My Heart From Hell

My Heart From Hell
The War



Hari yang ditunggu pun tiba.


Dengan modal nekat dan persiapan seadanya, Erina, Damien, Succubus, dan kedua anak muda bersiap menuju ke medan perang.


Lily yang tidak dibolehkan ikut, hanya mampu berdoa dan berharap dari jauh, Ia sudah memeluk Erina dengan sangat erat sebelum pergi.


Tiba - tiba dari belakang, kakek Luvo menyusul mereka.


"Lho, ngapain kakek ikut kesini? nanti akan berbahaya"


"Aku ingin menyaksikan keajaiban, kalau aku mati pun tak masalah karena aku sudah setua ini"


"Lalu siapa yang akan menjaga klan Roviolo"


"Sudah ada penerusku, kalian tak perlu mengkhawatirkannya"


Mereka berenam sudah sampai di padang rumput yang jadi medan perang.


Terlihat rombongan pasukan Arblegas yang sudah tersusun rapi, mereka berjumlah ribuan dengan berbagai macam bentuk.


Di barisan paling depan, pasukan penunggang serigala dengan tombak, barisan kedua pasukan Orc dengan bola rantai berduri, barisan ketiga pasukan berpedang dengan baju zirah, keempat pasukan Troll raksasa dengan gada batu, dibelakang mereka pemanah, lalu paling belakang catapult bersiap menembakkan batu besar.


"Seribu lawan lima? aku masih berharap bahwa ini adalah sebuah mimpi" ucap Succubus pesimis.


"Hei, aku juga akan berperang tahu!" kakek Luvo begitu antusias.


Succubus memandang kakek Luvo dengan remeh.


"Dasar iblis kurang ajar!"


Erina berdiri di hadapan lima orang pasukannya dan memberikan pidato.


"Rekan - rekanku sekalian! aku tahu kita sudah sampai sejauh ini, dan mungkin ini hal yang paling tidak masuk akal yang kita alami. Namun! kita akan menciptakan keajaiban disini, cerita tentang lima orang Roviolo mengalahkan Seribu orang Arblegas akan terus dikenang sepanjang masa"


"Enam orang!" kakek Luvo menambahkan, Ia sangat ingin dianggap


"Ah iya enam, maaf kek"


Kedua anak muda yang polos tadinya sangat ketakutan, namun karena perkataan Erina, mereka menjadi bersemangat.


di tengah - tengah kedua klan, muncul sang pria misterius dengan membawa terompet besar yang terbuat dari tulang hewan, ketika suara terompet bergema, maka perang sudah dimulai.


"Ah, sebenarnya aku paling benci peperangan, tapi kali ini kita tidak diberikan pilihan" Erina agak lesu.


"Seandainya ada Behemoth dan Leviathan, pasti kita akan memenangkan ini dengan mudah" ucap Damien


"Iya kau benar, tapi beginilah keadaannya, meskipun ini gambling, tapi aku sangat yakin dengan intuisiku"


"Kami mempercayaimu tuan putri" Succubus berpose menghormat kepada Erina.


"Ini untuk saudaraku Alexei, komandan perang Behemoth, dan juga penguasa lautan Leviathan" Erina berwajah serius seraya menghunuskan pedang yang dibawanya.


Damien menggenggam erat sabitnya


Succubus mengeluarkan pecutnya


Kedua anak muda menghunuskan pedang dengan gemetar


Kakek Luvo memegang tongkat dengan yakin.


Pria misterius terlihat mulai bersiap menium terompetnya.


"Nah, kakek Luvo, dan kalian berdua, kalian disini saja ya"


"Heee??" mereka bingung


Tiba - tiba kaki kakek Luvo dan kedua anak muda itu tak bisa digerakkan seperti tertahan sesuatu.


"Kenapa ini? apa yang kalian lakukan?"


Succubus tersenyum "Tenang kek, itu cuma sementara saja"


"TOEEEEEETT..."


Terdengar bunyi nyaring dari tiupan terompet perang.


Catapult dan pemanah mulai melancarkan serangan sebelum pasukan garis depan maju.


"Succubus!" teriak Erina


Succubus mengangguk, dan segera mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit dengan cepat.


Succubus menghancurkan batu - batu dan panah yang beterbangan dengan pecut apinya.


Erina dan Damien berlari kencang sambil menghindari hujan serpihan batu dan panah yang tersisa.


Pasukan Arblegas yang melihat kedua orang itu berlari, mulai mengerahkan pasukan baris depannya.


"Dasar Roviolo bodoh, mereka meremehkan kita dengan berperang hanya bertiga, BANTAI MEREKAA!" perintah pemimpin pasukan Arblegas yang berwujud Orc


"Uuwwooooooo...." ratusan pasukan mulai berlari menuju ke arah Erina


"Na, baiknya rencanamu berhasil" ucap Damien yang mulai gugup


"Jangan meragukan rencana nona Erina!" Succubus terbang diatas mereka berdua


Erina tersenyum simpul, Ia mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Pecahan batu kristal jingga dari cincin yang diberikan oleh Asmodeus.


...----------------...


Malam sebelumnya, mereka berempat berdiskusi di meja.


"Serius ini benar - benar tak ada strategi apapun? mereka hanya berdoa dan menyerang begitu saja?" Damien terdengar khawatir


Erina diam dan berpikir.


"Aku sih bisa menggunakan kekuatan astralku untuk menyerang musuh, aku punya api, pecut, kecepatan, dan racun" Succubus menyebutkan kemampuannya.


"Ah curang, aku belum punya kemampuan astral, aku hanya mas - mas dengan sabit besar"


Damien tersipu


Lily mengeluarkan beberapa botol ramuan "Lihatlah ini, aku menemukan banyak tanaman herbal selama perjalanan yang bisa kujadikan ramuan"


"Ramuan apa yang mama buat?"


"Bisa memaksimalkan kemampuan tubuhmu, seperti doping"


"Hmm.." Erina yang masih berfikir, tanpa sadar merogoh kantung di jaketnya.


"Eh ada apa disini ya?" Erina mulai membuka kantung tersebut


Di dalam kantung itu ada pecahan dari batu permata jingga yang berasal dari cincin yang diberikan oleh Asmodeus.


"Sepertinya, Asmodeus sengaja menaruh ini di kantungku waktu itu"


"Apa gunanya itu?" tanya Succubus


"Dengan ini aku bisa memanggil kekuatanku"


"Yang benar!?" tiga orang itu terkejut


"Ya, semoga saja, aku juga akan memanggil Leviathan untuk membantu kita"


...----------------...


Erina berteriak sambil berlari "LEVIATHAAAN!"


Tak lama kemudian, tanah bergetar, dan muncullah Basilisk dari dalam tanah dan Erina langsung melompat ke atasnya.


"Woah itu sangat keren" Damien terpukau dengan aksi Erina, berbeda dengan Erina yang dikenalnya dulu.


Posisi mereka semakin mendekat dengan pasukan Arblegas.


Damien sudah terpacu dengan ramuan dari Lily.


Kedua kubu itu pun bertemu di tengah.


"Demi Lily! Eeeaaaaa..." Damien berteriak dan langsung menyabetkan sabitnya ke arah musuh.


Succubus menyerang dengan pecut api dan racunnya. "Aahaha sudah lama aku tak merasakan adrenalin setinggi ini"


Erina melompat dan membiarkan Basilisk itu mengamuk ke arah pasukan Arblegas yang tak siap. Kemudian Ia menggenggam erat pecahan batu itu hingga menembus tangannya.


Kepalan tangan Erina mengeluarkan cahaya.


Dalam sekejap Ia berubah menjadi sosok raksasa seperti saat di rusia.


Erina langsung melibas semua yang ada didepannya.


Sosok Troll yang setinggi lima meter pun bisa dipukulnya jatuh ke tanah.


Melihat Erina beraksi dengan sosoknya yang diluar dugaan, Damien terdiam dan tak mampu berbuat apapun.


"Hei, dia luar biasa ya" bisik Succubus ke Damien


"Ah..iya, tapi..dia bukan orang yang kukenal dulu"


"Semua orang bisa berubah kan?"


"Iya, tapi itu terlalu 'berubah' menurutku"


Succubus hanya tersenyum, melihat Erina mengamuk dan menyelesaikan perang ini.


Damien menderita banyak luka, namun Ia tidak merasa sakit, Ia terus berfikir tentang Erina.


Kakek Luvo dan para pemuda yang sudah tak terpengaruh mantra berlari menyusul.


Mereka lemas terduduk melihat sosok raksasa yang membantai seluruh pasukan Arblegas.


"I...itu nona Erina?"


"Iya kek"


"Dia..keturunan Titan?"


"Titan?"


"Iya, raksasa itu, sama seperti penunggu menara"


"Penunggu menara?"


"Kalian menuju menara tapi tidak tahu soal itu?"


"Kami...masih kurang informasi sepertinya"


Kakek Luvo mulai bercerita tentang yang Ia ketahui tentang menara kekuatan.


"Di dalam menara kekuatan, ada seorang penunggu, lebih tepatnya Ia adalah pemegang kunci dari segala kekuatan yang tersimpan di dalam bumi. Namanya adalah Adam, manusia berakal pertama di dunia, karena Ia adalah seorang Titan, maka tubuhnya sangat besar. Adam yang bukan makhluk abadi, ketika akan mati, Ia membuat perjanjian dengan tuhan, Ia akan mengabdikan dirinya dengan membuat dan mengelola menara kekuatan sehingga semua berjalan dengan seimbang. Sekarang Ia tidak dapat mati, tapi tidak bisa kemana - mana selain di menara itu"


"Hoo..jadi begitu, akupun baru mengetahui soal ini, dan juga soal keturunan Titan"


"Para keturunan Titan sangatlah kuat dan kolosal, namun sangat langka sekarang ini, bahkan kukira hanya Adam Titan yang tersisa"


"Menurutku, Lily pasti mengetahui soal ini, karena Ia berasal dari Yunani, pasti ada hubungannya" Succubus berspekulasi


"Iya benar, astral dan dewa yang berwujud Titan banyak sekali di Yunani" Damien menambahkan.


"Masih banyak misteri yang belum terungkap dari Erina, tapi yang pasti, Ia memenuhi janjinya soal memenangkan perang ini".


Kakek Luvo mengangguk, dua anak muda terpana.


Erina berteriak kencang seperti makhluk buas yang habis mengalahkan mangsanya


"AAAAAARRRRGGGGHHHHH...".