My Heart From Hell

My Heart From Hell
Good things



Sebelum Daniel sempat beranjak dari kursi yang ia duduki, ia melihat seorang pria berpenampilan rapi, yang nampak seperti preman mendekati Arina.


Pria itu langsung merangkul Arina lalu mengajaknya bicara dengan jarak yang begitu dekat. Daniel tahu betul gelagat pria itu yang menyadari adanya wanita yang mulai mabuk dan mencoba memanfaatkannya.


Ketika pria itu mencoba berkenalan, Arina yang mulai mabuk menanggapi pria yang tidak dikenalnya tersebut.


Seketika Daniel langsung menepis lengan pria yang sedang merangkul Arina itu.


"Hei! mau apa lu!?", pria itu langsung naik pitam.


"Ini teman gue! lu siapa!?", bentak Daniel.


Arina terkejut dan menyadari kehadiran sosok Daniel, "Eehh.. pak boos, di sini juga rupanyaa"


Menyadari bahwa Arina kenal dengan Daniel, pria itupun langsung pergi begitu saja dengan wajah yang sangat kesal. Daniel memelototinya.


"Na, lo kenapa sampai mabuk begini deh?", Daniel terdengar khawatir.


"Aahh.. gue gak apa - apa pak boss, cuma pingin kayak orang - orang, kalau lagi banyak masalah minum alkohol, hihi.. hik", Arina melantur dengan wajah yang sangat merah.


"Emang lo lagi ada masalah apa sih?", Daniel mencoba menelisik.


"Biasa kookk.. perceraian orangtua, standar kan yaaa.. kayak orang - orang.."


"Apaan sih, masalah begitu kok standar"


"Iyaaa.. setelah bokap KDRT selama bertahun - tahun, dan nyokap yang punya laki - laki lain, akhirnya.. mereka akhirnya... hikkss..", Arina mulai menangis tersedu.


Daniel yang tak tega melihatnya pun segera mengarahkan bahunya untuk Arina bersandar.


Arina menangis kencang di bahu Daniel, dan jasnya pun menjadi basah. Namun Daniel mengusap rambut panjang Arina dengan lembut.


"Gue.. gue gak berguna.. semua salah gue.."


"Nggak, ini bukan salah lo"


Daniel berinisiatif untuk membayar lalu mengantarkan Arina pulang.


Ia membopong Arina dan memasukkannya ke mobil yang mereka pakai siang tadi.


Arina segera terlelap di jok penumpang.


Karena tak tahu alamat, Daniel menghubungi Tara, admin kantornya untuk menanyakan tempat tinggal Arina.


"Halo"


"Halo, wah ada apa nih pak boss nelepon jam segini? suami gue sampai kaget, kirain gue selingkuh"


"Apaan sih!? lo tahu alamatnya Arina gak?"


"Arina?"


"Iya"


Diam sesaat


"Ciee.."


"Apa lagi!?"


"Ada apa nih boss sama Arina? kalian udah mulai ehem ya?", Tara mulai melantur.


"Ra, please! ini udah malam! orangnya lagi tepar ini harus gue anterin", Daniel jengkel.


"Hah serius!? pingsan apa gimana doi?"


"Nanti gue jelasin! sekarang alamatnya!"


"Oh oke - oke sebentar, hmm.. apartment Mercury, tower A lantai tiga belas, unit 1304"


"Sip, thanks", Daniel langsung mematikan teleponnya.


......................


Di perjalanan, Daniel selalu menoleh ke samping, melihat wanita yang terlelap di sebelahnya.


Rambut hitam panjang yang tergerai di jok kulit mobilnya, kulit putih dan kemerahan, tubuh yang mungil, sungguh merupakan tipe wanita idaman Daniel, namun Daniel tak kuasa mengungkapkannya, karena peran mereka sebagai atasan dan asisten yang harus dijalaninya dengan baik.


Mengingat banyaknya cerita buruknya di masa lalu dengan wanita, Daniel tak ingin berbuat kesalahan lagi. Ia sempat tergoda dengan Arina, namun ia menahan diri.


Meskipun dari awal ia menerima lamaran Arina di kantornya memang disebabkan oleh fisiknya yang sangat menarik perhatiannya.


...----------------...


Mobil Daniel telah terparkir di basement apartement.


Daniel mematikan mesin.


Ia menatap Arina, lalu mulai mendekatkan wajahnya perlahan - lahan.


Daniel terkejut oleh suara kaca mobil yang diketuk.


"Selamat malam pak, mau ke mana ya?", ucap satpam yang sedang berjaga, ia menyadari mobil itu bukan milik penghuni apartemen.


"Ini pak, mau ngantar Arina, bapak kenal?", Daniel menunjukkan Arina kepada satpam itu.


"Oohh mbak Arina, iya saya kenal dia baik banget, keluarganya juga"


"Saya mau antar ke kamarnya pak, di lantai tiga belas ya?"


"Iya betul, hmm.. bapak ini, pacarnya ya?",satpam itu penasaran sambil melihat Daniel dari atas sampai bawah.


"Ah bukan, saya atasannya. Tadi kebetulan di kantor ada pesta peringatan, jadi banyak yang minum"


"Waah.. sampai atasannya yang mengantar, pasti langsung direstui tuh pak", satpam itu mengedip sebelah matanya.


Daniel pun tertawa canggung selagi merangkul Arina dan membopongnya.


...----------------...


Lift tiba di lantai tiga belas, Daniel menyusuri lorong dengan lampu temaram.


Ketika sampai di depan unit 1304, Ia mendengar suara teriakan, bentakan, piring pecah, dan segala kekacauan dari dalam kamar tersebut.


Daniel menghela nafas, ia teringat yang diungkapkan Arina saat di bar tadi benar adanya.


Daniel memencet bel, lalu meninggalkan Arina di depan pintu dengan posisi terduduk.


Ibunya membuka pintu lalu panik, "Nak.. kamu kenapa!? hei bantu aku! dia pingsan!"


Ayah dan ibunya yang sedang bertengkar hebat membawa tubuh Arina bersamaan lalu menaruhnya di sofa.


"Naak.. sadar nak", Ibunya menggoyangkan tubuh Arina yang dikiranya pingsan.


"Ngghhh..."


"Akh bau alkohol, lihat! dia sudah mulai jadi seperti kau!", ibunya memarahi sang ayah.


"Itu karena kau yang tak becus mendidiknya!", bantah ayahnya.


"Ngggg.. berisik.. ka.. kalau kalian mau pisah silahkan saja.. na.. nanti aku.. jadi gelandangan saja", Arina mengigau.


Mendengar hal itu, Ayah dan ibunya terdiam lalu saling bertatapan.


......................


Pagi tiba, Arina terbangun dengan kepala yang teramat sakit, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Aaaduuhh.. kenapa sih ini?"


Sambil menatap langit - langit kamarnya, ia mencoba mengingat apa saja yang telah terjadi malam tadi.


Ingatannya terhenti sampai ia memesan tequila.


"Astaga, kok aku tiba - tiba bisa ada di rumah?", ia heran sendiri.


Ia mengecek pakaiannya, piyama yang biasa ia pakai. Lalu di sebelahnya ada sekaleng susu beruang, yang langsung ia teguk sampai habis.


Arina berdiri terhuyung, lalu keluar dari kamarnya. Ia melihat kondisi rumah yang begitu rapi, ibunya memasak sarapan, ayahnya membaca koran di meja makan.


"Selamat pagi anakku, nyenyak tidurnya?", sapa ibunya dengan ramah.


Ayahnya tersenyum, "gak enak kan mabuk?"


"Gak enak banget, kenapa juga ayah bisa sesuka itu"


"Hahaha.. kamu masih harus banyak belajar"


"Udah gak usah, nih sarapan dulu", ibunya menaruh sepiring telur mata sapi beserta daging bacon sapi, juga teh hangat.


Arina merasa janggal dengan situasinya saat ini, "Akuu.. lagi mimpi ya? kenapa kalian jadi akur kayak waktu aku masih kecil dulu?"


"Nggak mimpi kok, kami udah memutuskan untuk mengulang semua dari awal lagi", ucap ayahnya seraya merangkul ibunya.


"Hah!?", Arina masih tak percaya.


"Iya, kami akan jadi orangtua yang seutuhnya seperti dulu, gak akan mementingkan ego masing - masing lagi"


"Be.. beneran!? kalian gak jadi bercerai!?"


Ayah dan ibunya menggeleng bersamaan sambil tersenyum.


Arina merasa terharu, lalu mereka bertiga berpelukan dengan erat.


Arina lalu menghabiskan akhir minggu dengan penuh kebahagiaan bersama kedua orangtuanya, seperti yang sealu ia harapkan sejak lama.


...----------------...


Minggu persidangan telah dimulai, karena suasana hatinya yang sedang bagus, semua berkas telah Arina pelajari dan pahami dengan baik selama satu minggu.


Tak diduga persidangan berjalan lancar, hingga masuk persidangan ketiga, Daniel dengan dibantu Arina berhasil membela kliennya hingga menjadi tak bersalah, dan rekan bisnisnya yang harus membayar ganti rugi.


......................


Di area lobby gedung pengadilan.


"Aah.. na, gue senang banget. Kita menang!", Daniel sumringah.


"Iya mas, syukurlah"


"Lo mau apa? pasti gue kasih?"


"Gak mau apa - apa kok mas, digaji juga udah syukur", Arina tersenyum.


Daniel menatap Arina dengan pandangan yang berbeda.


Arina menjadi salah tingkah.


Tanpa pikir panjang, Daniel segera mencium bibir Arina, Arina sangat terkejut hingga tak kuasa menolaknya.


Daniel memeluk Arina dengan erat, Arina merasakan kehangatan dari dekapannya, ia merasa nyaman.


Setelah berpelukan, Daniel langsung berlutut di hadapan Arina dan membuka sebuah kotak kecil berisi cincin berlian,


"Na.. mau gak jadi istriku?"


Arina yang belum selesai terkejut dari kecupan itu, langsung diserang oleh pertanyaan yang lebih besar lagi.


Arina terdiam, tak percaya dengan semua situasi ini, Ia menutup mulut dengan tangannya. Matanya berair.


Kenapa tiba - tiba semua keadaan menjadi begitu luar biasa baik kepadanya?