuk menolongnya, aku dibutakan oleh perasaan. Aku harus membantu orang yang kucintai, meskipun tidak diminta"


"Mendengar ceritamu, sepertinya ini giliranku untuk pergi menolong orang yang kucintai"


"Apa yang mau kau lakukan?"


"Aku harus mengembalikan arwah wanita ini ke tubuhnya"


"Woah, jadi ini ibu yang dicari Erina sampai keliling dunia itu, ternyata jiwanya sudah naik ke akhirat",


Succubus memperhatikan arwah itu dari atas sampai bawah.


"Tidak, jiwanya hanya setengah, Ia mati suri"


"Aku tidak tahu ini dapat membantumu atau tidak, tapi cobalah ini", Succubus memberikan cincin Mammon yang masih ada padanya.


"Wah ini cincin Mammon? kok bisa ada


padamu?"


"Ceritanya panjang, tapi yang pasti aku tidak berhasil menggunakannya karena levelku terlalu jauh, apalagi kau.. seorang malaikat maut level satu"


Damien mendekatkan wajahnya ke Succubus


dan menunjukkan pesan di ponselnya.


"Sorry ya mbak, tapi aku adalah seorang penjaga sekarang"


"Waaw.. seorang penjaga level satu, memang


apa bedanya?", Ekspresi Succubus meremehkan.


"Pokoknya bedalah.. by the way


terima kasij ya untuk cincinnya, Aku akan mencobanya", Damien pergi berlari sambil menggandeng arwah ibu Erina.


Succubus melihatnya dari kejauhan.


"Hhhh...satu lagi orang yang dibutakan


oleh cinta"


Damien kembali lagi.


"Tolong ya, sampaikan ke Dewi bahwa aku ada urusan yang sangat mendadak jadi tidak bisa datang, tapi jangan bilang aku mengurus soal ini, thank you!", setelah bicara Damien langsung pergi lagi dengan tergesa - gesa.


Succubus berekspresi seadanya.


Dewi sudah menunggu di restoran lebih dari setengah jam, Ia mulai gelisah.


Succubus masuk ke restoran itu.


Dewi terkejut.