
Rusia abad ke 13.
Hiduplah seorang Ibu muda yang cantik, dan anak laki - lakinya di sebuah desa.
Anak laki - laki itu tak mengetahui siapa ayahnya. Sehingga Ia banyak mendapat cemoohan dari anak - anak seumurannya.
Apalagi dengan fakta yang baru ditemukan oleh warga bahwa sang ibu adalah seorang vampir.
Di suatu malam, Ibu dan anak itu berlari menuju ke hutan.
Rumahnya dibakar oleh segerombolan warga marah yang membawa obor juga garpu taman.
"Bakar! bakar vampir itu! hilangkan monster dari desa ini!", teriak warga - warga.
Di hutan, mereka kelelahan.
"Ibu, kenapa orang - orang marah?, rumah kita kenapa terbakar?"
"Orang - orang bukan marah, kita hanya harus pindah rumah"
"Apa karena ayah?"
"Kenapa ayah?"
"Kata teman - teman, karena ayahku gak ada aku anak yang payah"
Mendengar hal tersebut, sang ibu menangis dan memeluk anaknya, "Maafkan ibu ya.."
Mereka pun melalui malam yang panjang.
Setelah beberapa hari berjalan dan mencari tumpangan, mereka tiba di sebuah kota kecil.
Beberapa orang warga mengusir mereka karena dianggap pengemis.
Akhirnya ada salah satu warga yang bersedia menampung mereka, dengan syarat sang ibu menjadi asisten rumah tangga dirumahnya.
Itu adalah seorang nenek yang baik. Ia mengajak mereka berdua ke rumahnya, rumah keluarga itu cukup besar, dan terdiri dari banyak orang.
Keluarga besar nenek itu tak menyukai kedatangan orang asing, namun karena dianggap sebagai pelayan, mereka akhirnya setuju.
"Siapa nama kalian?" tanya nenek itu.
"Nama saya Sasha Klavdya, dan ini putra saya Alexei"
"Kenapa kalian pergi merantau?"
"Desa kami terlibat perang saudara"
"Wah kasihan sekali, padahal kau sangat cantik. Dibawah tanah ada ruangan, kau bisa memakainya"
"Terima kasih atas bantuan nyonya" Sasha membungkuk.
Meskipun keluarga nenek itu sering menyuruh dan berbuat semena - mena, namun Sasha sangat bersabar. Alexei juga diajarinya membantu pekerjaan rumah tangga.
Tak lama setelah Sasha dan Alexei masuk ke rumah itu, sang nenek sakit kemudian meninggal. Seluruh keluarga berduka, ada beberapa yang mulai menyalahkan kehadiran Sasha sebagai penyebab kematian nenek.
Berselang beberapa bulan, mulai timbul kejadian yang tak mengenakkan. Sang bapak yang pulang malam dalam kondisi mabuk, mulai menghampiri Sasha kemudian memperk#sa nya. Sasha hanya bisa pasrah. Kejadian tersebut terjadi berulang - ulang.
Alexei merasa ada yang janggal dengan ibunya, namun Ia tak berani membicarakannya.
Suatu pagi di halaman belakang, terlihat ibu pemilik rumah sedang memukuli Sasha, karena Ia menangkap basah suaminya yang melakukan hubungan dengannya.
Dianggapnya Sasha yang bersalah karena tak menolak ajakan majikannya tersebut.
Tak hanya itu, beberapa barang yang menghilang dari rumah dianggap adalah kesalahan Sasha.
Sasha dimaki, dipukul, ditendang, dan dilempari. Harga dirinya benar - benar diinjak - injak.
Tak lama setelah itu, peperangan sedang melanda, kaum Mongolia yang dipimpin Gengis Khan sedang berusaha merebut beberapa wilayah di Rusia.
Pasukan Mongolia membantai siapapun yang berusaha melawan, lalu yang menyerah akan dipaksa menjadi budak.
Mengetahui hal tersebut, Sasha segera membawa dan bersembunyi di ruangannya bawah tanah.
Terdengar suara pasukan Mongolia mendobrak masuk dan membantai seluruh keluarga pemilik rumah.
Sasha berusaha menyembunyikan Alexei dengan menutupinya dengan jerami, dan menyuruhnya untuk diam.
Suara langkah kaki terdengar jelas dari balik pintu kayu ruangan bawah tanah.
Beberapa orang pasukan berhenti tepat di atas mereka.
Sasha berbisik kepada anaknya, "Alexei sayang, apapun yang terjadi, tetap disini ya...jangan berbicara ataupun berteriak, mama pasti akan menyelamatkanmu"
'Bruakk..' suara pintu kayu dibuka paksa, terdengar pasukan itu berbicara dengan bahasanya.
"Aaakkhh..", Sasha berteriak saat ditarik keluar oleh dua orang mongolia.
Alexei menatap dengan ngeri dari balik tumpukan jerami, Ia tak bergerak namun tubuhnya bergetar hebat.
...----------------...
Dua hari berlalu.
Tak tidur, Tak makan, tak minum. Alexei berdiam sendirian di ruang bawah yang gelap.
Pikirannya kosong.
Bau bangkai tercium dimana - mana.
Dengan tubuhnya yang menjadi sangat kurus, akhirnya Ia memutuskan untuk bergerak.
Ia keluar dari ruang bawah tanah, melihat jenazah bergelimpangan dimana - mana.
Ia ketakutan saat itu, namun Ia mengingat pesan ibunya untuk tetap diam.
Diluar, Alexei tak bisa menemukan orang yang masih hidup. Ia hanya terus berjalan tak tentu arah.
Kemudian Ia melihat seekor anak sapi yang terlihat sedang sekarat.
Tanpa pikir panjang, Ia melahap sapi itu mentah - mentah. Dianugerahi gigi yang tajam, Ia mampu mengoyak daging mentah dengan mudahnya.
Setelah makan tubuhnya langsung terasa segar, Ia melanjutkan perjalanan.
...----------------...
Beberapa jam berjalan, malam pun tiba. Ia melihat banyak pondok - pondok yang dibangun di tanah lapang.
Ia melihat dari balik ilalang, Itu adalah pemukiman sementara para pasukan mongolia.
Saking brutalnya, mereka punya kebiasaan menancapkan jenazah lawannya di tombak.
Terlihat kaum mongol seperti sedang berpesta merayakan kemenangan.
Alexei melihat sekelebat, ibunya yang tak berpakaian, diikat di batang kayu, penuh luka dan terlihat sangat lemas.
Meskipun merasa takut, Ia bertekad menyelamatkan ibunya.
Lalu, tanpa disadari di sampingnya muncullah seorang pria, pria yang berbaju sangat rapi dengan setelan seperti bangsawan.
"Hei nak, kau pasti ingin menyelamatkan ibumu bukan?"
Alexei mengangguk.
"Tapi kau takut karena hanya anak kecil?"
Ia mengangguk lagi.
"Tahukah kamu?, Ibumu itu adalah vampir terakhir di dunia. Aku memberinya anak agar mampu melanjutkan keturunan, namun sepertinya anaknya hanya manusia biasa"
Alexei sama sekali tak memahami perkataan pria itu.
"Aku bisa membuatmu mampu menyelamatkan ibumu"
"Ba..bagaimana caranya tuan?"
Pria tersebut mengusapkan tangannya ke kepala Alexei, dalam sekejap seperti ada yang merasukinya, ada energi besar yang mengalir yang membuatnya merasa menjadi begitu kuat.
"Tapi syaratnya...kalau nanti sudah besar, kau harus mengikuti perintahku"
Alexei mengangguk.
"Bagus, karena aku adalah ayahmu"
Alexei terkejut, namun pria tersebut langsung menghilang di kegelapan.
Alexei nekat untuk maju menuju ke pondok - pondok itu, Ia mengambil pisau yang tertancap di tanah, membakarnya di api unggun, lalu membawanya.
Sosoknya yang pendek tak nampak di kegelapan.
Satu persatu pasukan mongolia yang sedang berpesta ditikam oleh pisau panas.
Alexei bergerak sangat cepat seperti seekor hewan kecil yang lincah.
Pasukan Mongolia di camp itu berhasil dibantai habis oleh anak berusia lima tahun.
Lalu Alexei melepaskan ikatan ibunya.
"A...alexei"
"Ini aku ibu"
"Ternyata...malah kamu...yang menyelamatkan ibu"
Sang ibu sudah begitu lemah akibat segala siksaan oleh kaum Mongolia, Ia tak mampu bergerak.
"Kita cari obat ya bu"
"Tak usah nak....ibu...sepertinya.."
"Ibu jangan bicara lagi"
"Maafkan ibu nak...maafkan.."
"Hu..hu...ibuu", Alexei menangis.
"Kamu...kelak..akan..jadi..anak..yang hebat"
Alexei menyaksikan ibunya menghembuskan nafas terakhirnya di pelukannya.
Ia berteriak dan menangis kencang.
...----------------...
Dari tahun ke tahun, Alexei selalu hidup menyendiri, berkat tubuhnnya yang selalu meregenerasi meskipun hanya makan sedikit, Ia merasakan berbagai perubahan zaman dari tahun ke tahun.
Sampai Ia akhirnya mencari tahu dan menemukan sejarah keluarga ibunya yang merupakan keturunan vampir terakhir di rusia.
Dan menempati kastil yang dulunya menjadi milik kerajaan kakeknya.
Hingga sekarang.
Sedikit demi sedikit Ia mempelajari bagaimana cara manusia hidup, bersosialisasi, membangun bisnis, dan sebagainya.
Namun hingga saat ini, hatinya masih terasa kosong.