
Di dalam kuil, nampak tiga lorong gelap tanpa penjelasan apapun.
Lorong itu hanya sebesar satu badan orang dewasa.
"Apa kita harus berpencar lagi disini?" tanya Lily.
"Hufftt..tidak! aku gak mau berpisah lagi", Erina menjawab.
"Yasudah kalau begitu kita pergi bersama - sama menuju ke satu lorong" usul Damien.
"Okay", semua menyetujuinya.
"Erina, kau pilihlah lorongnya dengan intuisimu"
"Baiklah, hmmm.....yang tengah!" Erina menunjuk lorongnya.
"Oke, biar aku yang di depan, kalian nanti menyusul di belakangku", ucap Damien.
Damien pun dengan perlahan memasuki lorong yang ditengah.
"Siapa selanjutnya? mama masuklah"
Lily juga memasuki lorong.
Tiba - tiba 'Bamm!'
Pintu lorong tertutup dengan cepat.
"Astaga! bagaimana ini?!" Erina memukul - mukul pintu yang terbuat dari batu, namun itu tak bergeming sedikitpun.
"Dugaanku, kita harus masuk dua orang di setiap lorong ini" ucap Succubus.
"Yaampun, ini sangat menyebalkan", Erina merasa kesal.
"Kalau begitu, kau bersama Leiva, aku bersama Varlo", usul Succubus.
"Baiklah, hati - hati ya. Ayo Leiva", Erina memasuki lorong sebelah kiri.
Succubus menggandeng Varlo dan masuk ke lorong paling kanan.
Keadaan menjadi sangat hening.
...----------------...
Di lorong tengah.
"Aku tak mengira kita tetap akan berpencar"
"Benar, kita jadi berdua lagi"
"Sebenarnya, aku senang kita bisa berdua lagi"
Damien jadi malu.
Lalu Lily dan Damien tiba di sebuah tebing, dibawahnya terdapat jurang dengan air mendidih dibawahnya, lalu ada dua utas tali tambang yang berfungsi sebagai jembatan untuk menyeberang ke sisi satunya.
Lily menelan ludah, lalu menatap Damien.
"Kita pasti bisa, kita cukup berpegangan dengan kuat, lalu seimbangkan diri saat melewati tali itu".
"Aku takut"
"Aku akan melindungimu"
Lily pun menjadi yakin karena Damien.
"Kita minum ini dulu, ini agar stamina kita bagus", Lily mengeluarkan sebotol ramuan lalu meminumnya bersama Damien.
Kemudian mereka berpegangan, lalu naik ke atas masing - masing tali.
Tali itu bergoyang cukup kencang karena ada angin dari kedua sisi.
"Kenapa sih harus ada tempat seperti ini?"
"Aku juga heran ada yang menciptakan tempat ini"
"Apa benar ada manusia biasa yang berhasil melewati ini semua ya?"
"Pasti mereka orang - orang yang sangat hebat"
Sampai setengah jalan, mereka mulai merasakan sesuatu.
"Damien, kakiku kram"
"Gawat, yasudah kita istirahat dulu"
"Sulit sekali, meskipun sudah meminum ramuan"
Mereka berusaha menyeimbangkan diri di atas seutas tali tambang yang bergoyang terkena angin, sedangkan aliran air panas dibawah sangat deras.
"Apa yang terjadi jika kita terjatuh ya?"
"Pastinya matang"
"Kalau matang bersamamu aku tak apa"
"Jangan, kasihan Erina"
"Baiklah kita harus berjuang dengan maksimal, jangan menyerah begitu saja"
"Benar"
Tiba - tiba, "Kyaaa.."
Ketika itu, kaki Lily tersandung dan Ia terjatuh, tapi tangan Damien segera menangkapnya.
Posisi mereka benar - benar di ambang batas.
Tubuh Damien tertahan oleh kedua tali, sedangkan kedua tangannya memegang tangan Lily.
"Damien!"
"Lily bertahanlah!"
"Dam, maafkan aku"
"Maaf kenapa?"
"Sudah banyak merepotkanmu"
"Jangan bicara yang tidak - tidak, bertahanlah aku akan menarikmu"
"Kenapa kau bisa menyukaiku?"
"Duh...kenapa pertanyaan itu muncul di saat seperti ini?"
"Aku hanya penasaran"
"Sejak bertemu arwahmu di akhirat, aku sudah merasakannya"
"Apa kau merindukan saat - saat menjadi astral di akhirat?"
"Iya, kala itu tak perlu takut mati"
"Kalau aku, sudah sering merasakan perasaan seperti ini"
"Kau sudah lama hidup sebagai manusia ya?"
"Iya, mungkin ini sudah saatnya"
"SAATNYA APA!? JANGAN MULAI BICARA ANEH - ANEH!!", Damien mulai kesal.
"Kita akan bertemu lagi Dam, hiduplah Demi Erina"
"Lily please, jangan ngomong begitu"
"Akan percuma kalau kita berdua jatuh"
"AKAN PERCUMA KALAU KAMU JATUH!, HIDUPKU AKAN PERCUMA!"
"Tidak Dam, kau akan selalu menjadi orang yang dapat diandalkan"
"Aku mencintaimu, Damien Leonardo Cordova"
Lily melepaskan genggaman Damien, Ia terjatuh ke dalam aliran air yang deras dan mendidih.
"TIDAAAKK", air mata Damien mengalir deras.
"Darimana kau mengetahui nama lengkapku? kau pasti mengetahui sesuatu dari masa laluku Lily".
...----------------...
Erina bersama dengan Leiva melewati lorong gelap itu, sampai bertemu jalur labirin yang dindingnya ditutupi oleh tanaman rambat.
"Leiva, jangan sampai tanganmu terlepas ya"
"Iya tante"
"Sebenarnya, kalau tante kayaknya aku tua banget ya, umur kita kan gak beda jauh"
"Haha gitu ya, yaudah kupanggil kak Erina aja"
"Nah gitu......tapi, sebenarnya apa yang kamu pikirin waktu mau ikut masuk ke menara ini? emang kamu gak tahu cerita orang - orang yang pernah masuk?"
"Aku tahu kok, banyak yang punya cerita mengerikan"
"Tapi kamu nggak takut?"
"Nggak, aku pingin kayak ayah"
"Ayah?"
"Iya, ayahku berhasil selamat dari menara ini"
Erina langsung serius dan menatap Leiva.
"Kamu serius!? bukannya dia sudah meninggal?"
"Tidak, sebenarnya dia pergi, pergi jauh"
"Kenapa gak bilang dari awal? memang kemana dia pergi?"
"Dia gak bilang, tapi katanya untuk tujuan menolong orang banyak"
"Lalu meninggalkan anaknya begitu saja?"
"Iya, dia bisa terbang"
"Waah..terbang seperti Succubus?"
"Tapi dia tidak bersayap. Dari dulu ayahku memang berambisi untuk menjadi orang yang kuat"
"Namun kalian tidak diajari apapun tentang menjadi kuat?"
"Tidak, dia hanya mengajari cara bertani dan bertahan hidup"
"Kapan dia pergi?"
"Lima tahun yang lalu"
"Aku jadi benar - benar penasaran dengan ayahmu itu"
Setelah beberapa lama, mereka menyadari kalau hanya berputar - putar di dalam labirin itu.
"Kacau ini, aku tak melihat ujungnya dari labirin ini"
"Bagaimana kalau kita ternyata hanya berputar - putar disini sampai mati?"
"Hush! jangan bicara sembarangan"
"Aku rasa kita bisa pakai ini untuk menandai jalan yang sudah kita lewati", Leiva mengeluarkan botol dengan isi saus berwarna merah.
"Ah kau sangat pintar!"
Mereka pun mulai menandai jalan yang dilewati.
Tak lama kemudian, angin kencang berhembus.
Dan muncullah sesosok makhluk.
Itu adalah seekor kambing raksasa yang berdiri dengan dua kaki dan memegang sabit yang panjangnya melebihi sebuah mobil sedan.
"Leiva ke belakangku!"
Leiva langsung bersembunyi di belakang Erina.
Kambing itu hanya bergerak perlahan.
Matanya yang berwarna merah menyala menatap Erina dengan tajam.
Tiba - tiba Ia langsung berlari mengejar.
"Aaakhh..ayo larii", Erina langsung menarik lengan Leiva dan berlari sekuat tenaga.
"Kita sudah lewat sini kak!" Leiva melihat bekas saus yang ditinggalkannya.
"Oke berarti ke jalur sana!", Erina mengubah arah dan terus berlari.
Setelah berlari kencang untuk beberapa saat, mereka kelelahan.
"Sepertinya makhluk itu kehilangan kita", ucap Leiva.
Namun mendadak muncul suara, "Kalian tak mungkin bisa lari Baphomet".
Makhluk itu muncul di depan mereka.
Erina terfikir sesuatu lalu berteriak tanpa ragu, "BEHEMOTH!"
Behemoth muncul dan langsung menghadang Baphomet.
"Hmm...lama tak jumpa teman lama", Baphomet menyapa Behemoth.
Behemoth yang berwujud seekor gajah tak menjawab apa - apa dan langsung menyerang Baphomet dengan gadingnya.
Namun Baphomet menangkis semua serangan dengan sabitnya.
"Apa gajah itu bisa menang kak?"
"Aku juga gak tahu, tapi sepertinya mereka seimbang".
Tak lama, 'Craaakk' suara sabetan sabit Baphomet membelah tubuh Behemoth menjadi dua. Lalu jasad Behemoth segera menghilang.
"Astaga!" Erina terkejut dan menutup mulutnya.
"Kau membunuh pak Behe!" emosi Erina bangkit.
Dalam sekejap mata, sabit besar itu langsung menyabet Erina tanpa peringatan.
Namun, Erina menahannya dengan lengannya.
"Hah!? kok bisa?" Erina tak bisa mempercayai hal yang terjadi.
"Kak, sepertinya itu adalah kekuatan dari penguasa piramida, Ia bisa mengeraskan kulitnya untuk menahan serangan kan!?" seru Leiva.
"Ah sepertinya kau benar, rupanya ini kekuatan dari Alexei"
"Cih, baru bisa menahan saja sudah sok"
Baphomet yang kesal lalu menyerang membabi buta dengan kecepatan tinggi.
Erina kewalahan, satu pukulan keras dan Ia terpental jauh.
"Kekuatanmu tak sebanding denganku", Baphomet yang mulai merasa superior hendak menyerang lagi.
'Trangg..' terdengar suara besi yang beradu.
Ada sabit yang lebih kecil bercahaya biru menahan sabit besar Baphomet.
"Akulah lawan yang sebanding denganmu!", Damien muncul dengan jubah hitam panjang selayaknya seorang malaikat maut.
"DA..DAMIEN!?", Erina terkejut.