
Erina kembali tersadar untuk kesekian kalinya, kali ini Ia terbaring diatas salju yang tebal. Ia tidak bergerak untuk beberapa saat, mencoba memastikan apa realita yang sedang dialaminya saat ini adalah yang sebenarnya atau masih berupa halusinasi yang disebabkan oleh Lucifer.
Padahal seharusnya Lucifer berpegang pada pendiriannya untuk tidak mengganggu Erina sampai akhir waktu yang telah ditentukan di dalam perjanjian mereka.
Erina menoleh ke samping, terlihat mobil yang dipinjam dari Alexei itu terbalik, dan di sisi lain ada Asmodeus yang lengannya mengalami patah tulang.
"Aaahh bakal terjadi apa lagi kali ini?
Aku benar - benar sudah muak"
Erina bergumam kesal.
Asmodeus tersadar dan mulai kesakitan karena lengannya. Erina bangkit lalu segera membalut lengan Asmodeus dengan kain lembut yang ditemukannya di dalam mobil.
"Aaarghh sakit sekali.. dimana ini? ya ampun mobilnya hancur.. rrrgghghh",
Asmodeus nampak begitu menahan emosi.
Tapi Ia melihat Erina yang begitu tenang, Ia menjadi penasaran.
"Na.. kamu kenapa bisa tenang banget? kita baru aja jatuh dari jurang dan kecelakaan lalu tiba di antah berantah begini"
"Hmmm.. sebut saja aku sudah mengalami kejadian ini beberapa kali, jadi aku cukup bosan melihat tempat ini"
"Yang benar? jadi kamu mengalami dejavu? atau kamu sudah pernah ke tempat ini di dalam mimpimu?"
"Iya kurang lebih begitu, sekarang kita tinggal pilih, mau pergi ke dalam desa lalu bertemu ibuku, berjalan ke arah yang salah lalu diterkam sekumpulan beruang, atau diam disini lalu mati membeku",
Erina menjawab dengan tenang sambil tetap membalut tangan Asmodeus.
Asmodeus bergidik ngeri,
"Waah nampaknya selain pilihan pertama, sisanya mengerikan ya"
"Iya, meskipun waktu aku bertemu Ibuku dia malah memaki aku, seperti telah menyesal karena melahirkanku", Erina tertunduk lesu.
"Tapi itu kan hanya terjadi di mimpi, yang penting kita dapat bertemu dengan dia dulu. Ayo kita bergegas masuk ke desa itu, semoga jalannya sama dengan yang kamu lihat di mimpi".
Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju ke arah yang seperti Erina tahu.
"Eh tunggu jangan lewat sini! Kita agak memutar kesana saja"
"Kenapa memangnya?"
"Ini tempat kita diterkam oleh para beruang lapar"
Asmodeus menelan ludah, Ia ingat betul besarnya mulut beruang itu yang penuh dengan gigi tajam sebesar pisau dapur.
Setelah beberapa saat mereka berhasil melewati perbatasan dan masuk ke wilayah pedesaan. Keadaan di desa itu sama persis seperti di mimpi Erina.
Namun, saat Erina ingat betul lokasi ketika Ia bertemu dengan nenek itu, sosok itu tak ada di tempat yang sama.
"Apa nenek itu benar ada atau memang cuma khayalanku saja ya?", Erina menjadi ragu.
"Kalau nenek itu tidak ada, bagaimana dengan ibumu?"
"Makanya itu aku jadi ragu, tempat ibuku ada di belakang rumah nenek itu, dia yang mengantarkanku kesana".
"Yasudah kita coba pergi ke rumah nenek itu saja dulu, lalu kita coba memohon untuk masuk ke dalamnya"
Dua pasangan itu saling bertatapan, merasa ragu, namun tetap menjalaninya.
Sepuluh menit berjalan di desa yang tak berpenghuni itu, mereka tiba di depan sebuah rumah yang dilihat Erina di dalam mimpinya.
Bentuk dan suasana rumah itu benar - benar sama dari luar, namun dalamnya terasa hangat jika di mimpinya.
Setelah mengetuk pintu kayu beberapa kali, Mereka pun masuk karena tidak dikunci.
Di dalam rumah itu benar - benar berbeda dengan mimpi Erina. Suasananya gelap, dingin, lapuk, dan lembab. Sepertinya sudah sangat lama tidak ada penghuninya.
"Mo.. ini berbeda dengan yang di mimpi, aku takut ini tidak berjalan sesuai yang kuharapkan"
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu", Asmodeus meyakinkan Erina.
Mereka berjalan ke arah pintu yang menuju ke halaman belakang.
Erina membuka pintu itu perlahan.
Terdapat taman yang tertutupi oleh salju, dan di sekelilingnya ada pagar kayu setinggi tubuh orang dewasa.
Lalu terlihat ada sebuah pondok kayu di ujung taman.
Erina menatap Asmodeus.
Asmodeus mengangguk.
Mereka mulai berjalan perlahan.
Sesampainya di depan pondok kayu itu, Erina mencoba menempelkan telinganya ke pintu, Ia tak mendengar suara apapun. Ia sudah berharap yang terburuk bahwa selutuh perjalanan ini adalah sebuah kesia - siaan.
"Mo.. aku benar - benar tak berani membukanya", Erina memalingkan wajahnya.
"Baik, biar aku yang memeriksanya untukmu",
Asmodeus berinisiatif.
Asmodeus masuk lebih dulu dan Erina menunggu di luar.
Di dalam gubuk suasananya juga lembab. Dan langsung terlihat ada tempat tidur yang terbuat dari besi yang sudah berkarat di pojok ruangan. Asmodeus hanya melihat selimut abu - abu dan seperangkat alat infus, tak terlihat sosok manusia.
Lalu Ia mendekat untuk memastikan, dan terlihat sosok wanita yang kurus dan pucat sedang tak sadarkan diri, Ia ingat sekilas bahwa wajah ini yang pernah dia lihat saat mencari orang menggunakan kemampuan astralnya.
Asmodeus berdiri di samping wanita itu, Ia memegang pergelangan tangannya untuk memastikan denyut nadinya.
Denyutnya tak terasa, namun kulitnya masih terasa hangat, Ia mengecek jantungnya juga berhenti.
Asmodeus berteriak memanggil.
Mendengar itu, tanpa pikir panjang Erina langsung berlari masuk ke dalam.
"Cepat lakukan CPR! jantungnya seperti baru saja berhenti, masih ada harapan", Asmodeus memerintahkan Erina.
Erina merasa tegang, Ia melihat sosok yang sama persis seperti di mimpinya, namun Ia tak punya banyak waktu, maka Ia segera melakukan CPR seperti yang diperintahkan Asmodeus.
Ia menekan dada wanita itu berulang kali, dan memberinya nafas buatan melalui mulut.
Berulang kali Ia mencobanya, sampai air matanya menetes.
"Ayolahh.. mama.. Ini aku,
aku sudah sejauh ini, jangan pergi dulu!",
Erina tak kuasa menahan kesedihannya.
Asmodeus juga tak tega melihat Erina yang telah berusaha keras, apakah semuanya akan menjadi sia - sia.
Tanpa diduga, setelah melakukan pernapasan buatan yang ke sembilan kali, wanita itu terbangun dengan mata terbelalak.
"Haaaaaa...."
Wanita itu menarik nafas dengan kuat.
Erina dan Asmodeus sama - sama terkejut dan tak menyangka dengan keadaan itu.
Tanpa berfikir lama, Erina segera memeluk wanita yang mirip dengan dirinya itu dengan sangat erat.
"Mamaa...."
Asmodeus tersenyum bahagia, meskipun Ia sadar tak lama lagi keadaan akan berubah.
"Aaaa...", wanita itu bersuara lirih dan serak.
"Mama.. ini aku, Erina, anak mama.."
"Mungkin Erina bukan nama yang dia
berikan dulu", ucap Asmodeus.
"Ah masa sih? tapi iya bisa juga itu nama pemberian orang tua angkatku, aku tak pernah menanyakan soal itu"
Wanita itu hanya menatap keatas dengan mata melotot dan tanpa ekspresi, seakan jiwanya tidak ada di tubuhnya, Ia seperti hanya menjadi mayat hidup.
"Oh tidak, ini sama saja seperti tidak
sadarkan diri"
"Iya, sepertinya separuh jiwanya sedang ada di tempat lain"
"Apa itu mungkin terjadi?"
"Iya itu sangat mungkin dalam kondisi seperti ini, apalagi setelah mengalami koma yang begitu lama, Ia mengalami mati suri. Jiwanya belum saatnya diambil tapi tubuhnya sudah menolaknya"
"Kalau ada seorang astral, apa Ia bisa mencarikan separuh jiwanya?"
"Bisa, tapi Ia akan terkena mantra
perjanjian bukan?!"
Disaat mereka berdua sedang berdiskusi, tiba - tiba muncul cahaya jingga yang sangat terang, terlihat bayangan Lucifer berada di ruangan itu.
"Halo - halo, bagaimana nih kabarnya kalian? sepertinya kalian sudah berhasil reuni ya?"
Sapa Lucifer.
Erina langsung berdiri dan menghampiri bayangan Lucifer
"Perjanjiannya adalah ketika aku bisa berbicara dengan ibuku! dan sekarang belum bisa karena kesadarannya belum pulih"
"Woah, tenang bu, aku paham kok, ini juga hanya bayanganku yang datang, jadi ini hanya sebagai peringatan saja"
"Aku mengerti, sekarang pergilah! jangan ganggu Kami"
"Hmm.. oke, tapi ada satu hal yang perlu kalian tahu"
"Apa itu?"
"Karena menurut badan meteorologi, ah maksudku departemen pengatur bulan dan bintang, besok malam adalah bulan purnama"
"Ah..jadi??", Erina terkejut mendengar fakta itu.
"Jadi waktu kalian hanya sampai matahari tenggelam esok hari"
"Jangan mengada - ada kau ya!"
Asmodeus menunjukkan ekspresi marah.
"Oh, kalau tidak percaya, ini aku bawa surat pernyataan dari divisi alam semesta, departemen pengaturan bulan dan bintang"
,Lucifer menunjukkan sebuah surat yang berisikan hal seperti yang telah diberitahukannya.
"Bisa saja kau yang mengatur agar departemen itu mengeluarkan surat itu kan?"
Asmodeus curiga.
"Hei, divisi alam semesta kan sepenuhnya dibawah pengawasan Bos Besar, mana mungkin aku punya kuasa di situ. Mungkin memang beliau punya pertimbangan yang lain"
Asmodeus dan Erina bertatapan, merasa khawatir dengan akhir buruk yang mungkin akan terjadi.
"Oke, itu saja berita dariku, see you tomorrow, adios!", bayangan Lucifer menghilang.