My Heart From Hell

My Heart From Hell
The Only Way



Erina menelusuri hutan tanpa henti, berkali - kali Ia melihat banyak sarang tawon raksasa yang bergantung diatas pohon, namun isinya sudah kosong.


"Pak Behe, aku tidak akan membuat perjuanganmu sia - sia" Erina bertekad meskipun tetap merasa sedih


Ia terus memperhatikan kunci gerbang yang dibawanya, mengikuti arah ketika cahayanya berwarna biru


Langit sudah mulai gelap, malam datang dengan cepat


Erina membongkar ranselnya "Ah, aku tak membawa tenda, cuma ada sleeping bag rupanya"


Ia mengumpulkan ranting, menyalakan api, kemudian beristirahat di hutan dengan ditemani cahaya bulan, bulannya cukup normal, namun berwarna merah


"Mama..kau baik - baik saja kan? Damien? Succubus? Alexei? Levi? aku kangen semuanya"


Tiba - tiba terdengar seperti langkah seseorang yang bergerak mendekat


Erina segera mengambil pisau lipat yang dibawanya dan mengarahkannya ke arah suara yang datang, Ia merasa gusar


"Makhluk apa yang akan datang kali ini?"


Beberapa saat kemudian, muncullah seseorang dari balik semak - semak, seseorang berambut merah


"SUCCUBUS!!" teriak Erina


Ia langsung menghampiri dan memeluk Succubus yang hampir pingsan


Erina membaringkan Succubus di dekat api unggunnya


"Hei, apa yang sakit?" Erina memeriksa tubuh Succubus yang penuh lebam dan baju yang robek - robek


"Ah..nona Erina.." Succubus lemas


"Sudah, kau istirahat dulu, makanlah roti ini"


Erina menyuapi Succubus dengan roti dan air dari bekal yang dibawanya, kemudian memberinya vitamin untuk daya tahan tubuh


Mereka berdua pun tertidur karena kelelahan, tak ada yang mengganggu mereka malam itu.


Keesokan harinya


Succubus terbangun lebih dahulu, Ia melihat Erina yang masih tertidur lelap diatas dedaunan, sedangkan dia didalam sleeping bag. Succubus merasa iba


"Nona bangunlah, sudah pagi" Succubus menggoyangkan tubuh Erina dengan lembut


"Akh..Sue! kok kau udah bangun!?" Erina terkejut dengan air liur yang masih mengalir


"Aku baik - baik saja nona Erina, terima kasih sudah merawatku" Succubus menundukkan kepalanya dan bersikap sopan


Erina menjadi curiga "Heh siapa kau!? kenapa kau berwujud Succubus temanku?"


"Ah ini aku kok"


"Ngomongnya biasa aja, gak usah seperti pelayan gitu"


"Aku kan sudah mengabdikan diri"


"Tapi gak perlu begitu, aneh rasanya, kita jadi kayak teman biasa aja"


"Hmm baiklah kalau itu maumu"


Mereka berdua pun saling bercerita


"Jadi kita sudah dua hari disini, apa kau bersama seseorang saat terdampar?" Erina mulai bertanya


"Iya, aku bersama Leviathan"


"Lalu? dimana dia?"


Succubus menunduk dan menangis "Dia...menyia - nyiakan hidupnya begitu saja"


"Apa kau bisa menceritakannya?"


Succubus menceritakan semua hal yang dialaminya bersama Leviathan sebelum akhir hayatnya, Erina turut sedih mendengar ceritanya


"Aku berjalan di tepi tebing curam, dan terjatuh berkali - kali sampai akhirnya tiba disini. Nah kalau kau bareng sama siapa?"


"Sebelumnya aku mau minta maaf Sue, karena aku gagal menjaganya"


"Siapa? Apakah Behemoth?"


Erina mengangguk


"Ah, orangtua itu..."


"Dia mengalahkan semua tawon raksasa di hutan ini seorang diri"


"Apa kau melihat sendiri bagaimana Ia mati?"


"Tidak, saat aku pergi dia masih hidup, tapi sudah tak bisa berjalan"


"Dasar sok kuat"


"Ia menitipkan sebuah pesan untukmu"


"Apa itu?"


Erina memberikan sepucuk surat


Succubus membaca surat itu


'Saat pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta, tapi bukan sebagai pasangan, melainkan seorang putri, kedatanganmu saat itu mengingatkanku akan putriku di kehidupan yang sebelumnya, aku ingin selalu menjagamu, dan mengikuti apapun keinginanmu. Tapi mungkin kalau kau membaca surat ini, berarti aku sudah tiada. Aku hanya berharap kau menjaga dirimu, jangan sering melibatkan diri ke dalam bahaya. Dan semoga kau bertemu lelaki yang tepat dan menyayangimu apa adanya.


ps. Salam untuk Lucifer'


Erina menepuk pundak Succubus untuk menenangkannya


"Orang tua itu, dasar...padahal"


"Kenapa?"


"Dulu memang aku menganggapnya seperti ayahku karena Ia selalu membantuku dalam bekerja, namun.....…..aku jadi benar - benar menyukainya"


"Ah begitu?" Erina begitu terkejut


"Iya, tapi aku selalu menutupinya karena segan"


"Bukankah kau menyukai Asmo?"


"Benar, tapi dengan Asmo sebenarnya aku lebih ke arah mengidolakannya"


"Hmm..rumit ya"


"Begitulah"


Setelah saling bercerita, mereka memutuskan untuk bergegas menuju tempat tujuan mereka


"Aku, harus bilang apa jika kembali ke akhirat nanti ya? aku sudah membunuh salah seorang petinggi neraka"


"Kau kan tidak membunuhnya, lagipula kau tak melihatnya secara langsung kan? mungkin saja dia berhasil selamat"


"Kurasa tak mungkin, karena uap itu menyebar dengan cepat, dari jauh saja mata dan pernapasanku terasa sangat sakit"


"Leviathan yang kukenal bukan orang yang lemah, aku yakin dia akan selamat"


"Aku sangat berharap seperti itu"


Di perjalanan, mereka bertemu dengan aliran sungai, sungai itu sangat tenang dan berwarna hijau pekat karena lumut, diliputi banyak kabut, suasananya cukup mencekam.


Kemudian di dekat sungai, muncul seorang pria kurus dengan baju compang - camping yang meminta tolong


"Tolonglah saya, saya tersesat disini sudah berbulan - bulan"


Erina dan Succubus saling melihat, kemudian memberikan beberapa sisa bekal mereka kepada orang itu


"Terima kasih banyak, kalian adalah wanita yang sangat baik"


Succubus berbisik kepada Erina "Menurutku pria ini adalah bentuk ujian kepada kita"


"Aku juga tak tahu, tapi mungkin saja"


"Baiklah, kita ikuti saja apa maunya"


Pria itu mulai mendekati mereka berdua


"Aku punya kapal untuk menyeberangi sungai"


Erina dan Succubus terkejut


"Kau, benar - benar punya kapal?"


"Iya, disana" pria itu mengarahkan mereka berdua menuju kapalnya


Kapal itu sangat kecil, seukuran dengan kano, dan hanya muat untuk dua orang. Terlihat kapal tua itu sudah sangat usang dan rawan tenggelam


"Kalian harus melewati sungai ini kalau kalian hendak menuju ke menara"


"Apa kau bisa membawa kami ke seberang sana?"


"Bisa tapi hanya satu orang saja"


"Apa!?"


"Kapal ini hanya bisa satu kali jalan saja"


Mereka berdua kembali bertatapan


"Tempat ini kenapa sih? harus banget memisahkan orang - orang" Succubus mengeluh


Erina berjongkok, "Aku tak ingin pergi tanpamu"


"Aku juga"


"Jadi, siapa yang mau pergi?"


"Kami ingin memikirkan ini dulu pak"


"Sebaiknya jangan lama - lama, karena perubahan cuaca disini sangat cepat, kalau aliran sungai ini meluap, kita takkan bisa melewatinya selama berbulan - bulan"


Erina mencoba untuk merenungkan sejenak, dari awal Ia sudah tahu memang perjalanan ini akan berat, tapi tak menyangka akan secepat ini untuk kehilangan rekan - rekannya, Ia merasa frustrasi


"Apa kau bingung dengan keadaan ini?"


"Iya, ini seperti diluar batas nalarku, kehidupanku dulu sebagai manusia biasa tak pernah serumit ini"


"Aku yang menjalani hidup sebagai astral pun merasa keadaan ini cukup bisa membuatku stress"


"Intinya, apakah ini benar jalan satu - satunya?"


"Iya, kita belum tahu itu karena pria ini belum tentu bisa kita percaya"


"Hmmm...."


Erina berdiri


"Oke, aku sudah memutuskan!"